Minggu, 22 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    Ramadan dan Lingkungan

    Ramadan, Lingkungan dan Jihad An-Nafs

    Mubadalah dan Disabilitas

    Mubadalah dan Disabilitas: Dari Simpati ke Relasi Keadilan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    Hukum Menikah

    Perbedaan Pandangan Ulama tentang Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rujukan Metodologi

Membaca Hadis “Perempuan (bagai) Tawanan Lelaki” dalam Perspektif Mubadalah

Tentu, Kang Faqih, sapaan akrabnya, melakukan reinterpretasi sesuai spirit hadis tersebut. Sehingga menangkal tafsiran mainstream yang berkembang di masyarakat, yang notabene menyudutkan perempuan

Moh Soleh Shofier by Moh Soleh Shofier
25 Juli 2023
in Hadits, Rujukan
A A
0
Perempuan (bagai) dalam tawanan lelaki

Perempuan (bagai) dalam tawanan lelaki

30
SHARES
1.5k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id –“Hadis “Perempuan (bagai) tawanan lelaki”, bagaimana kesan kalian mendengarnya?. Pertanyaan retorik yang dilontarkan KH. Imam Nake’i ketika mengajar Bidayatul Mujtahid.

Relatif, jawabannya. Tergantung siapa yang menyampaikan dan siapa yang mendengarkan. Saya, dulu saat masih kecil, pertama kali mendengar hadis itu tidak tertarik. Namun seiringnya waktu, saat beranjak SD-SMP saya menghadiri acara pernikahan dan mendengar seorang da’i mengutip cuplikan hadis tersebut, rasanya beda.

Berbeda karena sang da’i dengan berapi-api menyampaikan suami harus berbuat baik kepada istri, lantaran istri adalah tawanan suami. “Perempuan (bak) tawanan lelaki” adalah frasa yang terus diulang-ulang sehingga menindih frasa “lelaki harus berbuat baik pada perempuan”.

Saya sendiri dan beberapa kawan (mulanya) mengamini ceramah sang da’i yang begitu menawan dengan selingan gelak-tawa. Alasannya saya mengafirmasi kala itu (begitupun kawan saya) karena merasa nyaman. Nyaman lantaran sesuai dengan (sikap keusilan) saya, ditambah justifikasi keagamaan.

Bahkan, tanpa sadar (berdosa) pernah melakukan kekerasan verbal dengan mengolok-olok kawan cewek bahwa mereka (perempuan) adalah tawanan kita-kita (lelaki). Sampai akhirnya saya sadar dan “murtad” akan cara pandang demikian.

Penyampaian Hadis yang Bias

Barangkali itu satu fenomena yang juga banyak terjadi. Dan ceramah-ceramah sebagaimana deskripsi terus bermunculan dari satu generasi ke generasi, dari satu tempat ke tempat lainnya, dari dunia nyata hatta dunia maya.

Dalam konteks ceramah, yang menjadi persoalan bukanlah pengutipan hadisnya, sebagaimana yang  KH. Faqihuddin Abdul Kodir mengingatkan, melainkan interpretasi dan penyampainya yang bias. Membesar-besarkan bahwa perempuan adalah (bak) tawanan lelaki yang muaranya akan mengaburkan pesan utamanya: Lelaki hendaklah berbuat baik kepada pasangannya.

KH. Faqihuddin Abdul Kodir, dalam karya magnum opus-nya Qirā’ah Mubādalah, mencuplik hadis itu di pembukaan bab 2. Tentu, Kang Faqih, sapaan akrabnya, melakukan reinterpretasi sesuai spirit hadis tersebut. Sehingga menangkal tafsiran mainstream yang berkembang di masyarakat, yang notabene menyudutkan perempuan.

Adapun redaksi hadisnya yaitu sebagaimana diriwayatkan dalam kitab-kitab Sunan sebagai berikut;

اسْتَوْصُوا بِالنِّسَاءِ خَيْرًا، فَإِنَّمَا هُنَّ عَوَانٌ عِنْدَكُمْ، لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ

“Ingatlah, berbuat baiklah (laki-laki) kepada perempuan. Sebab, mereka (perempuan) itu (bagai) tawanan di sisi kalian. Padahal kalian (lelaki) tidak memiliki hak kuasa apapun atas mereka selain berbuat baik… (Sunan al-Tirmidzi, al-Nasa’i, dan Ibnu Majah).

Hadis “Perempuan (bagai) Tawanan Lelaki” Perspektif Qirā’ah Mubādalah

Membaca hadis yang sedikit sensitif haruslah berhati-hati agar tidak terjebak dalam bias yang merugikan perempuan, misalnya. Oleh sebab itu, harus membaca dari berbagai sudut pandang dan perspektif. Di antaranya perspektif Qirā’ah Mubādalah.

Ada tiga step yang harus dilalui ketika mengoperasionalkan Qirā’ah Mubādalah sebagaimana diformulasikan oleh penggagasnya. Pertama, sebelum menguak makna yang terkandung dalam teks yang akan diinterpretasi, harus menemukan nilai universal yang melampaui jenis kelamin terlebih dahulu.

