Selasa, 27 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    Poligami Siri

    KUHP Baru: Poligami Siri Rentan Menjerat Perempuan

    ASEAN Para Games

    Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

    Bencana Alam

    Bencana Alam atau Murka Ekologis? Membaca Pesan Tuhan melalui Ayat Kauniyah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    Haid

    Haid, Tubuh Perempuan, dan Pembagian Peran Sosial

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan dan Dampaknya terhadap Kesehatan

    Khitan Perempuan

    Khitan Perempuan Dinilai Merugikan Hak Seksual dan Kesehatan

    Pengetahuan Kesehatan Reproduksi

    Minimnya Pengetahuan Membuat Remaja Rentan Salah Paham soal Kesehatan Reproduksi

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Buku

Memahami Psikologis Disabilitas Lewat Buku Perang Tubuh

Orang yang mengalami disabilitas di tengah perjalanan kehidupan seringkali mengalami guncangan mental-emosional mendalam

Zenit Miung by Zenit Miung
19 Oktober 2025
in Buku
0
Psikologis Disabilitas

Psikologis Disabilitas

1.1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Judul: Perang Tubuh

Penulis: Ryan Sugiarto

Penerbit: Pustaka Insan Madani

Tahun Terbit: 2013 (cetakan kesepuluh)

Mubadalah.id – Perang Tubuh: Ketika Kecacatan Tidak lagi Menjadi Hambatan berkisah tentang memoar diri Ryan Sugiarto. Buku ini menuturkan perjalanan hidup Ryan dan kedisabilitasannya. Melalui kisahnya, Ryan ingin menunjukkan bahwa tubuh yang berbalut disabilitas tidak selalu nampak muram. Tidak selalu menjadi objek pertolongan (belas kasihan), dan tidak pantas dianggap pasif.

Keterbatasan dalam tubuh justru menguatkan mereka seribu kali lipat untuk menjalani kehidupan di tengah stigmatisasi lingkungan.

“Perang Tubuh” bukan hanya perang pada saraf motoriknya, melainkan perang psikologis dalam jiwanya.  Menganggap dirinya tidak berguna. Keputusasaan menghadapi dunia. Lalu, pelan-pelan mulai ada penerimaan diri atas keadaannya.

Diksi “cacat” yang tertulis dalam buku ini mencerminkan konteks zamannya. Istilah tersebut masih muncul karena buku ini diterbitkan sebelum Undang-Undang No. 8 Tahun 2016 resmi menggantikan diksi itu dengan “disabilitas”. Lewat buku ini, Salingers dapat memahami psikologis disabilitas dalam menghadapi kenyataan hidup: menerima dan menghargai dirinya sendiri.

Ryan Sugiarto dan Awal Disabilitas

Ryan Sugiarto lahir dari keluarga sederhana yang tinggal di pelosok desa Yogyakarta, Watubonang namanya. Desa yang masih belum tersentuh listrik kala itu.

Ryan kecil adalah bertubuh gemuk, pipi tembem,  nan aktif. Orang-orang pun menjulukinya Bagong. Dia banyak bergerak kesana kemari. Ibunya mau tidak mau harus menapaki langkahnya sambil menyuapinya dengan cinta dan kasih.

Namun sekitar umur 5 tahun, mendadak demam. Hari demi hari demam tak kunjung turun. Keluarga hanya mengompres dan memeriksanya ke mantri.

Ternyata, usaha tidak membuahkan hasil positif. Kedua orang  tuanya membawa ke puskesmas. Di fasilitas pelayanan kesehatan ini, penyakit Ryan baru ketahuan. Dia terserang virus polio menyebabkan kaki kanannya lumpuh.

Hati ayah ibunya hancur berkeping-keping. Mereka berharap anaknya bisa berjalan kembali. Mereka kesana kemari mencari pengobatan supaya anak laki-lakinya sembuh dan berjalan kembali. Harta terkuras habis. Kaki Ryan tidak bisa berfungsi seperti sedia kala.

Meskipun begitu, hati orang tuanya tetap membara untuk memberikan kehidupan anak-anaknya lebih baik. Bapanya pun bertekad untuk menyekolahkan kedua anaknya dan Ryan sampai perguruan tinggi.

“Hanya pendidikan yang Bapak bisa wariskan kepada kalian semua. Tidak tanah berhektar-hektar. Bukan pula tumpukan harta karena Bapak takkan mampu mewariskan itu semua”, pesan Bapak Ryan terhadap anak-anaknya.

Lanjutnya, Bapaknya berkata kepada Ryan, “anakku yang satu ini, walaupun tumbuh dengan berbagai kekurangan, tidak  boleh melewatkan pendidikan.”

Psikologis Disabilitas

“Ma, kaki om itu kenapa? Kok jalannya memakai tongkat?” Reaksi seorang anak ketika melihat Ryan. Beberapa bahkan ada yang mengolok-oloknya. “Orang pincang, orang pincang”. Ryan hanya tersenyum. Hati nya teriris-iris. Dia hanya pasrah dengan keadaannya. Emang begitu toh bentuk fisiknya. Mau gimana lagi?

Setiap fase usia mempunyai cara berbeda menghadapi disabilitasnya. Secara Psikologis,  mereka yang sejak  lahir tidak mempunyai pengalaman hidup seperti non disabilitas. Menikmati pemandangan dengan indra yang berfungsi, berjalan tanpa tongkat, mendengar tanpa alat bantu.

