Rabu, 18 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik sebagai Ritual

    Mudik sebagai Ritual: Antara Tradisi, Identitas, dan Pengalaman

    Fastabiqul Khairat

    Fastabiqul Khairat ala Gen Z di Akhir Ramadan

    Peacewashing

    Keluar dari Jebakan Peacewashing BoP

    Aborsi Aman

    Absennya Aborsi Aman sebagai Kontrol Negara Terhadap Tubuh Perempuan

    Perceraian

    Gemuruh Kausa Perceraian

    Khairunnas Anfa’uhum Linnas

    Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

    Konflik Keluarga

    Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Al-Quds Day

    Mengenal Al-Quds Day: Sebuah Pengingat Bahwa Keadilan Tidak Boleh Dilupakan

    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Praktik Sunat Perempuan

    Praktik Sunat Perempuan Berdampak Serius pada Kesehatan

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Masih Mengancam Keselamatan Perempuan

    Komplikasi Kehamilan

    Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Penyebab Tingginya Kematian Perempuan

    Seksual Perempuan

    Perempuan Rentan Terpapar Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual

    Kehamilan berulang

    Kehamilan Berulang Tingkatkan Risiko Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

    Risiko Kesehatan

    Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

    Kekurangan Gizi

    Kekurangan Gizi Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Perempuan

    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Menjadi Aktivis

    Di Indonesia, Menjadi Aktivis Berarti Bertaruh Nyawa

    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Mudik sebagai Ritual

    Mudik sebagai Ritual: Antara Tradisi, Identitas, dan Pengalaman

    Fastabiqul Khairat

    Fastabiqul Khairat ala Gen Z di Akhir Ramadan

    Peacewashing

    Keluar dari Jebakan Peacewashing BoP

    Aborsi Aman

    Absennya Aborsi Aman sebagai Kontrol Negara Terhadap Tubuh Perempuan

    Perceraian

    Gemuruh Kausa Perceraian

    Khairunnas Anfa’uhum Linnas

    Jargon “Khairunnas Anfa’uhum Linnas” dan Perihal Tuntutan untuk Selalu Produktif

    Konflik Keluarga

    Sembilan Langkah Menengahi Konflik Keluarga dalam Perspektif Mubadalah

    Al-Quds Day

    Mengenal Al-Quds Day: Sebuah Pengingat Bahwa Keadilan Tidak Boleh Dilupakan

    Mudik

    Mudik: Ritual Perjalanan Yang Multimakna

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Praktik Sunat Perempuan

    Praktik Sunat Perempuan Berdampak Serius pada Kesehatan

    Aborsi

    Aborsi Tidak Aman Masih Mengancam Keselamatan Perempuan

    Komplikasi Kehamilan

    Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Penyebab Tingginya Kematian Perempuan

    Seksual Perempuan

    Perempuan Rentan Terpapar Penyakit Menular Melalui Hubungan Seksual

    Kehamilan berulang

    Kehamilan Berulang Tingkatkan Risiko Kesehatan Perempuan

    Kesehatan Reproduksi

    Kesehatan Reproduksi Perempuan Membutuhkan Perhatian Khusus

    Risiko Kesehatan

    Perempuan Lebih Rentan Mengalami Berbagai Risiko Kesehatan

    Kekurangan Gizi

    Kekurangan Gizi Masih Menjadi Ancaman Kesehatan Perempuan

    Layanan Kesehatan

    Hak Perempuan atas Layanan Kesehatan Sepanjang Siklus Kehidupan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Melihat Ancaman Seksisme di Kehidupan Perempuan

Seringkali, perbuatan atau perkataan yang mengandung seksisme menyebabkan korbannya merasa bersalah.

Shivi Mala by Shivi Mala
17 Desember 2025
in Publik
A A
0
Seksisme

Seksisme

21
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.Id- Semangat 16 HAKTP (Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan) membuat saya ikut melihat tentang seksisme. Ternyata hal ini masih jadi ancaman yang sangat nyata bagi perempuan di kehidupan sehari-hari.

