Senin, 16 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Jalan Raya

    Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?

    Mitos Sisyphus Disabilitas

    Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi

    Anas Fauzie

    Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

    Awal Ramadan

    Kita Tidak Lagi Relevan untuk Bersikap Sektarian dalam Menentukan Awal Ramadan dan Syawal

    Usia Baligh

    Metode Mudah Menghitung Usia Baligh Dalam Kalender Hijriyah

    Valentine Bukan Budaya Kita

    Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

    Perda Inklusi

    Perda Inklusi dan Kekerasan Struktural

    Menjadi Dewasa

    Ternyata Menjadi Dewasa Terlalu Mahal untuk Dibayangkan

    Solidaritas

    Solidaritas yang Berkeadilan: Belajar dari Gaza dan Jeffrey Epstein

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mawaddah dan Rahmah

    Mawaddah dan Rahmah dalam Perkawinan

    Tarhib Ramadan

    Tarhib Ramadan: Berbagai Persiapan Yang Dianjurkan Rasulullah

    Nabi Ibrahim

    Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

    Visi Keluarga

    Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

    Konsep Keluarga

    Konsep Keluarga dalam Islam

    Mawaddah dan Rahmah

    Makna Mawaddah dan Rahmah

    qurrata a’yun

    Konsep Qurrata A’yun dan Landasan Keluarga Sakinah

    Sakinah Mawaddah

    Konsep Sakinah, Mawaddah, dan Rahmah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Strategi Dakwah Mubadalah

    Strategi Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah

    Tafsir Mubadalah

    Metode Tafsir Mubadalah

    Mubadalah yang

    Makna Mubadalah

    SDGs

    Maqashid, SDGs, dan Pendekatan Mubadalah: Menuju Keadilan Relasional

    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Belajar Kesetaraan dari Aktor Korea Gong Yoo

Pengalaman hidup seseorang, pilihannya, pandangannya, tindakannya, adalah sesuatu yang bernilai.

Ayu Alfiah Jonas by Ayu Alfiah Jonas
14 Desember 2022
in Film, Rekomendasi
A A
0
Kesetaraan

Kesetaraan

4
SHARES
187
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sumber pengetahuan bisa berasal dari mana saja. Buku, internet, percakapan dengan seseorang, sebuah film, sepotong lagu, kehidupan sang idola, peristiwa di suatu tempat, secarik kertas random, apa pun itu. Demikian pula dengan proses belajar tentang kesetaraan. Kesetaraan bisa kita temukan di mana pun, kapan pun, dan dalam hidup siapa pun.

Pengalaman hidup seseorang, pilihannya, pandangannya, tindakannya, adalah sesuatu yang bernilai. Karena itu, sayang sekali rasanya apabila kita mengagumi seseorang hanya dengan kekaguman semu, tanpa mencerap kebaikan dari rasa kagum tersebut. Ketika menggilai personil boyband dan aktor Korea, misalnya, seyogiyanya kita tak terjerumus dalam kekaguman semu semata.

Dampak Drama Korea

Bila gemar menonton Drama Korea (K-Drama), sedikit-banyaknya pasti ada nilai-nilai kehidupan yang bisa dicermati. Saat ini, ada banyak sekali K-Drama yang tidak hanya menampilkan cerita roman picisan. Banyak nilai-nilai kehidupan yang bisa kita pelajari. Misalnya tentang kekeluargaan, pertemanan, pekerjaan, dan sebagainya.

Beberapa di antara K-Drama yang mengangkat tema kedalaman hidup adalah Reply Series (2012 – 2015), Let’s Eat (2014), It’s Okay That’s Love (2014), Misaeng: Incomplete Life (2014), Age of Youth (2016), Fight for My Way (2017), Because This is My First Love (2017), My Mister (2018), dan Prison Playbook (2018).

Ada pula Be Melodramatic (2019), Hospital Playlist (2020), Record of Youth (2020), My Unfamiliar Family (2020), Hometown Cha-Cha-Cha (2021) dan yang paling baru, Our Beloved Summer (2022), serta masih banyak lagi. Selain melalui drama, kita juga bisa belajar tentang hidup dari para aktor Korea, termasuk soal kesetaraan gender.

