Mubadalah.id — Direktur Rumah Kitab, Lies Marcoes menilai bahwa kehadiran KUPI tidak bisa dilepaskan dari upaya melawan ideologi patriarki yang selama ini merasuki penafsiran dan praktik keagamaan.
Dalam tulisannya di Kupipedia.id, ia menyebut bahwa banyak ketimpangan terhadap perempuan justru dilegitimasi atas nama agama.
Menurut Lies, ideologi patriarki bekerja dengan menempatkan laki-laki sebagai pusat kuasa. Sementara perempuan berada dalam posisi sebagai objek yang harus mereka atur, lindungi, atau kontrol. Pola ini kemudian mereka wariskan dalam tafsir keagamaan tanpa pernah kia kritisi secara serius.
“KUPI hadir untuk membongkar cara baca agama yang membekukan ketidakadilan,” tulisnya.
Ia menjelaskan bahwa struktur relasi kuasa sosial dan gender saat ini telah berubah secara signifikan. Perlindungan perempuan yang dahulu berbasis klan dan keluarga patriarkal tidak lagi memadai di tengah kompleksitas kehidupan modern.
Dalam konteks ini, Lies menilai bahwa agama perlu kita baca ulang agar mampu menjawab bentuk-bentuk ketertindasan baru yang perempuan alami, mulai dari kekerasan seksual hingga eksploitasi ekonomi.
KUPI, menurutnya, berupaya menghadirkan tafsir keagamaan yang berangkat dari prinsip keadilan dan kemaslahatan, bukan dari stereotip gender.
Ia menegaskan bahwa pembaruan ini sering kali mengganggu kenyamanan kelompok patriarki yang selama ini merasa beruntung karena adanya tafsir keagamaan konservatif.
“Fatwa yang adil memang tidak selalu nyaman bagi mereka yang menikmati ketimpangan,” tulis Lies.
Namun demikian, ia menilai bahwa resistensi tersebut merupakan bagian dari proses perubahan yang tak terhindarkan dalam sejarah pemikiran Islam.


















































