• Login
  • Register
Rabu, 21 Mei 2025
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Jalin Persaudaraan Meski Kini Beda Keyakinan

Untuk tetap jalin persaudaraan, kita dapat mengikuti jalan sendiri tanpa perlu mengutuk yang lain. Dengan begitu, ibadah kita dapat menjadi lebih konkrit dan pandangan kita semakin universal

Aida Nafisah Aida Nafisah
13/11/2023
in Personal, Rekomendasi
0
Jalin Persaudaraan

Jalin Persaudaraan

1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Salingers bagaimana kalau saudaramu memilih untuk berbeda keyakinan? Bayangkan gimana sikap anggota keluarga yang lain? Apakah tetap akan menjalin persaudaraan, atau akan ada penolakan yang enggak berkesudahan? Sehingga relasi kekeluarga terputus begitu aja.

Ini adalah pengalamanku untuk memilih tetap menjalin persaudaraan dengan kakak kandung perempuan yang kini berbeda keyakinan beragama dengan keluargaku. 

Kami sekeluarga sebenarnya tumbuh sebagai keluarga muslim sejak lahir, begitu juga dengan saudara perempuanku (kakak). Namun situasi ini mulai berubah ketika kedua kakak perempuanku memilih untuk pindah keyakinan (agama), dari muslim ke kristen, mengikuti agama suami mereka.

Awalnya keluarga nggak menerima keputusan yang kakak ambil untuk keluar dari Islam. Banyak pertentangan dari pihak keluarga, bahkan saudaraku yang lain sangat murka. Sehingga rasanya mereka akan sulit menerima kakakku sebagai bagian anggota keluarga. Hal ini membuat hubungan keluarga kami jadi nggak harmonis dalam beberapa saat.

Tetapi, kedua kakakku terlihat tetap punya keinginan untuk menjalin hubungan yang baik antara keluarga terutama dengan orang tua kami. Mereka terus-menerus meminta maaf atas pilihan keyakinannya, juga bersikap baik pada keluarga khususnya pada bapak.

Baca Juga:

Apakah Barak Militer Bisa Menjadi Ruang Aman bagi Siswi Perempuan?

Kontekstualisasi Ajaran Islam terhadap Hari Raya Waisak

Pesan Toleransi dari Perjalanan Suci Para Biksu Thudong di Cirebon

Temu Keberagaman 2025: Harmoni dalam Kebebasan Beragama dan Berkeyakinan

Sesekali mereka main ke rumah bapak dengan membawa buah tangan, atau menginap beberapa hari di rumah bapak untuk merawat bapak. Karena saat itu bapakku adalah orang tua tunggal.

Setelah melakukan beberapa usaha, bapak kemudian kembali menerima upaya mereka untuk memperbaiki keadaan, dan hubungan mereka antara anak dan orang tua ini bisa kembali harmonis.

Ketika Beda Agama tak lagi Menjadi Perdebatan

Di sisi lain, aku melihat bapakku yang awalnya bersikap tegas dan marah saat mendengar kabar perpindahan agama kakak. Namun ia juga adalah orang tua yang pada umumnya memilih untuk tetap melihat anak-anaknya bisa berkumpul bersama dan utuh seperti dahulu. 

Mungkin itulah letak kebahagiaan bagi bapak, sehingga masalah agama nggak lagi jadi perdebatan. Karena sejatinya mungkin ada orang tua yang memang lebih mementingkan keutuhan keluarganya ketimbang agama.

Hidup dalam lingkungan di mana satu agama mendominasi masyarakat, memang begitu pemandangan yang bakal sering kita lihat. Kita akan sering melihat saudara, teman, tetangga, pasti ada aja yang memberi kabar bahwa mereka kini menjadi penganut agama A atau B.

Sebagai anak perempuan sekaligus adik kandung dari kedua kakak perempuanku, rasa amarah kian hilang seiring berjalan waktu. Meskipun kenyataannya aku memang selalu rindu bisa melakukan aktivitas keagamaan bersama kakak, tapi mungkin beginilah perubahan keluarga yang harus kami pikul.

Saat bapak kembali menerima kedua kakak perempuanku. Aku semakin senang, bahkan sesekali kakak mengajak untuk main ke rumahnya. Hingga saat ini, hubungan kami masih baik-baik saja, meskipun kami sudah punya kehidupan masing-masing tapi kami masih sering bertukar kabar melalui handphone. 

