Rabu, 11 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ketaatan Suami Istri

    Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    Ketaatan Istri

    Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

    Perkawinan

    Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan

    Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

    Vidi Aldiano

    Vidi Aldiano dalam Kenangan: Suara, Persahabatan, dan Kebaikan

    Pernikahan

    Pernikahan Harus Menjadi Ruang Kesalingan, Bukan Ketimpangan

    Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an

    Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

    Kesetaraan

    Dialog Ramadan UGM: Dr. Faqih Tekankan Kesetaraan sebagai Mandat Peradaban

    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Board of Peace

    Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?

    Nuzulul Qur'an

    Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan

    Keadilan Relasi

    Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

    Kisah Difabel

    Kisah Difabel; Paradoks Hiburan dalam Perbedaan

    Belajar Empati

    Belajar Empati dari Tauhid: Membaca Ulang Relasi dengan Disabilitas

    Ramadan di Era Media Sosial

    Ramadan di Era Media Sosial: Ketika Ibadah Berubah Menjadi Konten

    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (3): Sebelum Menjadi “Kita”

    Hafiz Indonesia

    Hafiz Indonesia, Ramadan dan Disabilitas Penghafal Al-Qur’an

    International Women’s Day 2026

    Refleksi International Women’s Day 2026: Di Mana Letak Keadilan bagi Perempuan?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ketaatan Suami Istri

    Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri

    Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

    Ketaatan Istri

    Ketika Ketaatan Istri Dipahami Secara Sepihak

    Perkawinan

    Perdebatan Ketaatan Istri dalam Relasi Perkawinan

    Larangan Melakukan Kerusakan di Bumi

    Al-Qur’an Tegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Peperangan

    Islam Tetapkan Etika Ketat dalam Peperangan

    Perang

    Perang dalam Islam Dipahami sebagai Tindakan Membela Diri

    Konflik

    Al-Qur’an Tawarkan Jalan Dialog dalam Menyelesaikan Konflik

    Kerja sama

    Kerja Sama Menjadi Bagian Penting dalam Relasi Antaragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Perempuan yang Terlupakan di Balik Ritual Agung Haji

Jika hari ini kita menyebut haji sebagai puncak spiritual umat Islam, please, jujurlah! bahwa ia dimulai dari rahim, dari luka, dari langkah seorang perempuan bernama Sayyidah Hajar.

Nurul Bahrul Ulum by Nurul Bahrul Ulum
9 Juni 2025
in Publik
A A
0
Haji yang

Haji yang

40
SHARES
2k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Ntah kenapa, setiap kali Iduladha (ibadah haji) datang, pikiranku selalu berkecamuk. Rasanya sedih. Bahkan untuk menulis topik ini pun, aku harus menarik napas panjang.

Sebagian besar dari kita mungkin belum sepenuhnya sadar bahwa siklus reproduksi perempuan—haid, hamil, melahirkan, menyusui, dan nifas—yang selama ini dianggap sebagai urusan privat justru menjadi bagian penting dari sejarah ritual keagamaan paling diimpikan umat Islam—yakni ritus keagamaan haji.

Lebih tepatnya, aku ingin mengatakan dari perempuanlah bermula salah satu rukun haji yang paling fisikal dan simbolik, yaitu Sa’i. Dari air matanya, dari darah nifasnya, dari kecemasan primal seorang ibu yang menghadapi maternal survival crisis, lahirlah Zamzam dan lahirlah Ismail—yang kelak menjadi bagian yang tak terpisahkan dari narasi kurban dan ibadah haji.

Beliaulah yang mulia Ibu monoteisme, Sayyidah Hajar ‘Alaiha ash-Sholatu wa as-Salam.

