Rabu, 28 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Nyadran Perdamaian

    Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

    WKRI

    WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    Tadarus Subuh

    Tadarus Subuh ke-178: Melakukan Kerja Rumah Tangga

    Fiqh al-Murūnah

    Fiqh al-Murūnah dan Hak Digital Disabilitas

    Joko Pinurbo

    Menyelami Puisi Kritis Joko Pinurbo Bersama Anak-anak

    Gotong-royong

    Gotong-royong Merawat Lingkungan: Melawan Ekoabelisme!

    Korban Kekerasan

    Mengapa Perempuan Disabilitas Lebih Rentan Menjadi Korban Kekerasan Seksual?

    Labiltas Emosi

    Mengontrol Labilitas Emosi, Tekanan Sosial, dan Jalan Hidup yang Belum Terpetakan

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Ummu Syuraik

    Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi

    Perempuan Kaya

    Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    Kerja Perempuan

    Islam Mengakui Kerja Perempuan

    Penggembala

    Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    Kerja adalah sedekah

    Kerja Perempuan Bernilai Sedekah

    Pelaku Ekonomi

    Perempuan sebagai Pelaku Ekonomi Sejak Awal Islam

    Spiritual Ekologi

    Kiat Spiritual Ekologi Rasulullah dalam Merawat Alam

    Iddah

    Iddah sebagai Masa Pemulihan, Bukan Peminggiran

    iddah

    Perempuan, Iddah, dan Hak untuk Beraktivitas

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Rujukan Ayat Quran

Mubadalah sebagai Jalan Kemenyatuan dengan Allah Swt

Tafsir ayat 21-29 Surat al-Baqarah

Faqih Abdul Kodir by Faqih Abdul Kodir
9 Agustus 2020
in Ayat Quran
A A
0
Mubadalah sebagai Jalan Kemenyatuan dengan Allah Swt

Ilustrasi alam (sumber: yufidia.com)

556
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Pembicaraan sebelumnya, sejak awal Surat al-Fatihah, mengenai panduan hidup (hidayah), yang berakar pada kehambaan kita pada Allah Swt dan berdampak pada relasi kemanusiaan kita antar sesama, adalah untuk membangkitkan kesadaran kita akan tujuan hidup. Hidup ini, jika tanpa tujuan yang jelas, ia tidak akan bermakna. Kenikmatan yang datang hanya akan dirasakan sekadar kesenangan lahiriyah belaka yang sesaat. Apalagi kesengsaraan, yang pasti selalu ada dalam hidup, tanpa tujuan hidup, akan mudah melumpuhkan jiwa dan menghancurkan perasaan.

Al-Qur’an berkal-kali, dalam berbagai ayat, selalu mengingatkan kita pada tujuan-tujuan hidup yang harus kita capai. Baik yang pendek, menengah, maupun yang panjang dan jauh ke depan. Yang utama adalah kemenyatuan jiwa kita dengan Allah Swt. Kita berasal dari-Nya dan akan kembali kepada-Nya (QS. Al-Baqarah, 2: 156). Berkali-kali hal ini diingatkan al-Qur’an. Kemenyatuaan ini adalah kisah asal muasal kita, sebagai manusia. Ini juga sekaligus tujuan hidup di sini, sekarang, dan di sana, kelak di hari akhir nanti. Jiwa kita ini, jika sering diajak mengingat-Nya (dzikrullaah), ia akan mudah tenang, nyaman dan bahagia (QS. Ar-Ra’d, 13: 28). Dan hanya dalam kejiwaan yang tenang inilah, kita akan mudah menyatu dan pulang kembali kepada Allah Swt (QS. Al-Fajr, 89: 28).

