Mubadalah.id – Bulan Sya’ban, termasuk di dalamnya malam Nisfu Sya’ban, dikenal sebagai waktu yang dianjurkan untuk memperbanyak amalan sunah.
Sejumlah hadis sahih menyebutkan bahwa setelah Ramadhan, bulan yang paling banyak Rasulullah Saw isi dengan puasa sunah adalah bulan Sya’ban.
Puasa sunah di bulan Sya’ban merupakan sebagai bentuk persiapan spiritual menuju Ramadhan. Selain puasa, Sya’ban juga kerap kita sebut sebagai Syahrul Qur’an.
Meski membaca Al-Qur’an adalah amalah sunah sepanjang waktu, memperbanyak tilawah Al-Qur’an di bulan Sya’ban merupakan kebiasaan para ulama dan generasi salafusshalih.
Bahkan, sebagian dari mereka mengurangi aktivitas duniawi agar dapat lebih fokus berinteraksi dengan Al-Qur’an. Dalam konteks saat ini, amalan membaca Al-Qur’an semakin relevan.
Selain bernilai ibadah, tilawah Al-Qur’an mampu menenangkan hati yang cemas dan resah. Ketenteraman batin yang lahir dari kedekatan dengan Al-Qur’an juga akan berdampak positif bagi kondisi fisik dan mental.
Selain itu, Sya’ban juga kita kenal sebagai Syahrul Istighfar, bulan untuk memperbanyak permohonan ampun kepada Allah.
Menjelang Ramadhan, umat Islam sebaiknya melakukan pembersihan diri, baik secara lahir maupun batin. Maka istighfar yang kita lakukan secara konsisten dapat menghapus dosa, membuka jalan keluar dari kesulitan, serta melapangkan rezeki.
Janji tersebut sebagaimana tercatat dalam Al-Qur’an, QS. Nuh ayat 10–12, menjadi penguat bagi umat Islam untuk menghidupkan amalan di bulan Sya’ban, termasuk pada malam Nisfu Sya’ban, sebagai bekal spiritual menuju Ramadhan. []
Sumber tulisan: Keistimewaan Bulan Sya’ban















































