Kamis, 29 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Sejarah Disabilitas

    Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

    KUPI 2027

    KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Sejarah Disabilitas

    Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya

    KUPI 2027

    KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Nafkah Keluarga

    Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi

    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Nanti Kita Cerita Tentang Madrasah Creator KUPI dan Halaqah Kubra KUPI

Kisah perjumpaan, pembelajaran, dan kebersyukuran selama mengikuti Madrasah Creator KUPI hingga persiapan menuju Halaqah Kubra KUPI.

Layyin Lala by Layyin Lala
12 Desember 2025
in Personal, Rekomendasi
A A
0
Madrasah Creator KUPI

Madrasah Creator KUPI

1.2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – “Lala! Selamat ya! Kamu masuk event KUPI” pagi-pagi sekali aku melihat notifikasi media sosial di layar ponsel dari seorang rekan dari komunitas Puan Menulis. Senyumku sumringah melihat ucapan selamat berdatangan. Tak henti-hentinya aku mengucapkan syukur dan berbinar. Rupanya, doa-doa yang kurapalkan di beberapa malam terakhir dikabulkan-Nya. Alhamdulillah ‘alaa kulli hal.

Event yang diselenggarakan oleh Madrasah Creator by KUPI Media Ecosystem memberikanku kesempatan untuk mengikuti Beasiswa Menulis Menjadi Storyteller. Beasiswa tersebut merupakan fasilitas untuk siapa saja yang menekuni bidang menulis khususnya dalam ekosistem media Kongres Ulama Perempuan Indonesia. 

757 Pendaftar Beasiswa Menulis Menjadi Storyteller

Pertama kali mengisi aplikasi beasiswa, sempat aku merasa sangat optimis untuk menjadi salah satu peserta Madrasah Creator KUPI. bagiku, ada banyak tanda baik yang aku rasakan saat mendaftar. Tapi, beberapa hari setelah pendaftaran, aku terkejut dengan banyaknya pendaftar sebesar 757 pendaftar.

Hari itu rasanya lemas, tentu aku memahami lebih banyak penulis yang lebih baik karyanya daripada aku. Hari itu juga, aku merasa untuk tidak banyak berharap. Aku melepaskan segala ekspektasi. Aku siap jika memang beasiswa tersebut kali ini tidak berpihak padaku.

Salah seorang dosen laki-laki yang aku kenal dengan sangat baik menghubungiku. Kami banyak berbagi cerita tentang pendaftaran beasiswa ini. Ia banyak berbagi pesan tentang bagaimana motivation letter yang ia buat untuk mengikuti beasiswa menulis KUPI. Sempat aku terperangah takjub bagaimana ia mengelaborasi sebuah alasan yang sangat masuk akal.

Terlebih, niatnya untuk mendokumentasikan para ulama perempuan di daerahnya juga tidak main-main. Saat itu aku sadar, tulisan aplikasiku tidak memuat apa yang ia ceritakan. Rasanya, gagal sudah diri ini untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Doa demi doa aku rapalkan, setiap pagi, siang, sore, dan malamku selalu kuslipkan doa agar Sang Maha Penentu memberikan aku kesempatan. Jika tidak mendapatkan kesempatan pun, aku tetap akan bersyukur dan menikmati apa yang saat ini aku punya.

Saat pengumuman Madrasah Creator KUPI tiba, aku sangat bersyukur dan antusias. Apa yang kudapatkan bukanlah hasil karena kerja keras dan rapalan doaku. Melainkan rahmat dan kebaikan Allah yang menganugerahiku. Masyaa Allah, aku berhasil menjadi 21 penulis terpilih dari 757 penulis yang terdaftar.

Berjumpa Sang Maestro: Andreas Harsono

Di depan layar tablet, aku terperangah. Diam berkedip mendengarkan seksama tentang bagaimana sang Maestro mengolah kata. Bukan, ini bukan sesuatu yang puitis. Tapi, kata-katanya seolah hidup dengan beberapa kali mengiris urat nadi. Rasanya teduh sekali memandang wajah beliau. Beliau Bapak Andreas Harsono. 