Seiring berjalan waktu, aku juga mulai membagun value, gimana caranya jalin persaudaraan mengingat keyakinan kami yang kini sudah beda. Hal-hal ini yang biasanya aku lakukan untuk menjaga silaturahmi dengan kedua kakakku.

Pertama, nggak saling membicarakan keunggulan dalam keyakinan beragama

Aku adalah barisan orang yang percaya bahwa “agama-agama lain juga punya jalan yang sama-sama sah untuk mencapai kebenaran.” Meskipun terkesan lebih inksklusif, tapi dari kejadian kedua kakak perempuanku ini, aku merasa komitmen dan sikap tegas dalam diri semakin terpelihara untuk mempertahankan kebenaran agamaku.

Aku udah nggak lagi mempertanyakan tentang kuantitas keIslaman kakak-kakakku, nggak juga membahas kenyamanan beribadah mereka dengan agama yang mereka pilih.

Meskipun dalam setiap proses komunikasi yang kami jalani, sesekali kakak yang lebih inisiatif mengingatkan untuk mematikan telepon karena sudah terdengar suara azan, saatnya untuk melaksanakan salat.

Hal itu juga bukan menjadi tolok ukur dalam melihat keberhasilan kakak dengan keyakinannya, ia mengingatkan karena dulu pernah menjadi seorang muslim. Bagiku kita dapat mengikuti jalan kita sendiri tanpa perlu mengutuk yang lain. Dengan begitu ibadah kita dapat menjadi konkrit dan pandangan kita semakin universal.

Kedua, jalin persaudaraan dengan nggak menyinggung masa lalu

Meskipun kami dekat dan akrab karena punya hubungan darah. Aku sangat menghindari untuk mempertanyakan “kenapa kakak memilih pindah agama?” Atau “apakah kakak menyesal?” Karena ini adalah hal yang sensitif dan terkesan diskriminatif.

Aku yakin banyak hal yang mungkin terjadi dalam hidupnya yang dia perjuangkan sendiri, dan biarkan pertanyaan itu hanya ada dalam isi kepalaku, tanpa harus aku tahu apa jawabannya.

Ketika berkomunikasi, sebisa mungkin untuk nggak menyinggung masa lalu, meskipun kita adalah saudara kandung, karena dengan terus-menerus membahas pindah agama hanya akan menggali luka lama. 

Sekarang kakak dan aku sudah punya kehidupan masing-masing, dia sudah memilih jalan yang menurut dia mungkin paling masuk akal. Untuk itu hargai pilihannya, sekarang waktunya untuk fokus dengan proses membangun silaturahmi ini, dan yang lalu biarlah berlalu.

Ketiga, nggak menggunakan representasi salam salah satu agama

Ini sebenarnya remeh-temeh banget, tapi setiap kali berkomunikasi, aku selalu menunggu kakakku yang mengucapkan salam. Beberapa kali, ia hanya berucap kata “halo” tanpa salam Islam begitupun ketika menutup telepon ia pasti hanya akan mengucapkan kata “daa daa” (sampai jumpa). Aku juga akan membalas hal yang sama.

Sebenarnya nggak apa-apa juga sesekali latah menggunakan salam dari Islam, karena setiap hari kita menggunakan salam itu, dan pasti akan selalu melekat. Tapi ini hanya untuk pembelajaran saja buatku, mulai dari hal-hal kecil yang mungkin punya dampak menghargai yang lebih terasa dari lawan bicara kita.

Terakhir, menyadari bahwa orang yang berpindah keyakinan lebih rentan mendapati kekerasan spiritual (spiritual abuse)

Ada banyak jenis pelecehan, tapi salah satu yang mungkin nggak kita sadari adalah pelecehan spiritual (atau agama). Pelecehan spiritual bukan hanya terjadi ketika pelakunya adalah seorang pemuka agama yang menggunakan kekuatan posisi mereka buat ngelakuin aksinya dengan menjual agama. 

Namun, pelecehan spiritual juga bisa terjadi dalam hubungan intim dengan pasangan atau keluarga. Sampai sekarang aku masih sering mikir, “kenapa harus kakakku yang berpindah agama?” Yang nggak kalah penting juga adalah nggak bisa dipungkiri bahwa kita masih hidup sebagai anak kandung budaya patriarki. 

