Mubadalah.id – Pandangan tentang seksualitas terbentuk dari cara manusia memberi makna pada tubuh dan organ reproduksi. Tubuh tidak hanya dipahami secara biologis, tetapi juga dinilai secara sosial dan moral melalui konstruksi budaya dan keagamaan.
Dari sinilah lahir nilai-nilai manusia yang menganggap sosial ogran tubuh berbeda beda, dan alat kelamin sebagai organ yang sangat penting. Bahkan dalam bahasa sehari-hari penghalusan terhadap kelamin dengan menggunakan kata “alat vital” yang berarti alat penting/utama.
Manusia memberi nilai yang berbeda untuk mata, rambut, tubuh bagian dalam perempuan daripada organ yang sama untuk laki-laki. Organ-organ itu lebih membahayakan bagi perempuan dan sebagai sumber godaan bagi lelaki karenanya harus ia tutup.
Manusialah yang memberi nilai bahwa alat reproduksi perempuan merupakan batas ukuran kesucian manusia. Manusialah yang memberi nilai bahwa hymen atau jaringan selaput dara merupakan mahkota bagi perempuan. Oleh karenanya perempuan hanya ia nilai dari selembar tipis jaringan selaput dara itu.
Jadi seksualitas merupakan sekumpulan pandangan manusia tentang organ atau alat reproduksi atau seks itu. Pandangan itu pada mulanya bukan bersumber dari tradisi pengetahuan empirik melainkan dari tradisi Biblika di mana pengetahuan dikonstruksikan berdasarkan keyakinan agama. Karena dasarnya dogma atau keyakinan tentu basisnya bukan empirik atau hasil studi atau riset.
Tradisi Kristiani
Dalam tradisi Kristiani, seksualitas cenderung tabu. Ini antara lain terkait dengan keyakinan soal konsep kejadian manusia, konsep buah apel (atau khuldi dalam tradisi Islam), godaan setan terhadap Eva yang membuat Adam jatuh dari surga dan cerita-cerita serupa yang juga kita kenal dalam tradisi Islam.
Karenanya, sangatlah kita mengerti jika manusia juga mengkonstruksikan pandangannya tentang seksualitas terpengaruhi oleh pandangan Biblika yang begitu negatif terhadap seks.
Dalam tradisi Biblika, seks juga mereka takuti karena bicara seks adalah bicara tentang hawa nafsu. Padahal salah satu tugas agama adalah mengelola, menaklukan memenjarakan nafsu yang kita yakini datang dari “kuasa gelap” atau setan.
Seks sering dipandang buruk karena terkait dengan hasrat dan hawa nafsu, dan seks ditakuti karena akibat yang ditimbulkannya, yaitu kelahiran anak manusia baru. []
Sumber tulisan: Buku Kisah Perempuan: Pengalaman Siklus Kehidupan Reproduksi Perempuan.


















