Salah satu tujuan hidup, yang merupakan bagian dari tujuan kemenyatuan ini, yang sering disebut al-Qur’an adalah meraih ketakwaan. Takwa, seperti yang telah dijelaskan, adalah kesadaran kita akan kehadiran Allah Swt, sehingga kita merasa terlindungi dari segala keburukan dan terberi dengan segala kebaikan. Tentu saja, setiap orang tidak bisa terlepas dari kondisi buruk dan baik, cemas dan bahagia, atau negatif dan positif, tetapi takwa akan menjadi filter agar dampak dari keduanya tidak menghancurkan jiwa kita, melainkan justru memperkuat ketahanan dan ketangguhan kepribadian kita (QS. Al-Hadid, 57: 23). Takwa, karena itu dalam kata lain, adalah ketahanan dan ketangguhan jiwa.

La’allakum tattaquun. Agar kalian semua bertakwa. Agar kalian semua sadar dengan kehadiran-Nya. Agar kalian semua terlindungi dari segala keburukan. Agar kalian semua tahan dan tangguh jiwanya. Kata “la’alla” mengingatkan kita pada tujuan. Diartikan dalam bahasa Indonesia “agar supaya”. Kata ini disebut al-Qur’an sebanyak 129 kali, mengenai tujuan berbagai hal terkait kehidupan ini. Yang persis dengan ungkapan “la’allakum tattaquun” ada di 6 ayat di berbagai surat al-Qur’an.

Yaitu, ada tentang kehambaan kita pada-Nya yang bertujuan ketakwaan (QS. Al-Baqarah, 2: 21), belajar dari pelajaran kaum terdahulu (QS. Al-Baqarah, 2: 63 dan al-A’raf, 7: 171), hukuman setimpal (QS. Al-Baqarah, 2: 179), puasa kita dan orang-orang terdahulu (QS. Al-Baqarah, 2: 183), dan ada tentang memelihara harta anak yatim (QS. Al-An’am, 6: 153).

Al-Baqarah (2: 21) adalah ayat pertama secara tertib penempatan Mushaf dengan frase “la’allakum tattaquun”. Ia mengingatkan pada tujuan hidup kita, untuk terus merasakan kehadiran Allah Swt dalam kehidupan ini, agar terlindungi dari segala keburukan, dan terlahir jiwa-jiwa yang tangguh menghadapi segala percobaan hidup, tahan banting, dan tenang.

Ayat ini mengingatkan manusia akan kehambaan mereka semua di hadapan Allah Swt, melalui kenyataan bahwa kita dan semua orang-orang terdahulu kita adalah ciptaan-Nya (2: 21), yang sama-sama menikmati bumi yang indah ini, yang juga merupakan ciptaan-Nya (2: 22).

Bisa saja, seseorang masih ragu dengan kisah hidup asal muasal manusia ini, dengan panduan dan tujuanya, lalu juga menyangsikan rujukannya, yaitu al-Qur’an, maka Allah Swt menantangnya untuk mendatangkan rujukan yang sepadan, dengan kisah lain, yang juga sepadan (2: 23). Tentu saja tidak bisa, dan kalaupun ada, maka rujukan dan kisah hidup yang didatangkannya justru akan menjerumuskannya pada kehidupan sengsara, dan berakibat masuk di dalam neraka (2: 24).

Orang-orang yang beriman pada kisah hidup ini, tentu saja dibarengi dengan perilaku dan tindakan nyata berupa perbuatan-perbuatan baik (‘amal shalih), maka tiada balasan yang setimpal bagi mereka kecuali surga (2: 25). Ayat ini menyebutnya “jannaat”, kebun-kebun yang rindang, kanan dan kirinya ada sungai-sungai mengalir, penuh pohon-pohon buah, dan para penghuninya hidup bersama dengan pasangan yang tulus dan setia (azwaajan muthahharah).

Orang-orang yang beriman pada kisah hidup ini, menerima panduan (hidayah) dan mengejar tujuanya (taqwa), bisa belajar, bahkan dari lalat sekalipun. Sementara orang-orang yang ingkar, tidak akan bisa belajar dari apapun, sehingga mereka akan terus melawan dan berbuat onar (2: 26).

