Kamis, 19 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    Post-Disabilitas

    Post-Disabilitas: “Kandang Emas” dan Kebutuhan Hakiki

    Imlek

    Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Masjid

    Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi

    Nilai Kesetaraan

    Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

    KUPI dan Mubadalah

    KUPI dan Mubadalah: Wajah Baru Islam Kontemporer di Panggung Internasional

    Post-Disabilitas

    Post-Disabilitas: “Kandang Emas” dan Kebutuhan Hakiki

    Imlek

    Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dalam Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

    Amal Salih

    Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Monumen

Analisis Konteks Kepemimpinan Ulama Perempuan Bu Nyai Mufliha Shohib

Ada persaingan tinggi antar pesantren untuk menciptakan kerja sama efektif. Berhubungan baik dan saling support antar pesantren dalam berprestasi

Halimatus Sa'dyah by Halimatus Sa'dyah
18 Oktober 2024
in Monumen, Rekomendasi
A A
0
Kepemimpinan Ulama Perempuan

Kepemimpinan Ulama Perempuan

13
SHARES
626
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kepemimpinan ulama perempuan di Pondok Pesantren Denanyar Jombang bukan hal yang baru atau bahkan tabu. Saat memasuki ruang pengurus yayasan terdapat banyak papan susunan pengurus yang menempel di tembok, terdapat nama-nama bu Nyai menghiasi susunan pengurus. Bahkan kepengurusan yayasan hanya satu nama laki-laki yang masuk dalam jajaran pengurus. Beliau adalah bapak Halim Iskandar, salah satu cicit Kiai Bisri Syansuri yang saat ini menjabat Menteri KemendesPDTT.

Bu Nyai Mufliha Shohib, sebelum terpilih menjadi ketua Yayasan, beliau pernah menjadi anggota dewan perwakilan rakyat atau DPRD di Jombang. Selain itu, pengalaman dalam kepengasuhan santri di asrama Pondok Pesantren Darul Ulum, menjadi bekal pola serta model kepemimpinan bagi Ibu Nyai Muflihah. Terbuka kesempatan perempuan dalam mengelola Yayasan dengan menjadi pengurus, para dzuriyyah memiliki motivasi untuk belajar dengan tekun dan mengasah kemampuannya leadershipnya.

Ini lah mengapa Ning Azzah selain menjadi pengasuh asrama Sunan Bonang bersama suaminya, beliau juga aktif dalam organisasi seperti BNN atau Bu Nyai Nusantara suatu organisasi yang dibentuk oleh RMI (Robithoh Ma’ahid Islamiyyah), yaitu badan otonom di organisasi Nahdhatul Ulama di wilayah Jawa Timur.

Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar kekurangan kader laki-laki. Tokoh terkenal yang masih keluarga besar yaitu pak Muhaimain Iskandar dan Abdul Halim Iskandar, yang keduanya lebih banyak berperan di luar.

Meski pak Halim Iskandar masuk dalam jajaran kepengurusan dan tetap berperan aktif dalam menjalankan tugasnya, namun domisilinya tidak di area pesantren. Karena saat ini menjabat sebagai Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi pada Kabinet Indonesia Maju 2019-2024.

Sedangkan bapak Muhaimin Iskandar sebagai politisi ketua partai Kebangkitan Bangsa, yang pernah menjabat sebagai Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi periode 2009-2014 dan pernah juga menjadi Wakil Ketua MPR atau Majelis Permusyawaratan Rakyat periode 2014-2019. Selain itu juga pernah menjabat sebaagai wakil DPR RI.

Kesempatan Memimpin Pesantren yang Egaliter

Dari temuan penelitian di atas, maka menguatkan bahwa kesetaraan laki-dan perempuan di tidak memiliki batasan dalam ranah kepemimpinan dan pengelolaan pesantren di lingkungan Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang.

Bahkan sudah menjadi aturan tidak tertulis bahwa menantu meski sekompeten apapun, tidak bisa menempati posisi pucuk pimpinan atau posisi strategis di kepengurusan Yayasan. Semua harus dzurriyah. Boleh laki-laki maupun perempuan. Menantu bisa menjadi pimpinan pengasuhan asrama, tetapi bukan pengasuhan atau kiai dalam posisi top leader.

Syarat menjadi pemimpin di Pondok Pesantren Denanyar Mamba’ul Ma’arif Jombang memang mengisyaratkan dengan keilmuan, akhlaq dan agama. Namun tidak disadari bahwa kharisma dari para dzurriyah yang jadi pemimpin ini muncul. Seperti faktor usia, yang dinggap “nyungkani”. Apalagi setiap dzuriyyah dibekali dengan Pendidikan tinggi sebagai langkah kaderisasi. Para dzurriyah seperti telah disiapkan sejak dini untuk kelak memimpin pesantren.

