Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Guru Era Digital

    Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral

    Ramadan yang Inklusif

    Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan

    Tradisi Rowahan

    Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Konsep Fitnah

    Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik

    Perempuan Sumber Fitnah

    Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rujukan Ayat Quran

Tafsir Bismilah dari Perspektif Mubadalah

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
6 Desember 2022
in Ayat Quran
A A
0
Bismillah dari Perspektif Mubadalah

Kalgrafi Bismilah (sumber: kindpng.com)

12
SHARES
606
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Bagaimana menjawab pertanyaan jika ditanya tentang tafsir bismillah dari perspektif mubadalah? Bismillahirrahmanirrahim biasa disebut kalimat Basmalah, atau dikenal di Indonesia sebagai Bismillah. Ia termasuk kalimat yang paling banyak diucapkan umat Islam. Pada momen-momen ritual seperti shalat, kegiatan sosial, maupun kebiasan individual sehari-hari. Jika kita asumsikan hanya 5% dari jumlah total umat Islam Indonesia yang taat secara ritual, Bismilah bisa dibaca sebanyak 250 juta kali dalam sehari. Di seluruh dunia, sebanyak 1,7 miliar kali diucapkan dalam sehari, jika hanya 2% saja dari jumlah total umat Islam dunia yang taat ritual.

Lafaz Bismillah dalam Al-QUran

Bismilah terdiri dari lima kata. Satu kata sambung (baa’), dua kata benda (Ism dan Allah) dan dua kata sifat (ar-Rahman dan ar-Rahim). Dalam tulisan yang lazim, tanpa huruf alif setelah huruf baa’ di awal, Bismilah terdiri dari sembilan belas huruf. Sebuah jumlah yang sama dengan tentara-tentara Allah Swt, sembilan belas malaikat, yang disebut Surat al-Muddatsir (QS. 74: 30). Sebagaimana tentang para malaikat ini, yang penting bukanlah jumlah angka maupun hurufnya, tetapi pelajaran yang bisa dipetik bagi kita. “Hal itu, tidak lain, kecuali untuk pelajaran bagi manusia”, kata QS. Al-Muddatstsir, 74: 31.

Pelajaran, atau kata “dzikrā” (ذكرى)  dalam ayat ini, asalnya berarti ingatan dan memori. Lalu diartikan peringatan dan pelajaran, karena menjadi sesuatu yang dirujuk sebagai ingatan bersama. Demikianlah yang ingin kita dapatkan dari kalimat Bismilah ini. Sebuah makna yang bisa menjadi pelajaran, atau panduan ingatan kita bersama dalam mengarungi kehidupan ini. Ingatan pada makna-makna yang sesungguhnya terkandung dalam kalimat Bismilah itu sendiri.

Tafsir Bismillah

Bismillaahirrahmaanirrahiiim (بسم الله الرحمن الرحيم). Dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Ini terjemahan yang biasa kita dengar. Kita sering mengucapkan Bismilah ini dan kita memahami terjemahannya. Tetapi apa maknanya ketika kita ucapkan? Harapan apa yang terbersit dalam hati ketika kita mengungkapkan kalimat ini? Rasa apa yang terpatri ketika kita menyatakan kalimat ini?

Tepatnya, ingatan (dzikraa) apa yang kita tanamkan dalam otak, hati, maupun perilaku sehar-hari agar ia menjadi panduan kita dalam mengelola kehidupan ini, untuk mewujudkan kebaikan-kebaikan dan kebahagiaan?

Inilah yang lebih penting dari sekedar rangkaian huruf, kata, maupun ucapan. Sebuah dzikraa dalam kehidupan yang memandu kita agar selalu berbuat sesuatu yang membuat kita bersama-sama memperoleh kebaikan dunia (hasanah fid dunyaa) dan kebaikan akhirat (hasanah fil akhirah). Seperti yang disarankan Allah Swt dalam doa kita sehari-hari: rabbanaa aatinaa fid-dunyaa hasanah wa fil aakhirati hasanah (QS. Al-Baqarah, 2: 201).

Baa’ (ب) di awal Bismilah sendiri dalam Bahasa Arab bukan kata, tetapi huruf jarr (yang membuat kata setelahnya dibaca jarr). Bahasa Indonesia menterjemahkanya menjadi “dengan”, yaitu kata sambung antara kata sesudahnya (ismullaah) dengan kata sebelumnya yang implisit (misalnya: saya memulai). Di antara makna implisit, menurut Imam asy-Syawkani (w. 1250 H/1839 H) dalam Tafsir Fath al-Qadir, adalah makna isti’anah dan mushahabah (Fath al-Qadir, juz 1: 13).

