Mubadalah.id – Sudah tiga malam ini sebelum beranjak tidur saya menyempatkan membaca novel Entrok, karya Okky Madasari. Novel ini menjadi salah satu reading list saya sejak berbulan-bulan lalu. Baru belakangan ini saya baca karena antrean meminjam novel Entrok di aplikasi iPusnas selalu penuh. Selain itu, sejak akhir tahun 2025 hingga awal 2026 kemarin server iPusnas sempat down karena ada perbaikan sistem.
Konon membaca novel atau tulisan fiksi akan menajamkan imajinasi. Saya mengamini itu. Maka, karena kebutuhan menyelesaikan tulisan yang berjenis kualitatif, saya mengasah kemampuan berimajinasi dengan membaca novel Entrok. Namun, saya tidak mengira akan menemukan kepingan puzzle pengetahuan yang berlipat ganda. Bahkan ketika saya baru saja menyelesaikan bacaan pada halaman 33 sudah banyak sekali realitas perempuan di masa lalu yang masih relevan dengan masa kini. Mengapa saya tulis masa lalu, karena latar novel ini dimulai pada tahun 1955.
Sejalan dengan judulnya, novel Entrok diawali dengan kisah tokoh utamanya. Marni, seorang perempuan, yang beranjak remaja. Payudara yang mringkili (payudara yang mulai tumbuh) menjadi salah satu penandanya. Marni merasa ada dua gumpalan halus yang tumbuh di dadanya. Membuatnya tidak nyaman ketika bermain, lari-larian, maupun melompat karena rasanya terguncang-guncang.
Ketika ia ke kali untuk mandi, ia melihat sepupu perempuan yang seusia dengannya. Marni berpikir bahwa payudara sepupunya juga sedang mringkili. Namun, sepupunya terlihat nyaman saja dengan keadaan itu. Tampak ada sesuatu di dada sepupunya yang dapat mengikat dan menahan payudaranya. Kemudian Marni mengetahui bahwa benda itu namanya entrok, atau dalam bahasa yang kita kenal sekarang adalah bra atau BH.
Kelindan Kemiskinan dan Stigma Gender
Sesampainya di rumah, Marni langsung berkata kepada ibunya bahwa ia menginginkan entrok. Agar ia tetap nyaman dalam menjalani aktivitasnya. Namun jawaban ibunya jauh dari apa yang Marni harapkan. Seumur hidup, ibunya tidak pernah memakai entrok, bahkan tidak tahu apa itu entrok.
”Oalah, Nduk, seumur-umur tidak pernah aku punya entrok. Bentuknya kayak apa aku juga tidak tahu. Tidak pakai entrok juga tidak apa-apa. Susuku tetap bisa diperas to. Sudah, nggak usah neko-neko. Kita bisa makan saja syukur,” kata Simbok. (Hlm. 17).
Kalimat paling akhir sukses membuat hati saya mencelos. Dalam novel ini, penulis menggambarkan bagaimana kemiskinan tercermin pada prinsip hidup “yang penting bisa makan.” Pada titik ini, entrok bukan lagi dilihat sebagai kebutuhan, namun barang yang terlampau mewah bagi orang-orang yang sedang dalam fase bertahan hidup.
Tragisnya, budaya patriarki turut mendukung lingkaran kemiskinan membentuk kelindan tanpa batas. Ibu Marni bekerja sebagai buruh kupas singkong di pasar. Bukan pekerjaan tetap dengan satu juragan saja. Tetapi siapapun yang membutuhkan tenaganya akan ia terima dengan senang hati. Namun, ada semacam aturan tidak tertulis bahwa buruh perempuan hanya akan mendapat upah berupa ketan, singkong, atau bahan makanan lainnya. Sedangkan buruh laki-laki akan diupah dengan uang.
Ibu dari Marni misalnya, upahnya sebagai buruh kupas singkong adalah singkong pula. Meski telah bertahun-tahun bekerja, ia tidak pernah sekalipun mendapatkan upah berbentuk uang, hanya karena ia seorang perempuan. Keadaan ini yang membuatnya tidak mengetahui apa itu entrok. Karena ritme hidupnya berkisar pada bertahan hidup. Menjual tenaganya demi sesuap makanan untuk esok hari.
“Merusak” Norma Demi Sebuah Entrok
Keinginan Marni memiliki entrok mendorongnya untuk ikut bekerja mengupas singkong di pasar. Namun, sama dengan ibunya, berhari-hari menjadi buruh kupas ia hanya mendapat upah beberapa buah singkong. Padahal Marni ingin mendapatkan uang untuk membeli entrok. Di pasar ini seperti ada pembagian jenis pekerjaan dan upah yang berbasis gender. Laki-laki umumnya menjadi kuli, sedangkan perempuan menjadi buruh kupas.
Hingga suatu hari, Marni memutuskan untuk menjadi kuli panggul di pasar. Meski masyarakat memandang bahwa lazimnya kuli adalah pekerjaan untuk laki-laki. Tekad Marni telah bulat demi mendapatkan upah berupa uang. Ia memberanikan diri berada di tengah pangkalan buruh laki-laki. Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya ada seorang pengunjung pasar yang memintanya untuk membawakan barang belanja menuju andong. Itu menjadi momen pertama kali Marni mendapatkan upah berupa uang.
Tentu saja hal tersebut menjadi pengalaman bahagia sekaligus menyedihkan. Bahagia karena Marni akhirnya dapat menghasilkan uang. Sedih karena ada yang melihatnya sebagai perempuan yang menyalahi aturan. Namun Marni tetap gigih pada pendiriannya. Jika ia tunduk pada aturan tidak tertulis itu, dia tidak akan mendapatkan uang. Jika tidak mendapat uang makan tidak bisa membeli entrok.
Perjuangan Kesetaraan
Pada akhirnya, Marni memanen buah dari kegigihannya. Upah menjadi kuli ia kumpulkan dan digunakan untuk membeli entrok. Barang yang telah ia impikan. Namun, perlu perjuangan yang berkali lipat agar ia mendapatkan upah yang setara dengan upah laki-laki.
Jika kita tarik dalam konteks saat ini, kesenjangan gaji antara laki-laki dan perempuan masih sangat berlaku. Melansir dari CNBC, per 25 Agustus upah buruh laki-laki tercatat naik 0,55%. Hal ini berbanding terbalik dengan upah buruh perempuan yang malah turun sekitar 1,39%.
Beberapa faktor yang menjadi penyebab disparitas upah ini antara lain segregasi sektor dan posisi. Pola pikir patriarki yang meyakini bahwa pemimpin harus seorang laki-laki membuat perempuan sering kali mendapat posisi yang lebih rendah. Hal ini kemudian termanifestasi dalam diskriminasi yang bersifat struktural.
Kesenjangan upah dipengaruhi oleh perbedaan berbasis gender, bukan berdasar pada pengalaman maupun pendidikan. Kesenjangan upah ini merupakan bentuk ketidakadilan gender yang hingga saat ini masih menjadi tantangan dalam dunia kerja.
Perjuangan mengkampanyekan isu kesetaraan gender memang bukanlah perkara mudah. Penuh dengan tantangan. Namun, di tengah berbagai tantangan itu, justru suatu perjuangan menemukan maknanya. Cita-cita kesetaraan gender bukan hanya wacana moral semata, tetapi sebuah prasyarat demi tercipta masyarakat yang adil. Maka, perjuangan ini tidak hanya berhenti pada kesadaran, melainkan realisasi keberpihakan yang nyata dalam kehidupan. []







































