Selasa, 24 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    Media Sosial

    (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas

    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Crab Mentality Melanggengkan Budaya Patriarki Sesama Perempuan

Orang dengan crab mentality akan berusaha untuk menahan langkah temannya yang akan pergi agar ia tetap berada di dalam kelompok

Halimatus Sa'dyah by Halimatus Sa'dyah
29 Mei 2024
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Crab Mentality

Crab Mentality

18
SHARES
881
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Budaya patriarki adalah budaya yang lebih memihak kaum laki-laki. Budaya patriarki di Jawa justru langgeng karena sikap dari sesama kaum perempuan itu sendiri. Tradisi di Jawa mengajarkan anak perempuan untuk menyelesaikan pekerjaan rumah, seperti membantu memasak, mencuci pakaian seluruh anggota keluarga, mengepel, menyetrika.

Sementara anak laki-laki bisa bebas dari tanggung jawab pekerjaan rumah tangga, termasuk mencuci pakaiannya sendiri atau merapikan kamar tidurnya. Mereka leluasa bermain ke luar rumah sepuasnya, bahkan terdapat kalimat, “anak laki-laki tidak narkoba saja sudah syukur”. Kalimat yang melanggengkan budaya patriarki tetap tumbuh subur di Indonesia.

Contoh kecil dalam keseharian, jika seorang ibu mertua, mendapati laki-laki membuat kopi, seolah menganggap istrinya tidak melaksanakan tanggung jawab dengan baik. Bahkan akan memamerkan sosok lain yang istrinya melayani suaminya dengan baik. Tanoa memaklumi, misal sang istri sedang kerepotan mengasuh anak, atau melakukan pekerjaan lainnya.

Seolah seorang suami yang membuat kopi sendiri adalah sebuah aib, dan menjadi peluang untuk bisa menyalahkan pihak istri sebagai sosok yang kurang berbakti. Sikap ini juga terjadi pada ibu dari anak perempuan, yang menyalahkan putrinya sendiri. Bahwa puterinya bukan sosok istri yang baik jika mendapati menantunya menyeduh kopi sendiri.

Perempuan yang belum menikah di usia 30 dan masih fokus pada karier, adalah kelompok rentan yang sering menjadi korban crab mentality. Padahal seharusnya apa pun pilihan perempuan, orang di sekelilingnya harus mendukung sebagai bentuk women support women. Apalagi jika yang jika terkait hal positif misalnya mengejar karir.

Alih-alih mendapat support, perempuan yang mendapat perlakuan crab mentality malah mendapat kalimat:

“Menikahlah sebelum usia 30, nanti susah ketemu jodoh kalo terlalu tua”

“Gak usah pilih-pilih suami, nanti malah pada mundur karena kamu wanita mandiri”

“Jangan terlalu sukses dan berprestasi, laki-laki takut nanti mau mendekati

Konsep ini mengacu pada kejadian umum dalam sebuah ember kepiting: Apabila terdapat kepiting yang mencoba melarikan diri keluar dari ember, dalam ember tersebut terdapat sekelompok kepiting. Sikap kepiting lainnya akan menariknya kembali ke bawah, bukan membiarkannya bebas.

Kepiting yang berusaha membebaskan diri, maka kepiting lainnya dalam ember yang sama menariknya kembali ke bawah. Tidak adanya sikap gotong-royong untuk saling bantu-membantu mengeluarkan diri dari ember.

Mengenal Crab Mentality

Crab mentality adalah istilah untuk menggambarkan sikap seseorang yang menghalangi keberhasilan orang lain. Sikap ini merupakan salah satu bentuk persaingan tidak sehat yang dapat merugikan orang lain. Berdampak mulai dari menurunkan rasa percaya diri hingga menghambat kesuksesan korbannya. Sikap yang merasa senang melihat orang lain susah, dan susah melihat orang lain senang.