Penelitian Rahayu Putri Prasanti dan Ade Irma Nurmala Dewi dari Universitas Negeri Surabaya yang berjudul Dampak Drama Korea (Korean Wave) terhadap Pendidikan Remaja, menegaskan bahwa budaya Korea (hallyu) menghasilkan banyak produk seperti film, musik, makanan, drama seri, fashion, dan gaya hidup.

Produk-produk hallyu menyebar ke seluruh penjuru dunia seiring dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi. K-Drama adalah salah satu produk hallyu yang paling digemari oleh remaja Indonesia. Kegemaran terhadap K-Drama tidak terlepas dari ketertarikan penonton terhadap para aktornya.

Dalam penelitian tersebut, dipaparkan bahwa dampak positif dari kegemaran para remaja menonton K-Drama adalah memberi motivasi belajar, mendapat pengetahuan baru, mengenal budaya pendidikan Korea Selatan, dan munculnya semangat untuk mengikuti program beasiswa ke Korea Selatan, serta belajar bahasa baru.

Sementara itu, dampak negatif dari K-Drama adalah malas belajar, menunda pekerjaan, berkurangnya waktu belajar dan istirahat, tidak fokus dalam belajar, kesehatan berkurang dalam menunjang aktivitas sebagai peserta didik, serta adanya adegan dewasa dan kekerasan yang dikhawatirkan akan ditiru oleh remaja.

Dari dampak negatif dan positif dari K-Drama, orang dewasa mestinya mendampingi remaja saat menonton K-Drama dan memilihkan tayangan yang mendidik. Memaksimalkan dampak positif yang ada adalah salah satu cara yang bisa kita lakukan.

Kita bisa memberikan pengertian tentang bagaimana cara mengendalikan waktu menonton agar tidak terus-menerus menatap layar tanpa henti. Atau, dalam setiap episode K-Drama, kita bisa mengajak berdiskusi dan memisahkan hal baik serta hal buruk yang ada.

Cara sederhana lainnya, bisa juga dengan mendalami kehidupan aktor Korea favorit yang tentu saja selalu memiliki sisi hitam dan putih, pahit dan manis yang (lagi dan lagi) selalu bisa kita pelajari.

Relasi dengan Ibu

Aktor-aktor Korea Selatan memang mengagumkan. Banyak prestasi dan rekor dicetak secara masif. Jangan lupa, selain prestasi gemilang, kebijakan wajib militer di Korea Selatan juga membentuk para aktor memiliki mental dan fisik yang kuat.

Dari sekian banyak aktor Korea yang hebat, eksistensi Gong Yoo berada di level yang lain. Ia seperti berdiri sendiri, menempati pijakan khusus, hanya untuknya dirinya sendiri, dan tak bisa digantikan oleh aktor lain.

Dunia hiburan mencatat Gong Yoo sebagai aktor dengan akting memukau. Ia sangat berhati-hati memilih film dan drama. Alasannya sangat selektif dalam memilih peran adalah “pesan” yang ada di dalamnya. Ia menghindari genre komedi romantis karena baginya hanya ada sedikit pesan yang bisa disampaikan dalam genre tersebut.

Ahjussi rasa Oppa yang menua like fine wine ini masih tetap kiyowo meski menginjak usia 43 tahun. Kita bukan akan membicarakan ke-kiyowo-annya. Dalam tulisan ini, saya akan coba memaparkan beberapa hal baik yang bisa kita kagumi sekaligus teladani dari aktor berwajah mungil ini.

Gong Yoo adalah nama panggung. Nama aslinya, Gong Ji-cheol. Gong adalah marga sang ayah sementara Yoo merupakan marga sang ibu. Keputusan menggunakan nama panggung gabungan dari ayah dan ibunya membuat saya mengira-ngira: jangan-jangan, pilihan tersebut adalah tindakan yang disengaja untuk menyetarakan posisi kedua orang tuanya.