Karena tidak beriman, tidak memiliki panduan dan tujuan hidup, mereka akan mudah mengkhianati komitmen, menghancurkan kesepakatan yang kuat sekalipun, memutus tali persaudaraan, dan melakukan kerusakan-kerusakan di muka bumi. Mereka juga, sesungguhnya, merugikan diri mereka sendiri (2: 27).

Mereka yang ingkar dan berbuat onar ini, tidak sadar bahwa sesungguhnya dulu tidak ada. Mereka diciptakan Allah Swt, lalu hidup. Sehebat dan sekuat apapun, usia mereka akan habis, lalu meninggal dunia. Mereka juga akan dihidupkan kembali, dihadapkan kepada-Nya, untuk mempertanggung-jawabkan apa yang mereka perbuat di muka bumi ini. (2: 28).

Iman atau ingkar, kita semua akan kembali kepada-Nya. Karena kita, hakikatnya, berasal dari-Nya. Dia lah yang menciptakan dan menyediakan segala sesuatu di muka bumi ini, untuk kita semua, terlepas kita beriman ataupun ingkar (2: 29).

Yang beriman akan sadar dengan kisah hidup ini, lalu memiliki panduan (hidayah) dan tujuan hidup yang jelas (taqwa). Yang ingkar, mungkin akan mencari-cari sendiri, dan jika yang ditemukannya adalah selain kisah, panduan, dan tujuan hidup ini, maka mereka pasti akan berbuat onar, membikin kerusakan, dan sesungguhnya mereka merugikan diri mereka sendiri.

Kisah asal muasal hidup manusia ini penting selalu dihadirkan agar kita memiliki panduan (hidayah) dan tujuan (taqwa) dalam menjalani kehidupan ini. Takwa adalah kemenyatuan kita dengan Allah Swt. Kemenyatuan ini, seperti digambarkan dalam Surat al-Fatihah, hanya mungkin dimulai dengan kesadaran kehambaan kita, semua umat manusia, di hadapan-Nya. Karena hanya dengan cara inilah, kita mengakui-Nya sebagai Tuhan, dan kita merasa penting untuk kembali pada-Nya. Orang yang tidak sadar kehambaan dirinya di hadapan-Nya tidak akan merasa perlu kembali pada-Nya, dia akan menjauh, dan tersesat dari jalan-Nya. Dia tidak sadar. Dia ingkar. Dia lalu tidak mau menyatu.

Ini sisi vertikal dari kesadaran kemenyatuan kita pada Allah Swt (taqwa). Sisi lain, yang horizontal, karena hanya Allah Swt yang Tuhan, maka semua manusia diperlakukan sebagai sesama hamba-hamba-Nya, yang setara, bermartabat, dan mulia. Relasi antar hamba, yang terlahir dari kesadaran kemenyatuan dengan-Nya, adalah relasi kesalingan dan kerjasama (mubadalah).

Ada banyak orang yang mungkin mengklaim menyatu dengan Allah Swt, atau menjadi juru bicara-Nya. Tetapi jika tidak dibarengi dengan relasi kesalingan dan persaudaran antar sesama, maka klaimnya adalah bohong dan palsu.

Misalnya, al-Qur’an menegaskan bahwa Allah dan Rasul-Nya mengajak pada kehidupan (QS. QS. Al-Anfal, 8: 24), maka jika ada pendakwah yang mengajak pada kematian, pasti dia pembohong. Al-Qur’an menegaskan misinya adalah kasih sayang (QS. Al-Anbiya, 21: 107), maka penceramah Islam yang menebar kebencian dan permusuhan adalah pasti pembohong.

Al-Qur’an menegaskan bahwa relasi antara laki-laki dan perempuan adalah kemitraan dan kesalingan (QS. At-Taubah, 9: 71), baik dalam hal ritual, familial, maupun sosial, maka ustadz atau ustadzah yang sehari-hari merendahkan perempuan di hadapan laki-laki, menganggapnya harus selalu taat dan patuh kepadanya, bukan sama-sama patuh kepada Allah Swt, memintanya tunduk dan melayani laki-laki, bukan saling melayani satu sama lain untuk tunduk pada Allah Swt, maka dipastikan mereka adalah pembohong.

Jikapun bukan pembohong, mereka adalah salah jalan dan salah tujuan. Bisa jadi, mereka orang-orang baik, beriman dengan kisah hidup manusia yang diceritkan al-Qur’an, yakin dengan panduan (hidayah) dan tujuan hidup (taqwa), menerima dan berkomitmen dengan kehambaan pada-Nya, mereka ingin menuju alamat yang sama, menyatu dengan-Nya, tetapi alamat dan tujuannya salah. Kemenyatuan dengan Allah Swt hanya bisa diawali dengan penghambaan kepada-Nya (‘ubudiyah) dan diartikulasikan dengan relasi kesalingan antar sesama (mubadalah).

Demikianlah panduan (hidayah) dan jalan yang lurus itu (ash-shiroot al-mustaqiim). Demikianlah jalan yang akan membawa kita sampai pada alamat tujuan kita, kembali kepada Allah Swt, menyatu dengan-Nya. Semoga kita semua terus diberi petunjuk dan panduan, untuk merambah jalan ini, agar sampai, kembali, dan menyatu dengan Allah Swt sebagai jiwa-jiwa yang tenang dan tentram (an-nafs al-muthma’innah). Amiin.

Yaa ayyatuhan nafsul muthma’innah, Iriji’ii ilaa rabbiki roodhiyatan mardhiyyah, fadkhulii fii ‘ibaadii wadkhulii jannatii.

Tags: jalan AllahtafsirTafsir al-Baqarahtafsir al-qurantafsir mubadalahTasawuf al-Qur'anTasawuf Mubadalah

Get real time update about this post categories directly on your device, subscribe now.

Unsubscribe
This work is licensed under CC BY-ND 4.0
Faqih Abdul Kodir

Faqih Abdul Kodir

Founder Mubadalah.id dan Ketua LP2M UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon

Related Posts

Membaca Disabilitas dalam Al-Qur'an
Publik

Dari ‘Abasa hingga An-Nur: Membaca Disabilitas dalam Al-Qur’an

22 Januari 2026
Adil Bagi Perempuan
Pernak-pernik

Ulama Perempuan Dorong Islam yang Lebih Adil bagi Perempuan

25 Januari 2026
Mukjizat dalam Islam
Publik

Bagaimana Memahami Mukjizat dalam Islam Menurut Dilthey?

19 Januari 2026
Aktivis Perempuan
Publik

Aktivis Perempuan Dorong Tafsir Islam yang Berkeadilan Gender

9 Januari 2026
Tafsir Agama
Publik

KUPI Hadir Menjawab Kebuntuan Tafsir Agama dalam Isu Perempuan

6 Januari 2026
Bahasa
Publik

Bahasa, Tafsir, dan Logika Setan: Membaca Kembali Teks Suci dengan Kesadaran Hermeneutik

5 Januari 2026
Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Teologi Tubuh Disabilitas

    Tuhan Tidak Sedang Bereksperimen: Estetika Keilahian dalam Teologi Tubuh Disabilitas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • WKRI dan Semangat dalam Melayani Gereja dan Bangsa

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Perempuan Penggembala pada Masa Nabi Muhammad Saw

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Ummu Syuraik, Perempuan Kaya yang Diakui dalam Hadis Nabi
  • Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan
  • Perempuan Kaya dan Dermawan pada Masa Nabi
  • Refleksi Buku Aku Jalak, Bukan Jablay; Janda, Stigma, dan Komitmen
  • Islam Mengakui Kerja Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Disabilitas
  • Home
  • Indeks Artikel
  • Indeks Artikel
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Search
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0