Jika kita cukup jujur membuka kembali lapisan sejarah, maka akan tampak bahwa tidak akan ada kisah kurban, tanpa kehadiran Ismail. Tidak akan ada Ismail, tanpa perjuangan Sayyidah Hajar. Meskipun sejarah haji bermula dari perintah Nabi Ibrahim dan pembangunan Ka’bah bersama Ismail, tidak bisa disangkal bahwa langkah Sayyidah Hajar menyusuri bukit Shafa dan Marwah, serta air Zamzam yang memancar dari ketegangan antara cinta dan keputusasaan adalah fondasi awal yang memungkinkan kisah besar itu tumbuh.

Namun, di mimbar-mimbar khutbah Iduladha, nama Sayyidah Hajar paling banter disebut sekilas—sebagai ibu Nabi Ismail atau istri Nabi Ibrahim. Nyaris tidak pernah dihadirkan sebagai sosok utuh dengan pengalaman biologis dan sosiologis perempuan yang begitu menyakitkan. Padahal, tanpa perjuangan reproduksi Sayyidah Hajar —mengandung, melahirkan, menyusui, dan menjalani nifas sendirian di tengah padang pasir—tak akan ada kisah Sa’i dan Zamzam dalam ritual ibadah haji. Ironisnya, perjuangan reproduksinya yang menjadi awal dari semua itu, nyaris tak pernah disebut dalam khutbah maupun kesadaran kolektif umat Islam.

Vulnerable Pregnancy

Bayangkan, tubuhmu membesar setiap minggu. Tapi gak ada yang bisa ditanyai saat perut terasa keras tiba-tiba. Gak ada vitamin kehamilan. Gak ada pemeriksaan detak jantung janin. Bahkan gak ada tempat rebahan yang layak. Sementara itu, kamu harus bertahan dalam panas ekstrem, berjalan, berpindah-pindah, dan tetap memastikan bahwa anak dalam kandunganmu hidup. Ini jihad reproduksi yang dialami Sayyidah Hajar —high-risk pregnancy.

Sebagai perempuan yang pernah hamil, membayangkannya aja bikin trauma. Rasa mual bisa datang dari pagi sampe malem, mood swing gak karuan, kaki bengkak gak bisa dipakai berdiri lama, dan kadang false contraction muncul bikin panik setengah mati. Tapi aku masih mending punya kasur empuk, dokter kandungan, dan orang-orang terdekat yang mendampingi. Sayyidah Hajar nggak. Beliau mengalami unassisted pregnancy di padang gersang, membawa dua nyawa dalam satu tubuh—tanpa support system dan jaminan hidup. Semua dijalani sendiri. Di tempat yang bahkan mungkin belum ada dalam peta.

Mari kita jujur! ini bukan pengalaman semua orang. Ini pengalaman perempuan. Laki-laki gak pernah—dan gak akan pernah—merasakan bagaimana rasanya mengandung nyawa lain di dalam tubuh sendiri, menanggung risiko hidup dan mati setiap hari, sambil tetap berjalan, berpikir, dan bertahan. Tapi anehnya, saat Iduladha tiba, sekali lagi tak sekalipun khutbah bicara tentang Sayyidah Hajar. Tentang betapa tubuh perempuan—dengan segala rasa sakit, lelah, dan ambruk—justru jadi landasan sejarah ritual paling agung umat Islam.

Vaginal Unassisted Childbirth & Breastfeeding Crisis

Gak ada yang bisa benar-benar membayangkan betapa beratnya melahirkan sendirian, kecuali mereka yang pernah mengalaminya—perempuan. Kontraksi datang terus tanpa jeda, sakitnya minta ampun. Tapi gak ada dokter, gak ada kasur steril, bahkan gak ada tangan suami yang menggenggam sambil bilang, “Bismillah sayang, kamu hebat, kamu bisa.” Sayyidah Hajar melahirkan sendirian di tengah padang pasir, beralaskan tanah, beratapkan langit, tanpa dampingan siapa pun. Pengalaman paling telanjang dari vaginal unassisted childbirth—yang hari ini kita tahu punya risiko tinggi terhadap kematian ibu dan bayi.

