Senin, 27 Juli 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Sunat Perempuan

    Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan

    Anak-anak Disabilitas

    Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas

    Pernikahan Anak

    Mengapa Hukum Negara Saja Tak Cukup untuk Menghentikan Pernikahan Anak?

    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    Inovasi Teknologi

    Mengapa Inovasi Teknologi Harus Mendengarkan Pengalaman Perempuan dan Penyandang Disabilitas?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Batuk Dahak

    Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah

    Muntah

    Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

    Herpes zoster

    Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

    Sarkoma Kaposi

    Sarkoma Kaposi dan Gatal-gatal pada Orang dengan AIDS, Ini Penanganannya

    Gatal

    Cara Mengatasi Gatal dan Infeksi Jamur pada Orang dengan AIDS

    Obat Diare

    Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

    Orang dengan AIDS

    Cara Mengatasi Demam pada Orang dengan AIDS dan Tanda Bahayanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Mendidik Anak

    Bagaimana Mendidik Anak untuk Mengasihi Sesama Makhluk?

    PBNU

    Menanti Nakhoda Feminis di PBNU

    Energi Panas Bumi

    Solusi “Hijau” Energi Panas Bumi; Energi untuk Siapa?

    Spanyol

    Panggung Bola, Air Mata Gaza, dan Trofi Juara Spanyol

    Sepak Bola Dunia

    Perempuan di Balik Layar Bintang Sepak Bola Dunia

    Sejarah Prancis

    Runtuhnya Bastille dan Hipokrisi Egalite: Membaca Sejarah Prancis melalui Lensa Mubadalah

    Kekerasan di Sampang

    Lubang Perlindungan Perempuan; Akar Kekerasan di Sampang dan Pesan Fatwa KUPI

    Kolonialisme Piala Dunia 2026

    Kelindan Kolonialisme dalam Piala Dunia 2026: Kala Narasi Perdukunan Menenggelamkan Kualitas Afrika

    Diskriminasi terhadap Perempuan

    Buya Husein: Diskriminasi terhadap Perempuan Diproduksi oleh Tafsir, Budaya, dan Politik

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Sunat Perempuan

    Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan

    Anak-anak Disabilitas

    Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas

    Pernikahan Anak

    Mengapa Hukum Negara Saja Tak Cukup untuk Menghentikan Pernikahan Anak?

    Wayang

    Wayang, Membela Mereka yang Tak Menjadi Tokoh Utama

    Nafkah adalah Amanah

    Nafkah adalah Amanah: Mencegah Penelantaran Ekonomi dalam Rumah Tangga

    Perkemahan

    Belajar Empati dari Perkemahan di SLB

    Spanyol

    Spanyol, Palestina, dan Misi Kemanusiaan di Panggung Dunia

    Pengampunan

    Pengampunan di Tengah Dunia yang Menghakimi

    Inovasi Teknologi

    Mengapa Inovasi Teknologi Harus Mendengarkan Pengalaman Perempuan dan Penyandang Disabilitas?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Batuk Dahak

    Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah

    Muntah

    Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS

    Herpes zoster

    Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

    Sarkoma Kaposi

    Sarkoma Kaposi dan Gatal-gatal pada Orang dengan AIDS, Ini Penanganannya

    Gatal

    Cara Mengatasi Gatal dan Infeksi Jamur pada Orang dengan AIDS

    Obat Diare

    Diare pada Orang dengan AIDS: Kapan Harus Minum Obat dan Segera ke Dokter?

