Sabtu, 14 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    Feminist Political Ecology

    Feminist Political Ecology: Strategi Melawan Eksploitasi Lingkungan yang Merugikan Perempuan

    Pembangunan

    Pembangunan, Dialog, dan Masa Depan Papua

    Perkawinan

    Marketing Kemenag dan Mutu sebuah Perkawinan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    Doa Keluarga

    Makna Doa Keluarga dalam QS. Al-Furqan Ayat 74

    Konsep Ta'aruf

    Konsep Ta’aruf Menurut Al-Qur’an

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Melihat Pancasila di Kota Salatiga

Pancasila tidak hidup di teks, tetapi di relasi antar manusia. Ia hadir dalam sikap saling menghormati, dalam kesediaan menjaga satu sama lain

Ibnu Fikri Ghozali by Ibnu Fikri Ghozali
31 Desember 2025
in Publik
A A
0
Pancasila di Kota Salatiga

Pancasila di Kota Salatiga

32
SHARES
1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Saya tidak sedang membaca buku teori Pancasila ketika kesadaran itu muncul. Saya juga tidak sedang duduk di ruang kuliah atau mengikuti diskusi kebangsaan. Kesadaran itu justru datang saat saya menonton sebuah video singkat di Reels Instagram milik akun @azmi_azmi. Video tersebut merekam suasana Natal di Dusun Thekelan, Salatiga.

Warga lintas agama terlihat saling membantu, menjaga keamanan, menyapa dengan senyum, dan berdiri berdampingan tanpa rasa curiga. Video itu sederhana, tetapi meninggalkan kesan yang dalam. Di tengah media sosial yang sering terpenuhi kemarahan dan perdebatan identitas, Salatiga justru menampilkan wajah Indonesia yang tenang dan dewasa. Di sanalah saya merasa Pancasila di kota Salatiga benar benar hidup.

Salatiga memang kerap disebut sebagai kota toleran. Namun toleransi di kota ini tidak berhenti sebagai label atau penghargaan administratif. Ia hadir dalam praktik keseharian. Ketika merayakan Natal, warga non Kristen tidak merasa terancam.

Mereka justru hadir sebagai bagian dari suasana. Mereka membantu mengatur lalu lintas, menjaga lingkungan, dan memastikan ibadah berjalan aman. Tidak ada rasa paling benar. Tidak ada keinginan untuk menonjolkan identitas secara berlebihan. Yang ada adalah kesadaran bahwa hidup bersama menuntut saling menjaga.

Pancasila adalah Cara Hidup

Apa yang terlihat Pancasila di Kota Salatiga menunjukkan bahwa Pancasila bukan sekadar dasar negara yang dihafalkan sejak sekolah dasar. Pancasila adalah cara hidup. Ketuhanan tidak kita maknai secara sempit, tetapi kita jalani dengan penghormatan terhadap keyakinan orang lain.

Kemanusiaan terwujudkan melalui empati dan kepedulian. Persatuan tidak terbangun lewat penyeragaman, tetapi lewat penerimaan atas perbedaan. Dalam suasana seperti ini, Pancasila tidak terasa sebagai doktrin negara, melainkan sebagai nilai bersama yang tumbuh dari bawah.

Dimensi sila pertama Pancasila pun menemukan makna yang lebih substantif. Ketuhanan Yang Maha Esa tidak dimaknai secara eksklusif, melainkan sebagai landasan etis untuk menghormati keyakinan orang lain.

Pola keberagamaan ini sejalan dengan temuan Lista dkk. (2023) yang menegaskan bahwa internalisasi nilai Pancasila melalui pendidikan dan interaksi sosial mampu membentuk kesadaran etika, hukum, dan toleransi di kalangan generasi muda. Keberagamaan tidak menjadi sumber dominasi, melainkan energi moral untuk menjaga kemanusiaan.

Representasi nilai Pancasila di Salatiga juga tercermin melalui ruang publiknya. Keberadaan Alun-Alun Pancasila, misalnya, bukan sekadar penamaan simbolik, tetapi mengandung makna sosial yang lebih dalam.

Penelitian Putra dan Therik (2022) menunjukkan bahwa Alun-Alun Pancasila Salatiga berfungsi sebagai representasi tata nilai masyarakat, di mana simbol kepahlawanan, solidaritas, dan kebersamaan melekat pada pengalaman warga sehari-hari. Ruang publik ini menjadi arena interaksi lintas identitas yang memungkinkan nilai persatuan dan kemanusiaan dialami secara langsung, bukan sekadar diajarkan.

