Mubadalah.id – Dalam tradisi Kristiani, seksualitas cenderung tabu. Ini antara lain terkait dengan keyakinan soal konsep kejadian manusia, konsep buah apel (atau khuldi dalam tradisi Islam), godaan setan terhadap Eva yang membuat Adam jatuh dari surga dan cerita-cerita serupa yang juga kita kenal dalam tradisi Islam.
Karenanya, sangatlah kita mengerti jika manusia juga mengkonstruksikan pandangannya tentang seksualitas terpengaruhi oleh pandangan Biblika yang begitu negatif terhadap seks.
Dalam tradisi Biblika, seks juga mereka takuti karena bicara seks adalah bicara tentang hawa nafsu. Padahal salah satu tugas agama adalah mengelola, menaklukan memenjarakan nafsu yang kita yakini datang dari “kuasa gelap” atau setan.
Seks sering dipandang buruk karena terkait dengan hasrat dan hawa nafsu, dan seks ditakuti karena akibat yang ditimbulkannya, yaitu kelahiran anak manusia baru.
Jadi jelaslah pandangan tentang seksualitas banyak dipengaruhi oleh keyakinan didalamnya ada bukan hanya terkait dengan etika, nilai-nilai, ideologi, politik dan ekonumi, tetapi juga mitos-mitos.
Lihat saja misalnya, untuk pasangan beda agama, meskipun secara biologis (seks) mereka sanggup melahirkan anak.
Namun faktanya tak mudah bagi mereka untuk menjalankannya karena terkait bukan semata pada adanya organ reproduski di antara keduanya. Tetapi dengan adanya aturan, keyakinan, kebijakan politik, situasi perang, damai, konflik dan seterusnya.
Kita dapat memungut banyak contoh bagaimana seks dan seskualitas terpengaruhi oleh cara pandang manusia. Jadi, bisa saja secara biologis mereka mampu namun secara sosial, politik menjadi tidak mampu atau karena mitos bisa ia lanjutkan atau tidak. []
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.


















































