Senin, 15 Juni 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Kekerasan Seksual di Pesantren

    Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

    Nilai-nilai Luhur Pesantren

    Ketika Nilai-nilai Luhur Pesantren Berhadapan dengan Kasus Kekerasan Seksual

    Seren Taun Cigugur

    Seren Taun Cigugur Teguhkan Pelestarian Budaya sebagai Prasasti Peradaban Bangsa

    Merawat Pesantren

    MERAWAT Pesantren, Upaya Pesantren Luhur Manhajiy Fahmina Membangun Kesehatan Mental Para Mahasantri

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Pendamping Pekerja Migran dan Guru Honorer Sampaikan Keluh Kesah dalam Halaqah Pra-Mubes Warga NU Cirebon Raya

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Dengarkan Suara Petani hingga Buruh Migran, Warga NU Cirebon Raya Gelar Halaqah Pra-Mubes

    Iduladha

    Semesta Raya Iduladha: Semarang, Pasuruan, Aceh, hingga Bangladesh

    Lukman

    Di BuKUPI 2026, KH. Lukman Hakim Saifuddin Dorong KUPI Fokus pada Isu Prioritas

    Cut Nyak Dien

    Ulama Perempuan Serukan Indonesia Tanpa Kekerasan Melalui Risalah Cut Nyak Dien

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    mahasiswa difabel

    Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?

    Relasi Mubadalah

    Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah

    Rahim

    Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

    Hak Untuk Bosan

    Hak untuk Bosan: Mengapa Difabel Tidak Harus Selalu Menginspirasi?

    Qana'ah

    Qana’ah, Kelas Menengah dan Fantasi Menjadi Orang Kaya

    Kesetaraan Anak laki-laki dan Perempuan

    Mengajarkan Kesetaraan Pada Anak Laki-laki dan Perempuan Sejak Dini

    Kampung idiot

    Mengubah Stigma Kampung Idiot di Karangpatihan Menjadi Berdaya secara Ekonomi

    Korupsi

    Korupsi di Meja Makan Anak Sekolah

    Simpul Iman Community

    Dialog, Harapan, dan Persaudaraan: Refleksi 19 Tahun Simpul Iman Community (SIM-C)

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Mengenal Kondom

    Mengenal Kondom Perempuan

    Kondom

    Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor

    Metode Kondom

    Kondom: Metode KB yang Efektif Cegah Kehamilan dan HIV/AIDS

    KB

    Hak Perempuan Memilih KB: Kenali 5 Metode dan 9 Pertimbangannya

    Ber-KB

    Cara Meyakinkan Suami tentang Pentingnya Ber-KB

    Menuju Muharram

    Menuju Muharram dan Panggilan untuk Introspeksi Jejak Spiritual

    KB

    Keluarga Berencana (KB) dan Hak Perempuan atas Tubuh

    Kehamilan dan

    Mengapa Menunda Kehamilan Dapat Meningkatkan Kualitas Hidup Keluarga?

    KB dan

    4 Risiko Kehamilan yang Bisa Dicegah dengan Program KB

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Masa Depan Majelis Masyayikh: Profil 8 Kiai dan Bu Nyai Pengasuh Periode 2021-2026

Majelis Masyayikh kita harapkan dapat menjadi penghubung antara dunia pesantren dengan kebutuhan pendidikan nasional dan internasional.

Muhammad Syihabuddin by Muhammad Syihabuddin
4 Januari 2025
in Publik
A A
0
Majelis Masyayikh

Majelis Masyayikh

10
SHARES
504
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Majelis Masyayikh adalah lembaga yang sangat strategis dalam sistem pendidikan Islam di Indonesia, khususnya pesantren. Setelah Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas kukuhkan, Majelis Masyayikh mulai menjalankan tugasnya pada awal tahun 2022. Yakni dengan tujuan besar untuk mengawal kualitas pendidikan pesantren serta memastikan pengembangan kurikulum yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Tim yang terdiri dari sembilan kiai dan bu nyai dari berbagai disiplin ilmu ini memiliki peran penting dalam membentuk arah kebijakan pendidikan pesantren di Indonesia. Pada periode 2021-2026, mereka bertugas untuk merumuskan kebijakan yang berkaitan dengan kurikulum pesantren, kualitas pendidik, serta penilaian terhadap lembaga pesantren.

Peran Strategis Majelis Masyayikh dalam Pendidikan Pesantren

Majelis Masyayikh memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kebijakan pendidikan pesantren yang mencakup berbagai aspek. Mulai dari struktur kurikulum, kualitas pendidikan, hingga profesionalisme tenaga pendidik.

Dalam rapat pertama yang berlangsung pada Januari 2022, sejumlah poin penting mereka bahas. Seperti kerangka dasar kurikulum pesantren, kriteria mutu lembaga, serta kompetensi pendidik dan tenaga kependidikan. Hal ini bertujuan agar pesantren dapat terus berkembang, tetap relevan dengan perkembangan zaman, dan menghasilkan lulusan yang berkualitas.

