Rabu, 15 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

    Maskulinitas

    Katrin Bandel: Maskulinitas Hegemonik Membuat Laki-laki Terus Hidup dalam Kecemasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Di UIN SSC, PTKI Perkuat Komitmen Membangun Kampus Berkeadilan Gender dan Bebas Kekerasan

    Kekerasan Seksual

    Mengapa Kekerasan Seksual Terus Berulang? Dr. Nur Rofiah sebut Akar Masalahnya Ada pada Sistem Pengetahuan

    Pemadaman Listrik

    Pemadaman Listrik Bergilir: Ironi Negara Eksportir Batu Bara

    Suporter Jepang

    Kritik untuk Suporter Jepang di Piala Dunia 2026: Cuitan Warganet, Sentilan Aristoteles

    Slut Shaming

    Slut Shaming: Ruang Digital tidak Ramah Terhadap Perempuan Kritis

    Piala Dunia 2026

    Piala Dunia 2026 dalam Perspektif Feminisme: Kala Perempuan Tak Melulu Menjadi Penghibur

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Integritas

    Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi

    Memasak

    Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang

    Anak Guru SLB

    Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

    The Personal is Political

    Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-197: Ketika Gugatan Cerai Menjadi Exit Option

    Makna Tahrīr

    Dari Pembebasan ke Pembebasan Lain: Evolusi Makna Tahrīr

    Normal

    Ketika Normal Menjadi Diskriminasi

    Perempuan dalam Perkawinan

    Otoritas dan Kerelaan Menjadi Titik Keberdayaan Perempuan dalam Perkawinan

    Pesantren yang Aman

    Dari Epistemic Injustice Menuju Epistemic Partnership: Jalan Membangun Pesantren yang Aman

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    sifilis

    Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai

    Lecet di Kelamin

    Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis

    Kutil di Kelamin

    Kutil di Kelamin: Kenali Gejala, Cara Mengobati, dan Kapan Harus Waspada

    Alat Kelamin

    Jangan Anggap Sepele, Kenali Penyebab Gatal dan Kutil di Alat Kelamin

    Cairan Vagina

    Apa Saja Penyebab Munculnya Cairan Vagina yang Tidak Normal?

    Cairan Vagina

    Kenali Penyebab Cairan Vagina yang Tidak Normal dan Cara Mewaspadainya

    Penyakit Menular Seksual

    Terlanjur Tertular Penyakit Seksual? Ini 6 Langkah yang Perlu Anda Lakukan

    Penyakit yang menular

    Penyakit Menular Seksual Bisa Menyerang Siapa Saja, Ini Gejala dan Faktor Risikonya

    Penyakit yang Menular

    Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terkena Penyakit Menular Seksual?

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Personal

Membiasakan Berefleksi Sebagai Bagian dari Perjalanan Spiritual

Sejatinya, refleksi menjadi cara terkecil untuk menyadari kehidupan saat ini dan mengungkapkan rasa syukur.

Layyin Lala by Layyin Lala
14 Agustus 2025
in Personal
A A
0
Perjalanan Spiritual

Perjalanan Spiritual

21
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Seseorang bertanya kepadaku apa yang ingin aku tumbuhkan (kebiasaan) ketika nanti aku memtuskan untuk membangun keluarga? Sebuah pertanyaan yang sebetulnya tidak pernah ku bayangkan sebelumnya. Jangankan sebuah kebiasaan yang ingin aku tumbuhkan di keluarga, untuk “membangun” keluarganya saja tidak terlalu kupikirkan untuk saat ini.

Tapi, aku sangat tertarik dengan pertanyaanya. Setelah mencoba melakukan refleksi, ku jawab bahwa aku butuh waktu satu pekan untuk memikirkan jawaban itu. Dan hari ini kutuliskan semua jawaban atas satu pertanyaan itu.

Nabi Ibrahim A.S dan Perjalanan Spiritual

Kita sepakat bahwa sebagaian besar pada setiap orang memiliki perjalanan spiritual atas hidupnya. Terlepas apakah ia memiliki agama (kepercayaan) atau tidak. Perjalanan spiritual merupakan proses ketika seseorang mencoba memahami dirinya sendiri dan mencari makna hidup yang lebih dalam. Dalam perjalanan tersebut, seseorang biasanya melakukan dengan renungan, belajar dari pengalaman, dan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Tujuannya untuk menemukan kedamaian, arah hidup, dan hubungan yang lebih dekat dengan Tuhan. 

