Mubadalah.id – Salingers pernah mendengar ceramah atau kajian tentang puasa yang mengobjektifikasi orang fakir dan miskin tidak?
Jika belum, terdapat suatu kalimat yang bagi penulis perlu kita renungkan kembali yang secara yaitu “puasa adalah cara agar orang kaya merasakan apa yang dirasakan oleh fakir dan miskin”. Apakah kalian pernah membaca atau mendengarnya?
Kalimat itu seakan-akan benar, tetapi secara personal bagi penulis kalimat tersebut secara tidak langsung memarjinalkan posisi dari orang-orang fakir dan miskin. Masa iya, posisi mereka yang sudah rentan kita banding-bandingkan dengan puasa orang kaya?
Jika kalimat seperti ini terus kita dengarkan, seakan-akan puasa menjadi jembatan pemisah antara si Kaya dengan si Miskin. Seakan-akan puasa si Kaya lebih utama ketimbang puasa si Miskin. Masa ibadah puasa yang mulia malah dipandang sedemikian rupa? Bagaimana agar bisa mengubah makna menjadi puasa dan cara kita memandang sesama?
Tentang Puasa
Kalau ditanya tentang “apa definisi puasa?”, terdapat dua jawaban, ringkas atau detai. Secara ringkas puasa artinya menahan diri dan mengekang dari sesuatu. Sedangkan secara detail puasa adalah menahan diri pada siang hari dari segala hal yang membatalkan dengan niat dari orang yang memang memenuhi syarat, sejak terbit fajar hingga terbenam matahari.
Berkenaan dengan puasa, khususnya tentang dalil berpuasa yaitu QS. Al-Baqarah [2]: 183, saya hendak menukil pandangan Syekh ‘Izz bin ‘Abdi as-salām dalam kitabnya yang berjudul “Maqāsid al-Saum“. Makna ayat tersebut adalah puasa sebagai pelindung dari api neraka karena sesungguhnya puasa itu menjadi jalan untuk terampuni dosa-dosa yang menyebabkan seseorang masuk neraka.
Masih dari kitab yang sama, dijelaskan pula pelbagai manfaat dari puasa yaitu meninggikan derajat, menghapus kesalahan (dosa-dosa), menundukkan hawa nafsi, memperbanyakan sedekah, mendorong untuk taat, menumbuhkan rasa syukur kepada Allah, dan yang terakhir mendahan diri dari dorongan untuk berbuat maksiat.
Sampai pada titik ini, baik dari definisi hingga manfaat dari puasa, penulis belum menemukan penjelasan yang menjadikan kemiskinan sebagai panggung kesalehan.
Sebab jika kita perhatikan lebih seksama dengan berbagai dalil agama yang ada, puasa merupakan ibadah yang spesial antara hamba dengan penciptanya. Penjelasannya ada dalam sebuah hadis yang cukup populer yaitu
“كل عمل ابن ادم له، الا الصيام، فانه لي، وانا أجزي به”
Artinya:
Setiap amal anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya.
Puasa sebagai Jalan Kasih Sayang
Di sini perlu kita tekankan kembali, penulis bukan hendak menjadi polisi moral untuk menghakimi pendakwah yang membawakan narasi-narasi sebagaimana yang sudah tersampaikan di atas. Tidak sama sekali.
Sebab puasa pada hakikatnya adalah ibadah yang sangat personal antara seorang hamba dan Penciptanya. Puasa orang miskin dan puasa orang kaya sama-sama berada di ruang yang sama yaitu ruang ketundukkan kepada Allah dan Keikhlasan dalam menjalankannya.
Dalam menjalankan puasa, seyogyanya bukan masalah strata sosial yang kita tekankan, tetapi penekanan terhadap kasih sayang. Kasih sayang yang hadir untuk memenuhi ruang-ruang kepedulian terhadap sesama, lebih peka dengan lingkungan sekitar, serta menggerakkan hati untuk lebih ringan untuk membantu sesama tanpa memandang rendah orang lain.
Oleh karena itu, jadikan puasa Ramadan kali ini menjadi lebih menyenangkan baik bagi diri kita sendiri dan untuk orang lain. Melalui puasa ciptakan ruang kebahagiaan dan kehangatan bagi sesama dengan saling memuliakan tanpa memandang rendah satu sama lain. []


















































