Mubadalah.id – Alhamdulillah, tradisi Rowahan yang digelar masyarakat Blok 3 Desa Cikalahang hingga saat ini masih bisa terjaga dengan baik.
Tradisi yang dilaksanakan setiap bulan Rajab ini menjadi salah satu bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus sarana mempererat hubungan antar warga. Meski demikian, keberlangsungannya kini menghadapi tantangan, terutama berkurangnya partisipasi generasi muda.
Rowahan atau rajaban merupakan tradisi doa bersama bagi anggota keluarga dan kerabat yang telah wafat. Di Desa Cikalahang, kegiatan ini biasanya dilaksanakan pada Jumat terakhir bulan Rajab, meskipun sebagian warga memilih menggelarnya secara mandiri di rumah masing-masing.
Rangkaian acaranya sederhana, dimulai dengan sambutan tokoh masyarakat atau sesepuh, dilanjutkan pembacaan tahlil, lalu ditutup dengan makan bersama.
Menurut keterangan warga, tradisi tersebut telah berlangsung turun-temurun tanpa catatan pasti sejak kapan pertama kali mereka adakan.
Salah seorang keturunan leluhur setempat, Jojo, menjelaskan bahwa pelaksanaan Rowahan saat ini berbeda jika kita bandingkan dengan masa lalu. Ia menuturkan, dahulu seluruh warga berkumpul di satu rumah keluarga keturunan Abah Tsabit sebagai pusat kegiatan. Kini, pelaksanaan mereka lakukan dengan cara bergiliran di rumah warga yang bersedia menjadi tuan rumah.
“Dulu semuanya berkumpul di satu tempat, sekarang tidak lagi. Siapa yang ingin mengadakan, maka acaranya di rumah orang tersebut,” ujarnya.
Perubahan pola pelaksanaan itu terjadi seiring wafatnya para sesepuh yang dahulu menjadi penggerak utama tradisi. Meski demikian, nilai inti kegiatan tetap kita pertahankan, yakni mendoakan leluhur dan mempererat hubungan kekerabatan.
Pada pelaksanaan terakhir, kegiatan tersebut akan mereka gelar di rumah Ibu Rodiyah, salah satu keturunan keluarga besar leluhur Blok 3. Sejak awal acara, suasana kebersamaan tampak kompak, laki-laki dan perempuan terlibat dalam berbagai persiapan, mulai dari menata tempat hingga menyiapkan hidangan. Gotong royong menjadi ciri utama yang menonjol dalam setiap pelaksanaan tradisi tersebut.
Silahturahmi
Selain sebagai ritual doa, Rowahan juga sebagai ajang silaturahmi. Warga yang jarang bertemu karena kesibukan atau jarak tempat tinggal memanfaatkan momentum ini untuk berkumpul kembali. Setelah rangkaian doa selesai, banyak peserta yang tetap tinggal untuk berbincang dalam suasana akrab.
Tokoh masyarakat setempat menilai tradisi ini memiliki nilai sosial tinggi karena mampu menjaga hubungan antarkerabat sekaligus menumbuhkan rasa kebersamaan.
Namun mereka juga mengakui adanya kekhawatiran akan keberlanjutan tradisi tersebut. Sebab, partisipasi generasi muda masih terbatas. Sehingga mereka khawatirkan minat terhadap tradisi akan menurun di masa mendatang.
Meski menghadapi tantangan zaman, warga Blok 3 Desa Cikalahang menegaskan komitmen untuk terus melestarikan Rowahan sebagai warisan budaya leluhur.
Bagi mereka, tradisi ini bukan sekadar kegiatan seremonial. Melainkan upaya memperkuat ikatan sosial yang telah terjalin lintas generasi. []
















































