Mubadalah.id – Setiap Ramadan tiba, suasana berubah. Masjid ramai, jadwal kajian padat, pesan tentang sabar dan takwa beredar di mana-mana. Kita menyebut bulan ini sebagai bulan peningkatan spiritualitas. Kita menyebutnya bulan latihan pengendalian diri. Namun, di sela-sela semangat itu, saya sering mendengar satu pertanyaan yang terasa begitu biasa sekaligus ganjil: “Ibu, nanti masak apa untuk buka?”
Pertanyaan itu terdengar ringan. Orang mengucapkannya sambil tersenyum. Tetangga menjadikannya basa-basi. Anggota keluarga mengulanginya sebagai rutinitas. Akan tetapi, hampir selalu, pertanyaan itu tertuju kepada perempuan. Jarang sekali orang menoleh kepada laki-laki dan bertanya, “Pak, nanti masak apa untuk buka?” Seolah-olah Ramadan langsung mengaktifkan satu peran lama: perempuan masuk dapur, laki-laki menunggu waktu berbuka.
Ramadan: Momen Menguatkan Spiritualitas
Di titik ini, saya tidak memperdebatkan aktivitas memasak. Banyak perempuan menikmati kegiatan itu, ternmasuk saya sendiri. Banyak ibu mengekspresikan cinta melalui makanan. Saya pun merasakan kehangatan rumah dari aroma masakan ibu. Namun, Ramadan seharusnya tidak mempersempit perempuan hanya pada peran domestik, apalagi ketika bulan ini membawa misi besar: mendekatkan manusia kepada Tuhan.
Karena itu, saya ingin memandang Ramadan dari sudut yang lebih luas. Ramadan bukan sekadar bulan ibadah personal. Ia juga menghadirkan kesempatan sosial. Bulan ini memberi ruang untuk menanamkan nilai kesetaraan di dalam keluarga. Jika kita benar-benar ingin menjadikan bulan ini sebagai momentum perubahan, maka kita perlu mulai dari rumah.
Ramadan: Ruang Batin, Bukan Ruang Masak
Ramadan hadir untuk menguatkan spiritualitas, bukan untuk mempertebal beban domestik. Ia mengajak setiap jiwa, laki-laki dan perempuan, untuk menata ulang hubungan dengan Allah dan dengan sesama. Akan tetapi, ketika orang terus-menerus mengaitkan perempuan dengan dapur, kita menggeser fokus. Kita memindahkan pusat Ramadan dari ruang batin ke ruang masak.
Saya sering melihat seorang ibu yang bangun lebih awal. Ia menyiapkan sahur, membereskan dapur, mengantar anak sekolah, lalu melanjutkan pekerjaan lain. Menjelang sore, ia kembali ke dapur untuk menyiapkan berbuka. Sementara itu, orang memuji laki-laki yang rajin ke masjid, aktif mengikuti tadarus, dan hadir dalam kajian. Tentu, laki-laki juga bekerja dan lelah. Namun, masyarakat jarang menuntut laki-laki untuk memastikan hidangan buka puasa tersedia. Iya?
Di sinilah Ramadan sebenarnya bisa mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. Mengapa kita tidak menjadikan bulan ini sebagai latihan berbagi peran? Mengapa kita tidak mengubah kebiasaan lama yang menganggap urusan dapur sebagai wilayah eksklusif perempuan? Jika puasa melatih kita menahan ego, maka berbagi tugas rumah juga melatih kita menurunkan rasa dominan.
Islam Tidak Membeda-bedakan Perempuan dan Laki-laki
Al-Qur’an menegaskan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman tanpa membedakan jenis kelamin. Allah memanggil laki-laki dan perempuan dalam satu sapaan yang sama. Artinya, tanggung jawab spiritual berlaku setara. Maka, logika keadilan juga menuntut ruang ibadah yang setara. Jika perempuan menghabiskan energi di dapur tanpa dukungan, ia mungkin kehilangan waktu berkualitas untuk beribadah secara khusyuk.
