Senin, 23 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manusia Berpuasa

    Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan

    Child Protection

    Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak

    Disabilitas Netra

    MAQSI sebagai Wujud Inklusivitas Qur’ani terhadap Disabilitas Netra

    Disabilitas Empati

    Disabilitas Empati Masyarakat Kita

    Ibu Muda Bunuh Diri

    Ibu Muda Bunuh Diri, Siapa Mau Peduli?

    UU Perkawinan

    Kesetaraan, Relasi Kuasa, dan Egoisme UU Perkawinan

    Feminization of Poverty

    Ramadan dan Feminization of Poverty: Saat Ibadah Bertemu Realitas Ekonomi Perempuan

    Refleksi Puasa

    Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

    Kemiskinan

    Tentang Kemiskinan; Isi Perut Terjamin, Masa Depan Dibiarkan Kosong

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    Khaulah

    Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

    Puasa dalam Islam

    Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

    Konsep isti’faf

    Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

    ghaddul bashar

    Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

    Pernikahan

    Relasi Pernikahan yang Toxic itu Haram

    Hukum Menikah

    Ulama Fiqh Tekankan Akhlak Relasi sebagai Pertimbangan Hukum Menikah

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Khotbah Idulfitri sebagai Momentum Kebahagiaan

Semoga, khotbah Idulfitri sebagai momentum kebahagiaan ini bermanfaat untuk banyak orang. Aamiin ya rabbal alamin.

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
19 April 2023
in Featured, Hikmah, Rujukan
A A
0
khotbah idulfitri

khotbah idulfitri

8
SHARES
406
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Khotbah Idulfitri adalah hal yang wajib di hari raya lebaran. Momentum kebahagiaan di hari raya bisa disampaikan dalam khotbah Idulfitri. Berikut khotbah Idulfitri sebagai momentum kebahagiaan:

اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبر، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرُ، اللهُ أكبرّ.

اللهُ أكبرّ كبيرًا، والحمدُ للهِ كثيرًا، وسبحانَ اللهِ وبحمدهِ بكرةً وأصيلًا.

وأشهدُ أن لا إلهَ إلّا اللهُ وحدَهُ لا شريكَ لهُ، وأشهدُ أنَّ محمدًا عبدُهُ ورسولُهُ.

اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون.

Idulfitri adalah momentum berbagai macam ibadah dalam Islam, yang ritual dan sosial. Mulai dari ibadah takbiran sejak tadi malam, berzakat, berbagi makanan, berbagi ucapan selamat kepada teman dan handai taulan, tadi pagi sebelum berangkat salat ada ibadah makan pagi yang disunnahkan.

Lalu, pagi ini kita berkumpul untuk salat Id berjama’ah dan mendengar khutbah Idulfitri. Kemudian kita akan berbagi senyum dan salam kebahagiaan, bersama jama’ah, teman, kolega, tetangga, dan terutama bersama kerabat dan keluarga. Pagi ini, kita telah melalui banyak ibadah sampai pada khutbah id saat ini. Alhamdulillah.

Dengan berbagai ibadah ini, Idulfitri bisa disebut sebagai ibadah kebahagiaan. Nabi Saw, dalam berbagai riwayat hadits, meminta umat Islam, terutama perempuan dan anak-anak untuk menghadiri salat Id berjama’ah, mengikuti doa-doa kebaikan dan menyaksikan perayaan kebahagiaan. Semoga seluruh amal ibadah kita, sejak awal Ramadan sampai pagi Syawal ini, diterima oleh Allah Swt dan menjadi jalan kebahagiaan kita di dunia dan akhirat. Amin.

Sidang Khutbah Idulfitri  yang dirahmati Allah Swt.

Melalui momentum Idulfitri 1443 H ini, kita diingatkan kembali bahwa Islam adalah agama yang menuntun kita agar hidup bahagia di dunia dan di akhirat. Rabbana atina fid dunya hasanan wa fil akhirati hasana. Seluruh ibadah, seluruh amal baik, dan seluruh akhlak mulia yang diajarkan Islam adalah agar kita hidup bahagia di dunia, dan dibangkitkan kelak di akhirat sebagai jiwa-jiwa yang tenang dan bahagia.

