Rabu, 4 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ramadan

    Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat

    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Keluarga

Mengapa Kekerasan terhadap Anak terus Terjadi?

Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Yayat Hidayat by Yayat Hidayat
21 April 2025
in Keluarga
A A
0
Kekerasan terhadap Anak

Kekerasan terhadap Anak

15
SHARES
759
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Kekerasan terhadap anak adalah isu yang tak kunjung padam, meskipun berbagai upaya telah dilakukan untuk mengatasinya. Setiap tahun, ribuan anak di seluruh dunia menjadi korban kekerasan, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun masyarakat.

Namun, apa yang sebenarnya terjadi di balik angka-angka statistik yang mencengangkan ini? Mengapa kekerasan terhadap anak masih menjadi masalah yang begitu mendesak? Dalam tulisan ini, kita akan menggali lebih dalam, mengungkap berbagai bentuknya, dampaknya, serta upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegahnya.

Kekerasan pada anak bukan hanya sekadar fisik; ia mencakup berbagai bentuk penyalahgunaan, termasuk emosional, seksual, dan pengabaian. Setiap bentuk kekerasan ini memiliki dampak yang mendalam dan sering kali berkepanjangan bagi anak-anak yang mengalaminya.

Namun, banyak orang tua dan masyarakat yang masih kurang memahami betapa seriusnya masalah ini. Apakah Anda tahu bahwa banyak anak yang tidak melaporkan kekerasan yang mereka alami karena takut atau merasa tidak ada yang peduli? Mari kita telusuri lebih jauh tentang fenomena ini dan bagaimana kita bisa berperan dalam mengubahnya.

Dalam artikel ini, kita akan membahas empat aspek penting: bentuk-bentuk kekerasan, dampak jangka pendek dan jangka panjang, faktor penyebab, dan upaya pencegahan yang dapat dilakukan. Setiap sub judul akan membawa kita lebih dekat pada pemahaman yang lebih baik tentang isu ini, serta memberikan wawasan tentang bagaimana kita semua dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak. Siap untuk menyelami lebih dalam? Mari kita mulai!

Bentuk-bentuk Kekerasan terhadap Anak

Kekerasan pada anak dapat terbagi menjadi beberapa kategori, masing-masing dengan karakteristik dan dampak yang berbeda. Salah satu bentuk yang paling umum adalah kekerasan fisik, di mana anak-anak mengalami tindakan kekerasan yang menyebabkan cedera fisik. Ini bisa berupa pemukulan, penamparan, atau bahkan penyiksaan yang lebih serius. Namun, kekerasan fisik bukanlah satu-satunya bentuk kekerasan yang perlu kita waspadai.

Selanjutnya, ada kekerasan emosional, yang sering kali lebih sulit dikenali. Bentuk kekerasan ini mencakup penghinaan, ancaman, dan perlakuan yang merendahkan martabat anak. Meskipun tidak meninggalkan bekas fisik, dampak emosional dari kekerasan ini bisa sangat merusak, menyebabkan anak merasa tidak berharga dan kehilangan rasa percaya diri. Apakah Anda pernah berpikir bahwa kata-kata bisa lebih menyakitkan daripada pukulan?

Kekerasan seksual juga merupakan bentuk kekerasan yang sangat serius dan sering kali terjadi di lingkungan yang seharusnya aman, seperti rumah atau sekolah. Anak-anak yang menjadi korban kekerasan seksual sering kali mengalami trauma yang mendalam, yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan fisik mereka di masa depan. Sayangnya, banyak anak yang tidak melaporkan kekerasan ini karena rasa malu atau takut akan konsekuensi yang mungkin mereka hadapi.

Terakhir, pengabaian adalah bentuk kekerasan yang sering kali diabaikan. Pengabaian terjadi ketika orang tua atau pengasuh tidak memenuhi kebutuhan dasar anak, baik itu kebutuhan fisik, emosional, atau pendidikan. Anak-anak yang mengalami pengabaian sering kali merasa tidak dicintai dan tidak diperhatikan, yang dapat menyebabkan masalah perkembangan yang serius. Dengan memahami berbagai bentuk kekerasan ini, kita dapat lebih peka terhadap tanda-tanda yang mungkin terlihat di sekitar kita.

Dampak Kekerasan terhadap Anak

Dampak kekerasan terhadap anak tidak hanya terlihat dalam jangka pendek, tetapi juga dapat berlanjut hingga dewasa. Dalam jangka pendek, anak-anak yang mengalami kekerasan sering kali menunjukkan gejala fisik dan emosional, seperti luka, kecemasan, dan depresi. Mereka mungkin mengalami kesulitan dalam berinteraksi dengan teman sebaya dan menunjukkan perilaku agresif. Namun, dampak jangka panjangnya jauh lebih mengkhawatirkan.

Anak-anak yang mengalami kekerasan cenderung memiliki masalah kesehatan mental yang lebih tinggi di kemudian hari, termasuk gangguan kecemasan, depresi, dan bahkan risiko bunuh diri. Mereka juga lebih mungkin terlibat dalam perilaku berisiko, seperti penyalahgunaan zat dan perilaku kriminal. Apakah Anda tahu bahwa banyak pelaku kekerasan di masyarakat adalah mereka yang pernah menjadi korban kekerasan di masa kecil? Ini menunjukkan betapa pentingnya untuk memutus siklus kekerasan ini.

Dampak ini juga dapat memengaruhi perkembangan fisik mereka. Anak-anak yang mengalami kekerasan sering kali mengalami masalah kesehatan, seperti gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Mereka mungkin juga memiliki masalah dalam belajar dan berprestasi di sekolah. Hal ini dapat mengakibatkan kurangnya kesempatan di masa depan, yang pada gilirannya dapat memperburuk kondisi sosial dan ekonomi mereka.

Dengan memahami dampak-dampak ini, kita dapat lebih menghargai pentingnya perlindungan anak dan upaya pencegahan. Setiap anak berhak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman dan mendukung, dan kita semua memiliki tanggung jawab untuk memastikan hal itu terjadi. Namun, apa yang bisa kita lakukan untuk mencegah kekerasan ini terjadi?

Faktor Penyebab Kekerasan terhadap Anak

Kekerasan terhadap anak tidak terjadi dalam kekosongan; ada berbagai faktor yang berkontribusi terhadap terjadinya kekerasan ini. Salah satu faktor utama adalah lingkungan keluarga. Keluarga yang mengalami stres, seperti kemiskinan, masalah kesehatan mental, atau kekerasan dalam rumah tangga, lebih mungkin terlibat dalam perilaku kekerasan terhadap anak. Apakah Anda pernah berpikir bahwa kondisi ekonomi bisa memengaruhi cara orang tua memperlakukan anak-anak mereka?

Selain itu, norma sosial dan budaya juga memainkan peran penting. Di beberapa masyarakat, kekerasan dianggap sebagai cara yang sah untuk mendidik anak. Hal ini menciptakan siklus di mana kekerasan dianggap sebagai hal yang normal dan diterima. Mengubah pandangan ini memerlukan upaya pendidikan dan kesadaran yang berkelanjutan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah kurangnya akses terhadap pendidikan dan sumber daya. Orang tua yang tidak memiliki pengetahuan tentang pengasuhan yang baik atau tidak memiliki dukungan sosial yang memadai lebih mungkin menggunakan kekerasan sebagai cara untuk mengatasi frustrasi. Apakah Anda tahu bahwa pendidikan tentang pengasuhan yang positif dapat mengurangi risiko kekerasan terhadap anak?

Dengan memahami faktor-faktor penyebab ini, kita dapat mulai merancang intervensi yang lebih efektif untuk mencegah kekerasan terhadap anak. Namun, upaya ini memerlukan kerjasama dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Bagaimana kita bisa bekerja sama untuk menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak?

Upaya Pencegahan Kekerasan terhadap Anak

Pencegahan kekerasan terhadap anak memerlukan pendekatan yang komprehensif dan berkelanjutan. Salah satu langkah awal yang penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu ini. Kampanye pendidikan yang menyoroti dampak kekerasan terhadap anak dan pentingnya pengasuhan yang positif dapat membantu mengubah pandangan masyarakat. Apakah Anda siap untuk menjadi bagian dari perubahan ini?

Selain itu, dukungan bagi keluarga yang berisiko juga sangat penting. Program-program yang menyediakan bantuan finansial, konseling, dan pelatihan pengasuhan dapat membantu mengurangi stres yang dialami oleh orang tua. Dengan memberikan dukungan yang tepat, kita dapat mencegah kekerasan sebelum terjadi. Namun, dukungan ini harus diakses oleh mereka yang benar-benar membutuhkannya.

Pendidikan di sekolah juga memainkan peran penting dalam pencegahan kekerasan terhadap anak. Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan mendukung bagi anak-anak. Program-program yang mengajarkan keterampilan sosial, resolusi konflik, dan empati dapat membantu anak-anak belajar bagaimana berinteraksi dengan baik dan menghindari perilaku kekerasan. Apakah Anda tahu bahwa anak-anak yang diajarkan keterampilan ini cenderung memiliki hubungan yang lebih baik dengan teman sebaya mereka?

Epilog

Terakhir, penting untuk melibatkan masyarakat dalam upaya pencegahan. Komunitas yang peduli dan terlibat dapat menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak. Dengan membangun jaringan dukungan dan saling membantu, kita dapat menciptakan budaya yang menolak kekerasan dan mendukung perlindungan anak. Mari kita bersama-sama berkomitmen untuk menciptakan dunia yang lebih baik bagi generasi mendatang.

Kekerasan terhadap anak adalah isu yang kompleks dan mendesak, tetapi dengan pemahaman yang lebih baik tentang bentuk, dampak, faktor penyebab, dan upaya pencegahan, kita dapat berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih aman bagi anak-anak.

Setiap dari kita memiliki peran dalam memerangi kekerasan ini, dan dengan bekerja sama, kita dapat memutus siklus kekerasan yang telah berlangsung terlalu lama. Mari kita berkomitmen untuk melindungi anak-anak kita dan memberikan mereka masa depan yang lebih baik. []

Tags: Hak anakkekerasan terhadap anakkeluargaparentingperlindungan anakRelasi
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Paradigma KUPI

Next Post

Membumikan Tiga Pendekatan KUPI

Yayat Hidayat

Yayat Hidayat

Perantau-Santri-Abdi Negara

Related Posts

Ngaji Manba’us-Sa’adah
Personal

Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

4 Maret 2026
Keluarga Berencana
Aktual

Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

4 Maret 2026
Pernikahan Disabilitas
Disabilitas

Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

4 Maret 2026
Adil
Pernak-pernik

Perspektif Mubadalah Dorong Terwujudnya Relasi Adil dan Setara

28 Februari 2026
Obsessive Love Disorder
Publik

Obsessive Love Disorder: Antara Ketulusan Emosional dan Ancaman Psikososial

28 Februari 2026
Alam dan Manusia
Lingkungan

Alam dan Manusia Sebagai Rekan dalam Memuji Sang Pencipta

27 Februari 2026
Next Post
Pendekatan KUPI

Membumikan Tiga Pendekatan KUPI

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Meski Dhaif, Konsep Tiga Fase Ramadan Tetap Populer di Masyarakat
  • Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan
  • Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan
  • Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun
  • Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0