Mubadalah.id – Dakwah Mubadalah adalah cara menyampaikan ajaran Islam dengan perspektif kesalingan, kemitraan, dan keadilan relasional. Ia bukan dakwah yang menempatkan satu pihak sebagai subjek utama dan pihak lain sebagai objek yang harus diatur, melainkan dakwah yang menyapa laki-laki dan perempuan sebagai sama-sama hamba Allah, sama-sama mukallaf, dan sama-sama bertanggung jawab menghadirkan kebaikan dalam kehidupan.
Secara mendasar, dakwah dalam Islam adalah ajakan kepada tauhid, kepada pengakuan bahwa hanya Allah yang Maha Tinggi dan manusia setara di hadapan-Nya. Dari tauhid inilah lahir kesadaran bahwa tidak ada legitimasi teologis untuk merendahkan satu jenis kelamin atas yang lain. Karena itu, Dakwah Mubadalah berangkat dari fondasi tauhid yang meniscayakan kesetaraan ontologis manusia, lalu bergerak menuju kerahmatan dan akhlak mulia dalam relasi sosial. Dakwah tidak boleh menjadi alat pembenaran dominasi, melainkan sarana membangun sakinah, mawaddah, dan rahmah dalam keluarga dan masyarakat.
Dalam praktiknya, Dakwah Mubadalah menggeser logika ceramah yang sering kali bernada satu arah—misalnya hanya menasihati istri agar taat, hanya mengingatkan perempuan agar menjaga aurat, atau hanya membebani laki-laki sebagai pemimpin tanpa koreksi etis—menjadi dakwah yang timbal balik. Jika perempuan diminta menjaga kehormatan, laki-laki lebih dahulu diingatkan untuk menundukkan pandangan dan menjaga diri. Jika suami diminta menafkahi, istri juga diajak bekerja sama membangun ketahanan keluarga sesuai kapasitasnya. Bahkan, jika istri diminta taat pada kebaikan, suami pun diwajibkan patuh pada prinsip keadilan dan musyawarah.
Laki-laki dan Perempuan
Dakwah Mubadalah tidak sekadar menambahkan kalimat “laki-laki juga” atau “perempuan juga,” tetapi mengubah cara pandang. Ia membaca teks dan realitas dengan memastikan bahwa pesan kebaikan dalam Islam berlaku bagi dua pihak yang berelasi. Dengan demikian, dakwah menjadi ruang edukasi bersama, bukan ruang kontrol sepihak. Ia menumbuhkan kesadaran bahwa relasi yang sehat kita bangun di atas kerja sama, bukan ketakutan.
Secara metodologis, Dakwah Mubadalah bertumpu pada tiga langkah. Pertama, menemukan nilai inti ajaran—keadilan, kasih sayang, amanah, tanggung jawab. Kedua, memastikan bahwa nilai tersebut berlaku secara timbal balik dalam relasi. Ketiga, menyampaikannya dengan bahasa yang membangun, bukan menyudutkan. Dakwah tidak lagi mengulang-ulang narasi ancaman yang membuat perempuan merasa bersalah atas tubuhnya atau laki-laki merasa berhak mengontrol, tetapi menguatkan kesadaran moral kedua belah pihak untuk saling menjaga.
Dalam konteks sosial yang lebih luas, Dakwah Mubadalah juga menyentuh isu-isu struktural seperti kekerasan dalam rumah tangga, perkawinan anak, ketimpangan ekonomi, dan diskriminasi sosial. Ia tidak berhenti pada nasihat individual, tetapi mendorong perubahan sistemik. Ketika ada yang lemah, dakwah hadir untuk menguatkan, bukan menyalahkan. Ketika ada penyalahgunaan kuasa, dakwah hadir untuk mengoreksi, bukan membenarkan.
Dialogis
Gaya Dakwah Mubadalah juga berciri dialogis. Ia membuka ruang musyawarah, mendengar pengalaman perempuan dan laki-laki, serta menjadikannya bagian dari refleksi keagamaan. Dakwah tidak hanya berbicara tentang teks, tetapi juga tentang kehidupan nyata. Ia menghargai pengalaman sebagai sumber pembelajaran moral, selama tetap berada dalam koridor nilai-nilai Islam.
Pada akhirnya, Dakwah Mubadalah adalah dakwah yang memuliakan manusia. Ia mengajak setiap orang untuk menjaga diri sebelum mengontrol orang lain, memperbaiki relasi sebelum menuntut hak, dan membangun kemitraan sebelum menegaskan otoritas. Dalam dakwah seperti ini, laki-laki dan perempuan berdiri sejajar sebagai mitra dalam amar ma’ruf dan nahi munkar, sebagaimana dalam Al-Qur’an. Dakwah bukan lagi suara yang memisahkan, tetapi panggilan yang menyatukan; bukan ajakan yang menakut-nakuti, tetapi undangan menuju kehidupan yang adil, penuh rahmat, dan saling memuliakan. []
















