Dalam konteks hadis di atas, nilai universalnya adalah berbuat baik. Berbuat baik merupakan tindakan terpuji yang tidak memperhatikan jenis kelamin, bahkan spesies. Sebab, Tuhan memerintahkan kepada seluruh hambanya untuk berbuat baik, baik kepada sesama manusia; laki-laki-perempuan, atau sesama makhluknya.

Kedua, yaitu mengetahui spirit dari teks-teks yang akan diinterpretasikan. Dalam hadis di atas, spirit yang terkandung adalah membela dan berbuat baik kepada yang lemah, yaitu istri atau dan perempuan. Mengapa perempuan yang berada di posisi lemah, apakah memang kodratnya? Tidak!

Ungkapan Nabi Muhammad “Perempuan (bak) tawanan Lelaki” tidak lebih untuk mendeskripsikan situasi sosio-politik saat itu. Di mana perempuan memang dikuasai lelaki, dilemahkan dan dimarginalkan dalam setiap lini kehidupan. Dalam situasi demikian, patutlah jika perempuan dikatakan tawanan lelaki.

Oleh karena itu, Nabi menegaskan bahwa para lelaki harus secara kontinu berbuat baik kepada perempuan. Karena struktur sosio-politik laki-laki yang telah menawan hak-hak perempuan. Padahal, lelaki sama sekali tidak memiliki hak apa pun atas perempuan sebagaimana penegasan Nabi, “لَيْسَ تَمْلِكُونَ مِنْهُنَّ شَيْئًا غَيْرَ ذَلِكَ (Padahal kalian (lelaki) tidak punya hak kuasa apa pun atas mereka selain berbuat baik).

Pemihakan Nabi Terhadap Perempuan dalam Hadis Tersebut

Tidak heran, jika Kang Faqih berkesimpulan bahwa hadis itu merupakan bentuk pemihakan Nabi secara nyata kepada orang-orang lemah, terutama perempuan. Gerakan Nabi untuk melawan budaya misoginis dan mengangkat martabat perempuan dari lembah struktur sosio-politik patriarki.

Selaras dengan kesimpulan itu, dalam hadis lainnya Nabi terus menghawatirkan perempuan-perempuan yang dilemahkan sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad. Tak perlu heran dengan kekhawatiran Nabi ini, karena pada faktanya sampai 15 abad berlalu sistem budaya patriarki dan misoginis terus melemahkan dan memarginalkan perempuan.

إِنِّيْ أُحَرِّجُ عَلَيْكُمْ حَقَّ الضَّعِيْفَيْنِ: اَلْيَتِيْمِ وَالْمَرْأَةِ.

“Sesungguhnya aku mengkhawatirkan hak dua orang yang dilemahkan kalian: anak yatim dan perempuan.”

Langkah ketiga dari operasional perspektif Qirā’ah Mubādalah adalah mengimplementasikan gagasan yang terkandung dalam teks kepada seluruh jenis kelamin, atau menjalarkan kepada jenis kelamin yang tidak ada dalam teks.

Hal ini berangkat dari paradigma bahwa seluruh teks-teks syariat menyapa seluruh manusia, apapun jenis kelaminnya. Sehingga, bila ada teks yang secara lahir menyapa salah satunya maka sesungguhnya juga menyapa jenis kelamin yang lain. Inilah gagasan KH. Faqihuddin Abdul Qadir dalam Qirā’ah Mubādalah.

Untuk hadis di atas, maka baik laki-laki maupun perempuan harus berbuat baik kepada pasangannya, apalagi dalam kondisi lemah. Dan yang paling urgen dari interpretasi hadis tersebut adalah cara menyampaikannya. Jangan sampai bias dalam menyampaikan hadis tersebut sebagaimana lumrah terjadi.

Seolah-olah spirit hadisnya adalah perempuan (bagai) tawanan lelaki dan mengaburkan perintah berbuat baik kepada pasangan sebagai semangat hadis sesungguhnya. Demikianlah pembacaan Qirā’ah Mubādalah terhadap hadis di atas.

Kenapa Perspektif Qirā’ah Mubādalah dipandang Sinis dan Skeptis?

Sayangnya, tidak semua orang bisa menerima gagasan yang Kang Faqih formulasikan. Sebab gagasan (baca: istilah) perspektif Qirā’ah Mubādalah itu masih terbilang baru, tidak familiar bagi sebagian kalangan bahkan terlihat asing.

Hal demikian sudah terbiasa terjadi dalam lembaran sejarah umat Islam, bahkan panggung intelektual dunia. Satu tokoh menangkal gagasan tokoh lainnya bahkan dari murid-muridnya sendiri. Konsep Sigmund Freud pernah dikritik oleh muridnya sendiri, Erich Froom. Dalam  muslim, misalnya, Imam Abu Hanifah yang memproklamirkan konsep Istihsan. Banyak kalangan Syafi’iyah, bahkan termasuk Imam Syafi’i sendiri, mengkritik habis-habisan.

Manusia secara fitrah cenderung melihat hal baru dengan sinis, skeptis dan penuh curiga serta lari dari hal-hal yang asing. Statement Imam al-Ghazali merepresentasikan kondisi tersebut.

