Mubadalah.id — Pengetahuan tentang hak kesehatan reproduksi masih minim di kalangan perempuan. Padahal, pengetahuan tersebut merupakan hak dasar, namun akses terhadapnya termasuk layanan kesehatan reproduksi masih terbatas.
Keterbatasan pengetahuan tentang kesehatan reproduksi akan berdampak langsung pada kehidupan perempuan. Bahkan, minimnya pengetahuan membuat perempuan berada dalam posisi rentan dalam mengambil keputusan terkait tubuh, kesehatan, dan seksualitasnya.
Dalam banyak kasus, perempuan tidak memiliki cukup bekal untuk memahami kondisi tubuhnya sendiri. Apalagi menentukan pilihan yang aman dan sesuai kebutuhan.
Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan kesehatan reproduksi tidak hanya menyangkut aspek medis. Tetapi juga berkaitan dengan dimensi sosial, budaya, dan pengetahuan.
Karena itu, pembahasan mengenai kesehatan reproduksi perlu dilakukan secara terbuka, dewasa, dan cerdas agar tidak terjebak pada tabu, stigma, maupun pemahaman yang keliru.
Salah satu upaya membuka ruang pengetahuan tersebut salah satunya dilakukan melalui penerbitan buku Kisah Perempuan, kumpulan tulisan peserta Kursus Gender dan Seksualitas yang diselenggarakan oleh Bayt al-Hikmah Fahmina Institute.
Buku ini membahas sembilan tema kesehatan reproduksi perempuan yang mereka susun mengikuti siklus kehidupan, mulai dari menstruasi hingga menopause.
Berbeda dari buku sejenis, Kisah Perempuan menyajikan isu kesehatan reproduksi melalui pengalaman personal para penulisnya.
Buku ini tidak memisahkan seks sebagai pengalaman ketubuhan dengan seksualitas sebagai konstruksi sosial, termasuk pandangan yang bersumber dari ajaran agama.
Pendekatan tersebut dapat memperluas pengetahuan sekaligus mendorong percakapan publik yang lebih terbuka mengenai kesehatan reproduksi perempuan. []


















