Isti’anah berarti meminta tolong kepada Allah Swt yang memiliki sifat-sifat yang tersebut dalam Bismilah. Saya meminta tolong kepada Allah Swt dengan Nama-Nya yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Sunan Abu Dawud mengisahkan sebuah kejadian tentang hal ini. Ada seorang sahabat yang untanya mogok tidak mau berjalan. Lalu ia kesal: “Dasar setan jahat”, umpatnya. Nabi Saw mendengar, menoleh, dan memberi saran: “Kalau kamu lihat untamu mogok, jangan berkata demikian. Karena hal itu justru akan membuatmu tambah berat dan untamu tambah sulit berjalan. Baiknya bacalah: bismillahirrahmanirrahim, insya Allah akan lebih ringan, dan untapun mau kembali berjalan”. (Sunan Abu Dawud, no. hadits: 4984).

Mushahabah berarti mempertemukan (mushāhabah) antara apa yang akan dilakukan dengan apa yang diucapkan di dalam Bismilah. Kita tahu seseorang mengucpakan Bismilah ketika mau melakukan sesuatu. Nah, mushahabah berarti mengaitkan antara makna-makna yang terkandung di dalam Bismilah tersebut dengan yang kita lakukan sehari-hari, baik dalam bentuk ucapan, perbuatan, bahkan pikiran.

Setidaknya ada dua makna utama dalam Bismilah. Yaitu kasih dan sayang. Ini terkandung dalam kata “ar-Rahman” (Maha Pengasih) dan kata “ar-Rahim” (Maha Penyayang) sebagai dua sifat Allah Swt. Satu makna lagi terkandung dalam kata “ismun” (اسم), yang biasa diterjemahkan “nama”. “Ismullah”  (اسم  الله) berarti nama Allah Swt. Dalam bahasa Arab, kata ini berasal dari kata “wa-s-mun” (وسم) yang berarti tanda atau nama. Tetapi juga bisa dari kata “su-mu-wun” (سمو) yang berarti keagungan. Jika makna kedua yang dipakai, maka ada tiga makna dalam Bismilah. Keagungan, kasih, dan sayang.

Satu kata lagi adalah “Allah” itu sendiri yang merupakan nama dari Tuhan yang kita sembah, yang memiliki ketiga sifat tersebut, Agung, Pengasih dan Penyayang. Jika ketiga makna ini kita resapi dalam diri kita, akal kita, sikap dan perilaku kita, maka artinya adalah sebuah doa agar kita selalu dilindungi Allah Swt yang Maha Agung, Pengasih dan Penyayang.

Bismillah dalam Konteks Doa

Dalam konteks doa kepada Allah Swt untuk kebaikan kita di dunia dan akhirat, Bismilah adalah permohonan agar Allah Swt menurunkan sebagian dari ketiga sifat ini dalam kehidupan kita sehari-hari dan untuk kehidupan akhirat nanti. Ditolong dengan kekuatan-Nya. Dimuliakan oleh keagungan-Nya. Dikasihi dari kasih-Nya. Juga disayangi dari sayang-Nya. Pertolongan, keagungan, kasih dan sayang, untuk kebaikan kita di dunia (fid dunya hasanah) dan akhirat (fil akhirah hasanah).

Melalui Bismillah, kita berharap agar kehidupan kita penuh keagungan dan kemuliaan. Memiliki martabat dan kehormatan. Tidak direndahkan, dihina, atau dilecehkan. Tentu saja harapan kita ini, baru relevan, dalam perspektif mubadalah, jika kita sendiri juga melakukan hal-hal yang bermartabat dan terhormat. Baik kepada diri kita maupun kepada orang lain. Jika kita ingin dihormati siapapun, kita juga harus menghormati orang lain. Jika kita tidak ingin disakiti siapapun, dihina siapapun, dicaci siapapun, dari kelompok, golongan, bangsa, atau agama manapun, maka kita juga tidak melakukanya kepada siapapun.

Kita juga berharap memperoleh kasih dan sayang-Nya. Jika konsisten dengan harapan ini, kita juga harus selalu mewujudkan tatanan kehidupan dan relasi sosial antar sesama dengan nilai dan prinsip kasih sayang. Kita siap untuk disayangi dan bersedia untuk menyayangi. Kata-kata, sikap, perilaku, bahkan kebijakan sosial politik kita harus benar-benar mencerminkan nilai dan prinsip kasih sayang. Kita tidak bisa berharap atau menuntut pada orang lain, komunitas, atau bangsa lain untuk berbuat baik pada kita, sementara kita sendiri tidak mau melakukannya kepada mereka.

Ketika sahabat Mu’adz bin Jabal ra bertanya kepada Rasulullah Saw: Amal apakah yang merupakan representasi keimanan yang paling sempurna? Rasul Saw menjawab: “Cintailah sesuatu yang baik bagi semua manusia, sebagaimana kamu mencintai sesuatu yang baik bagi dirimu, dan bencilah sesuatu yang memperburuk mereka, sebagaimana kamu membenci sesuatu yang memperburuk dirimu”. (Musnad Ahmad bin Hanbal, no. hadits: 2258 dan 22560).