Kharisma yang para pemimpin miliki selaku dzurriyah secara tradisional bersifat inheren dan memang dimiliki oleh putra-putri kiai. Suatu hal yang tidak mudah didapat, karena sifatnya penyematan dari lingkungan sekitar. Bukan suatu gelar yang bisa didapat melalui materi.

Kharismatik seorang pemimpin di sebuah pesantren memang secara otomatis bisa jatuh pada Ibu Nyai maupun Kiai yang memang secara garis keturunan dari pendiri, memiliki ciri dengan memperlihatkan visi, kemampuan dan keahlian. Serta Tindakan yang mendahulukan kepentingan umut yaitu kemaslahatan umat dai atas kepentingan pribadi.

Tidak Ada Diskriminasi dalam Pesantren

Faktor-faktor perempuan dapat menduduki posisi strategis di pesantren, menggambarkan bahwa tidak adanya diskriminasi di pesantren tersebut. Kemampuan dalam mengelola pesantren bisa saja dilakukan oleh laki-laki maupun perempuan. Bu Nyai Hanifah yang awalnya tidak berkenan untuk saya wawancara, berubah menjadi bersedia saat pengurus menyampaikan keinginan peneliti untuk mewawancara dengan topik keulamaan perempuan.

Putra dan putri Kiai Bisri berjumlah enam orang. 3 orang laki-laki dan 3 orang perempuan. Yaitu KH. Athoillah Bisri, Nyai Hajah Mu’asshomah Bisri, Nyai Hajjah Sholihah Bisri, Nyai Hajah Musyarofah Bisri, KH. Abdul Azis Bisri. KH. Shohib Bisri. Nah dari putra putri yang jumlahnya tiga banding tiga tersbut.

Melahirkan keturunan cucu yang mayoritas perempuan, bahkan cicitnya pun juga lebih banyak perempuan. Maka kesamaan pandangan bahwa perempuan juga layak untuk menjadi pengurus, memang sudah menjadi wasiat. Mereka pun ditanamkan untuk memiliki kesempatan yang sama dalam berkarya dan mengenyam Pendidikan tinggi.

Proses pemilihan dan pengangkatan pemimpin di unit Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif Denanyar Jombang, berdasarkan musyawarah mufakat berupa rapat kepengurusan. Rapat tersebut mereka adakan secara periodik. Peserta terlibat dalam musyawarah tersbut adalah para pengurus Yayasan periode sebelumnya.

Adapun untuk guru dalam proses pembelajaran, perekrutan melalui test wawancara dengan memprioritaskan alumninya. Peneliti sempat menjadi observant pasticipant saat test wawancara berlangsung. Di mana salah satu calon tenaga pendidik Bimbingan Konseling dan satunya lagi sebagai guru mata pelajaran.

Penyeleksi adalah Ning Mazidatul Fa’izah dan Ning Mirfa’un Nu’ma. Kedua penyeleksi tersebut selain sebagai pengurus yayasan juga mengelola asrama unit yaitu asrama Sunan Bonang yang konsen di tahfidzul qur’an dan Asrama Hasbulloh Sa’id.

Analisis Internal Pesantren

Ketua Yayasan menunjukkan kemampuan untuk menganalisis konteks internal pesantren dalam proses pengambilan keputusan. Beliau  menilai tingkat kemajuan dan pencapaian pesantren. Terkait analisis internal beliau menaruh perhatian pada prestasi santri khususnya di level daerah.

Berdasarkan analisis terhadap performa pesantren yang ada, sebagaimana dikatakan oleh ketua Yayasan, kepala sekolah dan guru, strategi-strategi pengembangan pun mereka tentukan. Yang sudah berjalan baik dan dirasa maksimal tentu dipelihara, sedangkan masalah-masalah yang muncul selama implementasi program mereka pecahkan bersama.

Konteks internal lain dari pesantren adalah kapabilitas dan ekspektasi guru. Ketua Yayasan mencoba memahami kapabilitas para kepala sekolah di lembaga naungan yayasannya, seluruh guru baik sekolah formal maupun di unit-unit asarama menyesuaikan dalam proses manajerialnya.

