Selasa, 3 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    "Azl

    ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri

    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Disabilitas Psikososial

    Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    Golek Garwo

    Optimisme “Golek Garwo” dan Cherry-picking Kebahagiaan

    "Azl

    ‘Azl dalam Islam: Izin, Rida, dan Amanah Kenikmatan Suami Istri

    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Perempuan Shalat Subuh

    Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    Perempuan ke Masjid

    Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    Melarang Perempuan

    Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

    Pernikahan sebagai

    Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Tradisi Munggahan dan Megengan; Islam Hadir Menjunjung Budaya Lokal

Banyak hal-hal positif dari tradisi peninggalan leluhur yang tetap kita lestarikan bersama. Tradisi yang berisikan nilai-nilai Islami yang telah dibangun bahkan sebelum Islam datang

Aspiyah Kasdini RA by Aspiyah Kasdini RA
5 Oktober 2022
in Pernak-pernik, Rekomendasi
A A
0
Tradisi Munggahan dan Megengan; Islam Hadir Menjunjung Budaya Lokal

Tradisi Munggahan dan Megengan; Islam Hadir Menjunjung Budaya Lokal

6
SHARES
311
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Menghitung bulan Ramadan yang akan tiba dalam beberapa hari lagi, masyarakat Muslim Indonesia sedang bersuka-cita menyambut kedatangannya. Banyak tradisi unik yang ditunggu dan dipersiapkan setiap bulan Sya’ban akan berakhir, seperti Mak Meugang dalam tradisi Aceh, Munggahan dalam tradisi Sunda, atau Megengan dalam tradisi Jawa.

Pada tradisi masyarakat Sunda (khususnya tradisi keluarga suami saya), Munggahan dilaksanakan dengan kerabat serta sanak-saudara. Umumnya, para keturunan yang masih hidup pergi ke makam-makam orang tua dan leluhur yang telah tiada. Mereka membersihkan makam bersama-sama. Tradisi membersihkan makam ini dikenal juga dengan istilah ngoret.

Biasanya mereka membawa nasi liwet yang dihidangkan di atas daun pisang dan kemudian disantap bersama setelah kegiatan ngoret selesai. Tentu, saat makan bersama (botram) ini, tidak lupa mereka melaksanakan doa bersama untuk kebahagiaan arwah para leluhur yang telah tiada, dan juga untuk mereka yang masih hidup di muka bumi, ngaruwahkeun.

Pada era modern saat ini, terdapat perubahan budaya. Munggahan tidak sekedar tradisi saja, melainkan agenda kegiatan yang dilakukan pada segala instansi ketika Ramadan akan segera tiba. Dengan tidak menghilangkan substansi-substansi yang ada, Munggahan tetap dilaksanakan dengan cara yang lebih kekinian, seperti dilakukan di tempat-tempat wisata, tempat bekerja, lembaga pendidikan, dan lainnya. Yang menjadi poin pentingnya, perubahan yang ada lagi-lagi tidak meniadakan doa bersama, makan bersama, dan berkumpul bersama-sama orang yang dikasihi.

Tradisi munggahan yang demikian tentu merupakan manifestasi dari istilah itu sendiri, yakni Munggahan yang memiliki arti naik. Maksudnya ialah hamba manusia memanjatkan dan melangitkan rasa syukurnya kepada Yang Kuasa karena dipertemukan kembali dengan bulan Ramadan yang mulia, sehingga mereka saling berbagi rejeki, dan juga berkumpul antar sesamanya.

Serupa namun ‘tak sama. Dalam tradisi masyarakat Jawa, tradisi menyambut bulan suci Ramadan dikenal dengan istilah Megengan. Megengan sendiri memiliki makna menahan. Hal ini sebagai tanda dan peringatan, bahwa bulan Ramadan yang identik dengan menahan nafsu akan segera datang, sehingga manusia harus segera mempersiapkannya dengan suka-cita.

Selain membersihkan makam leluhur, masyarakat Jawa juga melakukan Selametan yang diadakan secara individu (tiap rumah) maupun secara kolektif (Masjid, Mushala, dan RT). Seperti halnya Liwet, dalam masyarakat Jawa juga terdapat suguhan yang menjadi ciri khas dalam tradisi Megengan, yakni Ambengan  dan Apem.

