Mubadalah.id – Di tengah kultur Lombok yang masih kuat dengan tradisi patriarkhal, tidak banyak perempuan yang tampil sebagai pemimpin lembaga pendidikan Islam. Namun dari Pancor, muncul sosok ulama perempuan yang dengan tenang dan konsisten memperjuangkan pendidikan setara, yaitu Umi Siti Rauhun.
Umi Siti Rauhun, yang akrab dikenal sebagai Umi Tahun, merupakan salah satu ulama perempuan senior di lingkungan Nahdlatul Wathan Diniyyah Islamiyyah (NWDI) Pancor, Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat. Ulama yang berusia sekitar 70-an tahun ini adalah saksi hidup perjalanan panjang pendidikan Islam dan dinamika sosial-keagamaan di daerah tersebut.
Ia adalah putri pertama dari Maulana Syaikh Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid bersama istrinya, Siti Jauhariyah. Dalam struktur keluarga besar tersebut, Umi Rauhun juga bersaudara dengan Umi Siti Raihanun, putri Maulana Syaikh dari ibu yang berbeda, yaitu Hajah Siti Rahmatullah.
Dilahirkan dalam keluarga ulama sekaligus pelopor pendidikan, Umi Rauhun tumbuh dalam atmosfer perjuangan intelektual yang kuat. Sejak kecil ia menyaksikan langsung bagaimana ayahnya meletakkan fondasi pendidikan bagi laki-laki dan perempuan di Nusa Tenggara Barat. Bagi Maulana Syaikh, pendidikan bukan hanya sarana transmisi ilmu agama, melainkan instrumen pembebasan sosial. Ia meyakini bahwa laki-laki dan perempuan harus memiliki akses yang setara terhadap pendidikan, karena keduanya memikul tanggung jawab yang sama dalam membangun umat.
Keyakinan itulah yang membentuk pandangan hidup Umi Rauhun. Pemikirannya tentang pentingnya pendidikan perempuan bukan lahir secara tiba-tiba, melainkan merupakan kelanjutan dari visi besar ayahnya. Ia mewarisi bukan hanya nama besar, tetapi juga gagasan tentang keadilan akses ilmu bagi seluruh umat tanpa membedakan jenis kelamin.
Warisan Pemikiran: Pendidikan Perempuan sebagai Keniscayaan
Salah satu langkah monumental Maulana Syaikh adalah mendirikan Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah pada tahun 1943, sebuah lembaga pendidikan khusus perempuan. Pada masa itu, gagasan menyekolahkan perempuan secara formal masih dipandang tidak lazim. Sebagian masyarakat masih memandang bahwa perempuan cukup belajar seperlunya saja. Bahkan ada yang beranggapan bahwa pendidikan tinggi bagi perempuan justru dapat mengganggu peran domestiknya.
Namun perjuangan itu terus berjalan. Madrasah Nahdlatul Banat Diniyyah Islamiyyah menjadi simbol keberanian intelektual dalam membela hak perempuan untuk belajar. Seiring perkembangan zaman, lembaga ini kemudian bertransformasi menjadi MTs dan MA Mu’allimat Pancor. Sebuah institusi pendidikan yang hingga kini menjadi ruang tumbuh generasi perempuan berilmu.
Di sinilah jejak pemikiran ayahnya bertaut erat dengan pengabdian Umi Rauhun. Ia tidak hanya menjadi saksi sejarah berdirinya pendidikan perempuan di Lombok, tetapi juga bagian dari kesinambungan perjuangan tersebut. Ia dipercaya memimpin Madrasah Tsanawiyyah Mu’allimat Pancor sejak awal tahun 1980-an hingga awal 2000-an. Pada masa itu, posisi kepala sekolah, terutama dalam kultur masyarakat Lombok yang masih patriarkhal, bukanlah jabatan yang lazim dipegang oleh perempuan.
Keberadaannya sebagai kepala madrasah tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga simbol keberlanjutan perjuangan pendidikan perempuan yang telah dirintis sebelumnya. Tanpa perlu mendeklarasikan diri sebagai pelopor emansipasi, Umi Rauhun telah menjalankan peran yang membuka ruang lebih luas bagi perempuan untuk tampil di ranah kepemimpinan publik. Langkahnya menjadi contoh konkret bahwa perempuan mampu mengelola lembaga pendidikan dengan profesionalisme dan integritas.