Sebuah buku berjudul Catfight karya Leora Tanenbaum, yang membahas topik persaingan sesama perempuan, dalam setiap aspek kehidupan. Perempuan bersaing dalam penampilan dan kecantikan dengan menggunakan standar kapitalisasi. Misal kulit kusam, berjerawat, gemuk, tidak sesuai standar kecantikan kapitalisasi, yaitu cantik itu putih, tinggi, berambut lurus, langsing, mulus, berhidung mancung, dst.

Orang yang memiliki warna kulit berbeda akan menjadi topik pembicaraan atau bahkan korban bullying. Di sisi lain, apabila perempuan yang sudah memenuhi standar kecantikan kapitalisme maka dia akan cenderung merasa superior dan menindas perempuan lainnya. Sesama kaum perempuan bersaing dengan tidak sehat, demi sebuah penampilan.

Dalam Alqur’an disebutkan:

وَلَا تَتَمَنَّوۡاْ مَا فَضَّلَ ٱللَّهُ بِهِۦ بَعۡضَكُمۡ عَلَىٰ بَعۡضٖۚ لِّلرِّجَالِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبُواْۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيبٞ مِّمَّا ٱكۡتَسَبۡنَۚ وَسۡ‍َٔلُواْ ٱللَّهَ مِن فَضۡلِهِۦٓۚ إِنَّ ٱللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيۡءٍ عَلِيمٗا

“Dan janganlah kamu iri hati terhadap karunia yang telah dilebihkan Allah kepada sebagian kamu atas sebagian yang lain. (Karena) bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi perempuan (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.” (Annisa : 32)

Penyebab Munculnya Crab Mentality

Manusia secara alamiah cenderung hidup berkelompok dalam mencapai suatu tujuan. Dalam berkelompok, sifat kompetitif adalah hal yang wajar dan bahkan bisa bermanfaat. Namun, sifat kompetitif yang berlebihan justru bisa membuat seseorang mengalami crab mentality. Selain itu, rasa percaya diri yang rendah, iri hati, rasa putus asa, bahkan depresi juga dapat menumbuhkan sikap tersebut.

Pola pikir orang yang memiliki crab mentality umumnya tidak sehat. “Jika aku tidak bisa mendapatkan yang aku mau, kamu atau dia juga tidak boleh mendapatkannya”. Pemilik sikap Crab Mentality bisa saja berusaha lebih kuat untuk mencapai tujuannya, tapi rasa putus asa dan kepercayaan diri yang rendah membuatnya memilih untuk berhenti berjuang. pemilik mental ini akan “mengajak” orang lain untuk tetap berada pada level pencapaiannya agar tidak merasa tertinggal.

Crab mentality juga bisa disebabkan karena ketergantungan seseorang dalam hidup berkelompok. Kepergian salah satu anggota kelompok akan membuat kelompok tersebut jadi sulit berkembang, terlebih jika yang pergi adalah orang yang sangat berpengaruh. pemilik mental ini akan mengajak orang lain untuk seide dan sepemikiran dengannya supaya menghalangi orang lain yang akan pergi dari kelompok tersebut.

Oleh karena itu, orang dengan crab mentality akan berusaha untuk menahan langkah temannya yang akan pergi agar ia tetap berada di dalam kelompok. Cara yang dilakukan untuk menjatuhkan individu dari kesuksesan bisa bermacam-macam, misalnya memberi komentar yang mengejek atau menakuti orang lain agar enggan untuk meneruskan usahanya.

Cara Menghadapi Crab Mentality

Tidak perlu kesal atau marah kepada orang yang memiliki crab mentality, karena membuang-buang waktu dan energi. Lebih baik fokus untuk mencapai kesuksesan dan biarkan mereka dengan masalah mereka sendiri. Singkatnya, jangan biarkan diri Anda ikut serta dalam mentalitas kepiting. Ubah rasa iri Anda menjadi kekaguman, dan sikap defensif menjadi keramahan.

Refleksi yang bagus mengenai persaingan bahwa laki-laki juga sangat kompetitif. Kita bisa melihat sejarah persaingan dan perebutan kekuasaan di kerajaan dalam menduduki tahta sebagai Raja. Sebenarnya persaingan adalah sifat manusia. Namun, ketika kita berbicara tentang persaingan di kalangan perempuan, bahasa yang ada sangat berbeda, yaitu dengan cara merendahkan sesama perempuan.