    Dehidrasi

    Cara Mengatasi Dehidrasi akibat Diare pada Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS

    Orang dengan AIDS Mengalami Diare? Waspadai Risiko Dehidrasi

    Orang dengan AIDS

    Cara Mengatasi Demam pada Orang dengan AIDS dan Tanda Bahayanya

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Prof. Siti Baroroh Baried

    Prof. Siti Baroroh Baried: Guru Besar Perempuan Pertama yang Membuka Jalan Pendidikan Perempuan Indonesia

    Nyai Siti Walidah

    Nyai Siti Walidah: Menjadikan Pendidikan sebagai Jalan Pembebasan Perempuan

    Asih Widyowati

    Asih Widyowati, Membangun Ruang Aman bagi Penyintas Kekerasan Seksual melalui Umah Ramah

    Yosepha Alomang

    Ditangkap hingga Anak Tewas di Pengungsian, Begini Keteguhan Perjuangan Mama Yosepha di Papua

    Nyi Mas Pakungwati Cirebon

    Nyi Mas Pakungwati, Ulama Perempuan di Balik Berdirinya Peradaban Islam Cirebon

    Fatima Mernissi

    Pemikiran Fatima Mernissi tentang Perempuan, Islam, dan Kekuasaan

    Fatimah al-Banjari

    Fatimah al-Banjari, Pelopor Emansipasi Pendidikan Perempuan Banjar

    Nyai Khoiriyah Hasyim

    Nyai Khoiriyah Hasyim: Pelopor Sekolah Perempuan Pertama di Kota Makkah

    Ustazah Mumpuni

    Ustazah Mumpuni: Daiyah Ngapak yang Membumikan Dakwah dengan Humor dan Kepedulian

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Featured

Mendobrak Stigma Tragedi 65: Menyampaikan Fakta Sejarah

Tragedi 65 menghasilkan sebuah stigmatisasi negatif yang sangat merugikan. Hingga saat ini masih menghantui gerakan perempuan di Indonesia

Alifah Nurul Fadilah by Alifah Nurul Fadilah
9 Oktober 2023
in Featured, Publik
A A
0
Tragedi 65

Tragedi 65

20
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Tragedi 65 di Indonesia adalah sebuah babak kelam dalam sejarah negeri ini, yang tetap membekas di dalam benak banyak orang. Selama periode ini, terjadi pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang sangat serius, terutama terhadap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) dan kelompok terkait.

Perempuan yang terlibat dalam Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan kelompok terkait menjadi sasaran penyiksaan fisik, pelecehan seksual, dan pemerkosaan. Tragedi ini menghasilkan sebuah stigmatisasi negatif yang sangat merugikan. Hingga saat ini masih menghantui gerakan perempuan di Indonesia.

Penyintas ’65: Mengungkap Fakta Sejarah yang Terlupakan

Penyintas 65 (Gerwani eks-Tapol), yang pada masa lalu pernah menjadi tahanan politik, sekarang aktif dalam upaya memunculkan fakta-fakta sejarah yang selama ini terpendam. Mereka adalah saksi hidup tragedi 65 dan ingin memastikan bahwa dunia tahu kebenaran tentang apa yang sebenarnya terjadi. Salah satu cara utama mereka melakukannya adalah melalui tulisan-tulisan mereka yang memotret pengalaman mereka selama Tragedi 65.

Dalam tulisan-tulisan mereka, mereka mencoba menghadirkan gambaran nyata tentang peristiwa-peristiwa mengerikan yang mereka saksikan dan alami. Mereka ingin agar generasi yang akan datang memahami betapa pentingnya untuk tidak melupakan sejarah dan menghindari pengulangan kesalahan-kesalahan tragis yang pernah terjadi.

Selain tulisan, musik juga menjadi medium ekspresi yang kuat bagi para penyintas untuk menyampaikan pesan mereka. Mereka menciptakan lagu-lagu yang memancarkan perasaan persahabatan, perdamaian, dan keadilan. Musik ini adalah cara mereka untuk memprotes ketidakadilan yang pernah mereka alami dan mengekspresikan harapan mereka untuk masa depan yang lebih baik.