Ketika Gong Yoo berhasil meraih penghargaan sebagai Aktor Drama Terbaik atas perannya sebagai Goblin (Kim Shin) dalam K-Drama berjudul Guardian: The Lonely And The Great God (2016-2017) dalam Baeksang Arts Award 2017, ia memberikan sambutan dengan mata yang berkaca-kaca.

Dalam sambutan tersebut, Gong Yoo bicara tentang sang ibu. Ia menyampaikan permintaan maafnya kepada sang ibu karena tidak bisa bertemu setiap waktu. Sebab, jadwalnya terlalu padat.

“Ibuku terkadang merasa kecewa dan berkata padaku bahwa rasanya anaknya sudah menjadi anak orang lain,” kata Gong Yoo. “Ini semua karena aku tidak pernah menjadi anak yang baik untuknya.”

Ia kemudian mengungkapkan rasa syukurnya sebab telah mendapatkan penghargaan dalam event yang disebut-sebut sebagai Golden Globe-nya Korea Selatan tersebut. Ia pun berterima kasih kepada orang-orang yang selalu bisa membuatnya berdiri dan menjadi orang yang lebih baik.

Permintaan maaf tersebut tak membuatnya lemah. Ia justru menjadi kuat karena amat kegagahannya dalam menghargai sang ibu. Mari kita bertanya pada diri sendiri: kapan terakhir kali kita meminta maaf pada ibu karena waktu yang jarang kita habiskan bersamanya?

Memihak Perempuan

Pada 2019, Gong Yoo mengambil peran sebagai suami yang menghadapi seorang istri yang mengalami depresi pasca melahirkan. Film tersebut berjudul Kim Ji-young, Born 1982 yang diadaptasi dari novel berjudul sama. Dampak dari film tersebut, novel karya Cho Nam-joo menjadi novel yang paling banyak dipinjam pada tahun 2019 selama dua tahun berturut-turut di Perpustakaan Nasional Korea Selatan.

Sebagian besar peminjam novel adalah perempuan berusia 40-an. Jumlah pinjaman novel tercatat meningkat sebesar 43% pada bulan Oktober, saat filmnya dirilis. Sungguh dampak yang sangat serius.

Film menduduki puncak box office Korea Selatan pada 27 Oktober 2019. Menurut Pierce Conran dari Dewan Film Korea, ulasan untuk film ini sangat kuat. Sebagian besar penontonnya adalah perempuan dan sekitar 68% penonton memberikan ulasan positif.

Kim Ji-young, Born 1982 adalah film feminis yang berhasil menghidupkan kembali ketegangan di Korea Selatan yang memicu pertempuran seksisme sengit di sana. Bercerita tentang seorang perempuan Korea berusia 30-an yang menghadapi pekerjaan, keluarga, dan diskriminasi gender dalam setiap fase hidupnya.

Sang tokoh utama, Kim Ji-young, adalah perempuan Korea berusia 30-an yang mengira bisa melakukan semua hal dalam hidupnya. Sejak kecil, ia digambarkan tumbuh dengan belajar keras, bekerja keras, dan bermain keras. Tapi, kenyataan muncul saat karirnya karena berhenti bekerja saat menikah.

Perempuan di Korea Selatan hanya mendapatkan 63% dari gaji laki-laki. Hal tersebut adalah salah satu kesenjangan gaji tertinggi di antara negara-negara maju. Bahkan, The Economist menempatkan Korea Selatan sebagai negara berkembang terburuk untuk pekerja perempuan.

Ada jaminan bahwa bila film atau K-Drama telah “lulus sensor” Gong Yoo, maka film atau K-Drama tersebut sudah pasti bagus. Nampaknya, jaminan tersebut benar adanya. Gong Yoo seolah sengaja memilih berperan dalam film dan serial dengan “pesan penting”.

