Mubadalah.id – Sudah menjadi kebiasan kalau kita itu gemar sekali menghadapi masalah dengan solusi-solusi yang sifatnya seremonial. Saya tidak mengatakan itu buruk. Hanya, kadang bikin alis mengerut dan kepala geleng-geleng tak habis pikir. Misalnya, sudah jelas-jelas masalah tidak harmonisnya pernikahan pasangan suami-istri itu utamanya akibat masalah ekonomi yang timpang secara struktural, solusinya malah suruh “Tepuk Sakinah”.
Mestinya yang kita lakukan adalah mendorong sedemikian rupa supaya 19 juta lapangan pekerjaan segera dijadwalkan tanggal mainnya, dilengkapi dengan political will yang jelas. Menurut saya begitu. Tapi saya juga tahu itu pasti sulit sekali terwujudnya.
Saya mafhum pemerintah terkait pasti risau sekali dengan fakta dan data perceraian serta pernikahan kita. Sehingga mereka berusaha seefektif dan seefisien mungkin menggagas program-program baik (out of the box) sebagai solusinya.
Namun, kita perlu betul-betul memahami kalau fenomena banyaknya perceraian terjadi dan angka pernikahan yang menurun itu bukan masalah sepele. Apalah arti “Tepuk Sakinah” bilamana ketidakpastian ekonomi dan kabar PHK massal menjadi zombie yang bisa nongol kapan saja di meja makan dan kamar tidur. Apalah pula urgensi me-recall janji suci pernikahan lewat yel-yel, sedangkan Tuhan saja berani kita jual-belikan demi bisa makan siang gratis.
Saya hanya ingin ikut menegaskan bahwa untuk mengantisipasi banyaknya kasus perceraian dan meningkatkan angka pernikahan di negeri kita tercinta ini, tidak cukup sekadar gimmick. Perlu kita kondisikan terlebih dahulu dengan sungguh-sungguh kepastian ekonomi masyarakat kita. Lapangan kerja yang memadai, gaji yang manusiawi, kebijakan yang tidak mendiskriminasi, dan jangan (suka) korupsi.
Optimisme Program Menikah
Menikah memang sesuatu yang bisa membawa kebahagiaan dalam hidup. Akan tetapi, pernikahan tidak lantas setali tiga uang dengan hidup bahagia. Nyatanya angka perceraian tinggi di negeri kita. Ya, meskipun keputusan bercerai tidak semuanya tentang ketidakbahagiaan, tetapi kok agak sukar membayangkan ada pasangan bercerai dengan alasan mereka bahagia melakukannya.
Sudah saya sebut di awal kalau alasan utama tidak harmonisnya hidup sepasang suami-istri adalah masalah ekonomi yang timpang secara struktural. Dan saya yakin seribu persen pemerintah terkait kita tahu-menahu soal itu. Tetapi tetap saja, mereka masih konsisten dengan sangat percaya dirinya mempromosikan pernikahan dengan embel-embel menuju kebahagiaan hidup.
Adalah acara “Golek Garwo” Masjid Sheikh Zayed Solo, inisiasi Fortais bekerja sama dengan Kemenag Surakarta, yang menjadi representasi berulang optimisme tersebut. Promosi perjodohan yang diembel-embeli narasi sangat sesuai sunnah Nabi bisa ditemukan di media sosial, khususnya platform Instagram. Baik dalam bentuk pamflet maupun video reels.
Saya pikir perlu menyimak seksama video reels promosi program tersebut. Sambil mengutip quote filsuf Schopenhauer, perwakilan Kemenag Surakarta mengatakan: inti dari kehidupan adalah will to live, alias keinginan untuk hidup. “Artinya apa? Orang yang ingin hidup, semangat untuk hidup, itulah orang yang bahagia. Sebaliknya, lawan dari will to live, adalah will to die. Jadi, orang yang ingin mati berarti dia adalah orang yang paling sedih, orang yang paling sengsara,” kata beliau.
Saya tentu nyengir menyimak video reels tersebut. Pertama, entah menyadarinya atau tidak, justru sosok filsuf yang kata-katanya dikutip secara sangat optimis itu sangat terkenal dengan filosofi pesimismenya dalam memandang hidup. Kedua, adalah cara beliau mengutip risalah hasil penelitian sosiologis Émile Durkheim, Le Suicide (1897).
Cherry-picking sosiologis
Saya tidak keberatan dengan pandangan bahwa para jomblowan-jomblowati yang masih melajang itu berpotensi hidupnya akan kesepian, dan karenanya bisa mengundang pikiran naif untuk bunuh diri. Dalam Le Suicide (1897), itu masuk dalam kategori “bunuh diri egoistik” saat situasi ikatan sosial rendah. Diri yang terisolasi dan sengaja mengisolasi biasanya akan menimbulkan tekanan batin. Kondisi demikian itulah yang berbahaya: mengundang keinginan bunuh diri.