Penting untuk kita catat bahwa meskipun pesantren sering kali dianggap sebagai lembaga pendidikan yang konservatif, mereka tetap perlu mengikuti perkembangan dalam dunia pendidikan.

Majelis Masyayikh kita harapkan dapat menjadi penghubung antara dunia pesantren dengan kebutuhan pendidikan nasional dan internasional. Memastikan bahwa pesantren dapat mencetak generasi yang tidak hanya paham agama tetapi juga memiliki keterampilan yang relevan di dunia modern.

Program-program yang dirumuskan dalam pertemuan ini mencakup penyusunan kurikulum yang tidak hanya berbasis pada ilmu agama. Tetapi juga mengakomodasi kebutuhan pendidikan vokasi dan keterampilan lainnya.

Sebagai contoh, anggota Majelis Masyayikh yang berasal dari Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Abdul Ghofarrozin (Gus Rozin), menekankan pentingnya menyusun strategic planning untuk menjalankan tugas-tugas yang diamanatkan dalam Undang-Undang. Salah satunya adalah membentuk kisi-kisi kurikulum yang sesuai dengan kompetensi rumpun keilmuan masing-masing pesantren.

Pendekatan ini memungkinkan setiap pesantren memiliki kebijakan pendidikan yang fleksibel dan dapat menyesuaikan dengan kekhasan lokal maupun perkembangan dunia pendidikan secara umum.

Profil 8 Kiai dan Bu Nyai Pengasuh Majelis Masyayikh Periode 2021-2026

Pengukuhan sembilan anggota Majelis Masyayikh periode 2021-2026 telah berlangsung lama. Mereka terdiri dari delapan kiai dan bu nyai dengan latar belakang keilmuan yang beragam. Mereka adalah sosok-sosok yang sangat dihormati di kalangan pesantren dan berkomitmen untuk memperkuat pendidikan Islam di Indonesia.

Berikut ini adalah beberapa profil pengasuh Majelis Masyayikh yang memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pesantren dan pendidikan Islam:

KH. Azis Afandi

(Pesantren Miftahul Huda, Manonjaya, Tasikmalaya, Jawa Barat). Kiai Azis terkenal dengan pendekatannya yang moderat dan mampu mengembangkan pesantren sebagai pusat pendidikan yang mengajarkan nilai-nilai keislaman yang inklusif.

KH. Abdul Ghoffarrozin (Gus Rozin)

(Pesantren Maslakul Huda, Kajen, Pati, Jawa Tengah). Sebagai Ketua Majelis Masyayikh, Gus Rozin memiliki visi besar dalam menyusun struktur organisasi dan tata kerja Majelis Masyayikh. Selain itu memastikan kurikulum pesantren dapat mencetak generasi yang unggul dalam agama dan keterampilan.

Dr. KH. Muhyiddin Khotib

(Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo, Jawa Timur). Seorang ulama besar yang berfokus pada pengembangan pemahaman fiqh dan tafsir yang lebih kontekstual. Selain itu mendorong pesantren untuk lebih aktif dalam dialog antar agama.

KH. Tgk. Faisal Ali

(Pesantren Mahyal Ulum Al-Aziziyah, Aceh Besar, Aceh). Kiai Faisal terkenal dengan keterlibatannya dalam kegiatan sosial dan kebangsaan, serta memperkenalkan konsep pesantren sebagai lembaga pendidikan yang turut andil dalam pembangunan sosial-ekonomi.

Nyai Hj. Badriyah Fayumi, MA

(Pesantren Mahasina Darul Qur’an wal Hadits, Bekasi, Jawa Barat). Bu Nyai Badriyah memiliki komitmen tinggi dalam memberdayakan perempuan dan anak-anak di lingkungan pesantren. Selain itu memperkenalkan pendidikan berbasis tafsir dan hadis yang berorientasi pada pemberdayaan keluarga.

Dr. KH. Abdul Ghofur Maimun

(Pesantren Al-Anwar, Sarang, Rembang, Jawa Tengah). Kiai Abdul Ghofur dikenal sebagai penggerak pendidikan Islam yang berbasis pada integrasi ilmu agama dan ilmu pengetahuan umum, serta sangat peduli dengan pengembangan ekonomi pesantren.

KH. Jam’an Nurchotib Mansur/Ust. Yusuf Mansur

(Pesantren Darul Qur’an, Tangerang, Banten). Ust. Yusuf Mansur memiliki pendekatan yang modern dan dinamis, khususnya dalam mengembangkan pendidikan karakter serta kewirausahaan di kalangan santri.