Budaya di mana perempuan yang harus ikut dengan suami, karena suami adalah seorang pemimpin. Yang pada akhirnya perempuan jugalah yang akan menanggung lebih banyak masalah, baik dengan dirinya sendiri, dengan lingkungannya, atau keluarnya.

Atas kejadian pindah agama kedua kakakku, mereka jadi masuk dalam lingkaran permasalahan yang belum berkesudahan sampai detik ini. Di mana, anak laki-laki dalam keluarga kami belum bisa seterbuka itu menerima kembali kedua kakak kami dari pada anak perempuan lainnya. Komunikasi mereka jadi semakin alot.

Menerima dan Menjadi Ruang Aman

Sebenarnya pelecehan spiritual juga nggak terbatas sama agama tertentu. Siapa pun, dengan sistem kepercayaan apa pun, mungkin bisa melakukan pelecehan spiritual, sama seperti siapa pun bisa jadi korban, baik laki-laki atau perempuan.

Namun yang nggak kalah berbahayanya dari pada jenis pelecehan lainnya adalah, karena kehidupan spiritual seseorang sangat bersifat pribadi. Sehingga, kita akan sulit untuk mengidentifikasi.

Sampai saat ini, aku juga belum berani untuk mengintervensi keyakinan kakakku, untuk menjalin persaudaraan ini biarlah dia menjalani keyakinannya dengan nyaman.

Tapi seringkali overthinking muncul dalam benakku, gimana kalau suatu saat kakak ada masalah dengan suaminya? Karena nggak ada yang bisa jamin sebuah rumah tangga akan selalu baik-baik saja. 

Dalam hal ini, yang paling bisa aku lakukan untuk jalin persaudaraan adalah menerima dan menjadi ruang aman bagi kedua kakakku. Melatih sikap toleransi yang harus dimulai dari keluarga sendiri.

Mulai berpegang teguh bahwa perbedaan ini mungkin juga adalah rahmat yang harus aku syukuri. Mulai menghargai kebebasan beragama kedua kakakku dan mengakui bahwa perubahan keyakinan agamanya bisa jadi bagian dari perjalanan spiritual yang ia pilih. []

Tags: Beda AgamaJalin PersaudaraankeberagamanPelecehan SpiritualitasRuang Amantoleransi
Aida Nafisah

Aida Nafisah

Sedang belajar menjadi seorang ibu

Terkait Posts

Bangga Punya Ulama Perempuan

Saya Bangga Punya Ulama Perempuan!

20 Mei 2025
Aeshnina Azzahra Aqila

Mengenal Jejak Aeshnina Azzahra Aqila Seorang Aktivis Lingkungan

20 Mei 2025
Nyai Nur Channah

Nyai Nur Channah: Ulama Wali Ma’rifatullah

19 Mei 2025
Inspirational Porn

Stop Inspirational Porn kepada Disabilitas!

19 Mei 2025
Nyai A’izzah Amin Sholeh

Nyai A’izzah Amin Sholeh dan Tafsir Perempuan dalam Gerakan Sosial Islami

18 Mei 2025
Kehamilan Tak Diinginkan

Perempuan, Kehamilan Tak Diinginkan, dan Kekejaman Sosial

18 Mei 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Bangga Punya Ulama Perempuan

    Saya Bangga Punya Ulama Perempuan!

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KB Menurut Pandangan Fazlur Rahman

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • KB dalam Pandangan Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Mengenal Jejak Aeshnina Azzahra Aqila Seorang Aktivis Lingkungan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Rieke Diah Pitaloka Soroti Krisis Bangsa dan Serukan Kebangkitan Ulama Perempuan dari Cirebon

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Peran Aisyiyah dalam Memperjuangkan Kesetaraan dan Kemanusiaan Perempuan
  • KB dalam Pandangan Riffat Hassan
  • Ironi Peluang Kerja bagi Penyandang Disabilitas: Kesenjangan Menjadi Tantangan Bersama
  • KB Menurut Pandangan Fazlur Rahman
  • Saya Bangga Punya Ulama Perempuan!

Komentar Terbaru

  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Nolimits313 pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

© 2023 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
  • Khazanah
  • Rujukan
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Kolom Buya Husein
  • Login
  • Sign Up

© 2023 MUBADALAH.ID

Go to mobile version