Jalan Etis Pancasila

Menariknya, momen tersebut justru saya temukan lewat media sosial. Selama ini media sosial sering kita tuduh sebagai ruang yang memperuncing perbedaan. Namun video Salatiga menunjukkan sisi lain.

Media sosial juga bisa menjadi ruang penyebaran nilai baik. Reels Instagram itu bukan sekadar konten viral, melainkan dokumentasi sosial tentang bagaimana Pancasila dijalankan dalam kehidupan nyata. Bagi generasi muda, tayangan seperti ini jauh lebih bermakna daripada ceramah panjang tentang ideologi.

Pemaknaan ini sejalan dengan pandangan KH. As’ad Said Ali dalam bukunya Negara Pancasila: Jalan Kemaslahatan Berbangsa. As’ad menegaskan bahwa Pancasila bukan sekadar konsensus politik, melainkan jalan etis untuk menjaga kemaslahatan bersama dalam masyarakat yang majemuk.

Pancasila, menurutnya, bekerja efektif bukan melalui pemaksaan ideologis, melainkan melalui internalisasi nilai keadilan, moderasi, dan saling menghormati. Praktik kerukunan Natal di Salatiga menunjukkan bagaimana Pancasila berfungsi sebagai perekat sosial yang mencegah konflik dan memperkuat kohesi masyarakat.

Fondasi Kebangsaan

Di banyak tempat, Pancasila sering menjadi slogan politik. Ia terucapkan dalam pidato, terpasang di baliho, dan menjadi alat legitimasi. Namun dalam praktik, nilai nilainya justru sering kita langgar. Salatiga memberi pelajaran berbeda.

Pancasila tidak banyak tersebut, tetapi dijalani. Tidak ada narasi besar tentang ideologi, tetapi ada tindakan kecil yang konsisten. Menjaga ibadah tetangga yang berbeda agama mungkin terlihat sepele, tetapi di situlah fondasi kebangsaan dirawat.

Tentu saja, kerukunan seperti ini tidak muncul dengan sendirinya dan tidak boleh kita anggap selesai. Tantangan ke depan tetap ada. Politisasi agama, penyebaran ujaran kebencian, dan infiltrasi paham eksklusif bisa menggerus kepercayaan sosial jika tidak kita antisipasi.

Karena itu, pengalaman Salatiga penting untuk terus tersebarkan. Bukan untuk kita puja secara berlebihan, tetapi untuk kita jadikan cermin bahwa Pancasila bisa bekerja jika diberi ruang dalam kehidupan sehari hari.

Pancasila tidak hidup di teks, tetapi di relasi antar manusia. Ia hadir dalam sikap saling menghormati, dalam kesediaan menjaga satu sama lain, dan dalam keberanian menerima perbedaan tanpa rasa takut. Dari sebuah video singkat di Reels Instagram, Salatiga mengajarkan bahwa Indonesia yang rukun bukan utopia. Ia nyata, ada, dan sedang dijalani. Tinggal apakah kita mau belajar dan menirunya. []

Tags: IndonesiakemanusiaanPancasila di Kota SalatigaPerdamaiantoleransi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ulama Perempuan Miliki Peran Kunci di Keluarga dan Ruang Publik

Next Post

Ulama Perempuan Miliki Kekuatan Khas dalam Kepemimpinan Keagamaan

Ibnu Fikri Ghozali

Ibnu Fikri Ghozali

Saat ini sedang menempuh pendidikan Pascasarjana di Prince of Songkla University, Thailand.

Related Posts

Solidaritas
Publik

Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

13 Februari 2026
Sejarah Difabel
Disabilitas

Sejarah Kepedihan Difabel dari Masa ke Masa

13 Februari 2026
Board Of Peace
Aktual

Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

11 Februari 2026
Aborsi
Publik

Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

7 Februari 2026
Anak NTT
Publik

Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

6 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

5 Februari 2026
Next Post
Kekuatan Khas Ulama Perempuan

Ulama Perempuan Miliki Kekuatan Khas dalam Kepemimpinan Keagamaan

No Result
View All Result

TERBARU

  • Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak
  • Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal
  • Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja
  • Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah
  • Metode Tafsir Mubadalah

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0