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ (٢٧) ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ (٢٨) فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ (٢٩) وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ(٣٠).

Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya. Lalu, masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku. (QS. Al-Fajr, 89: 27).

Inilah puncak kebahagiaan, ketika kelak kita dibangkitkan sebagai jiwa-jiwa yang tenang, dipanggil dan diterima oleh Allah Swt, lalu dikumpulkan bersama jiwa-jiwa lain dari seluruh hamba-hamba-Nya yang juga tenang dan menenangkan di surga-Nya.

Untuk menjadi jiwa-jiwa yang tenang di akhirat, kita harus melatihnya di sini, di dunia ini. Kita harus membiasakan diri memiliki jiwa yang tenang ini. Dalam Islam, ada lima hal yang bisa membuat jiwa kita tenang dan bahagia.

Pertama, keimanan penuh pada Allah Swt, sebagai Tuhan kita yang Esa. Kita adalah hamba-hamba-Nya. Kita diciptakan-Nya, hidup dalam bumi dan rizki-Nya, serta akan pulang kembali kepada-Nya. Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.

Dengan keimanan ini, dimana Allah Swt selalu bersama kita, kita tidak mudah oleng hanya karena kekurangan, juga tidak mudah jumawa ketika menerima banyak kelebihan. Jiwa yang oleng maupun jumawa adalah menyakitkan dan susah bahagia. Sebaliknya, dalam kondisi apapun, kita tetap positif dan jiwa kita tenang, stabil, dan mampu melalui segala sesuatu dengan kebahagiaan.

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ

“Orang-orang yang beriman (kepada Allah Swt) dan hati mereka (akan) menjadi tenteram dengan mengingat Allah (yang diimaninya). Ingatlah, dengan (beriman dan lalu) mengingat Allah akan membuat hati (kita semua) menjadi tenteram dan tenang (QS. Ar-Ra’d, 13: 28).

Kedua, membiasakan diri bersyukur pada hal-hal kecil, menerima dan mengapresiasinya, serta merayakannya dengan perasaan suka cita dan bahagia. Misalnya, pagi-pagi bisa bangun dari tidur: alhamdulillah. Bisa shalat subuh: alhamdulillah. Ada makanan di pagi hari: alhamdulillah. Kita sehat bisa berjalan alhamdulillah. Bisa tersenyum alhamdulillah. Bayi kita bisa menangis alhamdulillah. Bisa berjalan, mulai berbicara: alhamdulillah. Kita masih bisa memandang istri atau suami kita: alhamdulillah. Masih bisa berbicara dan bersenda gurau dengannya: alhamdulillah. Sering-seringlah melihat hal-hal kecil, dan ucapkan dengan suka cita: alhamdulillah.

Rasa syukur, dalam berbagai penelitian ilmiah, adalah modal besar seseorang untuk bisa mengalami kebahagiaan dalam hidup. Kebahagiaan itu bukan dicari-cari, melainkan dirasakan dan dialami. Ada banyak orang mencari bahagia melalui harta, namun ketika kaya justru nestapa. Padahal, rasa syukur adalah pintu terbesar yang mengantar kita pada kebahagiaan. Di sinilah arti keberkahan dari rasa syukur itu.

وَاِذْ تَاَذَّنَ رَبُّكُمْ لَىِٕنْ شَكَرْتُمْ لَاَزِيْدَنَّكُمْ وَلَىِٕنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan, “Sesungguhnya jika kamu sekalian biasa bersyukur, niscaya Aku akan menambah (keberkahan dan pemberian) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari (dan tidak mensyukuri), maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim, 14: 7).

Sidang Idulfitri  yang dirahmati Allah Swt.