Saya masih ingat dengan jelas, Bude-bude dan Mbah selalu antusias saat telah memasuki bulan Ruwah. Bahkan Mbah membuat Ingkung khusus beserta komponen yang lain dan diletakkan dengan apik dalam lengser yang besar. Suguhan ini Mbah simpan di kamar pribadinya. Kata Mbah, “Ngko Mbah Nang-mu teko.” Walaupun Ruh Mbah Nang datang, ia tidak akan akan memakan sajen/makanan yang disajikan ini, melainkan yang masih hiduplah yang akan menikmatinya.

Mbah juga ater-ater kepada anak-menantunya yang telah berkeluarga, dan anak-menantunya juga mengirimkan hal serupa kepada Mbah. Kadang saya berpikir, kalau isinya sama, kenapa harus diputer-puter dan riwa-riwi sih? Tapi sebagai anak-anak tentu suka-suka saja, karena ketika kita diminta untuk ater-ater, di saat itulah pundi-pundi rupiah juga bertambah.

Yang menarik lagi, Mbah juga selalu membuat Apem. Apem yang sudah jadi ini biasanya Bude (kakak Ayah) lempar ke atap rumah gedek Mbah sambil komat-kamit. Tentunya dalam hati, “Wah, mubazir banget makanan dibuang-buang, walaupun cuma satu, tidak seperti Ingkung yang masih bisa dimakan, Apem yang dilempar dan jatuh kena pasir Kelud ini pasti kotor.” Kata Bude, “Ra popo, iki mang digawe awak dewe njaluk ngaporo (Afwu) nang Pengeran.”

Ketika semua makanan sudah siap, yang memiliki hajat mengundang sanak-saudara dan tetangga untuk mengirimkan doa kepada ruh para leluhur dan dilanjutkan dengan makan ambengan bersama. Sungguh nikmat, bahkan rasa masakan khas Megengan buatan Mbah masih bisa dibayangkan hingga saat ini.

Saat itu, saya melihat hal-hal ini sebagai sesuatu yang unik, banyak hal baru yang saya temui dalam tradisi ini dan juga pada diri Mbah dan Bude-bude dalam mempersiapkannya. Sekarang saat memikirkannya, saya bisa mengatakan, bahwasanya Islam hadir di masyarakat kita dengan tetap menghargai dan menghormati budaya lokal. Islam yang berkembang di masyarakat kita telah sesuai dengan visi-misinya, yakni sebagai rahmah (kasih sayang) kepada seluruh alam. Bagaimana tidak, mari kita intip sedikit:

Secara psikologi, tradisi Munggahan dan Megengan ini memberikan rasa ‘bahagia’ kepada mereka yang melakukannya. Bahagia yang tercipta karena mereka dapat berkumpul dengan mereka yang dikasihi dan masih hidup. Bahagia pula karena mereka memiliki momen untuk mengingat orang terkasih yang telah tiada.

Seperti contoh Mbah saya, dengan senang hati ia menyiapkan sajen yang dibuat untuk suaminya, walaupun dia tahu hal tersebut tidak mungkin dimakan oleh suaminya yang telah tiada, namun persiapan memasakkan makanan terbaik untuk suaminya ‘kembali’ membawanya kepada peristiwa-peristiwa indah di masa lampau. Momen ini memberikan semangat dan kebahagiaan yang hanya dapat ia sendiri ciptakan.

Berkumpulnya sanak-saudara yang masih hidup pun tentunya membawa kebahagiaan. Berkumpul bukanlah suatu hal yang mudah, butuh pengorbanan untuk mewujudkannya di balik kesibukan keseharian masing-masing individu. Dengan berkumpul, tiap individu akan berbagi suka-cita, dan melakukan hal-hal yang dinantikan saat berkumpul bersama.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Seligman dalam Authentic Happines, bahwasanya dalam mencapai kebahagiaan, manusia memiliki cara yang berbeda antara satu dan lainnya, oleh karena itu cara untuk mencapainya juga berbeda-beda. Termasuk dalam tradisi ini, bagi leluhur kita, mengingat mereka yang telah tiada dan berkumpul bersama orang terkasih merupakan salah satu cara untuk mendapatkan kebahagiaan.