Secara sederhana seksisme adalah sikap, tindakan, perkataan atau keyakinan yang mendiskriminasi seseorang berdasarkan jenis kelamin atau gender. Seksisme bisa terjadi pada laki-laki dan perempuan, tetapi biasanya, perempuan cenderung lebih rentan.

Melihat Lebih Jelas Bentuk Seksisme

Seksisme terjadi karena sikap mendasar yang menganggap perempuan kurang berharga dibandingkan laki-laki. Ada beberapa bentuk seksisme, kali ini kita bahas empat bagian yang sangat jelas menggambarkan bentuk-bentuk seksisme.

Pertama, Hostile Sexism. Seksisme jenis ini sangat defensif, sengaja melemahkan, memusuhi, atau merendahkan perempuan secara langsung. Jenis ini sangat mudah terlihat, karena jelas menganggap perempuan sebagai musuhnya. Lets say, menganggap perempuan posisinya di bawah laki-laki.

Kedua, Benevolent Sexism. Seksisme jenis ini terasa lebih lembut. Ibarat manusia, ini seperti manusia yang pandai memanipulasi. Bentuk Benevolent sexism sering terlihat sebagai sebuah perlindungan dan pertolongan untuk perempuan. Memangnya, perempuan perlu ditolong dari apa, sih?

Benevolent sexism sangat sering terjadi di kehidupan sehari-hari, menyelinap seperti hal biasa dan terlihat normal. Padahal, benevolent sexism mengandung unsur menempatkan perempuan sebagai makhluk ke dua. Contoh kecilnya menganggap perempuan lebih cocok di rumah, atau perempuan tidak kompeten mengambil keputusan; biar laki-laki saja. Seperti hal biasa, tapi perlahan menghancurkan perempuan dari dalam.

Ketiga, Institutional Sexism. Seksisme jenis ini tercipta dari sebuah kebijakan hingga sistem sosial yang bias gender, tidak ramah perempuan dan sudah tertanam lama. Misalnya deskriminasi berbasis gender di lingkungan kerja, pemerintahan, kebijakan hukum, lingkungan sosial, budaya, dan media.

Keempat, Internalized Sexism. Jenis-jenis seksualisme di atas, sangat berpotensi besar membuat perempuan mempercayainya. Muncul dari internal perempuan sebab percaya pada stigma dan mengiyakan sterotip yang beredar di masyarakat.

Tanpa Kita Sadari, Seksisme Terjadi di Kehidupan Sehari-Hari

Seksisme bisa terjadi sangat halus, seperti melebur dalam kehidupan sehari-hari. Seringkali membuat pelaku dan korban tidak sadar bahwa sedang melakukan suatu hal yang berpotensi merugikan satu pihak.
Nah, agar lebih jelas bagaimana, sih bentuk seksisme dan kapan terjadinya, saya klasifikasikan jadi beberapa bagian.

Pertama, menyasar bentuk fisik perempuan. Membuat standar tentang fisik perempuan agar laki-laki menyukainya. Contohnya bahwa perempuan catik itu berkulit putih, berambut lurus dan menjaga bentuk badan
Kedua, menyasar perilaku perempuan. Contohnya sterotip bahwa perempuan harus bersuara lembut atau perempuan harus feminim agar laki-laki yang bertugas melindunginya. Sering melihat kejadian ini? Jangan abaikan begitu saja.

Ketiga, menyasar pilihan hidup perempuan. Contohnya sterotip perempuan melahirkan dengan caesar seolah belum sepenuhnya menjadi ibu. Anggapan perempuan jangan terlalu berkarir nanti susah jodohnya, atau perempuan harus segera menikah agar ada yang menafkahi. Perempuan seolah berada di posisi yang lebih lemah dan bergantung pada laki-laki yang akan melindunginya.

