Mubadalah.id – Bagi banyak anak muda hari ini, nama Dr. Fahruddin Faiz bukan sekadar dosen atau filsuf. Ia lebih seperti teman ngobrol yang menenangkan di setiap kajian. Ia sering datang dengan kalimat-kalimat ringan dan menyejukkan. Gaya bicaranya tenang, tidak meledak-ledak, tidak menggurui, tapi justru sering membuat pendengarnya berhenti sejenak dan bertanya pada diri sendiri “Selama ini aku hidup ke arah mana, yaaa?”
Salah satu hal yang sering dibahas oleh Dr. Fahruddin Faiz dan terasa dekat dengan kehidupan anak muda adalah soal kondisi alam dan lingkungan. Bagi beliau, rusaknya alam hari ini bukan cuma soal hutan yang gundul, laut yang kotor, atau udara yang makin panas. Lebih dari itu, kerusakan alam adalah tanda bahwa ada yang salah dalam cara manusia berpikir dan bersikap. Alam yang rusak adalah cermin dari manusia yang juga sedang tidak baik-baik saja.
Mengajak kita melihat bagaimana manusia sekarang memandang alam. Hutan kita lihat sebagai kayu, laut terlihat sebagai ikan, gunung kita lihat sebagai tambang. Semua kita nilai dari seberapa besar manfaat dan keuntungan yang bisa kita ambil. Padahal, ketika alam hanya terlihat dari sisi untung-rugi, di situlah masalah mulai muncul.
Manusia jadi lupa bahwa alam bukan benda mati yang bisa kita perlakukan semaunya, tetapi rumah tempat kita hidup bersama, beliau sering menjelaskan bahwa manusia modern saat ini merasa diri paling tinggi. Merasa paling pintar, paling berkuasa, dan paling berhak menentukan segalanya.
Alam seolah berada di bawah manusia. Kalau sudah seperti demikian ini, merusak alam jadi terasa wajar. Menebang pohon berlebihan, membuang sampah sembarangan, mengeruk sumber daya tanpa mikir panjang semua dilakukan tanpa rasa bersalah. Justru di sinilah letak masalah moralnya.
Terinspirasi Pemikiran Seyyed Hossein Nasr
Ia banyak terinspirasi dari pemikiran Seyyed Hossein Nasr yang mengatakan bahwa “manusia modern telah kehilangan rasa hormat dan rasa sakral terhadap alam”. Alam tidak lagi kita pandang sebagai tanda kehadiran Tuhan, tetapi hanya sebagai barang. Dr. Fahruddin Faiz menjelaskan gagasan ini dengan cara yang dekat dengan anak muda. Manusia hari ini sering ingin enaknya saja, ingin cepat untung, ingin hidup nyaman, tapi lupa tanggung jawab. Alam diambil manfaatnya, tapi tidak dijaga, tidak dirawat, bahkan sering ditinggalkan dalam keadaan rusak.
Menurut Dr. Fahruddin Faiz, Islam sebenarnya punya pandangan yang sangat indah tentang alam. Manusia ia sebut sebagai khalifah atau wakil di bumi, tetapi status ini bukan berarti manusia bebas bertindak semaunya. Justru sebaliknya, posisi sebagai khalifah adalah amanah besar.
Manusia diberi tanggung jawab untuk menjaga, merawat, dan memastikan bumi tetap layak kita huni, bukan hanya untuk hari ini, tetapi juga untuk generasi setelahnya. Ketika amanah ini dilanggar, yang rusak bukan hanya hutan, laut, dan udara, melainkan juga nilai-nilai kemanusiaan itu sendiri. Manusia perlahan kehilangan rasa empati, tanggung jawab, dan kesadaran akan batas.
Penulis juga teringat pada pandangan Bu Nyai Nur Rofiah yang menegaskan bahwa konsep khalifah fil ard tidak pernah terbatasi oleh jenis kelamin. Baik laki-laki maupun perempuan sama-sama terposisikan sebagai wakil Tuhan di bumi. Keduanya memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang setara dalam menjaga kehidupan dan kelestarian alam. Alam tidak membedakan siapa yang merusaknya dan siapa yang menjaganya, maka amanah sebagai khalifah pun berlaku untuk semua manusia tanpa kecuali.
Makna “Kekhalifahan” Manusia
Merawat alam bukan sekadar tugas teknis atau urusan segelintir orang, melainkan panggilan semua bagi seluruh umat manusia. Ketika relasi manusia dengan alam dijalani dengan kesadaran dan tanggung jawab, di situlah makna kekhalifahan benar-benar hidup. Namun ketika manusia baik laki-laki maupun perempuan mengabaikan amanah ini, kerusakan alam menjadi bukti nyata bahwa peran sebagai wakil Tuhan telah dijalankan tanpa kesadaran moral.
Bagi mahasiswa dan Gen Z seperti penulis, yang sering merasa cemas dengan masa depan, pesan Dr. Fahruddin Faiz terasa menenangkan sekaligus menantang. Ia tidak menuntut perubahan besar yang instan. Ia justru mengajak untuk mulai dari diri sendiri. Mulai dari hal kecil, dari ruang paling dekat. Belajar lebih peduli, hidup lebih sadar, dan tidak merasa paling benar.
Merawat alam, dalam pandangannya, adalah bagian dari merawat diri dan merawat nilai kemanusiaan. Alam yang rusak bukan hanya masalah di luar diri kita, tetapi juga tanda bahwa ada yang perlu kita benahi di dalam diri. Ketika manusia kembali rendah hati, sadar batas, dan mau bertanggung jawab, alam pun punya kesempatan untuk pulih. Dan mungkin, di situlah kita sebagai anak muda belajar bahwa menjaga bumi bukan hanya soal lingkungan, tapi juga soal bagaimana kita memilih menjadi manusia. []



















