Sayyidah Hajar hanya punya Allah dan tubuhnya sendiri sebagai satu-satunya alat bertahan. Gak ada catatan medis yang bisa menggambarkan rasa sakit yang ia alami. Gak ada riwayat tentang bagaimana tubuhnya robek ketika Ismail keluar. Bahkan gak ada data tentang berapa lama beliau mengejan sendirian sambil menahan napas. Tapi kita tahu, perempuan pascamelahirkan gak bisa langsung pulih. Darah masih mengalir. Rahim masih berkontraksi. Nafas masih sesak. Pada saat tubuhnya seharusnya diberi waktu untuk istirahat total, Sayyidah Hajar justru dipaksa berdiri, karena anaknya menangis.

Ismail sedang berada dalam ancaman hidup. Air Susu Ibu (ASI) belum keluar, karena produksi ASI gak bisa langsung stabil. Hari ini kita menyebutnya sebagai early lactation failure. Sayyidah Hajar gak punya akses ke konselor laktasi. Gak ada daun katuk, Gak ada vitamin, apalagi pompa ASI. Tubuh yang kelelahan itu, alih-alih tidur dan memulihkan diri, justru mau gak mau harus bergerak. Bukan! bukan dengan langkah pelan, tapi dengan lari. Berulang kali. Naik-turun dua bukit sekitar 1 km. Tujuh kali.

Maternal Emergency Response

Itulah awal dari ritual Sa’i. Inget! Sayyidah Hajar sedang tidak melaksanakan ibadah seperti kita. Beliau sedang melakukan maternal emergency response. Dalam dunia medis modern, saat ibu mengalami kondisi serupa, seharusnya ada tim tanggap darurat. Tapi Sayyidah Hajar hanya punya tubuhnya sendiri, air mata, dan harapan bahwa langkahnya gak akan sia-sia. Sa’i adalah bentuk coping mechanism yang dilakukan tubuh trauma demi menyelamatkan nyawa lain. Tubuh yang trauma itu—perempuan yang baru saja melahirkan—kita rayakan tiap tahun tanpa menyebutkan namanya di mimbar-mimbar khutbah keagamaan, terutama dalam perayaan Iduladha.

Kita hanya menghafal urutannya. Shafa ke Marwah. Marwah ke Shafa. Tapi kita gak pernah diajak mengingat darah yang masih mengalir di balik langkah-langkah itu. Kita gak pernah merenung tentang ibu yang haus, letih, dan menangis sambil menahan nyeri di antara panggul dan payudaranya. Kita menjadikan Sa’i sebagai rukun haji, tapi melupakan bahwa itu berasal dari kepanikan seorang ibu yang gak bisa menyusui anaknya. Yang hatinya hancur mendengar tangisan bayinya dan bahkan tubuhnya gak punya waktu buat pulih.

Dari situ—dari langkah-langkah penuh trauma itu—air Zamzam memancar. Ini bukan dari kekuatan spiritual patriarkal. Zamzam hadir dari situasi putus asa dan ketulusan cinta. Dari tubuh perempuan yang gak menyerah meski ambruk. Setiap kali kita minum Zamzam, kita sedang meminum air dari perjuangan seorang ibu yang gak punya apa-apa, kecuali keberanian, tubuhnya, dan Allah. Maka, jika hari ini kita menyebut haji sebagai puncak spiritual umat Islam, please, jujurlah! bahwa ia dimulai dari rahim, dari luka, dari langkah seorang perempuan bernama Sayyidah Hajar.

