Mubadalah.id – Salah satu tantangan terbesar ketika berhadapan dengan penyandang disabilitas adalah menjaga sikap agar tidak memandang mereka dengan pandangan belas kasihan. Seolah kondisi mereka adalah sebuah kekurangan. Melalui tulisan ini, kita akan belajar empati dari tauhid untuk membaca ulang relasi dengan disabilitas.
Kita memuji kesabaran mereka, mendoakan kekuatan untuknya dan tanpa sadar menempatkan diri kita di posisi lebih, lebih utuh dan lebih normal. Membangun relasi berdasarkan rasa belas kasihan dan empati yang lahir dari merasa “aku lebih, kamu kurang” diam-diam menyimpan hierarki yang bertentangan dengan prinsip tauhid.
Prinsip Dasar Tauhid
Tauhid mengajarkan prinsip mendasar yang menyatakan bahwa hanya Allah yang Maha Sempurna. Tidak ada makhluk yang berhak mengklaim bahwa ia lebih baik dari yang lain. Sehingga, menghormati dan menghargai semua ciptaanNya adalah sebuah keniscayaan. Ketika seseorang merasa lebih bernilai karena tubuhnya utuh, lebih produktif dan sesuai standar mayoritas, maka ia mencederai tauhid. Karena, ia memposisikan dirinya sebagai penentu nilai, bukan sebagai hamba yang setara di hadapan Tuhan.
Dalam kerangka tauhid, penyandang disabilitas tidak berada lebih rendah dari siapa pun. Mereka adalah sesama makhluk Allah dengan martabat penuh. Maka, empati terhadap difabel adalah konsekuensi dari iman. Empati tersebut dibangun dari kesadaran bahwa kita sama-sama rapuh, sama-sama terbatas, dan sama-sama membutuhkan rahmat Allah.
Empati seperti ini tidak berhenti pada perasaan iba, tetapi mendorong perubahan sikap dan struktur. Kita Bersama-sama mewujudkan ruang publik yang ramah untuk difabel. Menjaga interaksi dengan bahasa yang tidak melukai, dan melibatkan difabel sebagai subjek penuh. Dari sini, empati tidak lagi bertanya, “apa yang bisa aku berikan?” tetapi “relasi seperti apa yang sedang aku bangun?”
Trilogi KUPI: Makrup, Mubadalah dan Keadilan Hakiki
Dalam konsep ma’ruf menegaskan bahwa kebaikan adalah segala sesuatu yang benar dan pantas, sesuai dengan syari’at, akal sehat dan pandangan umum masyarakat. Kita tentu sepakat bahwa empati terhadap penyandang disabilitas adalah ma’ruf. Merendahkan difabel dan menyingkirkannya dari ruang publik adalah keliru.
Empati terhadap penyandang disabilitas membuat kita mau mendengar perspektifnya, tidak membuat asumsi sendiri atas kondisi mereka, mengakui kapasitas dan potensi mereka, serta memperlakukannya setara sebagai manusia yang bermartabat. Kita juga menyadari bahwa penyandang disabilitas memiliki hak atas akses Pendidikan, akses tempat ibadah, akses pekerjaan dan partisipasi sosial. Sehingga, menciptakan lingkungan inklusif yang ramah untuk para difabel sangatlah penting.
Prinsip mubadalah adalah kesalingan. Dalam konteks disabilitas, ini berarti berhenti membicarakan tentang difabel tanpa melibatkan mereka. Berhenti membuat asumsi atas nama kebaikan.
Mubadalah dalam empati ini menuntut kita untuk menggeser posisi, dari merasa paling tahu, menjadi yang mau mendengar. Dari yang memberi ruang, menjadi yang berbagi ruang. Penyandang disabilitas tidak dipandang sebagai objek, melainkan sebagai subjek penuh dengan pengalaman, perspektif dan kebijaksanaan hidup.
Empati sebagai Implementasi Tauhid
Keadilan hakiki sebagaimana yang digagas oleh Ibu Nur Rofiah adalah keadilan yang memperhatikan dan mempertimbangkan pengalaman biologis dan sosial pada laki-laki maupun perempuan. Dalam konteks disabilitas, keadilan hakiki menuntut kita untuk mempertimbangkan pengalaman difabel, sehingga memunculkan pertanyaan: apakah mereka bisa mengakses ruang publik dengan mudah? Apakah kebijakan yang ada berpihak pada mereka?
Sehingga empati yang ada tidak berhenti pada sikap pribadi, melainkan mengarah pada perubahan struktur yang mendukung difabel mendapatkan hak aksesnya.
Menumbuhkan empati terhadap penyandang disabilitas bukan ekstensi amal sosial. Ia adalah bagian dari tauhid. Melalui ma’ruf, kita belajar peka pada nurani. Dengan mubadalah, kita membangun relasi setara. Berpijak pada keadilan hakiki, kita memastikan empati tidak berhenti di kata-kata.
Orang yang hidup berpegang pada tauhid akan selalu memanusiakan manusia, menyadari bahwa kesempurnaan hanyalah milik Allah semata. Dan, kemuliaan kita tidak bergantung pada kesempurnaan fisik, melainkan ketaqwaannya yang menentukan. []
*)Artikel ini merupakan hasil dari Mubadalah goes to Community Purwokerto, kerjasama Media Mubadalah dengan LP2M Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto.











































