Kamis, 26 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    Motor Roda Tiga

    Lelucon Motor Roda Tiga

    Married Is Scary

    Married is Scary (No), Married is a Blessing (Yes?)

    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

    Over Think Club

    Mubadalah.id Gelar Over Think Club Selama Ramadan, Angkat Isu Pernikahan, Disabilitas, hingga Kesehatan Mental

    RUU PPRT dan

    Nyai Badriyah Fayumi: Penundaan RUU PPRT Bukti Negara Mengabaikan Hak Pekerja

    RUU PPRT

    KUPI Desak Pemerintah Segera Sahkan RUU PPRT

    Board Of Peace

    Mengapa KUPI Menolak Board of Peace?

    Board Of Peace

    Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan

    Mendidik Rasa Aman

    Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah

    Motor Roda Tiga

    Lelucon Motor Roda Tiga

    Married Is Scary

    Married is Scary (No), Married is a Blessing (Yes?)

    Penegakan Hukum

    Netralitas yang Dipertanyakan: Ujian Etika Penegakan Hukum di Indonesia

    Difabilitas

    Merebut Makna: Disabilitas ke Difabilitas

    Sejarah Penyebaran Islam

    Histori yang Minim Her-story: Membaca Ulang Sejarah Penyebaran Islam di Nusantara Melalui Jalur Perkawinan

    Puasa Membahagiakan

    Puasa Membahagiakan: Memaknai Ramadan dengan Meaningful

    Perspektif Mubadalah

    Bagaimana Perspektif Mubadalah Memahami “Suamimu Surgamu dan Nerakamu”?

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Dakwah Mubadalah

    Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah

    Dakwah Mubadalah sebagai

    Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam

    hak perempuan

    Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

    Penindasan

    Strategi Al-Qur’an Menghapus Praktik Penindasan Perempuan

    sistem patriarki

    Al-Qur’an Menegaskan Kemanusiaan Perempuan di Tengah Sistem Patriarki

    Komunikasi

    Etika Komunikasi di Era Digital demi Menjaga Komitmen Pernikahan

    Laki-laki dan perempuan Berduaan

    Benarkah Islam Melarang Laki-Laki dan Perempuan Berduaan di Tempat Sepi? Ini Penjelasannya

    Praktik Zihar

    QS. Al-Mujadilah Ayat 1 Tegaskan Respons atas Praktik Zihar

    Puasa dan Ekologi Spiritual

    Puasa dan Ekologi Spiritual: Menahan Diri, Merawat Bumi

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Kolom Publik

Narasi Perdamaian dalam Dunia Sepak Bola

Sebagai salah satu olahraga tertua, sepak bola di masa lampau bahkan menjadi olahraga pemersatu ketika Perang Dunia Pertama

Royha by Royha
26 Januari 2024
in Publik, Rekomendasi
A A
0
Dunia Sepak Bola

Dunia Sepak Bola

17
SHARES
872
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Hampir lebih dari tiga bulan terakhir berita terkini di media sosial saya penuh menyoal pemilu. Mulai dari potongan video keren hingga lucu banyak paslon yang beredaran di setiap lini media sosial. Dan itu adalah bagian dari indahnya Indonesia.

Hingga pada akhirnya, suatu sore saya membuka beranda berita  scrool sampai bawah dan terlihat bahwa saat ini Indonesia juga tengah memperjuangkan pertandingan sepak bola dalam ajang Piala Asia 2023 pada Januari 2024 ini.

Sepak bola menjadi olahraga yang banyak digemari oleh banyak kalangan. Tua muda, laki-laki maupun perempuan, banyak yang menyukai olahraga tersebut.

Dalam menciptakan keseimbangan tidaklah cukup hanya berfokus kepada satu hal. Seimbang dalam menjalani kehidupan tentusaja seimbang antara yang kita lakukan sebagaimana aktivitas dengan apa yang kita pikirkan. Dengan demikian keseimbangan akan muncul dari banyak sisi.

