Mubadalah.id – Kemiskinan bukan lagi masalah sepele bagi masyarakat tetapi sebuah ironi bagi suatu bangsa yang memiliki kekayaan yang melimpah. Tetapi mirisnya negara justru abai terhadap nasib rakyatnya. Berita yang beredar baru-baru ini tentang kasus bunuh diri seorang anak berusia sepuluh tahun di Nusa Tenggara Timur.
Kasus ini bukan semata karena hidup di bawah garis kemiskinan dan statusnya sebagai yatim, padahal kebutuhannya hanya buku dan pensil untuk merajut masa depan, melainkan karena kedewasaan berpikirnya anak itu enggan membebani sang ibu lebih lama.
Saat anak-anak seusianya merajuk meminta mainan, YBR justru memikirkan beban ibunya, seorang orang tua tunggal yang bekerja keras menghidupi lima anak. Hal ini seharusmya menjadi tamparan keras bagi pemangku kebijakan. Di tengah semaraknya program Makan Bergizi Gratis (MBG). Justru mencuat kasus yang mengiris hati.
Rasul Mengamanatkan untuk Mengistimewakan Yatim
Nabi kita tercinta adalah suri tauladan terbaik bagi umat, beliau sangat mencintai dan mengistimewakan anak yatim, bahkan beliau sendiri menghardik seorang yang tidak memperlakukan anak yatim dengan baik. Dalam islam seorang anak yatim memiliki kedudukan yang istimewa di hadapan Allah SWT.
Ia dapat mendatangkan rahmat-Nya bagi siapa saja yang menjamin kebutuhan hidupnya secara fisik maupun materi. Juga dapat mendatangkan murka Allah dan rasul-Nya bagi siapa saja yang menghardik dan merendahkannya. Begitu istimewanya seorang yatim dalam pandangan islam.
Pada masa kejayaan khilafah islam, kehidupan anak yatim dijamin oleh kerabat terdekat dan negara. Sehingga mereka masih dapat merasakan kehidupan kanak-kanak tanpa memikirkan himpitan kehidupan. Dalam hal ini negara memiliki peran untuk menyejahterakan rakyatnya terutama bagi kaum yang dipandang lemah.
Ironisnya pada masa kini negara justru menjadi tikus pengerat yang merugikan rakyat. Alih-alih menjadi pelindung, negara malah minim empati kepada rakyat, menjadikan rakyat sebagai saingan, dan menyengsarakan rakyat.
Memperhatikan Gizi Mengabaikan Pendidikan
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah belum diiringi akses pendidikan gratis bagi masyarakat miskin. Perut kenyang bukan jaminan untuk mencapai kesejahteraan di masa depan. Si miskin yang mempunyai cita-cita mengangkat kondisi ekonomi keluarga tidak mampu dibungkam dengan sepiring nasi hari ini.
Sementara kenyataan hidup masih menjadi misteri esok hari, jalan yang mampu ia tempuh hanyalah pendidikan. Melalui ilmu masa depan akan semakin terarah. Tetapi kenyataan pahit justru lagi-lagi menampar mereka. Anak-anak yang berasal dari ekonomi menengah ke bawah berharap pendidikan akan mampu merubah nasib, tetapi justru nasib yang menghambat untuk mendapatkan pendidikan.
Kemiskinan sejatinya bukan nasib, juga bukan takdir, tetapi sistem yang menjadikannya seolah miskin adalah suratan takdir. Ironi memang, kita hidup di negara kaya bahkan berkelimpahan tetapi masyarakat kita masih terjerat dalam kemiskinan. Pendidikan yang seharusnya menjadi hak seluruh warga negara justru menjadi ladang bisnis bagi golongan elit, sehingga pendidikan bagi masyarakat miskin seolah mimpi di siang bolong.
Kekuasaan sebagai Ajang Perebutan
Dalam Islam Nabi melaknat seorang yang tertidur dalam kondisi perut kenyang, sementara ia mengetahui tetangganya terpaksa tertidur untuk menahan perut yang keroncongan. Dalam riwayat lain Rasulullah juga meminta semua masyarakat Mekkah untuk mengutarakan ketidakpuasan mereka selama masa kepemimpinan beliau.
Adakah yang merasa haknya tercederai? Padahal mustahil manusia mulia seperti beliau mencederai hak orang lain. Seorang pemimpin seharusnya mengayomi masyarakatnya, bahkan mendahulukan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Namun hal tersebut kontras dengan kondisi sekarang, di mana kekuasaan menjadi rebutan dan bancakan. Para pemangku kebijakan seolah tutup mata dengan penderitaan rakyat. Mereka tak peduli dengan perut yang melilit, kemiskinan bukan menjadi urusan mereka. Pemerintah tutup mata dengan realitas yang ada, seolah cuci tangan dari masalah tersebut.
Padahal pemerintah seharusnya mampu mengatasinya. Sehingga tidak akan ada lagi seorang anak yang memikul beban keluarga. Tugas mereka seharusnya hanya belajar, dan para orang tua tidak seharusnya memungsingkan biaya pendidikan anak. Karena pendidikan seharusnya menjadi tugas dan kewajiban negara untuk memenuhinya. Ironisnya, sepiring nasi gratis seolah dianggap lebih murah nilainya daripada sebuah buku dan sebatang pensil. Sehingga masa depan anak bangsa dapat terbeli dengan makan bergizi gratis.
Bukan Sekadar Memberi Makan, tetapi Menyiapkan Masa Depan
Pada akhirnya, persoalan ini bukan semata tentang keterbatasan anggaran, melainkan tentang arah keberpihakan. Negara sesungguhnya memiliki kuasa dan kemampuan untuk memastikan anak-anak tumbuh tanpa harus memikul beban yang bukan miliknya.
Anak tidak dilahirkan untuk menopang ekonomi keluarga, melainkan untuk belajar, bermimpi, dan menyiapkan masa depannya. Ketika orang tua masih harus memusingkan biaya pendidikan, di sanalah negara semestinya hadir bukan sebagai penonton, melainkan sebagai penanggung jawab.
Sebab pendidikan tidak seharusnya kalah murah dari sepiring nasi. Makan bergizi memang penting untuk hari ini, tetapi buku dan pensil menentukan esok hari. Ketika negara merasa cukup dengan membuat perut kenyang dan membiarkan pikiran tetap lapar, yang kita pertaruhkan bukan sekadar kebijakan, melainkan masa depan anak bangsa. Dan sejarah kelak akan mencatat, apakah kita benar-benar memberi mereka harapan, atau hanya sekadar memberi makan lalu pergi. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Surakarta, kerjasama Media Mubadalah dengan UPT Perpustakaan UIN Raden Mas Said Surakarta.









































