Mubadalah.id – Ramadan tahun ini terasa begitu cepat, tiba-tiba saja kita tiba pada minggu terakhir Ramadan. Adaptasi suasana juga kian berganti, banyak orang antri di mana-mana buat beli baju lebaran. Saya jadi tertarik untuk refleksi lebaran.
Mengingat terdapat Saudara kita korban Banjir di Aceh dan Sumatera kemarin. Mereka masih belum pulih, jangankan memikirkan baju lebaran, kue, mudik, dan segala hal tentang suka cita menyambut hari yang Fitri. Memikirkan untuk bertahan hidup saja adalah hal yang harus mereka pupuk setiap bangun pagi.
Menumbuhkan Empati Kemanusiaan
Bayangkan, jika lebaran di tahun kemarin mereka masih berkumpul bersama sanak family. Tahun ini keluarga mereka berkurang. Tahun kemarin, mereka bersuka cita di tempat tinggal yang nyaman. Di tahun ini, mereka harus merayakan di tenda pengungsian, atau rumah hunian sementara, yang tentu saja berbeda rasanya dengan rumah yang mereka tempati bertahun-tahun. Membangun dari jerih payah kerja siang malam.
Meski ada yang bilang, kebahagiaan itu terletak pada keluarga, di mana pun keluarga berkumpul, di situlah letak bahagia. Namun, tak pelik, rasa sedih dan mengganjal di hati pasti lah bertumpuk.
Refleksi lebaran adalah momen untuk berbagi kebahagiaan. Tapi bagi masyarakat Penyintas Bencana, lebaran hanyalah hari yang mereka lalui setiap hari tanpa adanya masa depan yang pasti. Bencana mengambil segalanya, tempat tinggal, harta benda, tempat mencari rezeki, kendaraan, bahkan nyawa orang terkasih.
Negara Menghilang saat Rakyat Membutuhkan
Jika saat ini kita berpuasa karena kewajiban di bulan Ramadan. Bagi mereka, berpuasa adalah pilihan, yang mereka rasakan sejak bantuan tak kunjung datang. Orang-orang akan mengingat saat bencana pertama kali terjadi, tapi saat ini, ketika empat bulan pasca bencana, apakah mereka terlupakan? Padahal mereka belum pulih. Maka sudah sepatutnya kita mempertanyakan peran Negara.
Negara seperti menghilang. Pak Presiden tetap bersikeras mengatakan bahwa rakyatnya baik-baik saja. Tapi ia sendiri bolak-balik ke luar negeri, meski demi urusan diplomasi, tapi setidaknya, bisakah ia sebagai pemimpin Negeri meluangkan satu hari saja untuk menggelar buka bersama bersama Penyintas Bencana?
Jika saja Negara tidak bisa memulihkan derita rakyat sendiri, mengapa tidak boleh menerima bantuan dari negara lain. Atau, alihkan dana dari program Nasional yang tidak terlalu darurat seperti Makan Bergizi Gratis. Seperti yang kita tahu, program MBG satu hari saja bisa menghabiskan dana 1 Triliun. Sementara empat bulan bencana Aceh, Negara baru menghabiskan dana 5 Triliun untuk perbaikan dan pemulihan. Kontras bukan?
Keadilan Reproduksi bagi Perempuan saat Bencana
Tidak hanya hak sebagai rakyat yang tidak terpenuhi, bagi perempuan pasca bencana, hak reproduksi mereka entah tersalurkan apa tidak. Karena bencana tidak menghentikan siklus biologis manusia. Ibu hamil tetap akan melahirkan, remaja putri tetap akan mengalami menstruasi. Bahkan, risiko terjadinya kekerasan seksual juga meningkat meski pasca bencana.
Bagi perempuan, kehilangan akses terhadap air bersih tidak hanya berdampak pada masalah kenyamanan. Tapi juga masalah kesehatan. Karena kesehatan reproduksi adalah kebutuhan dasar manusia, baik keadaan normal maupun darurat kebencanaan. Mengabaikannya, berarti membiarkan kelompok rentan menanggung beban ganda di tengah bencana.
Sebagai saudara setanah air, yang tidak terkena dampak apa pun. Kita masih bisa berpuasa dan beribadah dengan tenang dan nyaman. Kita masih bisa meriuhkan penyambutan Lebaran dengan berbelanja baju lebaran. Saling menghantarkan hampers. Persiapan mudik ke kampung halaman dan berbagi THR tanda suka cita.
Melalui refleksi lebaran kali ini, apakah boleh, kita berduka cita saat saudara kita sedang berduka? Jawabannya boleh. Dalam Islam, bersuka cita boleh asalkan di tempat yang jauh dari bencana. Dan tidak bertujuan untuk merendahkan. Memang Islam menganjurkan untuk berempati dan menahan diri dari kegembiraan yang berlebihan.
Yang penting adalah kita tidak meriya’kan kebahagiaan secara berlebihan, terutama untuk mencemooh saudara-saudara kita yang sedang kekurangan. Dan kita telah memenuhi empati kita sebagai saudara, seperti bersedekah untuk mengirimkan bantuan terhadap Penyintas Bencana. []










































