Rabu, 8 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    Konselor Sebaya

    Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya

    Budaya Patriarki

    Budaya Patriarki yang Terwariskan dari Generasi ke Generasi

    Lirik Lagu

    Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

    Disabilitas Kekurangan Fisik

    Benarkah Disabilitas Sama dengan Kekurangan Fisik?

    Mencegah Kekerasan Seksual

    Kenapa Sanksi Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Pesantren?

    Gajah Sumatera

    Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

    TPA Pakusari

    Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mengelola Stres

    Cara Gen Z Mengelola Stres

    Kepemimpinan Perempuan

    Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam

    Konselor Sebaya

    Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya

    Budaya Patriarki

    Budaya Patriarki yang Terwariskan dari Generasi ke Generasi

    Lirik Lagu

    Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

    Disabilitas Kekurangan Fisik

    Benarkah Disabilitas Sama dengan Kekurangan Fisik?

    Mencegah Kekerasan Seksual

    Kenapa Sanksi Saja Tidak Cukup Untuk Mencegah Kekerasan Seksual di Pesantren?

    Gajah Sumatera

    Rusaknya Habitat Gajah Sumatera Akibat Deforestasi dan Alih Fungsi Lahan

    TPA Pakusari

    Perempuan di Tengah Gundukan Sampah: Tinjauan Kritis Ekofeminisme di TPA Pakusari

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pasca Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi yang Mengancam Nyawa, Ini 5 Langkah Penanganan Lanjutannya

    Pasca Aborsi

    7 Langkah Darurat Menangani Pendarahan Pasca Aborsi sebelum Dirujuk ke Rumah Sakit

    Pendarahan pasca aborsi

    Cara Menghentikan Pendarahan yang Berlebihan Pasca Aborsi

    Aborsi

    Pendarahan Pasca Aborsi: Kenali Tanda Bahaya dan Langkah Pertolongan Pertama

    KB Setelah Aborsi

    Keluarga Berencana (KB) Setelah Aborsi

    Bahaya Aborsi

    Tanda-tanda Bahaya Setelah Aborsi

    Setelah Aborsi

    Perawatan Setelah Aborsi: Kenali Tanda Normal dan Gejala yang Harus Diwaspadai

    Aborsi

    Begini Ciri-ciri Layanan Aborsi yang Aman Menurut Standar Kesehatan

    Layanan Aborsi

    Bagaimana Mengetahui Layanan Aborsi Aman atau Tidak? Ini 9 Tandanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

Kebahagiaan hari raya bukan tentang siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan ketulusan dalam relasi.

Moh. Nailul Muna by Moh. Nailul Muna
4 Maret 2026
in Publik
A A
0
Merayakan Lebaran

Merayakan Lebaran

33
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Menjelang Lebaran, suasana terasa semakin riuh. Pusat-pusat perbelanjaan dipadati pengunjung, etalase toko berlomba menampilkan koleksi terbaik, dan media sosial dipenuhi berbagai inspirasi busana hari raya. Mulai dari unggahan “outfit Lebaran” hingga foto keluarga dengan pakaian serasi, semuanya menghadirkan kesan bahwa hari raya adalah momen untuk tampil paling rapi dan paling berkesan. Dalam arus seperti ini, kegembiraan seolah menjadi sesuatu yang seragam, ramai, cerah, dan penuh perayaan.

Namun, di balik itu semua, tidak setiap orang merasakan kebahagiaan dengan cara yang sama. Ada yang ikut tersenyum, tetapi menyimpan kegelisahan. Ada yang tetap datang bersilaturahmi, namun dengan perasaan tidak sepenuhnya percaya diri. Bahkan, tidak sedikit yang diam-diam merasa tertekan, seolah ada standar yang harus terpenuhi agar dianggap “pantas” merayakan Lebaran.

Di titik inilah kita mulai melihat sisi lain dari euforia tersebut. Riuhnya persiapan hari raya ternyata tidak hanya membawa semangat, tetapi juga menyisakan kelelahan sosial yang jarang kita sadari. Terutama dalam urusan berbusana, ada tekanan yang bekerja secara halus, tidak memaksa, tetapi cukup kuat untuk membuat seseorang merasa perlu menyesuaikan diri. Merayakan lebaran yang seharusnya menghadirkan kelapangan, perlahan juga bisa menjadi ruang yang menghadirkan beban, meski tanpa suara.

