Minggu, 1 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    Kesehatan mental

    Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

    Hannah Arendt

    Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

    Pernikahan di Indonesia

    Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    Pegawai MBG

    Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    perlindungan diri perempuan

    Hak Perlindungan Diri Perempuan

    Hadis Ummu Sulaim

    Hadis Ummu Sulaim dan Hak Perempuan Melindungi Diri

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Ayahnya

    Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti

    MBG

    MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    Keberpihakan Gus Dur

    Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    Kesehatan mental

    Bukan Salah Iblis, Kesehatan Mental itu Konstruksi Sosial

    Hannah Arendt

    Membaca Ulang Tragedi Holocaust dengan Kacamata Kritis Hannah Arendt (Part 1)

    Pernikahan di Indonesia

    Menikah Makin Langka, Mengapa Pernikahan di Indonesia Menurun?

    Humor

    Humor yang Melanggengkan Stereotip Gender

    Perkawinan Beda Agama

    Masalah Pelik Pencatatan Perkawinan Beda Agama

    Pegawai MBG

    Nasib Pegawai MBG Lebih Baik daripada Guru: Di Mana Letak Keadilan Negara?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Menggugat Cerai

    Hak Perempuan Menggugat Cerai

    Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    Perempuan ke Masjid

    Hadis Perempuan Shalat di Masjid dan Konteks Sejarahnya

    Membela yang Lemah

    Membela yang Lemah sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Kaum Lemah

    Teladan Nabi dalam Membela Kelompok Lemah

    ibu susuan

    Teladan Nabi dalam Menghormati Ibu Susuan

    peran menyusui

    Menghormati Peran Ibu Menyusui

    perlindungan diri perempuan

    Hak Perlindungan Diri Perempuan

    Hadis Ummu Sulaim

    Hadis Ummu Sulaim dan Hak Perempuan Melindungi Diri

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Pernak-pernik

Kenikmatan Bercinta Adalah Potret Kecil Kenikmatan Surga

Dalam konteks ini, saya setuju dengan Firdaus – perempuan yang menjadi tokoh utama dalam novel ‘Imra’ah ‘Inda Nuktah al-Qasr karya monumental Nawal As-Sa'dawi – bahwa semua perempuan (dalam budaya patriarki) tak ubahnya “pelacur”.

Moh Soleh Shofier by Moh Soleh Shofier
6 Agustus 2023
in Keluarga, Rekomendasi
A A
0
Kenikmatan Bercinta Kenikmatan Surga

Kenikmatan Bercinta Kenikmatan Surga

34
SHARES
3.4k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubdalah.id – Kenikmatan bercinta (hubungan intim) adalah potret kecil dari kenikmatan surga. Tak seharusnya hanya dinikmati sepihak, suami istri berhak menikmati bersama. Karena selain potret kecil kenikmatan surga, bercinta adalah kebutuhan bagi setiap insan. Kebutuhan seks bagi insan tidak ubahnya kebutuhan akan makan sebagaimana ungkapan Syekh Junaid al-Baghdadi.

Kenikmatan bercinta, menurut penilaian Imam al-Ghazali, yaitu gambaran dari kenikmatan surga. Suami istri ketika merasakan kenikmatan bercinta, mereka akan menganalogikan dengan kenikmatan surga. Lalu sadar, surga lebih dari itu sehingga memantik suami istri untuk melakukan kebajikan sebagai bentuk ibadah kepada Tuhan, (Ihya Ulumiddin, 2/27).

Bercinta dalam Budaya dan Fikih

Kenikmatan bercinta tidak boleh hanya salah satunya yang merasakan. Agar keduanya mencapai tujuan atau hikmah dibalik adanya syahwat yang diberikan Tuhan kepada manusia.

Sayangnya, selama ini budaya kita menempatkan perempuan sebagai objek seksual dalam bingkai pernikahan. Karena objek, hak seksual (hubungan intim) perempuan acapkali terabaikan. Perempuan hanyalah pemuas syahwat birahi laki-laki. Dan hanya laki-lakilah yang pantas menikmati.

Dalam lembaran kitab fikih, seringkali mengidentikkan istri sebagai objek seksual dan suami sebagai subyeknya. Suami wajib memberikan nafkah kepada istri dengan kompensasi istri wajib melayani suami.  Syekh Zakariya al-Anshari, misalnya, mengatakan bahwa nafkah wajib diberikan kepada istri kalau istrinya sudah tamkin (memasrahkan dirinya) kepada suaminya.