Pada momentum perebutan piala Asia  2023 kali ini, saya rasa media sosial kita banyak sekali yang tertimbun oleh narasi yang fokus pada satu aspek. Selain itu kebetulan momentumnya kok ya pas sedang ada pesta demokrasi Pemilu 2024.

Kembali kepada sepak bola, olah raga yang membutuhkan kerjasama antar tim, tidak akan pernah mencetak gol yang indah jika bola hanya digiring dengan seorang saja.

Sepak Bola Simbol pluralisme

Bagaimana tidak, saat banyak sekali pertandingan sepak bola yang terjadwal, baik itu adalah skala lokal, nasional bahkan internasional, yang awalnya atidak menyukai bisa dengan tiba tiba like banget dengan olaharaga satu ini. Mungkin tidak semua setuju, tapi mayoritas pasti banyak yang menyetujui hal ini.

Terdapat sisi yang unik dalam sepak bola. Terlihat dari susunan pemain di sebuah tim. Pemain di sebuah tim tentu berasal dari latar belakang suku, agama, dan ras yang berbeda.

Setiap tim sepak bola, baik klub maupun yang mewakili suatu negara (tim nasional) selalu mencerminkan keragaman asal-usul pemain-agama, etnis atau yang lain-tetapi berada dalam satu ikatan batin dan cita-cita kolektif yang solid dan keberagaman yang arif.

Tidak peduli dari suku yang mana, budayanya bagaimana dan agamanya apa, ketika sudah berkumpul dalam satu lapangan hijau semua akan sama, pun berlaku untuk pendukung dan juga para penontonnya, yang terlintas hanyalah satu, mereka yang bertanding mengharumkan nama negaranya.

Seluruh pemain yang berbeda latar belakang bisa bersatu tanpa adanya batasan dan sesuai dengan ikatan yang ada di dalam tim sepak bola tersebut. Hal ini juga mengajarkan kepada kita bahwa pluralisme ini bisa dibilang sebagai “ruh” dari sepak bola.

Bukan suatu hal yang berlebihan apabila pluralisme ini tidak bisa terjaga dengan baik maka tentu tim sepak bola tersebut tidak hidup dan mengalami kehancuran.

Ruh Perdamaian

Menyoal perdamaian adalah gagasan tentang kebahagiaan. Bagaimana kita mampu menjalani kebahagiaan dengan -berdampingan. Tidak hanya berdampingan dengan pasangan kita, namun juga berdampingan antar negara sedunia, untuk bersama menguatkan gagasan kebahagiaan melalui perdamaian.

Perdamaian memiliki ruh yang sangat penting bagi setiap negara, perdamaian bukan hanya sekedar tidak ada peperangan, lebih dalam daripada itu perdamaian adalah tentang merasakan kebahagiaan dan kebebasan.

Al-Quran menekankan kepada umat Islam untuk menjalankan peran sebagai ummatan wasathan (umat tengah) yang terus dapat mengutamakan moderasi dalam segala aspek kehidupan. Perdamaian tidak hanya menjadi tanggung jawab individu, tetapi juga merupakan tanggung jawab kolektif umat Islam untuk menciptakan masyarakat yang adil dan sejahtera.

Islam mengajarkan pentingnya dialog, toleransi, dan penyelesaian konflik melalui jalan yang damai. Islam melarang tindakan brutal, pembunuhan sembarangan, dan merusak lingkungan selama konflik. Prinsip-prinsip ini mencerminkan kepedulian Islam terhadap kemanusiaan dan menjauhkan umatnya dari tindakan kekerasan yang tidak beralasan. Islam menempatkan keadilan sebagai salah satu nilai utama.

Kanjeng Nabi Muhammad SAW mengajarkan umatnya untuk saling “rahmah” saling cinta kasih tanpa memandang status keragaman yang melekat pada diri manusia. Allah SWT berfirman dalam QS. Al Anfal ayat 61 mengatakan:

وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ

Artinya: “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.

Jika kita menghayati ayat di atas, sungguh indah sekali Allah mengajarkan perdamaian sebagai jalan menuju hakikat ketakwaan kepadanya, bisa juga sebagai jalan menuju cinta kepadanya.

Ayat tersebut mengajarkan dan mengingatkan kepada kita untuk terus dapat merawat perdamaian. Sepak bola sebagai simbol perdamaian menggambarkan betapa tidak ada batasan dan perbedaan dalam kita menikmati olahraga sepakbola, baik pemain maupun suporternya.

Pemersatu Bangsa Melalui Sepak Bola

Sebagai salah satu olahraga tertua, sepak bola di masa lampau bahkan menjadi olahraga pemersatu ketika Perang Dunia Pertama. Singkatnya, pada Perang Dunia Pertama, Inggris dan Jerman sepakat melakukan genjatan senjata dan mengisinya dengan bertanding sepak bola. Seolah mereka melupakan sejenak perang yang sebelumnya saling tembak.

Sepak bola menjadi bahasa universal yang bisa menyatukan. Hal ini mengingat sepak bola tidak melihat dari Suku, Agama dan Ras (SARA), melainkan perbuatannya, penampilannya, kontribusinya serta spiritnya. Bukan dari agamanya, sukunya apalagi ketampanannya.  Kita melihat bagaimana ruh perdamaian tersemat pada ukhuwwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia) terjalin di sepak bola.

Selain itu, Konon juga, sepak bola ampuh untuk meredam konflik horisontal yang terjadi di masyarakat. Untuk hal ini, ada baiknya pemerintah khususnya menteri terkait perlu mencoba dalam menangani konflik-konflik, selain dengan ceramah, seminar dan lobi-lobi, yaitu dengan menggelar turnamen sepak bola di daerah konflik. Dengan digelarnya sepak bola, semua akan menyatu dan kembali jadi manusia, terutama ketika yang dinanti tiba, gooolll. []

 

Tags: Narasi DamaiolahragaPerdamaianPiala Asiasepak bola
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Hai Kids Kekerasan pada Anak itu Nyata dan Ada

Next Post

Melihat Dampak Negatif Perselingkuhan Orang Tua terhadap Anak

Royha

Royha

Perempuan Tanah Air,  fokus Kajian Hukum Ekonomi Syariah, suka masak,sholawatan dan nulis tentang kesalingan. aku dan kamu tidak hanya menjadi kita namun  menjadi bukti rahmat atas alam semesta

Related Posts

Imlek
Publik

Gus Dur, Imlek, dan Warisan Nilai Islam tentang Cinta

17 Februari 2026
Board Of Peace
Aktual

Board of Peace dalam Perspektif KUPI: Ketika Perdamaian Tidak Bisa Diwakilkan

11 Februari 2026
Nyadran Perdamaian
Personal

Nyadran Perdamaian: Belajar Hidup Bersama dalam Perbedaan

28 Januari 2026
ASEAN Para Games
Disabilitas

Disabilitas, ASEAN Para Games, dan Hak Sepanjang Hidup

2 Februari 2026
Pancasila di Kota Salatiga
Publik

Melihat Pancasila di Kota Salatiga

31 Desember 2025
Nostra Aetate
Publik

Nostra Aetate: Refleksi Hubungan Katolik dan Agama Lain

7 November 2025
Next Post
Perselingkuhan

Melihat Dampak Negatif Perselingkuhan Orang Tua terhadap Anak

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Pergeseran Pola Ceramah dalam Perspektif Dakwah Mubadalah
  • Ngaji Manba’us-Sa’adah (1): Menjaga Tradisi, Merawat Keadilan
  • Konsep Dakwah Mubadalah sebagai Pendekatan Kesalingan dalam Islam
  • Pelajaran Pertama tentang Batas: Mendidik Rasa Aman di Dunia yang “Tampak” Ramah
  • Strategi Bertahap Al-Qur’an dalam Memperkuat Hak dan Martabat Perempuan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0