Persaingan merupakan hal alami yang bertujuan untuk melindungi diri saat ada ancaman. Nah, jika dilakukan saat kepiting terperangkap di dalam ember, perilaku alami ini terkesan seperti tindakan tidak membiarkan temannya untuk naik dan menyelamatkan diri.

Saat analogi pada manusia, hal ini kemudian memiliki makna sebagai sikap egois atau iri hati terhadap pencapaian orang lain. Keadaan ini yang membuat seseorang mencoba menarik temannya jatuh agar tidak meraih kesuksesan.

Cara Menghindari Crab Mentality

Berada pada kelompok dengan orang yang memiliki sikap crab mentality bisa membuat kamu insecure, selalu merasa tertekan, tidak nyaman untuk melakukan aktivitas sehari-hari, dan kehilangan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan diri. Maka dari itu, penting untuk mengetahui cara menghindari orang dengan sikap crab mentality, yaitu:

  1. Tetap teguh untuk mencapai kesuksesan

Perkuat pertahanan diri untuk mencapai kesuksesan, memiliki rasa optimis dan percaya diri. Apabila mendengar komentar negatif, abaikan dan tutup telinga. Lakukan hal yang menurutmu benar. Tidak perlu memikirkan kritik atau sindiran orang lain terhadap apa yang kamu lakukan.

  1. Upgrading skill

Bersemangat untuk meningkatkan kompetensi, supaya rasa percaya diri semakin meningkat. Apabila ada orang yang meremehkanmu, cukup beri bukti bahwa kemampuanmu membuat orang lain terbungkam. Upgrading skill melalui kursus, pelatihan atau kuliah pada tingkat selanjutnya.

  1. Evaluasi diri ketika gagal

Kegagalan adalah sebuah proses. Saat gagal maka akan banyak hinaan. Di masa inilah ketahanan mental teruji. Jangan sampai kegagalan menjadi menyerah dan menelan mentah-mentah komentar negatif orang lain yang justru bisa merasa semakin mem membuat terpuruk. Setiap kegagalan selalu ada pengalaman. Perlu mengevaluasi diri atas kegagalan kemudian bangkit kembali, bersemangat untuk meraih kesuksesan.

  1. Miliki circle orang yang suportif

Meninggalkan sebuah kelompok dengan orang yang memiliki sikap crab mentality, terlebih jika mereka adalah teman lama, sangat sulit. Namun, tetap berada dalam kelompok tersebut hanya akan mempersulit diri untuk mencapai kesuksesan. Sebaiknya, cut off adalah solusi terbaik. Yakinkan diri bahwa di kemudian hari akan menemukan circle pertemanan yang lebih baik. []

Tags: Crab MentalityperempuanpsikologiPsikologi RemajaWomen Supporting Women
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ajaran Tauhid Meniscayakan Kesetaraan dan Keadilan

Next Post

Apakah Boleh Kita Bersedih?

Halimatus Sa'dyah

Halimatus Sa'dyah

Penulis adalah ketua Forum Daiyah Fatayat NU Tulungagung, IG : Halimatus_konsultanhukum 2123038506

Related Posts

Sejarah Perempuan
Aktual

Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

23 Februari 2026
Sejarah Perempuan atas
Aktual

Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

23 Februari 2026
Laki-laki dan perempuan Berduaan
Pernak-pernik

Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

22 Februari 2026
Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Feminization of Poverty
Publik

Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

20 Februari 2026
Hijrah dan jihad
Ayat Quran

Bahkan dalam Hijrah dan Jihad, Al-Qur’an Memanggil Laki-laki dan Perempuan

23 Februari 2026
Next Post
Apakah Boleh Kita Bersedih

Apakah Boleh Kita Bersedih?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful
  • Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan
  • Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?
  • (Belum) Ada Ruang Media Sosial yang Ramah Disabilitas
  • Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0