Dengan alasan nafkah, istri harus melayani suami kapan saja suami ingin menikmati tubuhnya. Tidak mau tahu apakah sang istri juga ingin berhubungan badan atau tidak. Pokoknya tidak boleh menolak ajakan suami kecuali alasan-alasan tertentu. Dengan alasan nafkah, kebebasan istri terkekang semisal keluar rumah harus meminta restu suami, tidak sebaliknya.

Implikasinya, istri yang tak dapat berhubungan intim maka tak berhak mendapat nafkah seperti istri yang masih kecil, istri yang gila, dan istri yang terpaksa. Pun istri yang keluar rumah tanpa restu suami tidak berhak dapat nafkah. Atau dapat restu tetapi keluar rumah karena bukan kepentingan suami, juga tidak dapat nafkah sebagaimana kitab-kitab fikih klasik menyebutkan.

Relasi Seks dalam Bingkai Budaya Patriarki

Dalam konteks ini, saya setuju dengan Firdaus – perempuan yang menjadi tokoh utama dalam novel ‘Imra’ah ‘Inda Nuktah al-Qasr karya monumental Nawal As-Sa’dawi – bahwa semua perempuan (dalam budaya patriarki) tak ubahnya “pelacur”. Yang membedakan adalah formatnya.

Jika bukan istri, ia adalah pelacur dengan kontrak sewa manfaat yang menurut kaca mata agama haram. Sedangkan istri, ia “pelacur” dengan kontrak yang halal menurut agama, yaitu akad nikah. Dengan penuh penekanan, Firdaus mengutarakan;

لم أشعر لحظة أنني امرأة غير شريفة، كنت أعرف أن مهنتي من صنع الرجال المسيطرين على الدنيا والآخرة، وأن الرجال يفرضون على النساء أن يكن مومسات بأشكال مختلفة، ولأنني ذكية واعية فقد فضلت أن أكون مومسا حرة عن أن أكون مومسا عبدة

Kira-kira terjemahannya begini, “Sedikitpun, saya tak merasa diri ini perempuan yang hina dina. Saya tahu, profesi (melacur) saya hasil rekayasa para pria yang telah memperdaya (ku) dunia dan alam baka. Semua perempuan adalah pelacur dengan varian bentuknya yang berbeda di bawah pengendalian para pria. Dan karena saya cerdas nan sadar, saya lebih mulia menjadi seorang pelacur (ibu) yang merdeka dari pada menjadi pelacur (istri) yang diperbudak (suami)” (‘Imra’ah ‘Inda Nukt}ah al-Qasr, 62-63).

Titik temu antara perempuan yang menyandang status “istri” dan “pelacur” adalah sama-sama mendapatkan bayaran. Distingsinya hanyalah bungkus atau dan nama, yang satu labelnya nafkah yang lain adalah upah. Namun keduanya memiliki fungsi yang sama yaitu untuk menikmati tubuh perempuan. Begitulah relasi seks dalam bingkai budaya patriarki.

Suami Istri Objek dan Subjek dalam Ranah yang Berbeda

Tidak jauh berbeda dengan ungkapan Firdaus, Imam Khatib Syarbini dalam Mughni al-Muhtaj mengatakan bahwa nafkah adalah kompensasi (bayaran) dari dipasrahkannya (tubuh istri) untuk dinikmati.

وَبَدَأَ الْمُصَنِّفُ بِنَفَقَةِ الزَّوْجَةِ لِأَنَّهَا مُعَاوَضَةٌ فِي مُقَابَلَةِ التَّمْكِينِ مِنْ الِاسْتِمْتَاعِ

“Imam Nawawi memulai dengan nafkah istri lantaran nafkah sebagai kompensasi dari tamkin-nya istri untuk dinikmati” (Mughni al-Muhtaj, 5/151)

تَجِبُ بِالتَّمْكِينِ التَّامِّ لِأَنَّهَا سَلَّمَتْ مَا مَلَكَ عَلَيْهَا فَتَسْتَحِقُّ مَا يُقَابِلُهُ مِنْ الْأُجْرَةِ

“Nafkah wajib dibayar sebab (tubuh) istri diserahkan secara sempurna. Karena telah menyerahkan apa yang ia miliki (tubuh) maka ia berhak dapat kompensasi berupa upahnya (nafkah)” (Mughni al-Muhtaj, 5/165).

