Mubadalah.id – Saya lupa, saat berita ibu muda bunuh diri di Indramayu itu melintas di laman beranda media sosial, saya sedang melakukan apa. Seingatku saat itu sedang berkegiatan di Purwokerto bersama tim Redaksi Mubadalah. Yang jelas saya terhenyak agak lama, tertegun dan ragam emosi yang tak mampu terbahasakan. Antara perasaan marah, dan sedih mengingat sosok ibu muda itu meregang nyawa dengan meninggalkan dua anak yang masih belia, usia tujuh dan dua tahun. Entah nasib apa yang sedang ia jalani, sehingga ia berani mengakhiri nyawa sendiri.
“Seorang ibu muda berinisial KN (27) ditemukan tewas diduga gantung diri di Kecamatan Balongan, Kabupaten Indramayu pada Sabtu, 14 Februari 2026. Korban pertama kali ditemukan oleh suaminya dalam kondisi tergantung di pintu samping rumah.”
Demikian berita yang saya temui di halaman Indramayu Post ini. Saya menunggu respons dari teman-teman, atau minimal ada yang menceritakan sedikit, karena biasanya dalam kasus dan isu apapun terkait kekerasan terhadap perempuan kadang-kadang saya yang menjadi pemantik awal, mendorong agar kita bersikap kritis. Sayang sekali, hingga satu minggu berselang, masih sepi tidak ada yang peduli.
Menurutku, tidak ada kasus kekerasan terhadap perempuan yang bebas nilai, dan berangkat dari ruang hampa. Selalu ada faktor penyebab yang berkelindan erat dengan kemiskinan, keterbatasan akses dan sistem sosial, politik serta ekonomi di sekitarnya. Ya, negara dalam hal ini pemerintah Kabupaten Indramayu beserta jajarannya hingga struktur paling bawah Pemerintah Desa di Kecamatan Balongan, ikut bertanggung jawab atas kematian ibu muda yang bunuh diri itu.
Mengapa Kita Harus Peduli?
Kasus ibu muda bunuh diri di Indramayu ini menjadi potret buram, bahwa kemiskinan di negara kita masih berwajah perempuan. Mungkin hari ini adalah dia, yang kini sudah berkalang tanah itu, menjadi korban. Esok entah giliran siapa, bisa jadi orang yang kita kenal, atau orang-orang terdekat di antara kita. Jadi, sebelum semuanya terlambat, tolong jika ada masalah apapun, berceritalah dan cari ruang aman.
Hari ini, jutaan perempuan miskin tercatat sebagai angka dalam statistik resmi. Namun, kerja perawatan yang mereka lakukan, dari merawat anak, orang tua, suami yang sakit, hingga menjaga lansia tak pernah dihitung sebagai kontribusi pembangunan. Kelelahan para perempuan itu tak pernah masuk laporan pertumbuhan, padahal tanpa itu semua, pembangunan takkan pernah berjalan.
Jika kelelahan itu kita hitung, mestinya ada kursi konseling murah di Posyandu, Puskesmas, atau pusat layanan kesehatan lainnya. Beras subsidi lebih dulu sampai ke rumah perempuan miskin yang menopang keluarga di tengah sakit, usia renta, dan kemiskinan.
Ketika terimpit kemiskinan dan mencari jalan keluar, satu-satunya yang tersedia sering kali cuma pinjaman mikro berbunga tinggi. Sebut saja pinjaman online, bank mekar, dan lain-lain, sampai kredit harian yang mencekik.
Alih-alih memberi napas, skema ini memperdalam jerat perempuan. Program seperti Ultra Mikro (UMi) memang memberi akses modal, tetapi siapa yang berdaya jika 95 persen dari 6,4 juta debiturnya adalah perempuan paling rentan?
Perempuan yang menjadi kepala keluarga atau menopang rumah tangga di saat bersamaan, memang tidak memiliki literasi keuangan yang memadai. Mereka terpaksa mengambil pinjaman tanpa pendampingan. Sementara risiko gagal bayar menumpuk, utang bertambah, tekanan psikologis meningkat, dan risiko bunuh diri menjadi nyata.
Beban kerja dan risiko finansial yang berlebihan pada perempuan inilah yang kerap berakhir dalam konsekuensi kesehatan mental serius. Utang mikro tanpa pendampingan psikososial atau kapasitas usaha hanyalah jebakan yang menjerat generasi berikutnya dalam lingkaran kemiskinan. Rantai kemiskinan, terutama terhadap perempuan, akan terus berkelindan dan semakin sulit terhapuskan.
Mendorong Gerakan Bersama
Saya sependapat dengan opini yang Laila Zaini tulis di laman Magdalene.co, bahwa kita perlu membangun kepedulian kolektif, atau yang ia sebut dengan collective care. Solidaritas sederhana yang bergerak dari dapur, dari pelukan sesama ibu, dari tangan-tangan yang menolak membiarkan siapa pun mati sendirian.
Ibu-ibu di sudut desa itu saling menitipkan anak agar bisa bekerja tanpa rasa cemas. Komunitas berbagi lauk dan sembako untuk anggota yang sedang kesulitan. Sesi curhat dan pendampingan psikososial informal di rumah tetangga meringankan beban mental ibu-ibu.
Saya juga percaya bahwa semangat itu masih ada, meski agak rapuh dan perlu kita rawat bersama. Bunuh diri seorang ibu karena tak kuat menanggung beban adalah pengingat paling pahit bahwa collective care harus kita perkuat. Ia bukan sekadar kebaikan hati, melainkan strategi bertahan hidup.
Menurut Laila Zaini, jika dunia punya World Suicide Prevention Day, maka di desa-desa kita bisa melakukan pencegahan itu dengan nama saling jaga. Ia sederhana, tapi bisa menyelamatkan nyawa. Collective care adalah cinta yang terus bergerak, yang menolak menyerah pada sistem yang abai, dan pesan lantang bahwa hidup perempuan harus kita hargai.
Saya setuju, kita tidak minta pembangunan yang memanjakan, tapi pembangunan yang menghitung beban ganda dan luka yang tak terlihat. Pembangunan yang tahu bahwa akses modal tanpa akses pemulihan hanyalah jebakan. Selain itu, kita juga meminta pemerintah mendukung riset berbasis gender, agar kebijakan tidak hanya berbasis angka, tapi juga pengalaman hidup perempuan.
Konon, saat ini akan ada Koperasi Merah Putih (KMP) di setiap desa. Mari kita lihat, apakah nanti program akan juga menyasar kelompok rentan, terutama perempuan miskin sebagai prioritas kebijakan. Untuk itu, mari kita kawal dan mendorong gerakan bersama kepedulian kolektif ini bagi mereka yang terpinggirkan, tersingkirkan, tak berdaya dan tanpa suara itu. []











