Prof. Dr. KH. Abd. A’la Basyir

(Pesantren Annuqoyah, Guluk-Guluk, Sumenep, Jawa Timur). Prof. A’la Basyir dikenal dengan keahliannya di bidang pendidikan tinggi Islam dan berperan aktif dalam merumuskan kebijakan-kebijakan pendidikan berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi.

Dengan latar belakang dan pengalaman yang beragam, delapan kiai dan bu nyai ini tidak hanya memiliki pengaruh di pesantren masing-masing. Tetapi juga berperan besar dalam menciptakan kebijakan pendidikan yang lebih modern dan relevan untuk masa depan pesantren di Indonesia.

Tantangan dan Harapan untuk Masa Depan Majelis Masyayikh

Masa depan Majelis Masyayikh di bawah kepemimpinan delapan kiai dan bu nyai ini menghadirkan sejumlah tantangan, terutama dalam mengelola keberagaman pesantren di Indonesia yang tersebar dari Aceh hingga Papua.

Salah satu tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan bahwa regulasi pendidikan pesantren tidak hanya sesuai dengan aturan yang pemerintah tetapkan. Tetapi juga mencerminkan karakter dan kekhasan pesantren itu sendiri.

Sebagaimana  Direktur Jenderal Pendidikan Islam, Muhammad Ali Ramdhani sampaikan, penting bagi Majelis Masyayikh untuk memastikan bahwa seluruh anggota memiliki persepsi yang sama tentang arah dan tujuan program yang akan dilaksanakan. Hal ini penting agar kebijakan yang kita ambil dapat berjalan secara efektif dan menyeluruh. Tanpa mengorbankan identitas pesantren sebagai lembaga yang mengajarkan Islam dengan cara yang khas.

Harapan terbesar bagi Majelis Masyayikh adalah dapat terus menjaga dan meningkatkan mutu pendidikan pesantren, sekaligus menjawab tantangan zaman yang terus berkembang.

Masa Depan Pendidikan Pesantren di Indonesia

Dalam mengawal dan merumuskan kebijakan pendidikan pesantren, Majelis Masyayikh kita harapkan mampu menciptakan keseimbangan antara tradisi dan inovasi. Selain itu mencetak generasi santri yang tidak hanya unggul dalam ilmu agama, tetapi juga mampu berkompetisi di dunia modern dengan keterampilan yang mumpuni.

Masa depan Majelis Masyayikh di tangan para kiai dan bu nyai yang terpilih pada periode 2021-2026 menjanjikan perkembangan yang lebih baik bagi pendidikan pesantren di Indonesia.

Melalui kebijakan yang strategis dan inovatif, mereka akan memastikan bahwa pesantren tetap menjadi lembaga yang relevan dalam mencetak generasi penerus yang berkualitas, berakhlak mulia, dan mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.

Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan Majelis Masyayikh, harapannya pendidikan pesantren dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat Indonesia. []

Tags: Kementerian AgamaMajelis MasyayikhPendidikan AgamaPengasuh PesantrenPondok PesantrenSantri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ketaatan Anak kepada Orangtua

Next Post

Menerapkan Prinsip Kasih Sayang dalam Mengasuh Anak

Muhammad Syihabuddin

Muhammad Syihabuddin

Santri dan Pembelajar Instagram: @syihabzen

Related Posts

Kekerasan Seksual di Pesantren
Aktual

Dari Dalam Pesantren: Saatnya Membangun Sistem Perlindungan Santri dari Kekerasan Seksual

11 Juni 2026
Santri Aman
Publik

Santri Aman, Pesantren Beradab; Membaca Ulang Pancasila di Kamar Asrama

8 Juni 2026
Marwah Pesantren
Publik

Di Tengah Krisis Kepercayaan, Ke Mana Marwah Pesantren akan Dibawa?

5 Juni 2026
Memutus Rantai Kekerasan Seksual
Publik

Memutus Rantai Kekerasan Seksual, Pesantren Perlu Perkuat Pengawasan

4 Juni 2026
Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren
Publik

Panduan Praktis Mengenali dan Menjaga Batas Diri di Pesantren agar Terhindar dari Pencabulan dan Kekerasan Seksual

2 Juni 2026
Kekerasan Seksual di Pesantren
Personal

Menjawab Dilema Santri atas Kekerasan Seksual di Pesantren

31 Mei 2026
Next Post
Prinsip Kasih Sayang

Menerapkan Prinsip Kasih Sayang dalam Mengasuh Anak

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Siapa yang Harus Beradaptasi: Mahasiswa Difabel atau Kampus?
  • Mengenal Kondom Perempuan
  • Gelas Kosong dan Sayap yang Sinkron: Paradoks Kekuatan dalam Relasi Mubadalah
  • Tips Menggunakan Kondom agar Tidak Mudah Sobek dan Bocor
  • Yang Tak Kita Pahami dari Rahim Copot, Puting Putus, dan Payudara Meledak

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0