Salah satu kisah tentang perjalanan spiritual yang aku suka adalah ketika Nabi Ibrahim A.S memulai perjalanan spiritualnya. Mungkin cerita tersebut sudah berkali-kali kita dengarkan. Namun, tetap saja kisah tersebut menjadi kisah favoritku yang tidak pernah bosan untuk selalu dibaca. Allah berfirman dalam surat Al-An’am ayat 75-81:

Demikianlah Kami memperlihatkan kepada Ibrahim kekuasaan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan agar dia termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah menjadi gelap, dia (Ibrahim) melihat sebuah bintang (lalu) dia berkata, “Inilah Tuhanku.” Maka, ketika bintang itu terbenam dia berkata, “Aku tidak suka kepada yang terbenam.” Kemudian, ketika dia melihat bulan terbit dia berkata (kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku.” Akan tetapi, ketika bulan itu terbenam dia berkata, “Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, pastilah aku termasuk kaum yang sesat.” Kemudian, ketika dia melihat matahari terbit dia berkata (lagi kepada kaumnya), “Inilah Tuhanku. Ini lebih besar.” Akan tetapi, ketika matahari terbenam dia berkata, “Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari yang kamu persekutukan.” Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku (hanya) kepada Yang menciptakan langit dan bumi dengan (mengikuti) agama yang lurus dan aku bukanlah termasuk orang-orang musyrik. Kaumnya membantah. Dia (Ibrahim) berkata, “Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah, padahal Dia benar-benar telah memberi petunjuk kepadaku? Aku tidak takut kepada yang kamu persekutukan dengan-Nya, kecuali Tuhanku menghendaki sesuatu. Ilmu Tuhanku meliputi segala sesuatu. Tidakkah kamu dapat mengambil pelajaran?”

Dalam perjalanannya mencari kebenaran, Nabi Ibrahim A.S mengamati tanda-tanda di langit. Beliau melihat bintang, lalu mengira itulah Tuhannya. Namun, ketika bintang itu menghilang, beliau menyadari bahwa Tuhan sejati tidak mungkin lenyap. Beliau pun melihat bulan yang indah dan matahari yang terang benderang, tetapi keduanya juga terbenam.

Dari pengamatan dan renungan itu, Nabi Ibrahim A.S memahami bahwa Tuhan adalah Dzat yang kekal, tidak berubah, dan tidak bergantung pada waktu. Beliau pun meneguhkan hati untuk hanya mengabdi kepada Allah, Pencipta langit dan bumi, meskipun harus berhadapan dengan penolakan kaumnya. Keyakinan itu menjadi bekal yang menguatkan langkahnya, karena ia tahu petunjuk Allah adalah cahaya yang tidak akan padam.

Perjalanan Spiritual dan Berefleksi

Berkaca dari kisah Nabi Ibrahim A.S, kita semua sebenarnya memiliki perjalanan spiritual, meski bentuknya berbeda-beda pada setiap orang. Ada yang mengalaminya lewat ujian hidup, pencapaian, kesendirian, atau bahkan pertanyaan kecil yang membuat merenung.

Semua pengalaman tersebut membawa kita pada proses untuk mengenal diri lebih dalam, mencari arah yang jelas, dan menemukan ketenangan batin. Walau jalannya berbeda, setiap orang pada dasarnya sedang berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dan hidup sesuai dengan keyakinannya.

Salah satu cara untuk menumbuhkan dan menjaga perjalanan spiritual adalah dengan membiasakan refleksi. Refleksi membuat kita berhenti sejenak untuk memikirkan kembali langkah yang sudah kita tempuh. Bisa juga untuk memahami alasan di balik setiap keputusan, dan menilai apakah keputusan yang kita buat membawa kita ke arah yang benar. 

Dalam pengalamanku sendiri, aku sudah melakukan refleksi sejak waktu yang lama. Namun, setiap waktunya, bentuk refleksi hidupku selalu meningkat dan lebih baik daripada sebelumnya. Misalnya, tahun ini aku memulai membentuk kebiasaan berefleksi sebelum makan, sebelum tidur, sebelum belajar, dan melakukan noble silence.

Tentu sebuah pencapaian refleksi terbaik dariapada sebelumnya yang hanya mengandalkan jurnaling emosi, atau menuliskan hal-hal kecil. Aku selalu mencoba untuk membangun hidup sadar melalui refleksi. Karea itulah yang Nabi Ibrahim A.S lakukan saat melakukan perjalanan spiritualnya. Maka, teladannya dapat aku amalkan dalam setiap perjalanan spiritualku yang kuyakini akan terus membersamaiku sampai akhir waktu.

Membiasakan Refleksi dalam Kegiatan Sehari-hari

Sebelum makan, aku melakukan refleksi “Ya Allah, terima kasih atas berkah rahmat makanan hari ini. Berikanlah orang-orang pada belakang makanan ini kebahagiaan, umur yang berkah, umur yang barokah, rezeki yang halal dan melimpah, urusan yang dipermudah dan segala petunjukmu. Ya Allah, berikanlah hamba tenaga untuk belajar, berdoa, beribadah, dan bekerja melalui makanan ini. Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar,”

Sebelum belajar, aku melakukan refleksi, “Ya Allah, terima kasih atas nikmat menuntut ilmu dan belajar hari ini. Terima kasih atas fasilitas belajar yang Engkau sediakan bagi hamba untuk melakukan kegiatan yang Engkau cintai. Ya Allah, berikanlah hamba kesempatan untuk selalu belajar, mengamalkan ilmu yang hamba dapat, sehingga ilmu ini terus bermanfaat bagi diri sendiri dan sesama. Semoga melalui wasilah ilmu ini dapat memberikan hamba kemudahan dalam menghadapi hidup. Rabbi zidni ‘ilman warzuqni fahma waj’alni minash-sholihiin,”