Santri dalam konteks internal dipandang sebagai sebuah pusat proses pesantren. Konsekuensinya, para kiai, guru dan anggota lainnya harus memahami karakteristik santri dan ekspektasinya. Hal ini penting untuk menentukan program dan strategi yang sesuai dengan kebutuhan dan harapan santri.

Karatekteristik Santri

Salah satu karakteristik santri di salah satu lembaga unit sekolah, bisa berbeda kondisinya dengan lembaga Pendidikan formal lainnya. Sementara untuk santri yang bersekolah di lembaga unggulan seperti MAPK yang memiliki nilai lebih baik, ditunjang dengan program-program unggulan di madrasah tersebut.

Maka unit Pendidikan yang tertinggal tersebut harus meningkatkan performanya, pada gilirannya akan menarik input (siswa baru) yang lebih baik untuk masuk madrasah.

Hal ini mengimplikasikan bahwa latar belakang keluarga dari kondisi sosio-budaya masyarakatnya lumayan berpengaruh. Terdapat kesamaan pendapat antara ketua Yayasan, para kepala sekolah, pengasuh masing-masing unit, guru dan santri mengenai apa yang menentukan keberhasilan prestasi santri.

Berimplikasi kemampuan ketua Yayasan untuk memahami harapan para santri. Sebagaimana keterangan beberapa santri, tidak semua harapan tersebut mereka ajdikan pertimbangan serta dapat terpenuhi. Semisal pesantren tidak memfasilitasi secara penuh kegiatan ekstrakurikuler. Karena lebih terfokus pada pengembangan infrastruktur akademik.

Analisis Eksternal Pesantren

Tipe analisis kontekstual lainnya adalah analisis konteks eksternal pesantren. Ketua Yayasan dan anggota komunitas pesantren secara aktif menganalisis pengaruh-pengaruh eksternal, termasuk ekspektasi orang tua dan masyarakat. Persaingan yang ketat antar pesantren. Serta perubahan kebijakan Pendidikan. Mengenai ekspektasi orang tua dan masyarakat, ketua Yayasan yakin bahwa program Imtaq dan Iptek merupakan cara untuk memenuhi ekpektasi mereka.

Pertemuan dan rapat dengan wali santri adalah metode yang mereka gunakan untuk berkomunikasi dengan wali santri dan masyarakat. Letak pesantren yang berada di Jombang, sebagai kota yang terkenal dengan keberadaan pesantren besar dan tua, menuntut pesantren untuk memiliki kebijakan-kebijakan yang progresif dan inovatif.

Ada persaingan tinggi antar pesantren untuk menciptakan kerja sama yang efektif. Berhubungan baik dan saling support antar pesantren dalam berprestasi.

Ada empat karakteristik potensial lembaga pesantren. Pertama, bahwa pesantren tersebar di seluruh masyarakat Indonesia. Kedua, mereka ada di lokasi pedesaan di mana pesantren memelihara komunikasi yang erat dengan masyarakat lokal. Ketiga, mereka memiliki pilihan sistem sekolah asrama, waktu dapat tercurahkan untuk belajar selama 24 jam. Terakhir, pesantren adalah lembaga pendidikan akhlak. []

 

Tags: Bu Nyai Mufliha ShohibPerempuan Ulamapesantren jombangulama perempuanUlama Perempuan dipanggung Sejarah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Pemimpin adalah Pelayan Masyarakat

Next Post

Siti Aisyah yang Maskulin

Halimatus Sa'dyah

Halimatus Sa'dyah

Penulis adalah ketua Forum Daiyah Fatayat NU Tulungagung, IG : Halimatus_konsultanhukum 2123038506

Related Posts

Fiqh Menstruasi
Hukum Syariat

Saatnya Fiqh Menstruasi Ditulis dari Pengalaman Perempuan

17 Februari 2026
Literacy for Peace
Publik

Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

23 Januari 2026
What Is Religious Authority
Buku

Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama

21 Januari 2026
Persoalan Sosial
Publik

Ulama Perempuan Hadirkan Perspektif Baru dalam Merespons Persoalan Sosial

2 Februari 2026
Fatwa Perempuan
Uncategorized

Ulama Perempuan dan Sejarah Baru Fatwa di Indonesia

10 Januari 2026
Fathimah binti Ubaidillah
Figur

Fathimah binti Ubaidillah: Perempuan ‘Ulama, Ibu Sang Mujaddid

8 Januari 2026
Next Post
Maskulin

Siti Aisyah yang Maskulin

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih
  • Ekslusi Masjid: Cara Pandang yang Membatasi
  • Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih
  • Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan
  • Tuntutan Amal Salih bagi Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0