Mubadalah.id – Euforia tahun baru tidak terasa oleh semua orang. Ketika sebagian masyarakat menyambut pergantian tahun dengan pesta, kembang api, dan hitung mundur yang meriah, sebagian lainnya justru bekerja dengan beban yang berlipat.
Para dokter dan tenaga kesehatan, misalnya, harus bersiaga penuh menghadapi lonjakan pasien yang datang ke instalasi gawat darurat. Bagi mereka, malam tahun baru bukan tentang perayaan, melainkan tentang kewaspadaan dan tanggung jawab kemanusiaan.
Fakta lain juga menunjukkan bahwa pergantian tahun kerap diiringi meningkatnya kasus kecelakaan lalu lintas. Mobilitas yang melonjak, kelelahan, serta konsumsi minuman keras menjadi faktor yang berulang setiap tahun. Selain itu, cedera mata dan luka bakar akibat kembang api juga sering mengisi ruang IGD.
Situasi ini menunjukkan satu kenyataan yang jarang kita sadari, yakni kegembiraan sebagian orang sering berjalan beriringan dengan risiko dan kerja keras orang lain.
Tahun Baru sebagai Peristiwa Sosial
Perayaan tahun baru sesungguhnya tidak pernah berlangsung dalam ruang yang sepenuhnya privat. Ia selalu melibatkan ruang bersama, baik itu jalan raya, lingkungan permukiman, rumah sakit, tempat kerja, bahkan udara dan waktu orang lain.
Karena itu, tahun baru lebih tepat dipahami sebagai peristiwa sosial, bukan sekadar ekspresi kebahagiaan personal. Apa yang kita lakukan untuk merayakan, cepat atau lambat, akan berdampak pada orang lain.
Kembang api yang dinyalakan di tengah malam, konvoi kendaraan yang memenuhi jalan, hingga pesta larut malam memang menciptakan suasana meriah. Namun di saat yang sama, semua itu menghadirkan kebisingan, sampah, kemacetan, dan risiko keselamatan.
Dampak-dampak ini tidak dibagi secara merata. Sebagian orang menikmati perayaan tanpa gangguan berarti, sementara sebagian lainnya harus menanggung konsekuensinya baik dalam bentuk kelelahan, ketidaknyamanan, maupun ancaman keselamatan.
Mereka yang Tak Bersorak
Di balik gemerlap tahun baru, ada mereka yang tidak ikut bersorak. Pekerja malam seperti tenaga kesehatan, petugas keamanan, pemadam kebakaran, dan petugas kebersihan justru menghadapi jam kerja lebih panjang dengan tekanan tinggi. Agar kota tetap berjalan “normal” di tengah perayaan, mereka bekerja dalam sunyi, tanpa sorotan dan tanpa apresiasi.
Perempuan juga sering menjadi kelompok yang terdampak secara tidak kasat mata. Dalam banyak keluarga, beban kerja domestik meningkat saat perayaan berlangsung. Sudah menjadi rahasia umum, perempuan atau ibu-ibu secara khusus harus menyiapkan acara, menjamu tamu, dan membersihkan sisa-sisa pesta.
Anak-anak dan lansia pun kerap menjadi kelompok yang paling rentan terhadap kebisingan, keramaian, dan situasi yang tidak aman. Mereka mungkin tidak memiliki pilihan untuk “ikut atau tidak ikut” merayakan, tetapi tetap harus menanggung dampaknya.
Situasi ini memperlihatkan bahwa perayaan tidak dialami secara setara. Dalam satu peristiwa sosial yang sama, terdapat relasi kuasa dan ketimpangan, yakni siapa yang menikmati kegembiraan, dan siapa yang menanggung bebannya. Di sinilah perspektif mubadalah menjadi relevan untuk kita ajukan sebagai cara pandang etis dalam merayakan.
Mubadalah sebagai Etika Merayakan
Mubadalah menekankan prinsip kesalingan dalam relasi sosial. Kesalingan mengajak kita untuk tidak hanya bertanya tentang apa yang kita rasakan, tetapi juga tentang apa yang dialami orang lain. Dalam konteks tahun baru, mubadalah menuntut agar kebahagiaan tidak terbangun di atas ketidaknyamanan, risiko, atau penderitaan pihak lain. Kegembiraan yang bermakna adalah kegembiraan yang tidak bersifat sepihak.
Dengan perspektif ini, perayaan tahun baru tidak serta-merta kita persoalkan sebagai sesuatu yang harus terlarang. Yang dipersoalkan adalah cara kita merayakannya. Apakah perayaan itu memperhitungkan dampaknya bagi orang lain? Apakah ia menghormati ruang bersama dan kelompok yang lebih rentan? Atau justru mengabaikan semuanya demi kesenangan sesaat?
Merayakan secara bermubadalah berarti menempatkan empati sebagai bagian dari kegembiraan. Mengurangi kebisingan berlebihan, tidak melakukan konvoi yang membahayakan, menjaga kebersihan ruang publik, serta menghormati mereka yang harus tetap bekerja adalah bentuk-bentuk kecil dari etika kesalingan. Perayaan tidak harus sunyi, tetapi perlu sadar diri.
Tahun baru seharusnya menjadi momentum untuk memperbarui cara kita berelasi, bukan hanya mengganti angka dalam kalender. Ia bisa menjadi saat yang tepat untuk merefleksikan bagaimana kebahagiaan kita terhubung dengan kehidupan orang lain.
Dalam semangat mubadalah, merayakan tahun baru berarti memastikan bahwa kegembiraan yang kita rasakan tidak berdiri sendiri, melainkan hadir bersama kepedulian, tanggung jawab, dan keadilan sosial. []


















