Sebelum tidur, aku juga mengusahakan refleksi, “Ya Allah, terima kasih banyak atas kesempatan hidup untuk hari ini. Terima kasih banyak atas segala rezeki dan kasih sayang yang Engkau limpahkan kepada hamba hari ini. Ya Allah, Hamba selalu memohon tuntunan dan petunjukmu untuk menghadapi hari-hari selanjutnya. Hamba memaafkan seluruh hal yang membuat hamba marah dan sedih hari ini, juga mendoakan yang terbaik bagi mereka yang telah membantu hamba hari ini. Bismika allahumma ahyaa wa bismika amuut,”

Membangun Kebiasaan Berefleksi

Sejatinya, refleksi menjadi cara terkecil untuk menyadari kehidupan saat ini dan mengungkapkan rasa syukur. Selain itu menjadi media untuk memahami kesalahan-kesalahan yang hari ini. Sehingga, dengan refleksi akan memberikan seseorang sebuah space atau tempat untuk lebih mengenal diri sendiri dan mendekatkan diri pada hal-hal yang menjadi tujuan hidup atau kedamaian hidup. Refleksi sendiri bisa menjadi bekal dalam perjalanan spiritual, terlebih lagi perjalanan spiritual tidak akan berakhir sampai menghembuskan nafas terakhirnya.

Maka atas pertanyaan tersebut ingin menjelaskan bahwa aku ingin membangun keluarga dengan kebiasaan berefleksi bersama. Membangun kebiasaan refleksi sebelum makan yang akan bergiliran mengucapkan refleksi.

Membuat kebiasaan diskusi di meja makan untuk bertanya tentang kegiatan masing-masing anggota keluarga hari ini. Membuat kebiasaan keluarga untuk saling memafkan dan berefleksi sebelum tidur. Sehingga, keluarga yang dibangun atas nilai-nilai spiritual dan berefleksi akan memberikan “makna” yang lebih dalam pada keluarga.

Keluarga masa depan yang kubayangkan adalah keluarga yang setiap anggota mampu saling menyayangi dan mengasihi satu sama lain. Memiliki kebiasaan berefleksi untuk bersyukur dan evaluasi diri pada hal-hal kecil sebelum belajar, bekerja, makan, atau hal lainnya.

Meluangkan waktu untuk ber-noble silence bersama-sama. Membangun keluarga yang bahagia, penuh tawa, dan selalu meneladani nilai-nilai spiritual terutama para utusan-Nya. Bukankah tujuan hidup adalah tentang Ibadah? Jika menikah menjadi penyempurna sebagian ibadah, maka membangun keluarga yang berlandaskan kebiasaan refleksi akan menjadi salah satu bentuk ibadah yang terus hidup di dalam rumah.

Setiap aktivitas, sekecil apa pun, akan bernilai karena dilakukan dengan kesadaran, rasa syukur, dan niat yang benar. Dalam suasana yang saling memahami dan mendukung, setiap anggota akan merasa diterima, dihargai, dan dicintai tanpa syarat. Pada akhirnya, keluarga yang dibangun dengan nilai-nilai spiritual dan kebiasaan refleksi menjadi ruang belajar, bertumbuh, dan beribadah bersama hingga akhir hayat. []

 

Tags: #Keluarga berkesalinganibadahperjalanan spiritualRefleksiSpiritualSyukur
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Islam dan Kemerdekaan

Next Post

Memahami Cara Anak Memilih Teman dari Kecil hingga Dewasa

Layyin Lala

Layyin Lala

A Student, Santri, and Servant.

Related Posts

Buya Syafi'i
Figur

Menjadi Manusia Abadi ala Buya Syafi’i: Sebuah Refleksi dari Perjalanan Tour de Buya 

8 Juni 2026
Suara Disabilitas
Disabilitas

Dari Dialog Ibrahim-Ismail ke Meja Kebijakan: Refleksi Keterlibatan Suara Disabilitas

3 Juni 2026
Siti Hajar
Pernak-pernik

Siti Hajar, Simbol Kemuliaan Manusia dalam Ritual Haji

27 Mei 2026
May Day
Publik

Refleksi May Day: Apakah Guru Perlu Turun ke Jalan?

30 April 2026
Luka Yerusalem
Publik

Luka Yerusalem dan Indonesia: Refleksi Lebaran 2026

26 April 2026
Akhir Ramadan
Hikmah

Menutup Akhir Ramadan dengan Cara Terbaik

18 Maret 2026
Next Post
Anak Teman

Memahami Cara Anak Memilih Teman dari Kecil hingga Dewasa

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Integritas Melawan Korupsi: Sikap Gereja Katolik terhadap Korupsi
  • Sifilis pada Ibu Hamil dan Kangkroid, Dua Infeksi Menular Seksual yang Perlu Diwaspadai
  • Memasak Menyembuhkan Saya dari Patah Hati di Usia Matang
  • Jangan Abaikan Lecet di Area Kelamin, Bisa Menjadi Gejala Awal Sifilis
  • Melihat Disabilitas dari Rumah: Cerita Anak Guru SLB

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0