Postpartum Recovery & Maternal Invisibility

Setelah melahirkan, perempuan gak bisa langsung kembali jadi ‘normal’. Darah terus berceceran dari tubuh. Vagina sangat sakit, karena robek bekas jahitan belum kering. Rahim kontraksi lagi, karena proses mengecil. Payudara bengkak, karena tekanan hormonal. Belum lagi emosi labil, karena penurunan hormon progesteron. Kondisi ini kita sebut masa nifas—postpartum recovery period—yang idealnya perlu banyak untuk istirahat,  mendapatkan nutrisi yang cukup, dan dukungan penuh dari lingkungan sekitar. Tapi Sayyidah Hajar gak dapat itu semua. Beliau menjalani postpartum bleeding di bawah terik matahari, sendirian, sambil mendengar anaknya (Ismail) menangis karena lapar.

Nifas sungguh bukan fase ringan bagi perempuan. Ini adalah masa rawan depresi, rawan infeksi, dan rentan kelelahan ekstrem. Hari ini banyak perempuan mengalami postpartum depression, bahkan di tengah fasilitas lengkap dan suami tercinta yang mendampingi. Lalu, bagaimana dengan Sayyidah Hajar? Beliau tidak hanya dalam kondisi rentan fisik, tapi juga mental. Bahkan dalam kondisi tubuhnya yang masih berdarah dan hatinya penuh kecemasan, langkahnya gak berhenti. Kehidupan anaknya lebih penting dari segala rasa sakit yang ia tahan dalam kesendirian.

Kita sering merayakan Zamzam, tapi lupa bagaimana air itu hadir dari tengah luka. Kita sering bercerita tentang Sa’i, tapi meniadakan rasa sakit di tubuh perempuan yang menjadi fondasinya. Sekali lagi, ketika khutbah-khutbah Iduladha berkumandang, nama Sayyidah Hajar hampir tak pernah mereka sebut. Padahal tubuhnya—tubuh perempuan yang penuh sakit—menjadi jalan munculnya dua pilar utama ibadah haji,  yaitu Sa’i dan Zamzam. Kita berhenti pada kisah kurban, tanpa mengakui bahwa yang pertama kali berkorban adalah perempuan.

Maternal pain itu nyata, gayss! Sedihnya lagi, betapa sering tubuh perempuan, orang-orang anggap “penghalang” dari kesucian. Masih beredar ajaran bahwa ketika sedang haid atau nifas, perempuan tidak suci. Padahal kesucian dan kebaikan tidak hanya singgah di kepala, di hati, atau di mimbar, tetapi juga hidup di perut buncit yang mengandung, di dada membesar yang menyusui, dan di luka robekan vagina yang belum sembuh. Kita terlalu lama untuk memisahkan tubuh dari ibadah. Seolah hanya dalam keadaan tidak haid dan nifas saja, seorang perempuan layak dekat dengan Allah. Padahal Sayyidah Hajar menunjukkan yang sebaliknya.

Allah Meets Women in The Midst of Their Bleeding, Not in Spite of it

Dalam kisah Sayyidah Hajar, Allah justru hadir dan memberi mukjizat di momen ketika tubuhnya sedang di ujung rentan, luka, dan lelah. Sayyidah Hajar gak disuruh menunggu pulih. Beliau gak diperintahkan bersuci dulu. Beliau dihormati dan mencipta sejarah ritual dalam kondisi berlumuran darah, lapar, haus, dan sendirian. Itu artinya apa? Allah meets women in the midst of their bleeding, not in spite of it.

Kalau laki-laki gak pernah mengalami nifas, gak tahu bagaimana rasanya menyusui sambil menahan luka jahitan, maka paling tidak mereka bisa memilih untuk mendengar. Terlalu lama darah perempuan adalah aib, bukan jalan suci yang pernah mengalirkan air Zamzam. Terlalu lama tubuh perempuan hanya kita rayakan sebagai ibu atau istri dari Nabi—bukan sebagai diri perempuan yang berdarah-darah menjalani seluruh peran reproduksinya.

