Mubadalah.id – Saat cuti bersama Imlek pada 16 Februari 2026 dan perayaan Tahun Baru Imlek pada 17 Februari 2026, ingatanku kembali pada satu nama yang tak terpisahkan dari sejarah pemulihan kebhinekaan Indonesia. Dia adalah Abdurrahman Wahid, yang akrab kita sebut Gus Dur.
Bagi sebagian orang, Imlek mungkin sekadar penanda pergantian tahun dalam kalender lunar. Namun dalam konteks Indonesia, Imlek adalah simbol perjalanan panjang menuju pengakuan, kesetaraan, dan cinta dalam keberagaman. Yakni nilai mulia yang Gus Dur perjuangkan dengan keberanian moral yang langka.
Selama puluhan tahun, ekspresi budaya Tionghoa hidup dalam bayang-bayang larangan rezim dan sempitnya kebebasan berekspresi. Identitas masyarakat Tionghoa yang tinggal di Indonesia seringkali tersembunyikan. Nama lahir mereka berganti dengan nama-nama yang dinilai lebih pribumi. Tradisi mereka rayakan diam-diam, dan rasa takut menjadi bagian dari keseharian. Hingga pada tahun 2000, Gus Dur, sebagai Presiden Republik Indonesia, mencabut Instruksi Presiden yang melarang praktik kebudayaan dan kepercayaan Tionghoa. Keputusan itu lantas mengubah wajah Indonesia.
Sejak kebijakan Gus Dur mencabut Instruksi Presiden 26 tahun silam, Barongsai kembali menari di ruang publik. Aksara Mandarin tampil tanpa rasa cemas, dan Imlek hadir sebagai perayaan yang sah dan terbuka. Membahagiakan siapa saja, termasuk mereka yang berasal bukan dari warga Tionghoa.
Tanggung Jawab Negara terhadap Martabat Warga Negara
Bagi Gus Dur, kebijakannya itu bukanlah langkah politik atau pencarian popularitas, melainkan wujud tanggung jawab negara terhadap martabat warganya. Negara, menurut Gus Dur, tidak berhak mengatur seberapa jauh seseorang boleh mencintai tradisi dan keyakinannya. Negara justru berkewajiban memastikan setiap warga merasa aman menjadi diri sendiri. Dari sinilah Imlek menemukan tempatnya sebagai bagian dari rumah besar bernama Indonesia.
Akar dari sikap Gus Dur itu terletak pada cara ia memaknai Islam. Islam, bagi Gus Dur, bukan agama yang kaku dan penuh batas, melainkan jalan spiritual yang menempatkan cinta dan kemanusiaan sebagai inti ajaran. Ia kerap menekankan konsep rahmah, kasih sayang universal, yang tidak berhenti pada sesama Muslim, tetapi mengalir kepada seluruh umat manusia.
Dalam perspektif inilah, membela hak warga Tionghoa merayakan Imlek justru menjadi praktik keislaman yang sejati. Gus Dur menunjukkan bahwa keimanan kita, sama sekali tidak teruji oleh seberapa keras kita menolak perbedaan, melainkan oleh seberapa tulus kita melindungi yang berbeda dan liyan. Islam yang ia wariskan adalah Islam yang hadir untuk membebaskan, alih-alih menakut-nakuti. Islam yang memanusiakan, bukan mencurigai.
Perayaan Imlek hari ini mencerminkan warisan tersebut. Imlek tak lagi berdiri eksklusif sebagai milik satu etnis, melainkan menjadi ruang perjumpaan sosial. Ucapan selamat Imlek bersahut-sahutan dengan doa lintas iman, meja makan terbuka bagi siapa saja, dan kegembiraan terbagi tanpa syarat. Imlek di tangan Gus Dur telah menjelma menjadi praktik sosial dari nilai Islam tentang cinta yang hidup dan bekerja di tengah masyarakat.

Makna Kebhinekaan
Cuti bersama pada 16 Februari 2026 memberi kita jeda untuk merenungkan kembali makna kebhinekaan, sedang perayaan pada 17 Februari 2026 mengajak kita merayakan Imlek lebih dari sekadar tradisi Tionghoa.
Apakah sebagai bukan bagian dari warga Tionghoa, kita memaknai Imlek hanya sebagai hari libur, atau sebagai pengingat bahwa kebhinekaan membutuhkan keberanian untuk terus dirawat? Sebagai anak bangsa, kita mestinya menyadari bahwa warisan Gus Dur menuntut lebih dari sekadar nostalgia sejarah semata. Ia menuntut sikap, menuntut keberanian yang sama.
Merawat warisan Gus Dur artinya menolak segala bentuk kebencian yang terbungkus dalih agama. Merawat nilai-nilai yang Gus Dur ajarkan berarti berdiri bersama kelompok mana pun yang haknya terancam, tanpa terlebih dahulu menanyakan identitasnya. Gus Dur mengajarkan bahwa mencintai tradisi orang lain tidak akan menggerus iman keberislaman kita, tapi justru memperdalamnya.
Jelang perayaan Imlek tahun ini, mungkin salah satu makna paling penting yang bisa kita hidupi adalah dengan menjadikan hari raya sebagai momen memperbarui komitmen pada Islam yang penuh cinta. Pada Indonesia yang inklusif, dan pada kemanusiaan yang adil serta beradab. Sebab sebagaimana yang telah Gus Dur tunjukkan, di sanalah iman, kebangsaan, dan cinta bertemu dalam satu napas, denyut nadi, dan aliran darah yang sama. []










