Kepemimpinannya di Mu’allimat menunjukkan komitmen kuat pada penguatan pendidikan formal bagi perempuan. Namun perjuangannya tidak berhenti di ruang kelas dan manajemen madrasah. Ia juga memperluas pengabdian itu ke ranah pembinaan sosial-keagamaan perempuan di tengah masyarakat.
Kepemimpinan yang Bersifat Membina
Salah satu fase penting dalam perjalanan pengabdian Umi Rauhun adalah ketika ia mengemban amanah sebagai Pimpinan Muslimat PBNW Pancor. Dalam posisi tersebut, ia tidak sekadar mengurus organisasi. Ia hadir sebagai pembina, pendidik, dan pembuka kesadaran keagamaan perempuan. Dalam keseharian, Umi Rauhun terlibat dalam membina kegiatan Muslimat, mengisi pengajian perempuan, serta memberikan nasihat dan pendampingan kepada jamaah dan keluarga di sekitarnya.
Pendekatannya bersifat persuasif dan edukatif. Ia menanamkan kesadaran bahwa ilmu adalah fondasi kehidupan beragama dan bermasyarakat.
Di tengah masyarakat Lombok yang masih kental dengan budaya patriarki, kehadirannya sebagai pemimpin perempuan memiliki arti simbolik dan substantif sekaligus. Ia menunjukkan bahwa perempuan mampu memimpin tanpa harus kehilangan kelembutan dan kearifan.
Salah seorang jamaah muslimat dalam satu kesempatan mengatakan bahwa kepemimpinan Umi Rauhun selalu tampak dalam keteladanan sehari-hari. Di banyak forum muslimat, ia menekankan pentingnya menjaga ukhuwah islamiyyah dan pentingnya pendidikan yang tinggi dan setara bagi laki-laki dan perempuan.
Pendidikan sebagai Jalan Keadilan
Bagi Umi Rauhun, pendidikan adalah bagian dari kewajiban keagamaan sekaligus jalan menuju keadilan sosial. Ia secara konsisten mendorong agar keluarga tidak membedakan kesempatan belajar antara anak laki-laki dan perempuan.
Dalam berbagai forum pembinaan dan pengajian, ia menekankan bahwa perempuan yang berpendidikan memiliki peran strategis dalam membangun keluarga dan masyarakat. Perempuan tidak hanya berfungsi dalam ranah domestik, tetapi juga sebagai pendidik generasi dan penjaga nilai-nilai keagamaan.
Sikap ini menunjukkan keberpihakannya pada penguatan martabat perempuan melalui pendidikan, sekaligus mencerminkan pemahaman bahwa keadilan dalam Islam mencakup akses yang setara terhadap ilmu.
Di sinilah terlihat semangat feminisme yang halus namun kokoh, yakni sebuah keberpihakan pada martabat dan hak perempuan yang berjalan dalam kesenyapan.
Dalam perspektif Islam yang adil dan rahmatan lil ‘alamin, keberpihakan pada akses ilmu bagi perempuan adalah bagian dari amanah keagamaan.
Umi Rauhun tidak membenturkan diri dengan budaya, tetapi mengolahnya dari dalam. Sebuah keberpihakan yang berakar pada nilai agama dan tradisi, keteladanan, dan kesabaran, bukan pada konfrontasi.
Jejak Pengaruh dalam Komunitas dan Lintasan Generasi
Pengaruh Umi Rauhun menjangkau anggota Muslimat, jamaah majelis taklim, santri putri, serta keluarga-keluarga di lingkungan Pancor dan sekitarnya. Kesadaran tentang pentingnya pendidikan perempuan tumbuh perlahan namun nyata. Banyak keluarga mulai memandang pendidikan anak perempuan sebagai investasi masa depan, bukan sekadar pelengkap.
Kini, di usianya yang memasuki dekade ketujuh, Umi Rauhun tetap menjadi figur rujukan moral. Ia merepresentasikan ulama perempuan NTB yang berakar kuat pada sanad keilmuan Maulana Syaikh Tuan Guru KH. Zainuddin Abdul Madjid, sekaligus menjadi penjaga kesinambungan visi pendidikan yang setara bagi laki-laki dan perempuan.
Dari Pancor, ia membuktikan bahwa perempuan dapat berdiri sejajar, tidak dengan perlawanan yang konfrontatif, tetapi dengan keteguhan yang tenang dan konsisten. Sosoknya menunjukkan bahwa memperjuangkan pendidikan perempuan bukanlah agenda tambahan dalam dakwah, melainkan inti dari misi keulamaan itu sendiri. []











































