Mubadalah.id – Harlah Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar peringatan bertambahnya usia sebuah organisasi keagamaan terbesar di Indonesia. Ia adalah momentum reflektif sekaligus afirmatif bagi seluruh warga nahdliyin, khususnya para aktivis keagamaan, untuk meneguhkan kembali peran, tanggung jawab, dan arah perjuangan di tengah dinamika sosial yang terus berubah.
Di usia NU yang kian matang, tantangan zaman tidak semakin ringan, justru semakin kompleks. Karena itu, Harlah NU harus kita maknai sebagai ruang evaluasi dan penguatan peran aktivis keagamaan agar tetap relevan, progresif, dan berpijak pada nilai-nilai keislaman yang rahmatan lil ‘alamin.
Harlah NU sebagai Momentum Refleksi Sejarah dan Ideologi
NU lahir dari kesadaran para ulama untuk menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta melindungi tradisi keagamaan umat dari arus purifikasi yang mengabaikan kearifan lokal. Sejak berdiri pada 31 Januari 1926, NU tidak hanya berfungsi sebagai jam’iyah diniyah, tetapi juga sebagai kekuatan sosial yang aktif membela kepentingan umat dan bangsa. Sejarah panjang NU menunjukkan konsistensi dalam memadukan nilai keislaman, keindonesiaan, dan kemanusiaan.
Dalam konteks ini, Harlah NU menjadi momentum penting bagi aktivis keagamaan untuk kembali membaca sejarah dan memahami ideologi perjuangan NU. Tanpa pemahaman sejarah yang utuh, aktivisme keagamaan berpotensi kehilangan arah dan mudah terjebak pada pragmatisme sesaat. Aktivis NU perlu menyadari bahwa perjuangan yang mereka lanjutkan hari ini adalah estafet panjang dari para kiai dan ulama pendiri NU yang mengedepankan moderasi, toleransi, dan keseimbangan.
Refleksi ideologis juga penting agar aktivis keagamaan tidak terjebak pada simbolisme belaka dalam merayakan Harlah NU. Seremonial peringatan harus kita barengi dengan penguatan nilai. Ideologi Aswaja bukan sekadar jargon, melainkan prinsip hidup yang menuntut penerjemahan nyata dalam sikap sosial, dakwah, dan gerakan keumatan. Dari sinilah aktivis keagamaan menemukan pijakan moral dalam setiap langkah perjuangannya.
Tantangan Zaman dan Tanggung Jawab Aktivis Keagamaan
Di era digital dan globalisasi, tantangan yang dihadapi aktivis keagamaan semakin beragam. Munculnya paham keagamaan ekstrem, disinformasi berbasis agama, hingga komersialisasi dakwah menjadi persoalan nyata yang menuntut respons cerdas dan bijaksana. Aktivis keagamaan NU tidak cukup hanya mengandalkan metode konvensional, tetapi harus adaptif terhadap perkembangan zaman tanpa meninggalkan nilai dasar.
Harlah NU menjadi pengingat bahwa peran aktivis keagamaan hari ini tidak hanya berkutat di masjid, pesantren, atau forum pengajian. Media sosial, ruang publik, hingga kebijakan sosial menjadi ladang dakwah baru yang membutuhkan kehadiran aktivis NU dengan wajah Islam yang sejuk dan mencerahkan. Di sinilah pentingnya aktivis keagamaan memiliki kapasitas intelektual, literasi digital, dan kepekaan sosial.
Selain itu, tantangan internal juga tidak kalah penting. Fragmentasi gerakan, lemahnya kaderisasi, dan minimnya konsistensi gerakan sering kali menghambat peran aktivis keagamaan. Momentum Harlah NU seharusnya digunakan untuk memperkuat solidaritas, memperbaiki pola kaderisasi, dan meneguhkan komitmen kolektif dalam berkhidmat. Aktivisme keagamaan bukan ruang mencari popularitas, melainkan medan pengabdian yang menuntut kesabaran dan keikhlasan.
Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan untuk Masa Depan NU dan Bangsa
Merayakan Harlah NU pada akhirnya harus bermuara pada penguatan peran aktivis keagamaan untuk masa depan NU dan bangsa Indonesia. Aktivis NU adalah garda terdepan dalam menjaga harmoni sosial, memperkuat nilai kebangsaan, dan merawat keberagaman. Dalam konteks kebangsaan, NU telah membuktikan perannya melalui komitmen pada Pancasila, NKRI, dan demokrasi. Aktivis keagamaan memiliki tanggung jawab melanjutkan komitmen tersebut di tengah menguatnya politik identitas dan polarisasi sosial.
Penguatan peran aktivis keagamaan juga menuntut adanya kesadaran untuk terus belajar dan bertransformasi. Aktivis NU perlu memperluas wawasan keilmuan, tidak hanya dalam studi keislaman, tetapi juga dalam isu sosial, ekonomi, lingkungan, dan budaya. Dengan demikian, dakwah dan gerakan yang dilakukan tidak bersifat normatif semata, tetapi solutif dan kontekstual.
Harlah NU adalah pengingat bahwa perjuangan belum selesai. Setiap generasi memiliki tantangan dan medan juangnya sendiri. Aktivis keagamaan hari ini dituntut untuk menjadi jembatan antara tradisi dan modernitas, antara nilai dan realitas. Dengan menjadikan Harlah NU sebagai momentum konsolidasi dan penguatan peran, aktivis keagamaan dapat memastikan bahwa NU tetap menjadi pilar umat dan bangsa yang kokoh, relevan, dan berdaya guna. []



















