Keempat, menyasar ruang kerja dan sosial perempuan. Contohnya mengabaikan pendapat perempuan di lingkungan kerja atau sosial, menganggap perempuan tidak layak berada di posisi yang tinggi. Contoh lainnya adalah membayar upah perempuan lebih rendah daripada laki-laki, termasuk juga mengabaikan hak cuti hamil.

Kelima, menyasar emosi perempuan. Seksisme juga terjadi saat menuduh perempuan sedang PMS ketika marah atau bertindak tegas. Begitu juga dengan menganggap perempuan menangis sebagai drama dan simbol kelemahan. Emosi seseorang itu valid, laki-laki dan perempuan berhak memilik dan mengutarakan emosinya.

Keenam, menyasar sterotip perempuan di media. Contohnya poster film bergambar perempuan seksi untuk menarik minat penonton. Contoh lainnya adalah menampilkan sterotip peran domestik adalah tugas perempuan. Begitu juga soal menggambarkan karakter perempuan yang baik adalah sosok pendiam, sabar, lemah lembut, pasrah dan mengorbankan diri dalam film.

Contoh-contoh  di atas sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Menurut saya, perempuan harus tahu jenis-jenis seksisme dan bagaimana contohnya agar lebih peduli pada dirinya sendiri.

Ketika Terjadi Seksisme, Itu Bukan Salah Korban

Nyatanya, yang saya paparkan hanyalah sebagian kecil contoh seksisme yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Kadang sedikit susah memang menyadarinya, apalai jika bentuknya benevolent sexism yang sangat halus dan ternormalisasi. Tetapi jika tidak segera menyadari, perempuan sangat rawan terjebak pada internalized sexism.

Seringkali, perbuatan atau perkataan yang mengandung seksisme menyebabkan korbannya merasa bersalah. Ketika perempuan merasa bersalah, ini akan menjadi beban ganda; selain mengalami perlakuan seksis, mereka juga merasa bersalah atas sesuatu yang sama sekali bukan tindakan mereka.

Sangat penting menanamkan pada perempuan bahwa ketika ia menjadi korban, ia tidak bersalah. Akar masalahnya sudah terjadi sejak lama, yaitu pada cara pandang masyarakat, bukan pada diri perempuan. Menyadari bahwa seksisme bukan kesalahan korban adalah adalah langkah pertama untuk menyelamatkan diri dan membangun batasan sehat. []

Tags: 16 HAKTPKampanye 16 HAKTPKasus Kekerasan Berbasis Genderseksisme
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Buku Jilbab dan Aurat: Membaca Ulang Tanda Kesalehan Perempuan

Next Post

Belajar Kesetaraan dari Buku Manual Mubadalah

Shivi Mala

Shivi Mala

Islamic Law Enthusiast

Related Posts

Industri Perfilman
Publik

Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

2 Maret 2026
Femisida
Aktual

Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

1 Maret 2026
Obsessive Love Disorder
Publik

Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

28 Februari 2026
Kekerasan di Tempat Kerja
Publik

Perempuan Dibayangi Kekerasan di Tempat Kerja

10 Februari 2026
Broken Strings
Buku

Broken Strings: Bersuara Tak Selalu Menyembuhkan, Tapi Diam-diam Menyakitkan

29 Januari 2026
Broken Strings
Buku

Dalam Keheningan yang Tak Lagi Menakutkan: Reading Note’s Broken Strings

15 Januari 2026
Next Post
Manual Mubadalah

Belajar Kesetaraan dari Buku Manual Mubadalah

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Praktik Sunat Perempuan Berdampak Serius pada Kesehatan
  • Mudik sebagai Ritual: Antara Tradisi, Identitas, dan Pengalaman
  • Aborsi Tidak Aman Masih Mengancam Keselamatan Perempuan
  • Fastabiqul Khairat ala Gen Z di Akhir Ramadan
  • Komplikasi Kehamilan Masih Menjadi Penyebab Tingginya Kematian Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0