Juga saya tidak menafikkan bahwa temuan sosiologis Durkheim dalam hal pernikahan kaitannya dengan kelangsungan hidup masyarakat memang masih sangat otoritatif. Apalagi nuansa konservatif-moralis dalam penemuan sosiologisnya itu sangat menjual sekali. Terutama bilamana digunakan sebagai legitimasi sekaligus dakwah moral universal lembaga keagamaan yang jobdesk-nya mengurusi ihwal pernikahan.
Nah, yang menjadi keberatan saya adalah gaya mencangkokkan secara serampangan hasil penelitian sosiologis itu dengan persoalan pernikahan saat ini, lebih-lebih di negeri kita ini. Mengapa tidak juga kita telisik kondisi sosial-ekonomi dalam penelitian itu dengan yang terjadi di negeri kita hari ini? Memangnya sama dan sebangun? Argumentasi tidak bisa dilakukan secara cherry-picking.
Saya pun agak keberatan dengan asumsi bahwa pernikahan terlampau percaya diri dimaknai akan menyelamatkan diri seorang jomblo dari bencana kesepian. Seolah pilihan menjadi jomblo itu keputusan keliru dan membawa ketidakbahagiaan. Bisa menyebabkan tekanan batin. Lalu akan membuatnya berkeinginan bunuh diri.
Lantas bagaimana dengan tekanan batin yang justru muncul gara-gara pernikahan dengan berbagai kompleksitas masalahnya itu, terutama karena sulitnya ekonomi? Bagaimana dengan nasib anak-anak yang kelaparan, bayi yang terlantar bahkan dibuang orangtuanya sebab cari makan susahnya minta ampun? Cukupkah solusinya dengan “Tepuk Sakinah” dan “ceramah moral” tentang keutamaan menikah sambil mengutip-ngutip quote filsuf maupun ilmuwan?
Potret situasi struktural sosial-ekonomi
“Pernikahan itu sakral,” begitu menurut pandangan agama. Bukan ajang seremonial. Bukan gaya hidup. Apalagi ajang festival seperti Golek Garwo. Keyakinan (moral) penting dalam pernikahan. Tetapi persiapan (mental, finansial, pengetahuan kesalingan) yang matang jauh lebih penting. Situasi zaman hari ini jauh lebih rumit dan sulit. Para jomblo lebih membutuhkan kebijakan yang bertanggung jawab, jelas, dan konkret. Bukan hanya menyediakan event.
Kalau pernikahan otomatis membuat hidup bahagia, kementerian agama pastilah tidak akan sesibuk itu. Fenomena tingginya angka perceraian dan begitu optimismenya mereka mempromosikan menikah sebetulnya menyuguhkan potret kondisi sosial-ekonomi masyarakat kita yang sedang tidak baik-baik saja.
Gejala demikian itu bukan sebuah nasib. Ini adalah gambaran nyata situasi struktural sosial-ekonomi negeri kita. Kaum miskin menengah ke bawah terlantar terlunta-lunta, kaum menengah ke atas menjerit sakit, kaum kaya tertawa foya-foya. Apalah ini.
Alih-alih, dengan situasi sosial-ekonomi semacam itu, akhirnya pernikahan menjadi sesuatu yang mengkhawatirkan. Sulit membayangkan kebahagiaan dalam rencana pernikahan dan hidup berkeluarga ke depan. Akan terdengar konyol dan sembrono bilamana kita hanya dengan modal yakin seyakin-yakinnya menerapkan prinsip: “menikah dulu, insyaallah rezeki akan lancar kemudian”. Sekali lagi, situasi zamannya berbeda. Hari ini kita terjebak dan sulit sekali menolak lifestyle.
Akhir kata, program-program pelecut pernikahan semacam Golek Garwo itu tidak cukup sekadar sebagai event. Perlu disertai keseriusan dalam memperjuangan dan menyediakan kebijakan-kebijakan ekonomi yang bertanggung jawab. Political will yang jelas dan benar-benar berpihak kepada kesejahteraan hidup masyarakat. Entahlah, bayangan pernikahan bagi orang umum saja begitu mengkhawatirkan. Saya tidak bisa membayangkan, seperti apa bayangan pernikahan dalam benak teman-teman disabilitas. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta.




















