Orang yang tidak membiasakan rasa syukur, dia tidak akan mengenali kebaikan-kebaikan hidup yang dia terima sehari-hari. Hidupnya akan hampa dan tidak bermakna. Dan ketika tidak bermakna, akan sulit untuk bahagia. Lalu, sebagian besar hidupnya dilalui tanpa rasa syukur, tanpa rasa bahagia yang hakiki. Kelak, akan sulit menjadi bahagia di akhirat, sebagai nafsun muthmainnah, atau jiwa-jiwa yang tenang bersama Allah Swt dan hamba-hamba-Nya yang shalih dan shalihah.

Ketiga, membuat hidup kita bermakna dengan berbagai kebaikan sesama hamba-hamba Allah Swt. Berbuat baik, menolong, tentu saja, seperti permintaan Nabi Saw, tidak menzalimi, menyakiti, dan mendengki. Jika kita tidak mampu berkata baik, minimal diam tidak berkata buruk. Jika kita tidak mampu berbuat baik, tidak merusak. Kebaikan, kata Nabi Saw, akan menenangkan dan menghadirkan kebahagiaan.

الْبِرُّ مَا اطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ وَاطْمَأَنَّتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَالإِثْمُ مَا حَاكَ فِى الْقَلْبِ وَتَرَدَّدَ فِى الصَّدْرِ (مسند أحمد، رقم: 18284).

“Berbuat baik itu adalah sesuatu yang akan menjadikan hati nyaman dan tenteram, serta jiwa menjadi tenang. Sementara berbuat buruk itu adalah sesuatu yang membuat hati galau dan dada gundah gulana” (Musnad Ahmad, no. 18284).

Kebencian dan kedengkian kepada orang lain itu, sesungguhnya, menyakiti diri sendiri, dan membuat kita justru sulit untuk bahagia. Sebaliknya, bersahabat, bersaudara dan  berbuat baik adalah akhlak mulia yang membuat hidup kita bermakna.

Keempat, memiliki ikatan personal yang kokoh, atau mitsaqan ghalizan. Minimal di dalam berkeluarga, sebagaimana disarankan al-Qur’an (QS. An-Nisa, 4: 21), kita memiliki ikatan personal yang kokoh dengan suami atau istri, atau dengan orang tua, atau anak.

Yang penting bukan berapa banyak ikatan persaudaraan atau persahabatan kita, tetapi sekuat apa ikatan itu bisa kita jaga, rawat, dan lestarikan. Sejauhmana kedua belah pihak bersedia memperkuat ikatan tersebut dengan berbagai komitmen kebaikan bersama. Ringan sama dijinjing, berat sama dipikul. Selalu bersedia ketika dibutuhkan. Memiliki sejuta followers di media sosial, sekalipun bisa mendatangkan uang, itu rapuh dan belum tentu membahagiakan. Memiliki satu ikatan yang kokoh dan kuat, jauh lebih membahagiakan hati dan jiwa.

Kelima, semangat hidup yang terus dinyalakan dalam keadaan apapun. Seperti kata Nabi Saw: “Orang beriman itu sangat membanggakan, dia akan selalu bahagia. Pada saat susah akan bersabar dan pada saat suka akan bersyukur. Sabar dan syukur adalah membanggakan dan membahagiakan”. Di antara yang menguatkan semangat hidup kita adalah tentu ibadah-ibadah kita, seperti salat, dzikir, dan puasa, serta munajat doa kepada Allah Swt.

Demikianlah lima jalan hidup bahagia dalam Islam. Yaitu, keimanan yang mengantar pada positif thinking; membiasakan bersyukur pada hal-hal kecil; mengisi makna hidup dengan kebaikan; memiliki ikatan personal yang kokoh (mitsaqan ghalizan); dan semangat yang terus dinyalakan dalam menjalani hidup. Dan Idul Fitri adalah momentum untuk mengalami kebahagian melalui kelima jalan bahagia ini.

وَآخِرُ دَعْوَانَا أَنِ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللَّهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلى آلِهِ، وَأَصْحَابِهِ، وَالتَّابِعِينَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ إلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَآئِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Khutbah Kedua

اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ. اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ . اَلْحَمْدُ ِللهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ الرَّحْمنُ الرَّحِيْمُ. أَشْهَدُ أَنْ لآإِلَهَ إِلاَّ اللهُ العظيم، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْله الكريم. اللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ألِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.

