Mubadalah.id – Lebaran selalu menjadi momen yang penuh dengan kebahagiaan, diwarnai oleh kehangatan keluarga, sajian lezat, dan tradisi yang sudah berlangsung turun-temurun. Namun, di tengah gemerlap kebersamaan ini, ada satu aspek yang sering kita lupakan. Yaitu momen refleksi terhadap kondisi sosial dan politik yang terjadi di sekitar kita.
Seperti yang Kalis Mardiasih katakan dalam akun media sosialnya. Lebaran kali ini seharusnya tidak hanya menjadi ajang interogasi tahunan tentang kapan menikah, kerja apa, kenapa belum punya anak, dan pertanyaan lain yang seolah-olah hidup ini sebatas checklist sosial, tetapi juga ruang untuk mendiskusikan isu-isu politik yang berdampak langsung pada kehidupan rakyat, terutama perempuan dan anak-anak.
Kalis Mardiasih sendiri bukan sosok asing dalam isu-isu ini. Seperti seorang kakak kritis yang selalu siap menguliti kebijakan yang tidak berpihak pada perempuan dan anak. Dia dengan gigih mengkampanyekan kesetaraan di media sosial.
Dengan gaya yang cerdas, jenaka, tapi tetap tajam, Kalis sering membongkar bagaimana perempuan dan anak-anak kerap menjadi korban kebijakan yang tidak berpihak. Lewat cuitannya yang menohok dan unggahannya yang penuh edukasi, ia kerap menampar kesadaran kita—tentu dengan kata-kata, bukan dengan tangan.
Politik Bukan Sekadar Urusan Elit
Banyak orang menghindari obrolan politik saat berkumpul dengan keluarga karena dianggap terlalu sensitif atau memicu perpecahan. Namun, justru dalam momen kebersamaan seperti Lebaran, kita memiliki kesempatan emas untuk membangun kesadaran kritis bersama.
Politik bukan sekadar urusan elit atau pertarungan di parlemen, tetapi menyangkut bagaimana kehidupan kita sehari-hari dijalankan. Mulai dari harga kebutuhan pokok, akses pendidikan dan kesehatan, hingga kebijakan yang mempengaruhi hak-hak perempuan dan anak.
Lebaran bukan hanya persoalan menanyakan kapan menikah atau bekerja di mana. Lebaran juga bukan sekadar ajang menunjukkan pencapaian pribadi. Lebih dari itu, Lebaran adalah waktu yang tepat untuk bertanya apakah keadilan benar-benar hadir di sekitar kita. Sudahkah kebijakan pemerintah berpihak kepada rakyat? Sudahkah perempuan dan anak-anak mendapatkan perlindungan yang seharusnya?
Beberapa tahun terakhir, kita menyaksikan berbagai kebijakan yang merugikan kelompok rentan, termasuk perempuan dan anak-anak. Mulai dari pembahasan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (RKUHP) yang problematik, meningkatnya kasus kekerasan seksual yang sulit mendapatkan keadilan, hingga minimnya perlindungan terhadap pekerja perempuan dan ibu rumah tangga. Semua ini menunjukkan bahwa diam bukanlah pilihan.
Selain itu, kebijakan yang tertuang dalam revisi Rancangan Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (RUU TNI) juga mengundang kekhawatiran besar. Dalam pandangan tajam Kalis Mardiasih, RUU ini berpotensi mengancam keselamatan perempuan dan anak-anak, terutama terkait perluasan kewenangan militer yang dapat membuka ruang bagi meningkatnya impunitas dan praktik represif terhadap warga sipil.
Jika kita biarkan, kebijakan semacam ini tidak hanya akan mengekang kebebasan, tetapi juga memperburuk perlindungan terhadap kelompok rentan dalam masyarakat.
Momentum Kembali ke Fitrah
Lebaran adalah momen untuk kembali ke fitrah, bukan hanya dalam arti spiritual, tetapi juga dalam konteks sosial. Kembali ke fitrah berarti kembali pada nilai-nilai kebaikan, kepedulian, dan keadilan. Oleh karena itu, menyuarakan kebenaran dan menentang kedzaliman adalah bagian dari makna Lebaran itu sendiri.
Momen ini bisa kita manfaatkan untuk membuka percakapan dengan keluarga tentang pentingnya kebijakan yang adil, perlunya mendukung pemimpin yang berpihak pada rakyat, serta bagaimana kita bisa berkontribusi dalam membangun kesadaran kolektif. Bukan berarti kita harus berdebat tanpa ujung atau menciptakan ketegangan di meja makan, tetapi menyisipkan kesadaran kritis dalam obrolan ringan bisa menjadi langkah awal.
Menghadirkan obrolan politik rakyat di meja makan adalah langkah awal, tetapi bukan satu-satunya cara. Setelah Lebaran, kita bisa menindaklanjutinya dengan langkah konkret.
Kita bisa mendukung gerakan sosial yang memperjuangkan hak perempuan dan anak, menjadi pemilih yang kritis terutama dalam tahun politik, menyebarkan informasi yang benar, serta menekan pemerintah dan legislator agar lebih memperhatikan kebijakan yang berpihak pada masyarakat, terutama kelompok rentan.
Lebaran bukan hanya soal makanan dan baju baru, tetapi juga soal kembali ke jati diri kita sebagai manusia yang peduli dan berani bersuara untuk kebaikan.
Tahun ini, mari manfaatkan momen berkumpul bersama keluarga sebagai ruang untuk menanamkan nilai-nilai keadilan, mengkritisi kebijakan yang tidak adil, dan mendorong kesadaran politik yang lebih tinggi. Karena pada akhirnya, perubahan besar selalu dimulai dari obrolan kecil di meja makan. []