Mubadalah.id – Setiap Ramadan, kita diajak merasakan lapar, dahaga, dan keterbatasan. Puasa dimaksudkan untuk menumbuhkan empati kepada mereka yang hidup dalam kekurangan. Namun pertanyaannya: empati kepada siapa? Dan apakah empati itu cukup untuk membaca realitas kemiskinan yang hari ini semakin berwajah perempuan?
Istilah feminization of poverty merujuk pada fenomena meningkatnya jumlah perempuan yang hidup dalam kemiskinan, baik karena ketimpangan akses pendidikan, upah yang tidak setara, beban kerja domestik yang tak dibayar, hingga perceraian dan kekerasan ekonomi. Di Indonesia, kelompok seperti ibu tunggal, janda lansia, pekerja rumah tangga, buruh perempuan sektor informal, dan pelaku usaha mikro sering menjadi wajah paling nyata dari kerentanan ekonomi.
Ramadan seharusnya menjadi momen refleksi struktural, bukan sekadar ritual personal. Ketika harga kebutuhan pokok naik, tuntutan konsumsi meningkat, dan ekspektasi sosial terhadap perempuan dalam mengurus sahur, berbuka, serta kebutuhan keluarga semakin besar, kita perlu bertanya: bagaimana perempuan miskin menjalani Ramadan? Apakah ibadah kolektif kita sudah benar-benar bersentuhan dengan realitas ekonomi mereka?
Kemiskinan yang Berwajah Perempuan
Kemiskinan tidak netral gender. Dalam banyak rumah tangga miskin, perempuan sering menjadi penyangga terakhir ketika krisis datang. Mereka menjual barang pribadi, mengambil kerja tambahan, berutang ke tetangga, atau mengurangi porsi makan demi anak-anaknya. Ketika ekonomi keluarga terguncang, tubuh perempuanlah yang pertama kali beradaptasi.
Beban ini semakin berat pada bulan Ramadan. Harga bahan pangan cenderung naik, kebutuhan konsumsi meningkat, dan ada tekanan sosial untuk menyajikan hidangan yang “layak” saat berbuka atau Idulfitri. Di banyak keluarga, tanggung jawab memastikan semua itu berjalan tetap berada di pundak perempuan bahkan ketika mereka juga bekerja mencari nafkah.
Fenomena ini menjadi lebih kompleks bagi perempuan kepala keluarga. Data sosial menunjukkan bahwa rumah tangga dengan kepala keluarga perempuan sering berada dalam kondisi ekonomi lebih rentan. Namun dalam praktik distribusi bantuan sosial dan zakat, kategori “kepala keluarga” masih sering diasosiasikan dengan laki-laki. Akibatnya, perempuan miskin kerap tidak terlihat secara administratif.
Di sinilah Ramadan seharusnya membuka mata kita. Puasa bukan sekadar menahan lapar, tetapi latihan membaca ketimpangan. Jika kemiskinan memiliki dimensi gender, maka respons keagamaan pun seharusnya sensitif gender.
Beban Ganda dan Kekerasan Ekonomi dalam Sunyi
Selain kemiskinan struktural, banyak perempuan menghadapi apa yang disebut kekerasan ekonomi: pembatasan akses terhadap uang, pelarangan bekerja, pengambilalihan pendapatan, atau ketergantungan finansial yang dipaksakan dalam rumah tangga. Bentuk kekerasan ini sering tak terlihat karena tidak meninggalkan luka fisik.
Ramadan, dengan segala simbol kesalehannya, kadang justru menyembunyikan realitas ini. Di ruang publik, keluarga tampak harmonis. Di media sosial, foto-foto buka bersama dan belanja lebaran menghiasi linimasa. Namun di balik itu, ada perempuan yang harus memutar otak agar dapur tetap mengepul, tanpa memiliki kontrol atas keuangan keluarga.
Sayangnya, budaya patriarkal sering membungkus ketimpangan ekonomi dengan dalih kepemimpinan laki-laki. Akibatnya, perempuan yang tidak memiliki akses finansial menjadi sangat rentan terutama ketika terjadi perceraian, sakit, atau krisis mendadak.
Ramadan seharusnya menjadi momen evaluasi relasi ekonomi dalam keluarga. Apakah puasa kita juga menahan diri dari praktik dominasi? Apakah zakat dan sedekah kita mempertimbangkan kebutuhan spesifik perempuan yang mengalami kekerasan ekonomi?
Tanpa kesadaran ini, ibadah berisiko menjadi ritual yang terpisah dari keadilan nyata.
Dari Empati ke Keberpihakan: Mendesain Ibadah yang Responsif Gender
Jika Ramadan ingin benar-benar menjadi bulan pembebasan, maka empati harus bergerak menuju keberpihakan. Artinya, praktik keagamaan kita perlu dirancang dengan kesadaran bahwa kemiskinan memiliki dimensi gender.
Pertama, dalam distribusi zakat dan sedekah. Lembaga seperti Badan Amil Zakat Nasional telah mulai mengembangkan program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Namun di tingkat akar rumput, masjid dan komunitas perlu memastikan bahwa perempuan kepala keluarga, korban kekerasan, dan pekerja informal benar-benar terdata dan terjangkau.
Zakat produktif yang kita arahkan pada pelatihan keterampilan, akses modal usaha, atau penguatan koperasi perempuan bisa menjadi langkah strategis. Ramadan dapat menjadi pintu masuk untuk program jangka panjang, bukan hanya pembagian konsumsi sesaat.
Kedua, dalam kultur keluarga. Ramadan sering meningkatkan beban domestik perempuan: memasak lebih sering, menyiapkan takjil, membersihkan rumah untuk tamu. Padahal puasa adalah latihan menahan diri dan berbagi tanggung jawab. Membagi kerja domestik secara adil justru merupakan praktik spiritual yang konkret.
Ketiga, dalam wacana publik keagamaan. Ceramah dan khutbah Ramadan bisa mengangkat tema keadilan ekonomi dalam keluarga, hak finansial perempuan, serta pentingnya perlindungan terhadap kelompok rentan. Dengan begitu, mimbar tidak hanya berbicara tentang pahala, tetapi juga tentang struktur sosial yang perlu diperbaiki.
Ramadan adalah bulan di mana umat Islam memperbanyak doa dan harapan. Namun doa tanpa keberpihakan sosial bisa menjadi hampa. Ketika kita berbuka dengan hidangan hangat, ada perempuan yang mungkin berbuka dengan kecemasan tentang esok hari. Ketika kita bersyukur atas THR dan bonus, ada buruh perempuan yang tetap menerima upah minim tanpa jaminan kerja.
Puasa mengajarkan bahwa lapar bukan sekadar rasa, melainkan kesadaran akan keterhubungan. Jika kesadaran itu sungguh-sungguh kita hayati, maka Ramadan tidak berhenti pada ritual, tetapi menjelma menjadi gerakan sosial yang memihak mereka yang paling rentan.
Pada akhirnya, pertanyaan sederhana namun mendalam: apakah Ramadan kita hanya mempertebal kesalihan pribadi, atau juga mengikis ketimpangan yang menjerat perempuan miskin?
Di sanalah ibadah bertemu realitas. Dan di sanalah nilai sejati Ramadan diuji not by how long we fast, but by how far our compassion transforms into justice. []







