Andreas Harsono merupakan  jurnalis, penulis, dan peneliti hak asasi manusia asal Indonesia yang terkenal luas karena kiprahnya dalam advokasi kebebasan pers dan isu HAM. Lahir di Jember pada 7 Agustus 1965, ia memulai karier jurnalistik dengan meliput untuk media internasional sebelum kemudian turut mendirikan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) dan Pantau Foundation, lembaga yang berfokus pada pelatihan jurnalisme. 

Sejak 2008, beliau menjadi peneliti Human Rights Watch dengan fokus pada kebebasan beragama, diskriminasi, dan kekerasan terhadap kelompok minoritas di Indonesia. Harsono telah menulis sejumlah buku penting seperti Jurnalisme Sastrawi dan Race, Islam and Power, yang memperkuat reputasinya sebagai salah satu pengamat sosial-politik paling berpengaruh di Indonesia.

Dalam kesempatan workshop Madrasah Creator KUPI kali ini, para penulis mendapatkan sesi untuk belajar teknik menulis feature dengan gaya storytelling. Sesi perjumpaan kali ini disambut antusias oleh para penulis. Terlebih, banyak penulis yang berkesempatan untuk membacakan materi yang dibawa oleh beliau.

Selain teknik cara menulis feature, kami juga banyak belajar mengenai 9 elemen jurnalisme. Beliau berpendapat bahwa menjadi netral bukanlah prinsip jurnalisme. prinsipnya dalam jurnalisme harus bersikap independen daripada netralitas. 

Jujur, aku banyak belajar pada sesi beliau. Terutama untuk aku yang tidak banyak terjun ke dalam penulisan fiksi, tentu dengan adanya beliau memberikanku begitu banyak pandangan tentang teknik menulis yang satu ini. Dari beliaulah, aku mencoba membuka niat, minat, dan potensiku untuk menulis hal-hal yang menurutku di luar kemampuanku.

Berjumpa dengan Sang Ulama’ Perempuan: Bu Nyai Luluk Farida Muchtar

Sehari setelah pertemuan kedua mentoring penulis Madrasah Creator KUPI, aku mengunjungi kediaman Bu Nyai Luluk Farida Muchtar. Kebetulan, dalam beasiswa menulis ini aku mendapatkan kesempatan untuk mengabadikan kisah Bu Nyai Luluk.

Bu Nyai Luluk Farida Muchtar merupakan seorang ulama perempuan KUPI dan pendakwah yang aktif memperkuat peran perempuan dalam ruang keagamaan serta pemberdayaan masyarakat. Ia dikenal sebagai pendiri dan pengasuh Majlis Ta’lim “Rahmah” di Malang, tempat beliau membina jamaah melalui kajian-kajian kitab kuning dan diskusi keislaman.

Dalam wawancara dengan beliau, aku banyak belajar tentang perjuangan beliau mengadvokasi hak-hak perempuan. Terutama dengan narasi-narasi Keislaman yang ramah terhadap perempuan. Di samping itu juga, beliau banyak sekali menyebut mengapa perempuan perlu mandiri dan berdikari. 

Ah, rasanya tidak semua hal perlu kuungkap sekarang. Biarlah kisah lengkap tentang perjalanan intelektual dan pengabdian beliau kita nikmati bersama saat peluncuran buku pada halaqah kubra nanti. Di sana, kita bisa meresapi jejak langkah beliau lengkap dengan detail-detail yang akan membuat kita semakin memahami betapa besar kontribusi seorang ulama perempuan seperti Bu Nyai Luluk bagi kehidupan sosial-keagamaan terutama terhadap hak-hak perempuan.

Dinginnya Kaliurang Jogja, Hangatnya Kebersamaan Para Penulis

Segala alat tempur yang telah kusiapkan kini telah tiba di Jogja. Entah kenapa aku lebih suka menyebut Jogja daripada Yogyakarta. Ah, tidak apa-apa yaa, kedepannya aku akan menulis lebih banyak kata “Jogja” di sini. 