أَمَّا بَعْدُ . فَيَا عِبَادَ اللهِ، اِتَّقُوا اللهَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوا اللهَ مَااسْتَطَعْتُمْ وَسَارِعُوْا إِلَى مَغْفِرَةِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى: يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُون.

Dalam sebuh hadits dalam Musnad Imam Ahmad, Nabi Saw ditanya sama seseorang. “Apakah Anda utusan Allah Swt?”. “Ya”, jawab Nabi Saw. “Apa misi Anda?”, orang tersebut kembali bertanya. “Misiku menyambung dan menguatkan tali persaudaraan, melindungi nyawa dan kehidupan, membuat aman dan damai dalam perjalanan, menyingkirkan berhala, dan memastikan yang disembah hanya Allah Swt sebagai satu-satunya Tuhan”, jawab Nabi Saw. “Oh, indah sekali, aku beriman dengan misi Anda yang demikian”, tegas orang tersebut. Demikianlah jalan kebahagiaan, melalui perilaku kemanusiaan dan ketauhidan pada Allah Swt.

وَقَالَ تعالى في القرآن الكريم: إِنَّ اللَّهَ وَمَلائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا. اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى أَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اللّهُمَّ ارْضَ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ وَعَنْ جَمِيْعِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن.

اَللّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْياَءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، اللّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ إِيْمَانًا كَامِلاً وَيَقِيْنًا صَادِقًا وَقَلْبًا خَاشِعًا وَلِسَانًا ذَاكِرًا وَتَوْبَةً نَصُوْحًا.

اللّهُمَّ أَصْلِحِ الرَّعِيَّةَ وَاجْعَلْ إِنْدُوْنِيْسِيَّا وَدِيَارَ الْمُسْلِمِيْنَ آمِنَةً رَخِيَّةً. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ، وَلَذِكْرُ اللهِ   أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَللهِ الْحَمْدُ

Demikian khotbah Idulfitri sebagai momentum kebahagiaan. Semoga, khotbah Idulfitri sebagai momentum kebahagiaan ini bermanfaat untuk banyak orang. Semoga pula, khotbah Idulfitri sebagai momentum kebahagiaan ini bisa menjadi inspirasi bagi yang ingin menyusun narasi khotbah. Aamiin ya rabbal alamin. []

Tags: hari rayaIdulfitriislamKhutbahSalat Ied
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ucapan Selamat Idulfitri yang Cocok untuk Para Salingers

Next Post

Nostalgia di Akhir Ramadan Bersama Mimi, Ibu Tercinta

Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Laki-laki dan perempuan Berduaan
Pernak-pernik

Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

22 Februari 2026
Khaulah
Pernak-pernik

Kisah Pengaduan Khaulah Menjadi Rujukan Diskursus Hak Perempuan dalam Islam

21 Februari 2026
Puasa dalam Islam
Pernak-pernik

Makna Puasa dalam Islam sebagai Sarana Pendisiplinan Diri

20 Februari 2026
Konsep isti’faf
Pernak-pernik

Konsep Isti’faf dalam Perspektif Ajaran Islam

20 Februari 2026
ghaddul bashar
Pernak-pernik

Ghaddul Bashar sebagai Prinsip Pengendalian Cara Pandang dalam Islam

20 Februari 2026
Refleksi Puasa
Publik

Puasa yang menyatukan: Refleksi Puasa dalam Katolik dan Islam

20 Februari 2026
Next Post
nostalgia di akhir ramadhan

Nostalgia di Akhir Ramadan Bersama Mimi, Ibu Tercinta

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya
  • Ayat-ayat Mubadalah dalam Relasi Berkeluarga
  • Erich Fromm dan Eksistensi Manusia Berpuasa di Bulan Ramadan
  • Child Protection: Cara Kita Memastikan Dunia Tetap Ramah Bagi Anak
  • Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0