Film Kim Ji-young merekam pengalaman perempuan, menjadikannya sebagai pengetahuan yang sah. Barangkali, Gong Yoo sengaja memilih berperan di film ini untuk memberikan pesan kepada tentang kesetaraan pada para penonton.

Kita hanya bisa mengira-ngira. Di luar jalinan melankolisnya dengan sang ibu, rasa-rasanya, ia juga memerhatikan nasib perempuan, khususnya di Korea Selatan. Barangkali, ia ingin kita lebih peduli pada kesetaraan.

Catatan Lain

Selain Kim Ji-young, Born 1982 yang kontroversial, Gong Yoo juga memprakarsai sebuah film yang diadaptasi dari novel Gong Ji-young, The Crucible. Film ini dirilis secara internasional dengan judul Silenced. Setelah dirilis pada 22 September 2011, film tersebut memicu kemarahan publik.

Dampak Silenced sangat luar biasa. Film ini menjadi penyebab dibukanya kembali penyelidikan atas insiden yang menjadi dasar novel dan film tersebut. Kasus kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak difabel di bawah umur.

Tuntutan publik ditujukan untuk reformasi legislatif. RUU yang direvisi untuk menargetkan kejahatan seks terhadap anak di bawah umur dan penyandang cacat, dijuluki RUU Dogani, berhasil disahkan pada akhir Oktober 2011.

Gong Yoo betul-betul melakukan seleksi ketat. Ia menyaring tema film yang baik, kemudian menyampaikan pesan dalam film tersebut melalui perannya. Pesan yang bisa kita sebut sebagai pesan kesetaraan. Tidak hanya kesetaraan gender, tapi juga kesetaraan di hadapan hukum, termasuk untuk anak-anak difabel.

Ia menggugah kesadaran kita, bahwa belajar kesetaraan bisa dari hal yang sangat sederhana. Baik film Korea maupun K-Drama, mestinya bisa meninggalkan pesan yang menempel dalam diri seseorang. Pesan yang membekas dan sulit untuk dilupakan.

Kesukaan kita terhadap sesuatu mesti bermanfaat sebaik mungkin. Film dan drama Korea seharusnya tak memberikan banyak dampak negatif. Mestinya, dua hal itu memberikan dampak positif yang menjadikan kehidupan kita menjadi lebih baik ketimbang sebelumnya. []

Tags: Drama KoreaFilmGong YooKesetaraanRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

KH Muhammad Djamaluddin Ahmad dalam Kenangan

Next Post

Hidup Sunyi Orang dengan Gangguan Mental, di Balik Pintu Besi, dan Dinding yang Tinggi

Ayu Alfiah Jonas

Ayu Alfiah Jonas

Penulis dan editor lepas

Related Posts

Anas Fauzie
Keluarga

Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

15 Februari 2026
Nabi Ibrahim
Pernak-pernik

Keteladanan Keluarga Nabi Ibrahim dalam Membangun Relasi Orang Tua dan Anak

14 Februari 2026
Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama
Hikmah

Puasa dan Cara Kita Memandang Sesama

14 Februari 2026
Valentine Bukan Budaya Kita
Personal

Valentine Bukan Budaya Kita: Lalu, Budaya Kita Apa?

14 Februari 2026
Visi Keluarga
Pernak-pernik

Tanpa Visi Keluarga, Struktur Relasi Rumah Tangga Rentan Rapuh

13 Februari 2026
Relasi Suami-Istri
Pernak-pernik

Relasi Suami-Istri dan Dinamika Perubahan dalam Perkawinan

11 Februari 2026
Next Post
Gangguan Mental

Hidup Sunyi Orang dengan Gangguan Mental, di Balik Pintu Besi, dan Dinding yang Tinggi

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Mengapa Kebaikan di Jalan Raya Justru Berbalas Luka bagi Perempuan?
  • Strategi Dakwah Mubadalah
  • Mitos Sisyphus Disabilitas; Sebuah Refleksi
  • Dakwah Mubadalah
  • Filosofi Pernikahan dalam Wejangan Penghulu Viral Anas Fauzie

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0