Malam jam dua pagi, keretaku baru tiba di Stasiun Yogyakarta. Aku dan seorang penulis lainnya yang juga dari Malang bersiap menunggu jemputan taksi daring untuk mengantarkan kami ke Griya Gusdurian di daerah Banguntapan. Sesampainya di sana, kami disambut hangat oleh penulis-penulis lain yang baru sampai. Kami menginap sehari sebelum datang ke lokasi event kami berada.

Saat di sana, tentu aku banyak berjumpa dengan teman-teman sesama penulis KUPI yang menurutku punya latar belakang bidang yang sangat hebat. Entah mereka seorang dosen, peneliti, pernah berkuliah di Mesir, dan masih banyak lainnya. Aku sempat minder, namun aku sangat bersyukur berada pada lingkungan yang sangat baik di tengah-tengah mereka. 

Hari pertama, kami tiba di Oemah Petroek. Sebuah villa di kaki gunung Merapi yang sangat sejuk dan mendamaikan hati. Lokasi yang dipilih sangat istimewa, selain dingin dan asri, lokasinya memiliki banyak rumah ibadah dan museum yang dapat kami kunjungi.

Hari kedua, sebelum sesi-sesi padat dimulai, kami menyempatkan diri berjalan-jalan pagi menyusuri jalur kecil di kaki Gunung Merapi. Bagiku, jalan pagi ini sangat menyenangkan. Aku bisa merasakan nikmatnya well-being hidupku dengan ekosistem yang sehat dan menyegarkan. Sangat membantuku untuk tetap dapat menulis dengan baik. 

Di hari ketiga, kami telah siap dengan tulisan kami. Selama tiga hari kami menulis dan mengolah kata, selama itu pula kami memiliki banyak kenangan dengan para penulis lain dan juga para mentor. Hari ketiga menjadi sesi refleksi kami dalam menulis feature para ulama’ perempuan.

Pada sesi ini, kami meninjau kembali struktur, keakuratan data, serta kualitas narasi dalam penulisan feature mengenai ulama perempuan KUPI. Pendekatan reflektif  tersebut berhasil mendorong masing-masing penulis untuk menulis lebih tajam.

Penulis-penulis Assabiquunal Awwalun

Salah satu hal yang paling membahagiakan bagi kami adalah saat mengetahui bahwa kami terpilih sebagai angkatan pertama dalam program beasiswa menulis tersebut. Predikat sebagai peserta awal memberi rasa haru tersendiri karena kami menjadi bagian dari fondasi awal ekosistem penulisan yang sedang KUPI bangun melalui jaringan media yang terus berkembang. Para mentor dalam candaan mereka menyebut diri kami sebagai penulis-penulis assābiqunal awwalūn.

Kami pun berharap kegiatan serupa berlanjut pada tahun-tahun mendatang sehingga semakin banyak penulis muda yang dapat memberi kontribusi bagi produksi pengetahuan yang berpihak pada kemanusiaan. Sehingga, ekosistem media KUPI dapat berkembang lebih luas yang mampu menghadirkan narasi tentang pengalaman perempuan dan nilai keadilan.

Sampai Jumpa di Halaqoh Kubro KUPI!

Tulisan dari 21 penulis akan dibukukan dan dilaunching dalam Halaqah Kubra KUPI yang akan diselenggarakan di Jogja pada 12–14 Desember 2025. Halaqah Kubra tersebut merupakan forum strategis yang dirancang untuk memperkuat arah gerakan keulamaan perempuan di Indonesia. 

Kegiatan di Kampus UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta itu akan menghadirkan lebih dari lima ratus peserta yang berasal dari kalangan ulama perempuan, akademisi, peneliti, aktivis, serta jejaring komunitas dari berbagai daerah.

Tema “Membumikan Spirit Keulamaan Perempuan untuk Peradaban Islam yang Ma’ruf, Mubadalah, dan Berkeadilan Hakiki” menegaskan posisi KUPI sebagai gerakan yang bertumpu pada tiga paradigma utama: ma’ruf, mubadalah, dan keadilan hakiki.