Standar Tak Tertulis yang Menjadi Tekanan

Ada satu hal yang jarang tersadari, tetapi begitu terasa menjelang Lebaran. Hadirnya standar tak tertulis tentang bagaimana seseorang seharusnya tampil. Tidak ada aturan resmi yang mewajibkan baju baru, tidak ada sanksi bagi yang berpakaian sederhana. Namun dalam praktiknya, seolah ada kesepakatan diam-diam bahwa hari raya harus kita rayakan dengan penampilan yang “pantas”, apakah itu bermakna rapi, baru, dan jika memungkinkan, serasi.

Standar ini tumbuh dari kebiasaan yang terus berulang. Lingkungan sekitar, obrolan sehari-hari, hingga unggahan di media sosial perlahan membentuk persepsi tentang apa yang dianggap wajar. Foto keluarga dengan busana senada, tren warna tertentu setiap tahun, hingga istilah “baju Lebaran” sendiri, semuanya memperkuat anggapan bahwa tampil baru bukan lagi pilihan, melainkan bagian dari perayaan.

Yang menarik, tekanan ini jarang hadir dalam bentuk paksaan. Tidak ada yang secara langsung memerintah, tidak ada yang terang-terangan menuntut. Namun justru karena sifatnya yang halus, ia menjadi lebih kuat. Seseorang bisa saja merasa “tidak enak” jika tidak mengikuti, khawatir dinilai, atau sekadar takut terlihat berbeda. Pada akhirnya, yang semula hanya tradisi berubah menjadi semacam kewajiban sosial yang sulit terhindari.

Di sinilah standar itu bekerja. Diam-diam, tetapi mengikat. Tanpa suara, tetapi terasa harus.

Dampak Sunyi: Psikologis dan Sosial

Dampak dari standar yang tak tertulis ini sering kali tidak tampak di permukaan, tetapi terasa dalam. Ia hadir sebagai kegelisahan yang sulit kita jelaskan, rasa minder ketika merasa tidak cukup pantas, kecemasan saat harus bertemu banyak orang, hingga kekhawatiran akan penilaian yang sebenarnya belum tentu terjadi. Dalam suasana yang seharusnya hangat dan membahagiakan, sebagian orang justru bergulat dengan perasaan tidak percaya diri.

Tekanan ini juga tidak jarang berujung pada keputusan-keputusan yang dipaksakan. Demi menjaga penampilan, seseorang rela mengeluarkan biaya di luar kemampuan, menunda kebutuhan lain atau sekadar mengikuti arus agar tidak merasa tertinggal. Pada titik ini, berbusana tidak lagi menjadi ekspresi diri atau bentuk syukur, melainkan respons terhadap tekanan sosial yang halus namun kuat.

Yang lebih sering terabaikan adalah kelelahan emosional yang menyertainya. Ia tidak selalu terlihat, tidak mudah terungkapkan, tetapi nyata kita rasakan. Perasaan terbebani, lelah membandingkan diri, hingga keinginan untuk “terlihat baik-baik saja” di hadapan orang lain perlahan menguras energi batin. Semua ini terjadi tanpa banyak kita sadari, karena dianggap sebagai bagian wajar dari perayaan.

Di sisi lain, ada realitas yang tak bisa terabaikan: tidak semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk memenuhi standar tersebut. Apa yang tampak sederhana bagi sebagian orang bisa menjadi beban berat bagi yang lain. Di sinilah ketimpangan itu terasa ketika satu standar yang sama kita terapkan pada kondisi yang berbeda-beda. Lebaran yang seharusnya menjadi ruang kebersamaan, tanpa tersadari, juga bisa menjadi ruang yang memisahkan.

Pergeseran Makna Lebaran

Jika dicermati lebih dalam, fenomena ini menunjukkan adanya pergeseran makna Lebaran itu sendiri. Hari raya yang semula identik dengan kesucian, kesederhanaan, dan kelapangan hati, perlahan bergeser menjadi perayaan yang juga sarat dengan simbol penampilan. Pakaian tidak lagi sekadar kebutuhan atau pelengkap, tetapi menjadi bagian penting dalam cara seseorang “hadir” di momen tersebut.

Tanpa kita sadari, penampilan kemudian berubah menjadi semacam indikator, seolah-olah ia mencerminkan kelayakan seseorang dalam merayakan Lebaran. Yang tampil rapi, baru, dan sesuai tren kita anggap lebih siap menyambut hari raya, sementara yang sederhana atau apa adanya berpotensi merasa kurang pantas. Padahal, ukuran semacam ini tidak pernah menjadi bagian dari esensi ajaran Lebaran itu sendiri.