Sementara itu, orang yang mengalami disabilitas di tengah perjalanan kehidupan seringkali  mengalami guncangan mental-emosional mendalam.

Pada masa kanak-kanak, kegoncangan psikologis nya bagaikan ombak kecil. Merasa iri tidak bisa bermain, berlari, bersepeda, serta naik pohon. Dalam hati,  mungkin terbersit pertanyaan, “Mengapa aku tidak bisa bergerak bebas seperti teman lainnya?”

Luka psikologis lebih mendalam ketika orang yang mengalami disabilitas pada remaja dan dewasa.   Merasa dunia tidak adil. Serasa hidup sudah berakhir. Seolah-olah terperangkap dalam sangkar yang menghalangi untuk terbang bebas.

Sementara pada masa usia lanjut,  emosinya sudah cenderung stabil. Mereka lebih kuat menerima keadaan dan berdamai dengan kondisi tubuhnya.

Teori Kebutuhan Psikologis Disabilitas

Ryan menciptakan teori kebutuhan psikologis disabilitas mengadopsi  dari Abraham Maslow tentang teori hierarchy of needs. Dia membuat piramida terbalik di mana semakin ke atas maka pengaruh kebutuhan semakin besar.

Penerimaan diri. Kebutuhan dasar manusia ini adalah fondasi untuk kekokohan hati dalam menjalani kehidupan. Keadaan psikologis ini mengarah pada sejauh mana disabilitas menentukan sikap atas dirinya sendiri. Apakah disabilitas akan terus bangkit atau justru terpuruk lalu membuat dunianya sendiri?

Penghargaan diri.  Jika proses penerimaan diri selesai maka langkah selanjutnya adalah menghargai dirinya sendiri. Ini adalah kekuatan untuk pengembangan kepribadian lebih baik dan kehidupannya berkembang.

Psikologi Penerimaan Sosial. Pada tahap ini psikologi penerimaan sosial membantu disabilitas berinteraksi pada lingkungan tanpa rasa enggan dan malu.  Tidak membutuhkan rasa belas kasihan karena dia merupakan bagian dari kehidupan sosial.

Self development. Bersenjata tiga proses di atas, disabilitas dapat mengembangkan dirinya menjadi lebih baik. Mereka tidak putus asa dengan kekurangan yang melekat pada tubuhnya akan tetapi memberdayakan potensinya dengan optimal.

Ryan, contohnya, selalu merasa malu dan minder berjalan dengan tongkat. Namun, dia mampu melawan rasa malu ketika menjadi wartawan junior Gema Bernas. Dia memaksimalkan kemampuannya menjadi seorang wartawan dan penulis. Novel pertamanya berjudul Perang Tubuh.

Inspire to Another People. Disabilitas yang mampu berdiri lagi atas kondisinya, menemukan bakatnya, lalu melatih kemampuannya itu akan menemukan berlian dalam dirinya. Dia bisa menjadi sumber inspirasi orang lain dalam memperjuangkan kehidupannya.

Kekuatan Pikiran adalah Hidup Kita

Pikiran adalah pelita dalam perjalanan kehidupan. Seseorang berpikir jernih akan menemukan harapan dan solusi, sedangkan berpikir kusut dapat menyesatkan arah  dan melahirkan perilaku negatif.

Begitu pula dengan seseorang yang sedang menghadapi kedisabilitasan. Dia berpikir bahwa keterbatasannya akan mempersempit ruang geraknya. Bahkan dia merasa hidup dalam sangkar. Hidup namun terkurung. Mindset ini justru menghambat potensi dalam diri sendiri.

Dalam situasi ini, “perang tubuh” : menerima dan menolak dirinya berkecamuk. Apabila dia mampu berpikir jernih dia akan menerima keadaan. Lalu,  Memusatkan perhatian pada kekuatan dalam dirinya.

Sebaliknya penolakan terhadap kondisinya,  hanya membuat terus meratapi kekurangan dan ketidaksempurnaan sehingga menghambat proses perkembangan diri.

Karena itu, bebaskan pikiran dari keterpurukan. Fokuslah melakukan  aktivitas sesuai kemampuannya meskipun terbatas. Sebab kebebasan tidak tertumpu pada tubuh yang sempurna, melainkan pada pikiran yang mampu melihat harapan di tengah keterbatasan. []

 

 

Tags: AksesibilitasBuku Perang TubuhHak Penyandang DisabilitasInklusi SosialIsu DisabilitasPsikologis Disabilitas

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Zenit Miung

Zenit Miung

Kunci menulis adalah membaca

Related Posts

Gotong-royong
Publik

Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

26 Januari 2026
Korban Kekerasan
Publik

Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

26 Januari 2026
Musik untuk Semua
Publik

Musik untuk Semua: Belajar Inklusivitas dari Ruang Konser

24 Januari 2026
Pendidikan Perempuan Disabilitas
Publik

Membincang Hak Pendidikan Perempuan Disabilitas yang Terabaikan

24 Januari 2026
Disabilitas
Publik

Disabilitas dan Hak untuk Hidup Setara

23 Januari 2026
Kebijakan Publik
Publik

Kebijakan Publik dan Ragam Perspektif Disabilitas

21 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Kerja Perempuan Bernilai Sedekah
  • Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga
  • Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam
  • Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam
  • Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID