Sabtu, 7 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    Pelecehan Seksual

    Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    Pernikahan sebagai

    Relasi Pernikahan sebagai Ladang Kebaikan dan Tanggung Jawab Bersama

    Istri adalah Ladang

    Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    Pelecehan Seksual

    Pelecehan Seksual yang Dinormalisasi dalam Konten POV

    Perkawinan Beda Agama

    Mengetuk Keabsahan Palu MK, Membaca Putusan Penolakan Perkawinan Beda Agama

    Anak NTT

    Di NTT, Harga Pulpen Lebih Mahal daripada Hidup Seorang Anak

    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Merawat Tradisi di Tengah Keberagaman

    Laki-laki Provider

    Benarkah Laki-laki dengan Mental Provider Kini Mulai Hilang?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    Pernikahan sebagai

    Relasi Pernikahan sebagai Ladang Kebaikan dan Tanggung Jawab Bersama

    Istri adalah Ladang

    Memaknai Ulang Istri sebagai Ladang dalam QS. al-Baqarah Ayat 223

    Kerusakan di Muka Bumi

    Al-Qur’an Menegaskan Larangan Berbuat Kerusakan di Muka Bumi

    Dakwah Nabi

    Peran Non-Muslim dalam Menopang Dakwah Nabi Muhammad

    Antara Non-Muslim

    Kerja Sama Antara Umat Islam dan Non-Muslim

    Antar Umat Beragama

    Narasi Konflik dalam Relasi Antar Umat Beragama

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom

Mengenal Istilah Barakah Yang Menjadi Buah Bibir di Lingkungan Pesantren

Dalam konteks seorang santri yang mencari barakah pada sang kiai tergolong sebagai Tabarruk, karena mengharapkan kebaikan melalui kiai sebagai sarananya

Syukron Hafid by Syukron Hafid
2 Februari 2026
in Hikmah, Lingkungan
A A
0
Mengenal Istilah Barakah

Mengenal Istilah Barakah

21
SHARES
1k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Di era globalisasi saat ini atau istilah kerennya ‘zaman now’, istilah baaokah sudah jarang sekali digemari orang-orang dan santri secara khusus, alih-alih popularitas, status sosial dan finansial. Hal ini berbeda dengan keadaan orang-orang terdahulu. Di mana orientasi kehidupannya adalah mencari barakah. Khususnya para santri. Dari sini, secara lebih dekat mari kita mengenal istilah barakah.

Ada banyak sekali kisah-kisah menarik tentang para pencari barakah. Di antara kisahnya semisal kisah seorang santri yang mengabdi jadi supir kiai – menjadi orang alim sebab memperoleh barakah -, tanpa pernah mengaji sama sekali pada kiai. Bahkan bisa membangun pondok pesantren sendiri saat pulang ke kampung halamannya, bukan hanya alim.

Sementara untuk kisahnya seseorang yang bukan santri. Semisal kisahnya seorang pedagang toko kelontong kecil. Secara akal, seharusnya ia tak bisa berangkat haji dan kekurangan untuk membiayai anaknya yang lebih dari satu. Namun, ia bisa melakukan ibadah haji dan memberangkatkan anak-anaknya juga, sebab memperoleh barokah.

Untuk itu, barakah merupakan sesuatu yang urgen dan digemari oleh orang-orang terdahulu, baik dari kalangan santri maupun bukan. Tentu, Situasi ini berbeda dengan kondisi yang ada di zaman sekarang. Di mana jarang sekali kisah seperti itu kita temukan. Sehingga tak heran, banyak orang di zaman sekarang tidak terlalu begitu paham mengenai barakah, tak terkecuali para santri.

Akhirnya, menganggap barakah itu tak ada bedanya dengan kesuksesan seseorang. Tak ada bedanya dengan kekayaan, popularitas, dan lain-lain. Bahkan lebih dari itu, terkadang seseorang di zaman sekarang tidak mempercayai adanya barakah. Padahal, pemahaman barakah tidak demikian adanya dan memang benar-benar ada secara riil.

Apa Barakah Itu?

Kata barakah diambil dari bahasa arab, yaitu Baraka yang makna asalnya adalah tetap serta terus menerus الثبوت واللزوم)). Namun berdasarkan penerapannya, kata ‘baraka’ kita gunakan untuk makna berkembang dan bertambah النماء والزيادة)). (Al-Atsar al-Waridah ‘An Umar bin ‘Abdul Aziz Fi al-Aqidah, juz 1, hal. 249)

Sedangkan barakah secara istilah adalah tetapnya kebaikan Tuhan pada sesuatu (Tsubut al-Khair al-Ilahi fi as-Syai’), baik kebaikan yang sifatnya materi ataupun nonmateri.

Selain kata barakah, ada kata lain yang masih merupakan derivasi darinya, semisal Tabrik. Istilah ini adalah sebutan untuk do’a yang kita panjatkan terhadap seseorang yang ingin mendapatkan keberkahan. Kata lainnya semisal Tabarruk, yaitu mengharap terperolehnya kebaikan melalui sarana tertentu.