Di titik ini, kepekaan perlahan memudar. Kita menjadi lebih mudah melihat apa yang tampak, tetapi kurang peka terhadap apa yang kita rasakan. Penilaian bergeser dari hati ke mata, dari ketulusan ke tampilan luar. Akibatnya, kedalaman makna spiritual yang seharusnya menjadi inti justru terpinggirkan.

Lebaran yang sejatinya mengajak manusia untuk kembali pada kejernihan diri, melepaskan ego, memperbaiki relasi, dan melapangkan hati, perlahan direduksi menjadi perayaan yang mudah terukur secara visual. Dan ketika yang tampak lebih kita utamakan daripada yang hakiki, di situlah makna mulai kehilangan kedalamannya.

Menata Ulang: Dari Gengsi ke Empati

Pada akhirnya, yang perlu kita tata ulang bukan sekadar pilihan busana, tetapi cara pandang kita terhadapnya. Berpakaian baik di hari raya tentu merupakan bagian dari penghormatan terhadap momen yang mulia. Namun, ia seharusnya lahir dari rasa syukur, bukan dari tekanan. Ketika pakaian kembali ditempatkan sebagai ekspresi kecukupan dan kebahagiaan, bukan sebagai alat pembuktian, di situlah ia menemukan maknanya yang lebih jernih.

Lebaran juga menjadi kesempatan untuk membangun budaya yang lebih sehat secara sosial. Budaya yang tidak saling membandingkan, tidak menjadikan penampilan sebagai ukuran, dan tidak menghadirkan rasa canggung bagi siapa pun yang berbeda. Sebab pada dasarnya, kebahagiaan hari raya bukan tentang siapa yang paling terlihat, melainkan siapa yang paling mampu menghadirkan ketulusan dalam relasi.

Mungkin yang perlu kita rawat adalah kepekaan: bagaimana cara kita hadir tanpa membuat orang lain merasa kurang, bagaimana cara kita merayakan tanpa menghadirkan tekanan. Di titik ini, empati menjadi kunci bahwa tidak semua orang berada dalam kondisi yang sama, dan tidak semua kebahagiaan perlu kita tampilkan dengan cara yang serupa.

Lebaran seharusnya menjadi momen yang meringankan, bukan membebani. Momen untuk kembali pada yang sederhana, yang hangat, dan yang memanusiakan. Ketika gengsi kita turunkan dan empati kita naikkan, barangkali di situlah kita benar-benar merayakan, bukan hanya hari rayanya, tetapi juga maknanya. Wallahu A’laam. []

Tags: Baju LebaranBusanakebahagiaanMerayakan LebaranTren
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

Next Post

Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

Moh. Nailul Muna

Moh. Nailul Muna

Penulis berasal dari Lamongan. Ia merupakan alumni PBSB S1 UIN Sunan Kalijaga dan LPDP S2 UIN Syarif Hidayatullah dengan jurusan IAT. Latar belakang pendidikan non-formalnya yakni: PP. Matholi’ul Anwar, LSQ Ar-Rahmah, Sirojut Ta'limil Quran, Al-Munawwir, PPA. Nur Medina, dll. Beberapa kajian yang pernah digeluti penulis antara lain, kepesantrenan, Tafsir, Hadis, dan gender yang menjadi tema tesis. Pada saat ini penulis sedang mengabdi di UIN Saizu, UNU Purwokerto dan PESMA An Najah.

Related Posts

Podcast
Disabilitas

Prinsip Mubadalah dalam Tren Podcast bagi Teman Tuli

20 Juni 2026
Qana'ah
Personal

Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

13 Juni 2026
Golek Garwo
Disabilitas

Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

2 Februari 2026
soft life
Personal

Soft Life : Gaya Hidup Anti Stres Gen Z untuk Kesejahteraan Mental

27 November 2025
10 Ribu Di Tangan Istri yang Tepat
Keluarga

Degradasi Nilai Perempuan dalam Tren “10 Ribu Di Tangan Istri yang Tepat”

16 November 2025
Ki Ageng Suryomentaram
Buku

Memaknai Kebahagiaan Lewat Filosofi Mulur Mungkret Ki Ageng Suryomentaram

23 Oktober 2025
Next Post
Pengalaman Perempuan

Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Gen Z Mengelola Stres
  • Agama, Peristiwa Lini Masa, dan Bagaimana Sikap Kita?
  • Membongkar Mitos Kepemimpinan Perempuan dalam Islam
  • Menguatkan Diri Sebelum Menguatkan Sesama: Refleksi dari Kegiatan Konselor Sebaya
  • Budaya Patriarki yang Terwariskan dari Generasi ke Generasi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0