Kini, saatnya kita mengingat ulang bahwa ibadah haji berawal dari ketahanan seorang ibu. Zamzam bukan air ajaib yang turun begitu saja, tapi hasil dari trauma seorang perempuan yang terus berjuang. Sa’i bukan hanya lari-lari antara dua bukit, tapi jejak penderitaan dan cinta seorang perempuan yang tak terlihat. Sudah waktunya kita menyebut namanya dengan penuh hormat satu nafas dengan Nabi Ibrahim ‘Alaihuma as-Salam. Ingatlah, Sayyidah Hajar adalah perempuan, ibu, peletak dasar spiritual umat Islam.

Karena itu, untuk semua perempuan…

Kalau kamu pernah menyusui sambil menangis karena ASI gak keluar…
… pernah kelelahan tapi tetap begadang demi nyusuin anak…
… pernah merasa sendiri saat harus memutuskan sesuatu demi keselamatan anakmu…
… pernah menahan nyeri demi tetap menjadi penopang keluarga…
Kamu sedang menjalani ulang maternal memory Sayyidah Hajar.
Dalam tubuhmu, spiritualitas Sayyidah Hajar sedang berlangsung.

Kamu sedang menunjukkan iman yang nyata. Kalau kamu pernah merasa gak cukup baik hanya karena tubuhmu gak mampu “berfungsi” seperti standar orang lain, ingat: Sayyidah Hajar pun tidak sempurna secara medis, psikologis, bahkan sosial. Tapi beliau tetap mampu menciptakan sejarah!

Perempuan gak perlu menunggu pengakuan dari siapa pun untuk merasa dekat dengan Allah. Pengalaman spiritual sering kali hadir justru lewat tubuh yang lelah, yang berdarah, yang terus bertahan karena menstruasi, hamil, melahirkan, menyusui, dan nifas, yang itu hanya perempuan yang mengalami. Tubuh perempuan—dengan segala luka dan cintanya—adalah bagian dari kisah iman yang valid. Kita sedang membawa Allah dalam tubuh kita. Tubuh yang mengajarkan kesabaran, kekuatan, dan cinta dalam bentuk yang paling manusiawi.

Perempuan….., kamu suci. Tubuhmu berarti. Pengorbananmu telah mencipta sejarah abadi bagi seluruh umat manusia. []

Tags: AgungBalikIbadah HajiiduladhaperempuanritualTerlupakan
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Menyemai Kasih Melalui Kitab Hadis Karya Kang Faqih

Next Post

Mengenal Devotee: Ketika Disabilitas Dijadikan Fetish

Nurul Bahrul Ulum

Nurul Bahrul Ulum

Related Posts

Relasi Suami Istri
Pernak-pernik

Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan

11 Maret 2026
Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan
Aktual

Peringati Hari Perempuan Internasional, Jaringan Cirebon untuk Kemanusiaan Desak Penguatan Perlindungan Perempuan

9 Maret 2026
Perang Iran
Publik

Perempuan dan Anak: Korban Sunyi di Tengah Perang Iran

8 Maret 2026
Hari Perempuan Internasional
Featured

Hari Perempuan Internasional dan Teladan Nabi Melawan Femisida

8 Maret 2026
Laki-laki dan Perempuan dalam Al-Qur'an
Aktual

Kiai Faqih: Kesetaraan Laki-laki dan Perempuan adalah Amanat Al-Qur’an

6 Maret 2026
Pengalaman Perempuan
Personal

Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

4 Maret 2026
Next Post
Devotee

Mengenal Devotee: Ketika Disabilitas Dijadikan Fetish

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Board of Peace yang Menjadi Board of War: Bagaimana Posisi Indonesia?
  • Langkah Mubadalah Menilai Ketaatan dalam Relasi Suami Istri
  • Nuzulul Qur’an dan Jalan Panjang Pemberdayaan Perempuan
  • Relasi Suami Istri dan Gagasan Kemandirian Perempuan
  • Pelajaran dari Masa Lalu: Dekonstruksi Ego Laki-laki demi Keadilan Relasi

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0