Dalam riwayat lain, saling mencintai sesama manusia ini disebut Rasul Saw sebagai amal yang akan memudahkan kita masuk surga dan menjauhkan kita dari neraka. Ia dideretkan bersama shalat, zakat, puasa, dan haji. Seakan menjadi bagian dari rukun Islam (Musnad Ahmad bin Hanbal, no. hadits: 16130).

Tafsir Bismilah dari Perspektif Mubadalah

Dus, Bismilah adalah soal ingatan pada keagungan, kehormatan, dan kasih sayang. Kita mengucapkannya berkali-kali dalam berbagai momen kehidupan, agar makna-makna ini menjadi energi positif yang ikut mendorong berbagai kekuatan melahirkan kebaikan-kebaikan dalam kehidupan kita bersama. Kita mengucapkanya agar mengingatnya. Kita mengingatnya agar menjadi panduan hidup kita. Kita mengucapkanya agar kita melakukanya. Kita melakukanya agar makna-makna keagungan dan kasih sayang benar-benar wujud dalam kehidupan kita.

Seseorang yang mengawali ikatan pernikahan dengan bismilah, ia tidak hanya berharap dihormati, disayang dan dicintai. Tetapi juga mengerahkan seluruh kemampuannya untuk selalu menghormati pasangannya, menyayangi dan mencintai. Laki-laki kepada istrinya, dan perempuan kepada suaminya.

Seseorang yang mengawali bismilah dala transaksi bisnisnya, tidak hanya berharap memperoleh  keuntungan dan kebaikan, tetapi juga memberikan hal yang terbaik kepada mitra bisnisnya. Begitupun ketika kita membuat pernyataan tertentu, melakukan tindakan tertentu, atau melahirkan kebijakan tertentu. Bismalah adalah panduan yang mengingatkan kita agar selalu berbuat yang bisa melahirkan kehormatan dan kebaikan bersama, serta saling menyayangi satu sama lain.

Bismilah menjadi peringatan (dzikra) bagi kita semua, agar pernyataan yang kita ucapkan, status Facebook yang kita tuliskan, atau komentar yang kita pasang terhadap pernyataan orang lain, tidak mengandung kebencian, kedengkian, caci maki, umpatan, dan segala perkataan buruk yang bertentangan dengan nilai kehormatan dan kasih sayang. Begitupun segala perbuatan kita, dimana kita disarankan untuk selalu membaca bismilah, adalah untuk memastikannya kembali pada kebaikan kita dan semua orang di sekeliling kita dan penduduk dunia, termasuk untuk alam semesta (rahmatan lil ‘alamin).

Bismilah akan bemakna dalam hidup kita, jika kita benar-benar saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menghormati. Baik dalam kehidupan keluarga, antara suami (laki-laki) dan istri (perempuan), antara orang tua dan anak, atau antara saudara, dan seluruh anggota keluarga. Begitupun dalam kehidupan bermasyarakat, antara berbagai kelompok yang berbeda posisi sosial, kelompok, golongan, suku, maupun agama. Saling menghormati dan saling menyayangi adalah kunci untuk bisa bahagia dan membahagiakan. Di dunia maupun akhirat. Wallahu a’lam.

Tags: Makna AyatMetode MubadalahTafsir Bismillah
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Kisah Manikarnika, Raja Perempuan dari India

Next Post

A World of Married Couple: Perempuan Harus Bekerja!

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Metode Mubadalah
Rekomendasi

Aplikasi Metode Mubadalah dalam Memaknai Hadits Bukhari tentang Memerdekakan Perempuan Budak

24 Oktober 2025
Metode Mubadalah
Hikmah

Beda Qiyas dari Metode Mubadalah: Menjembatani Nalar Hukum dan Kesalingan Kemanusiaan

30 Januari 2026
Insecure
Hikmah

Sering Insecure? Mari Memahami Makna QS At-Tin Ayat 4 Dengan Cermat!

27 November 2023
surat Yusuf ayat 28
Personal

Memaknai Surat Yusuf Ayat 28 “Perempuan Godaan Terbesar” dalam Perspektif Mubadalah

5 Oktober 2023
metode mubadalah
Hikmah

Metode Mubadalah Menggunakan Prinsip Dasar yang Menyapa Laki-laki dan Perempuan

27 Januari 2023
metode, Mubadalah
Publik

Mubadalah dalam Bisnis

26 Februari 2023
Next Post
A World of Married Couple

A World of Married Couple: Perempuan Harus Bekerja!

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Konsep Fitnah Bersifat Timbal Balik
  • Guru Era Digital: Antara Viral dan Teladan Moral
  • Wacana Perempuan Sumber Fitnah Bertentangan dengan Ajaran Islam
  • Ramadan yang Inklusif bagi Kelompok Rentan
  • Memperkuat Silaturahmi Lewat Tradisi Rowahan di Desa Cikalahang

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0