Lagu-lagu ini memiliki daya tarik yang kuat dan mampu menyentuh hati banyak orang. Mereka menyuarakan kepedihan yang dalam, tetapi juga memberikan pesan perdamaian dan persahabatan yang universal. Ini adalah contoh nyata bagaimana seni, khususnya musik sebagai alat untuk mengubah persepsi masyarakat dan menginspirasi tindakan positif.

Partisipasi Orang Muda: Menjadi Sahabat Penyintas ’65

Terlepas dari fakta bahwa banyak orang muda saat ini tidak terlibat secara langsung dalam sejarah Tragedi ’65, mereka memiliki antusiasme yang besar dalam mengungkapkan fakta sejarah ini. Mereka percaya bahwa mengetahui sejarah adalah kunci untuk mencegah pengulangan kesalahan di masa depan. Oleh karena itu, mereka aktif dalam berbagai dialog dan menjadi sahabat penyintas 65 dengan berbagai cara.

Salah satu contoh yang mencolok adalah akun Instagram @1965setiaphari, yang menjadi platform yang aktif dalam menyuarakan perjuangan sejarah Tragedi ’65. Dalam akun ini, pemiliknya berbagi informasi, gambar, dan cerita yang memotret pengalaman para penyintas. Mereka memainkan peran penting dalam memastikan bahwa sejarah ini tidak terlupakan dan mendorong masyarakat untuk lebih memahami kompleksitas dan dampak Tragedi ’65.

Penting untuk memahami bahwa Tragedi ’65 adalah sebuah tragedi kemanusiaan yang telah menyisakan luka, trauma, kepedihan, dan stigma yang mendalam pada mereka yang terlibat. Ketika kita membicarakan trauma, kita harus mengakui bahwa trauma-trauma ini tidak akan pernah terlupakan atau hilang.

Stigma yang melekat pada mereka yang terlibat dalam Gerwani adalah salah satu aspek paling sulit dari trauma tersebut. Dengan stigma ini, mereka seringkali dipandang sebagai musuh, pengacau, atau bahkan sebagai penjahat. Stigma ini membuat mereka merasa terisolasi dan diucilkan dari masyarakat. Hal ini juga menghambat perkembangan gerakan perempuan di Indonesia.

Stigma: Penghambat Pertumbuhan Gerakan Perempuan

Stigma negatif yang terus melekat pada Gerwani adalah penghalang yang serius bagi perkembangan gerakan perempuan di Indonesia. Hal ini membuat gerakan perempuan kesulitan mendapatkan dukungan publik yang luas.

Banyak perempuan yang ingin berkontribusi pada perjuangan kesetaraan gender merasa takut untuk bergabung atau bahkan berbicara tentang isu-isu perempuan. Stigma ini membuat perempuan terjebak dalam lingkaran ketidakpercayaan dan ketakutan.

Selain itu, stigma ini juga membatasi kemampuan gerakan perempuan untuk mempengaruhi kebijakan dan perubahan positif dalam masyarakat. Ketika gerakan perempuan terlalu aktif dalam menyuarakan hak-hak yang sebenarnya telah ada dalam konstitusi, tetapi tidak mereka rasakan, mereka seringkali dicap sebagai kelompok ‘gerwani baru’. Hal ini menghambat partisipasi perempuan dalam politik dan pembuatan kebijakan.

Menyuarakan Kebenaran dalam Dunia yang Kompleks

Sejarah selalu ditulis oleh sang penguasa, dan inilah mengapa terkadang sulit untuk mendapatkan versi yang faktual dan tidak bias. Namun, penyintas 65 dan generasi muda yang antusias berusaha keras untuk menantang narasi sejarah yang tidak akurat dan berpihak kepada kepentingan politik. Mereka mencoba untuk membuka kembali catatan sejarah yang terlupakan dan menghadirkan versi yang lebih objektif dan adil.