Bahagianya mereka dapat kita lihat dari antusiasnya yang tinggi dalam penyelenggaraan Munggahan dan Megengan, semangat berbagi, semangat berkumpul, dan semangat saling membahagiakan dengan bersama-sama memanjatkan doa-doa kebaikan.

Secara Teologi, tradisi munggahan ini merupakan tradisi lokal yang dibalut dengan nilai-nilai Islami. Apakah bertentangan? Saya rasa tidak: semua berkumpul untuk saling mendoakan, kepada yang telah tiada dan yang masih ada; semua berbagi dengan liwet, ambengan, bahkan rupiah, sebagai bentuk syukur yang merupakan bagian dari sedekah.

Semua saling berkumpul dan mengunjungi, yang merupakan bagian dari silaturahim; semuanya memberikan tanda, bahwa manusia adalah hamba yang memiliki kewajiban secara vertikal kepada Tuhannya, dan juga horizontal kepada sesamanya. Hal inilah yang menjadi dasar mengapa Sunan Kalijaga tetap melestarikan tradisi yang tidak memiliki pertentangan dengan Syara’ tersebut.

Secara sosial, tradisi ini memberikan ruang agar sesama manusia memiliki kesadaran bahwa sebagai makhluk sosial, masing-masing individu memiliki kewajiban dan tanggung-jawab untuk saling membahagiakan: dengan membantu yang memiliki hajat Munggahan atau Megengan untuk mempersiapkan sajen yang berupa liwet dan ambengan; meluangkan waktu untuk berkumpul demi kebutuhan bersama; mengikhlaskan hati dan diri untuk mendoakan, yang bukan hanya dituju untuk diri sendiri, melainkan juga orang lain; dan lain-lain.

Dari sini dapat kita lihat, banyak hal-hal positif yang kita dapatkan dari tradisi munggahan, peninggalan leluhur yang kita lestarikan bersama ini. Tradisi yang berisikan nilai-nilai Islami yang telah dibangun bahkan sebelum Islam datang. Tradisi yang menjadi bagian dari kebahagiaan kita. Tradisi yang mengikat kita untuk memiliki identitas sebagai Muslim Indonesia yang beragam.

Sebagaimana pernyataan Presiden ke-4 NKRI, KH. Abdurrahman Wahid, “Islam datang bukan untuk merubah budaya leluhur kita jadi budaya Arab, bukan untuk ‘aku’ jadi ‘ana,’ bukan ‘sampean’ jadi ‘antum,’ bukan ‘sedulur’ jadi ‘akhi.’ Pertahankan apa yang menjadi milik kita, kita harus serap ajarannya, bukan  budaya Arabnya.”

Demikian penjelasan tradisi Munggahan dan Megengan, Islam hadir menjunjung budaya lokal. Semoga bermanfaat. []

Tags: IndonesiaMunggahanNusantararamadanTradisi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Aspiyah Kasdini RA

Aspiyah Kasdini RA

Alumni Women Writers Conference Mubadalah tahun 2019

Related Posts

Harlah 100 Tahun
Aktual

Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

2 Februari 2026
Keberpihakan Gus Dur
Publik

Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

31 Januari 2026
Novel Katri
Buku

Novel Katri: Bertahan dalam Luka dari Penjara ke Penjara

30 Januari 2026
Nyadran Perdamaian
Lingkungan

Cerita Nyadran Perdamaian 2026 Ekologi Spiritual Buddha-Muslim untuk Perawatan Alam

2 Februari 2026
Kerusakan Lingkungan
Lingkungan

Kerusakan Lingkungan di Indonesia

2 Februari 2026
Kerusakan Lingkungan
Lingkungan

Indonesia Hadapi Tantangan Serius Akibat Kerusakan Lingkungan

2 Februari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati

    Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah

    34 shares
    Share 14 Tweet 9
  • Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi

    33 shares
    Share 13 Tweet 8
  • Menempatkan Perceraian sebagai Jalan Akhir dalam Pernikahan

    24 shares
    Share 10 Tweet 6

TERBARU

  • Hadis Bukhari Catat Perempuan Shalat Subuh Berjamaah di Masjid Nabi
  • Disabilitas Psikososial: Mengenal Luka Tak Kasatmata dalam Perspektif Mubadalah
  • Akses Perempuan ke Masjid dan Tantangan Sosial Hari Ini
  • Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental
  • Nabi Tidak Melarang Perempuan Shalat di Masjid

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0