Selain itu, Ramadan membawa pesan empati. Kita menahan lapar agar merasakan penderitaan orang lain. Kita belajar peduli. Namun, empati tidak boleh berhenti pada orang di luar rumah. Empati harus hidup di dalam keluarga. Suami perlu merasakan lelahnya istri. Anak-anak perlu memahami kerja ibunya. Dari situ, nilai kesetaraan tumbuh secara alami.
Rasulullah SAW Sebagai Suri Tauladan
Saya teringat keteladanan Rasulullah SAW dalam kehidupan rumah tangga. Ia membantu pekerjaan rumah. Ia menjahit pakaian dan terlibat dalam aktivitas domestik. Ia tidak memisahkan spiritualitas dari tanggung jawab rumah tangga. Ia menunjukkan bahwa laki-laki dapat berperan aktif di rumah tanpa kehilangan kehormatan. Teladan itu memberi kita arah yang jelas.
Menurut saya, seharusnya, ramadan dapat menjadi laboratorium kecil untuk mempraktikkan kesetaraan. Seorang suami dapat berkata, “Hari ini saya yang siapkan takjil.” Seorang ayah dapat mengajak anak laki-lakinya memotong buah atau menyeduh minuman. Tindakan itu terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar. Anak-anak belajar bahwa kerja domestik bukan identitas gender. Mereka melihat ayah dan ibu berbagi peran dengan wajar. Itulah hakikatnya.
Ramadan Sebagai Momen Menanam Nilai Kesetaraan
Lebih jauh lagi, Ramadan memberi kita waktu untuk mengevaluasi pola lama. Jika selama ini perempuan memikul beban ganda, maka bulan ini dapat menjadi awal perubahan. Kita bisa menyusun pembagian tugas yang lebih adil. Kita bisa membuat jadwal bergiliran menyiapkan berbuka. Dengan cara itu, setiap anggota keluarga memiliki waktu yang cukup untuk beribadah dan beristirahat.
Perspektif mubadalah mengajarkan relasi timbal balik antara laki-laki dan perempuan. Relasi itu tidak berjalan satu arah. Jika perempuan mendukung suami dalam ibadah dan pekerjaan, maka suami juga perlu mendukung istri dalam ruang spiritualnya. Dukungan itu tidak cukup dengan kata-kata. Dukungan itu perlu hadir dalam tindakan nyata.
Hargai Perempuan Bukan Hanya dari Masakannya
Selain pembagian tugas, kita juga perlu memperhatikan cara kita menghargai perempuan. Jangan hanya memuji kelezatan masakannya. Hargai juga kesungguhan ibadahnya, kedalaman pikirannya, dan kontribusinya di ruang publik. Ramadan seharusnya memperluas pengakuan terhadap perempuan sebagai subjek utuh, bukan sekadar penyedia konsumsi keluarga.
Saya membayangkan sebuah rumah di mana ibu dapat mengikuti kajian tanpa tergesa-gesa karena suami menyiapkan hidangan berbuka. Saya membayangkan anak-anak tumbuh dengan kesadaran bahwa ibadah dan kerja domestik berjalan berdampingan. Di rumah itu, Ramadan tidak hanya memperkuat hubungan dengan Tuhan, tetapi juga memperbaiki relasi antaranggota keluarga.
Akhirnya, pertanyaan sederhana seperti “Masak apa nanti?” dapat berubah menjadi pintu pembelajaran. Dari pertanyaan itu, kita bisa menanamkan nilai kesetaraan. Dari dapur, kita bisa membangun kesadaran baru. Ramadan tidak hanya melatih kita menahan lapar, tetapi juga melatih kita membongkar kebiasaan yang tidak adil.
Mari kita jadikan Ramadan sebagai momen menanamkan nilai kesetaraan sejak dari rumah. Kita perlu pastikan perempuan tidak kehilangan ruang spiritualnya karena beban yang tidak pernah dibagi. Kita dapat mengubah rutinitas menjadi refleksi, dan refleksi menjadi tindakan. Dengan begitu, Ramadan benar-benar menjadi bulan pembebasan, bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari cara pandang yang membatasi. []







