Upaya ini adalah bentuk counter-narasi yang penting dalam menyuarakan kebenaran dari narasi sejarah saat ini yang tidak faktual dan sangat sarat dengan kepentingan politik. Mereka tidak hanya mengingatkan kita akan sejarah yang pernah ada, tetapi juga mengajarkan kepada kita bahwa kita harus selalu waspada terhadap manipulasi sejarah untuk memenuhi agenda tertentu.

Dalam upaya untuk mengatasi stigma, masyarakat harus meruntuhkan tembok-tembok stigma yang telah dibangun selama puluhan tahun. Stigma ini tidak hanya merugikan individu yang terlibat, tetapi juga menghambat perkembangan gerakan perempuan di Indonesia.

Untuk mencapai masyarakat yang lebih adil dan sejahtera, kita harus memahami bahwa perjuangan Penyintas 65 dan generasi muda  adalah bagian dari upaya untuk mencapai kesetaraan gender dan hak asasi manusia yang lebih baik di Indonesia. Mereka adalah pahlawan yang telah berani berbicara untuk mengungkapkan kebenaran dan mengubah pandangan masyarakat.

Sejarah harus menjadi cermin yang jujur dan tidak bias. Untuk memastikan bahwa kesalahan-kesalahan tragis dalam sejarah tidak terulang, kita harus terus mendukung upaya positif ini dan menghormati kontribusi positif dari mereka yang mencoba untuk membuat perbedaan.

Hanya dengan bergerak bersama, kita dapat meraih masa depan yang lebih baik dan lebih adil bagi semua warga Indonesia. Semoga suara-suara ini terus diperdengarkan, dan semoga kebenaran dan keadilan merajai masa depan bangsa ini. []

Tags: gerakan perempuanGerwaniIndonesiasejarahTragedi 65
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Festival Film Madani, Kehidupan Muslim dari Berbagai Sudut Pandang

Next Post

Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta: Mengikat yang Terurai, Islam dari Berbagai Sudut Pandang

Alifah Nurul Fadilah

Alifah Nurul Fadilah

saya seorang pembelajar dan pejuang kesetaraan. isu perempuan, hak asasi manusia dan keberagaman adalah minat saya. Ig: @alifadilah_

Related Posts

Syarifah Baghdad
Figur

Syarifah Baghdad: Perempuan Pelopor Mukena di Nusantara

20 Juli 2026
Kepemimpinan Abu Bakar
Hikmah

Menilik Kembali Integritas Kepemimpinan Abu Bakar di Tengah Kekacauan Politik

15 Juli 2026
Perempuan Pembela Keadilan
Publik

Siapa Menjaga Perempuan Pembela Keadilan?

15 Juli 2026
The Personal is Political
Personal

Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!

14 Juli 2026
Lirik Lagu
Personal

Kekuatan Lirik Lagu: Dari Betharia Sonata, Didi Kempot, Melly Goeslaw hingga Billie Holiday

7 Juli 2026
Surah 'Abasa
Disabilitas

Membaca Ulang Hikmah Inklusivitas Surah ‘Abasa 1-10

5 Juli 2026
Next Post
Seni Film

Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta: Mengikat yang Terurai, Islam dari Berbagai Sudut Pandang

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Cara Meredakan Batuk Berdahak pada Orang dengan AIDS agar Tidak Semakin Parah
  • Langkah Tepat Mengatasi Mual dan Muntah pada Orang dengan AIDS
  • Sunat Perempuan: Akhlak dan Kemuliaan Tak Dibentuk oleh Sayatan
  • Ketika Madrasah Sederhana di Madura Membuka Jalan bagi Anak-anak Disabilitas
  • Kenali Herpes Zoster dan Mual Berkepanjangan pada Orang dengan AIDS

Komentar Terbaru

  • Nur Fadiah Anisah pada Memaknai Jargon The Personal is Political: Kecemasan Kita Ternyata Diproduksi Negara!
  • Zikri Alvi Muharam pada Takut Kok Sama “Pesta Babi”
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
  • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0