لِأَنَّ الْفِطَامَ عَنْ الْمَأْلُوفِ شَدِيدٌ وَالنُّفُوسُ عَنْ الْغَرِيبِ نَافِرَةٌ

“Berpisah dengan hal yang lumrah (pembacaan maintream yang bias gender dan timpang) amatlah sulit sedangkan jiwa-jiwa lari terlunta-lunta dari hal asing (perspektif resiprokal/kesetaraan)” (al-Mustashfa, 9).

Hadis “Perempuan (bagai) Tawanan Lelaki” perspektif  Linguistik Ushul Fiqh

Oleh sebab itu, kita mengenalkan nilai-nilai mubadalah menggunakan istilah-istilah aman yang tidak mengundang kontroversi, sebagaimana penegasan Kang Faqihuddin. Dalam konteks pesantren, maka harus menggunakan istilah-istilah pesantren.

Misalnya, istilah-istilah dalam kajian ushul fiqh. Dalam ushul fiqh, hadis tentang wasiat berbuat baik kepada perempuan dan perempuan (bak) tawanan lelaki bisa mengkaji dari kacamata linguistik atau kajian kebahasaan. Menggunakan istilah Ahnaf, secara ‘Ibārat al-Nash (pemahaman yang terambil dari rangkaian kalimatnya) hadis itu membawa dua pesan sekaligus.

Pertama, bersifat ashalatan (spirit). Kedua, bersifat tab’an (situasional). Sebagaimana gagasan Kang Faqih, pesan ashalatan-nya adalah berbuat baik, berpihak, dan membela yang lemah, yaitu istri atau dan perempuan. Sedangkan makna tab’an-nya ialah perempuan tertawan hak-haknya oleh budaya dan sosio-politik.

Fungsi makna tab’an yaitu untuk menggambarkan situasi sosio-politik ketika Nabi menyampaikan hadisnya. Tentu tidak menjadikan makna tab’an sebagai pijakan, baik paradigma apalagi hukum, ketika paradoks dengan makna ashalata-nya.

Kontradiksi ini bisa terjadi bila seseorang yang menginterpretasi hadis di atas menyangkut-pautkan antara makna spirit dan situasionalnya. Sebab, dua makna itu adalah 2 hal yang berbeda dan memiliki domain masing-masing.

Sementara untuk melakukan interpretasi resiprokal sebagaimana step ketiga dalam perspektif mubadalah, bisa kita gunakan teori Masālik al-Illah Tanqīh al-Manāth. Syekh Zakariya al-Anshari mendefinisikan Tanqīh al-Manāth sebagai kerja-kerja interpretasi suatu teks yang menunjukkan suatu kausa/reason/ilat hukum menggunakan beberapa kriteria. Lalu mengeliminasi kriteria-kriteria itu dan memberlakukan hukum  lebih general, (Ghoyat al-Wushul, 133).

Dalam konteks hadis di atas, maka mengeliminasi kriteria subjek-objek (jenis kelamin) kemudian memberlakukan hukum berbuat baik untuk membela mereka yang lemah, baik laki-laki maupun perempuan. Demikianlah menyikapi teks-teks yang sering jadi alat melegitimasi tindakan bias gender.

Lalu, Bagaimana Kesan Kalian Mendengar Hadis “Perempuan (bagai) Tawanan Lelaki”?

Relatif, jawabannya. Tergantung siapa yang menyampaikan dan yang mendengarkan. Bila yang menyampaikan memiliki paradigma kesetaraan, pun yang mendengarkan, maka niscaya tidak akan ada diskriminasi karena jenis kelamin. Sebaliknya, bila yang menyampaikan dan yang mendengar sedari awal bias, tentu akan menimbulkan diskriminasi gender sebagaimana kasus di atas. Wallahu A’lam

Tags: buku qiraah mubaadalahHadisMerebut Tafsirperempuanperspektif mubadalahTafsir Hadis
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kerja Domestik Menjadi Tanggungjawab Bersama: Suami dan Istri

Next Post

Pada Masa Nabi Muhammad Saw Banyak Perempuan Kaya Raya

Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Related Posts

Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Feminization of Poverty
Publik

Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

20 Februari 2026
Hijrah dan jihad
Ayat Quran

Bahkan dalam Hijrah dan Jihad, Al-Qur’an Memanggil Laki-laki dan Perempuan

20 Februari 2026
Dalam Amal Salih
Pernak-pernik

Laki-Laki dan Perempuan Mitra Setara dalam Amal Salih

18 Februari 2026
Amal Salih
Pernak-pernik

Laki-Laki dan Perempuan Setara sebagai Subjek Amal Salih

18 Februari 2026
Nilai Kesetaraan
Keluarga

Ramadan Sebagai Momen Menanamkan Nilai Kesetaraan

18 Februari 2026
Next Post
Perempuan Kaya Raya

Pada Masa Nabi Muhammad Saw Banyak Perempuan Kaya Raya

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental
  • MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra
  • QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar
  • Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi
  • Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0