Barakah kita anggap sebagai kebaikan Tuhan dalam pengertian istilah yang telah saya sebutkan di atas, karena Ia merupakan sumber yang menganugerahkan kebaikan dari barakah tersebut. Hal ini tercermin dalam beberapa nash al-Qur’an dan hadist, di antaranya;

تَبَارَكَ الَّذِي نَزَّلَ الْفُرْقَانَ عَلَى عَبْدِهِ…

Mahasuci Allah yang telah menurunkan Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya (Muhammad)… (Q.S. Al-Furqon: 25: 1)

Makna Tabaraka pada ayat di atas yaitu begitu agung, banyak, dan langgengnya kebaikan dzat yang telah menurunkan al-Furqan pada seorang hambanya, yakni Muhammad.

Ayat di atas menunjukkan bahwa hanya Allah sajalah yang bisa menganugerahkan kebaikan dari barakah tersebut, sementara makhluknya tak bisa mendatangkan barokah. (At-Tamhid li Syarhi Kitab at-Tauhid, juz 1, hal. 124).

Mencari Barakah Sang Kiai

Dalam konteks seorang santri yang mencari barakah pada sang kiai tergolong sebagai Tabarruk, karena mengharapkan kebaikan melalui kiai sebagai sarananya. Tabarrukan kepada seorang guru telah maklum di kalangan para santri, bahkan sudah menjadi adat istiadat. Lebih tepatnya, tabarruk yang santri lakukan tersebut tergolong sebagai Tabarruk bi as-Syakhsy.

Detailnya, klasifikasi dari Tabarruk ada dua macam, yaitu melalui sarana tempat ataupun waktu (Amkinah wa Azminah) dan melalui sarana manusia tertentu (Al-Asykhas).

Ngalap berkah melaui sarana tempat ataupun waktu bisa kita lakukan, semisal di Baitullah al-Haram, Baitul Maqdis, bulan Ramadhan, dan lain sebagainya. Hal ini berdasarkan nash al-Qur’an maupun hadist, di antaranya firman Allah surah al-Isra’, ayat 1, sebagai berikut:

…الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ…

…Yang telah kami berkahi sekelilingnya…(Q.S. Al-Isra’: 17: 1)

Lantas ngalap berkah melalui sarana manusia tertentu maksudnya adalah para nabi, para rasul, dan orang-orang mukmin. Artinya, dalam diri mereka sudah mendapatkan keberkahan dari Tuhan. Sehingga, apabila ada seseorang yang ingin ngalap berkah pada mereka diperbolehkan secara syariat. Meski tidaklah mutlak (dalam situasi dan kondisi apapun).

Untuk itu, tidak heran apabila ada sahabat yang ngalap barakah pada bekas air wudhu’, keringat, darah, dan rambut Nabi Muhammad. Di antara mereka, semisal Khalid bin Walid yang Tabarrukan dengan rambutnya Rasulullah yang ia letakkan di dalam pecinya.

Kemudian dikisahkan bahwa Khalid bin Walid tidak pernah kalah dalam setiap peperangan yang ia pimpin. Saking hebatnya –hal ini lantaran ia memperoleh barakah dari rambut kanjeng Nabi. (Mafahim Yajibu ‘an Tushoshah : 233).

Mengharap Barakah Nabi dan Rasul

Barakah yang para Nabi dan Rasul hasilkan ini dinamakan dengan Barokatun Dzatiyyun. Yakni dzat tubuh mereka sudah mendapat barakah dari gusti Allah yang bisa berpindah pada orang yang memperolehnya (dzat tubuh itu).

Barakah yang para Nabi dan Rasul miliki  ini hanya terkhusus bagi mereka. Sedangkan orang mukmin tidak memiliki barakah tersebut. Bahkan, para wali pun tidak memiliki barakah itu. Untuk itu, seorang santri tidak boleh mencari barakah melalui keringat, rambut, bekas air wudhu’ dan darah dari seorang kiai.

Karena, sebagaimana sejarah sebutkan  bahwa para sahabat dan tabi’in tidak pernah sama sekali ngalap berkah yang sama pada Sayyidina Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Ali –di samping mereka adalah paling utamanya ummat Rasulullah.

Dengan demikian, barakah yang orang-orang mukmin miliki, sebagaimana penjelasan dalam Q.S Al-A’raf, ayat 6, adalah bukan Dzatiy. Melainkan, barakah yang sifatnya ada pada amal mereka. Sehingga, apabila kita meniru dakwah, aktivitas, keilmuan dan keimanan yang mereka miliki, maka kita akan mendapat barakah sebab Tabarrukan dengan salah satu amal yang pernah mereka lakukan.

Kemudian, Syekh Sholeh bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Ibrahim, pengarang kitab At-Tamhid li Syarhi Kitab at-Tauhid menyebutkan dalam kitab yang beliau karang itu mengenai tata cara ngalap berkah pada seorang guru yang dalam ilmunnya.

