Mubadalah.id – Salah satu prinsip utama dalam ajaran Islam adalah kasih sayang yang diwujudkan melalui keberpihakan kepada kelompok lemah. Prinsip ini terlihat jelas dalam teladan Nabi Muhammad Saw sebagaimana disaksikan langsung oleh istri beliau, Siti Khadijah ra.
Dalam riwayat Sahih Bukhari, Khadijah ra menyampaikan kesaksiannya tentang pribadi Nabi Muhammad Saw. Ia menyebut Nabi sebagai sosok yang selalu menyambung tali persaudaraan, berkata jujur, menanggung beban orang yang kesusahan, memberdayakan kaum papa, serta menghormati tamu. Kesaksian ini Khadijah sampaikan saat Nabi Saw dalam kondisi gemetar setelah menerima wahyu pertama.
Pada saat itu, Nabi Muhammad Saw merasa khawatir atas pengalaman yang baru ia alami. Namun Khadijah ra dengan tegas menenangkan beliau dan meyakinkan bahwa yang Nabi terima adalah wahyu dari Allah Swt dan yang datang adalah Malaikat Jibril as.
Menariknya, argumentasi Khadijah tentang kenabian Muhammad Saw tidak bertumpu pada mukjizat atau kekuasaan. Melainkan pada rekam jejak sosial Nabi dalam membela dan memberdayakan mereka yang lemah.
Penegasan ini menunjukkan bahwa kerja-kerja sosial dan pembelaan terhadap kelompok rentan merupakan bagian tak terpisahkan dari misi kenabian. Nilai tersebut juga tercatat dalam hadis lain dari Abu Hurairah ra.
Nabi Saw bersabda bahwa orang yang bekerja untuk kepentingan para janda dan orang miskin memiliki pahala setara dengan orang yang berjihad di jalan Allah Swt, atau orang yang shalat malam dan berpuasa di siang hari.
Hadis ini menempatkan kerja sosial sebagai ibadah yang bernilai tinggi dalam Islam. Dengan demikian, membela dan mendukung kaum lemah bukan sekadar tindakan kemanusiaan. Melainkan bagian dari ajaran inti agama yang Nabi Muhammad Saw wariskan. []


















