Tentu saja, andaikan kita proporsional membaca kitab-kitab fikih tersebut tidak akan sampai memperlakukan istri laksana pelacur dan budak tak berbayar sebagaimana Firdaus mengatakan. Karena suami istri sama-sama objek di satu sisi dan di sisi lain sama-sama subjek.

KH. Husein Muhammad mengatakan, dengan otoritas nafkah di tangan suami menjadikan istri bergantung sepenuhnya kepada suaminya dalam ekonomi. Sebaliknya, dengan otoritas seks di tangan istri menjadikan suami sangat bergantung secara seksual kepada istri (perempuan).

Dengan relasi demikian, maka istri tidak memiliki kewajiban ganda baik di luar maupun dalam rumah semisal mencuci, memasak dan lain semacamnya. Semua kebutuhan yang berkaitan dengan nafkah; sandang, papan, dan pangan kewajiban suami, pungkas Buya Husein (Fiqh Perempuan).

Kenikmatan Bercinta dan Urgensi Perspektif Trilogi KUPI

Sayang, budaya kita terlanjur menganggap istri sebagai objek seksual. Budaya kita sering mengabaikan kebutuhan biologisnya. Padahal keduanya harus menikmati bersama. Karena selain kebutuhan biologis, bercinta merupakan potret kecil kenikmatan surga. Imam al-Ghazali sudah sadar tentang pengabaian hak istri untuk menikmati bercinta sehingga beliau mewanti-wanti suami agar tidak egois dalam bercinta.

ثُمَّ إِذَا قَضَى وَطَرَهُ فَلْيَتَمَهَّلْ عَلَى أَهْلِهِ حتى تقضي هي أيضاً نهمتها فإن إنزالها ربما يتأخر فيهيج شهوتها ثم القعود عنها إيذاء لها

“Ketika suami klimaks lebih awal hendaknya menahan terlebih dulu hingga istrinya juga klimaks. Karena boleh jadi klimaksnya istri lebih lama. Dan ketika syahwat birahi istri bangkit kemudian terabaikan maka akan membuat kesal”.

Suami harus memperhatikan hak biologis istri saat berhubungan intim agar sama-sama menikmati. Konsekuensinya bisa fatal karena tidak jarang tiadanya kepuasan dalam bercinta bisa mengakibatkan tiadanya keharmonisan rumah tangga.

Jika demikian signifikannya aktivitas bercinta dalam mahligai rumah tangga, bagaimana solusinya?

Di sinilah urgensinya perspektif trilogi KUPI: al-Makruf, Mubadalah dan Keadilan Hakiki untuk menyikapi ketimpangan relasi seksual dalam budaya patriarki. Dengan al-Makruf, suami istri harus sama-sama memperlakukannya sebaik mungkin dalam bercinta. Dengan Mubadalah, keduanya harus saling menikmati bercinta sebagai potret kecil kenikmatan surga sehingga terciptalah keadilan yang hakiki. []

Tags: Fikih PerkawinanHubungan SeksualHubungan Suami Istri yang Baik dan BenarKenikmatan BercintaNawal al-Sa'dawisurga
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Moh Soleh Shofier

Moh Soleh Shofier

Dari Sampang Madura

Related Posts

Nikah Sirri
Publik

Sudahi Nikah Sirri

21 November 2025
Surga
Hikmah

Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

25 Oktober 2025
Surga
Hikmah

Surga dalam Logika Mubadalah

21 Oktober 2025
Kenikmatan Surga
Hikmah

Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

20 Oktober 2025
Surga Perempuan
Hikmah

Di mana Tempat Perempuan Ketika di Surga?

20 Oktober 2025
Surga
Hikmah

Ketika Surga Direduksi Jadi Ruang Syahwat Laki-Laki

19 Oktober 2025
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Ruang Publik Perempuan

    Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Di Atas Pasal Ada Kemanusiaan: Belajar dari Keberpihakan Gus Dur

    17 shares
    Share 7 Tweet 4
  • Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • Hak Perempuan Menggugat Cerai

    15 shares
    Share 6 Tweet 4
  • MBG bagi Difabel: Pentingkah?

    15 shares
    Share 6 Tweet 4

TERBARU

  • Ayah Belajar Empati, Anak Belajar Berbudi Pekerti
  • Hak Perempuan Menggugat Cerai
  • Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU
  • MBG bagi Difabel: Pentingkah?
  • Hak Perempuan atas Ruang Publik dan Relevansinya Hari Ini

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0