Beliau menerangkan bahwa seorang murid bisa ngalap berkah dengan cara menguras keilmuan yang dimiliki sang guru serta beristifadah terhadap mereka. Bukan dengan cara meminum bekas minuman, mengambil sisa air wudhu’nya, dan lain sebagainya. Hal ini disebabkan masih belum kita temukan dalil yang kuat serta Ulama’ salaf belum pernah mempraktikkannya kecuali terhadap Nabi Muhammad.

Tata Cara “Ngalap Berkah”

Abuya Sayyid al-Maliki al-Hasani juga menerangkan tentang tata cara ngalap berkah pada seorang guru, sebagaimana telah masyhur ungkapan ini di telinga para santri; : “Tsabatul ilmi bil mudzakaroh, wabarokatuhu bil-khidmah, wanaf’uhu biridha as-syaikh.” (Melekatnya ilmu dengan cara mengulang-ulang pelajaran yang telah didapat, barakahnya ada di khidmah, sedang kemanfaatannya berada di ridla seorang guru).

Demikianlah penjelasan barakah beserta dengan macam-macamnya. Namun, penting kita garis bawahi bahwa barakah tidak selalu berorientasi pada kekayaan, kecerdasan, ketampanan, kesehatan fisik, dan tanah yang subur.

Atau pada hal lain yang kelihatannya berupa nikmat material. Karena, kenimatan tersebut tidak akan ada gunanya apabila digunakan oleh selain orang yang tepat. Semisal kecerdasan yang dimiliki oleh seorang koruptor.

Pada intinya, kebaikan yang kita peroleh sebab barakah sifatnya agak sulit dinalar dengan akal orang yang orientasinya material. Sebab, tetapnya kebaikan Tuhan pada sesuatu hal tertentu tidaklah bisa kita rasakan. Karena banyaknya anugerah kenikmatan tuhan pada manusia.

Entah itu nikmat material atau nonmaterial. Semisal penyakitnya Nabi Ayyub adalah merupakan keberkahan dari Allah, sebab dapat mengantarkan beliau pada ketaatan dan kesabaran akan ujian Allah Swt.  (Risalah as-Syirki wa Madzahirihi, 149)

Barakah dan Moral Immanuel Kant

Dalam prinsip filsafat moral Immauel Kant juga mempunyai konsep kebaikan yang sama dengan konsep yang ada dalam barakah dalam islam. Meski dia bukan orang islam, namun hasil-hasil pemikirannya begitu sesuai dengan ajaran islam.

Tegasnya, filsuf Jerman itu mengatakan bahwa apa yang kita sebut baik, ternyata tidak selalu baik. Semisal, kekayaan seorang konglomerat yang digunakan untuk menindas orang lain dan kesehatan tubuh seorang pencuri.

Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa betapa banyak orang baik yang kehidupannya sepintas tampak tidak berbahagia. Sementara, banyak orang jahat yang kehidupannya tampak berbahagia. Seolah hal ini paradoks dengan kata mutiara ‘setiap kebaikan akan mendatangkan kebaikan pula’. Karena dengan demikian, seolah tidak ada gunanya orang baik berbuat baik.

Sebab hal itu, tindakan moral seseorang akan menjadi bermakna, apabila telah memenuhi beberapa kategori. Yaitu kebebasan seseorang yang berbuat baik, imortalitas jiwa, dan Tuhan. Sebab dengan adanya beberapa kategori itu, orang jahat yang hidup berhagia di dunia akan mendapat balasan yang setimpal dari Tuhan kelak di akhirat. Wallahua’lam. []

Tags: BarakahHikmahkehidupanmanusiaPondok PesantrenSantri
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Ruang Relasi Sosial Harus Dibangun dengan Pondasi Persaudaraan

Next Post

Bolehkan Menjawab Salam dari Orang Berbeda Agama?

Syukron Hafid

Syukron Hafid

Lahir di Sumenep, Madura. selain tulisan ilmiah, ia juga menyukai tulisan fiksi. Kuliah di Ma'had Aly Situbondo. Untuk bertegur sapa, bisa melalui IG @syukron.hafid dan FB: S Hafidz

Related Posts

Cat Calling
Publik

Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

7 Februari 2026
Dr. Fahruddin Faiz
Lingkungan

Dr. Fahruddin Faiz: Kerusakan Alam sebagai Cermin Moral Manusia

4 Februari 2026
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati
Buku

Buku Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati; Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental

2 Februari 2026
peran menyusui
Pernak-pernik

Menghormati Peran Ibu Menyusui

2 Februari 2026
Gotong-royong
Lingkungan

Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

2 Februari 2026
Labiltas Emosi
Personal

Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

26 Januari 2026
Next Post
Menjawab Salam

Bolehkan Menjawab Salam dari Orang Berbeda Agama?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih
  • Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia
  • Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an
  • Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?
  • Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0