Dalam kerangka ma’ruf, keulamaan perempuan bertujuan untuk menghadirkan kebaikan kolektif. Melalui perspektif mubadalah, relasi kesalingan laki-laki dan perempuan menjadi dasar pengambilan keputusan. Sementara paradigma keadilan hakiki berperan sebagai fondasi etis yang memastikan bahwa proses keagamaan berpijak pada martabat manusia.

Secara kelembagaan, Halaqah Kubra 2025 berada pada fase ketiga dalam siklus lima tahunan kerja KUPI. Fase tersebut merupakan momentum untuk menghimpun refleksi nasional sebelum memasuki persiapan Kongres KUPI ke-3 pada 2027. 

Evaluasi situasi sosial, politik, budaya, dan keagamaan menjadi agenda penting agar gerakan tetap kontekstual dan mampu menjawab tantangan mutakhir, termasuk meningkatnya kekerasan berbasis gender, ketimpangan sosial, krisis kemanusiaan, serta kerusakan ekologis.

Halaqah Kubra juga berfungsi memperluas jejaring lintas sektor. Kolaborasi antara ulama perempuan, media, lembaga pendidikan, komunitas akar rumput, hingga kelompok muda memperlihatkan bahwa KUPI bergerak melalui model gerakan sosial yang inklusif dan berbasis pengalaman perempuan sebagai sumber pengetahuan keagamaan.

Forum KUPI memastikan akses perempuan terhadap ruang-ruang pengambilan keputusan, baik dalam ranah keagamaan maupun kebijakan publik. Hal tersebut dengan memperkuat kapasitas ulama perempuan serta memperluas partisipasi peran ulama’ perempuan dalam proses penetapan hukum dan kebijakan

Refleksi Perjumpaan, Refleksi Kebersyukuran 

Perjumpaan selama mengikuti rangkaian kegiatan Madrasah Creator KUPI rasanya seperti menjelma menjadi ruang perenungan. Ada rasa syukur yang pelan-pelan tumbuh. Syukur karena mendapat ruang untuk belajar dalam ekosistem yang membangun. Syukur karena bertemu dengan para penulis yang memandang kata sebagai medium merawat pengalaman dan pengetahuan. 

Refleksi perjumpaan dan kebersyukuran atas partisipasi dalam beasiswa menulis ini juga mengajarkanku proses menulis selalu mengandung dimensi spiritual. Aku menemukan kembali alasan mengapa menulis tentang ulama perempuan terasa sangat mendesak. Semoga perjalanan yang baru kumulai ini terus menemukan jalannya, dan syukur tetap menjadi penuntun dalam setiap prosesnya. Nanti kita cerita tentang Madrasah Creator KUPI dan Halaqoh Kubro KUPI. []

 

Tags: Halaqah Kubra KUPIKongres Ulama Perempuan IndonesiaKupiMadrasah Creator KUPIulama perempuan

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

KUPI 2027
Publik

KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 

29 Januari 2026
Literacy for Peace
Publik

Literacy for Peace: Suara Perempuan untuk Keadilan, HAM, dan Perdamaian

23 Januari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

25 Januari 2026
What Is Religious Authority
Buku

Membaca What Is Religious Authority? Menimbang Ulang Otoritas Agama

21 Januari 2026
Lingkungan
Pernak-pernik

KUPI Tegaskan Menjaga Lingkungan Bagian dari Prinsip Dasar Islam

25 Januari 2026
Ulama KUPI
Publik

KUPI: Ruang Kolektif Ulama Perempuan

18 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Aku Jalak Bukan Jablay

    Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Nafkah Keluarga sebagai Tanggung Jawab Bersama
  • Sejarah Gerakan Disabilitas dan Kebijakannya
  • Nafkah Keluarga dan Preseden Perempuan Bekerja pada Masa Nabi
  • KUPI 2027 Wajib Mengangkat Tema Disabilitas, Mengapa? 
  • Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0