Mubadalah.id – Setiap Februari, linimasa kita mendadak ribut. Ada kubu cokelat dan bunga, lalu ada kubu “ingat, ini bukan budaya kita.” Sebuah peringatan yang muncul seakurat jadwal menstruasi, lengkap dengan poster-poster desain ala kadarnya yang mengharamkan perayaan kasih sayang atas nama identitas bangsa.
Namun, di balik kegaduhan itu, ada pertanyaan yang jarang terjawab. Jika Valentine bukan budaya kita, lalu budaya kita yang dimaksud itu apa? Apa kita sedang membela tradisi luhur, atau jangan-jangan kita hanya sedang terjebak dalam krisis identitas yang akut?
Mengapa Valentine Bukan Budaya Kita?
Secara historis, Valentine memang tidak memiliki akar dalam kebudayaan Nusantara maupun tradisi Islam. Perayaan ini bermula dari tradisi Romawi kuno dan legenda martir Kristen, Santo Valentinus, yang kemudian terkemas ulang oleh industri global menjadi komoditas komersial. Banyak orang menganggap tradisi ini cuma gaya-gayaan atau ikut-ikutan budaya luar tanpa paham maknanya. Hal ini dikhawatirkan bakal melunturkan jati diri bangsa kita yang lebih menghargai kesantunan.
Selain itu, Valentine dianggap membawa pergeseran nilai dalam memandang cinta. Dalam budaya Indonesia, cinta bersifat sakral dan kolektif. Di mana rasa cinta ini melibatkan restu orang tua dan tanggung jawab sosial.
Sementara itu, Valentine sering kali mempromosikan cinta yang bersifat individualistis dan hedonis, di mana ekspresi kasih sayang hanya fokus pada kesenangan sesaat antara dua orang saja. Hal inilah yang memicu kekhawatiran bahwa perayaan tersebut menjadi pintu masuk bagi gaya hidup beresiko yang tidak selaras dengan nilai-nilai ketimuran.
Antara Tradisi Nusantara dan Keteladanan Rasul
Sebenarnya Nusantara sudah memiliki cara yang jauh lebih elegan dalam merayakan cinta. Seperti melalui kesantunan pantun Melayu, kedalaman sastra Kidung, hingga tradisi gotong royong yang merekatkan kasih sayang antar sesama. Senada dengan hal itu, ekspresi cinta ala Rasulullah juga tertampilkan melalui tindakan romantis domestik. Nabi mencontohkan penggunaan sapaan indah, serta prinsip kasih sayang universal (rahmatan lil ‘alamin) yang tidak terbatas pada satu hari saja.
Dengan demikian, baik dalam tradisi Nusantara maupun keteladanan Nabi, cinta kita pahami sebagai pengabdian dan akhlak yang hadir setiap saat. Bukan sekadar seremonial tahunan yang bersifat simbolis semata.
Bahkan, kalau mau jujur, love language nya kita itu nggak butuh kata I love you, tapi lewat sepiring makanan. Kasih sayang itu wujudnya di saat ibu nyisihin bagian paha ayam paling gede buat kita, atau sesimpel bapak yang kaku dan jarang ngobrol tiba-tiba pulang malam-malam bawa martabak manis. Inilah kearifan lokal kita yang sebenarnya. Cinta yang nggak nunggu kalender berubah jadi tanggal 14 Februari buat kita rayain, tapi yang terhidangkan setiap hari lewat pengabdian tanpa pamrih.
Merebut Kembali Makna Budaya
Kalau kita bicara budaya Indonesia, nilai intinya adalah gotong royong dan kekeluargaan. Namun, dalam konteks Valentine, nilai-nilai ini sering kali mengalami pergeseran makna menjadi polisi moralitas.
Budaya kita yang seharusnya inklusif dan penuh tenggang rasa, belakangan justru menyempit menjadi budaya penghakiman. Kita lebih sibuk mengurusi siapa yang membeli cokelat daripada bertanya mengapa angka kekerasan di Indonesia masih tinggi.
Berdasarkan data Komnas Perempuan tahun-tahun terakhir, kekerasan terus menjadi isu krusial. Di sini letak ironinya. Kita sibuk mengharamkan simbol kasih sayang dari luar, tapi kita belum cukup kuat membangun budaya kasih sayang yang aman dan setara di dalam rumah sendiri.
Bila kita ingin menolak Valentine karena alasan komersialisasi kapitalis, di mana cinta terukur dari harga buket mawar, itu masuk akal. Itu adalah kritik yang valid terhadap konsumerisme. Tapi jika alasannya adalah karena itu milik ‘orang sana’ dan bukan ‘orang sini’,” kita sedang membohongi sejarah kita sendiri yang justru sangat terbuka.
Mungkin, daripada sibuk memasang pagar menyoal bukan budaya kita, ada baiknya kita mulai menanam bunga di taman sendiri. Dengan membangun budaya yang memanusiakan manusia.
Jika Valentine kita anggap terlalu kebarat-baratan, mari ciptakan hari kasih sayang versi kita. Hari di mana kita memastikan tidak ada perempuan atau laki-laki yang dipukul atas nama cinta, hari di mana kita menghargai pilihan hidup orang tanpa mencibir, atau hari di mana kita merayakan keberagaman tanpa rasa takut. Sebab, identitas sebuah bangsa tidak ditentukan oleh apa yang mereka tolak, melainkan oleh nilai-nilai apa yang mereka hidupi. []

















































