Mubadalah.id – Salah satu kekhawatiran utama masyarakat di setiap zaman adalah mengenai generasi. Sering kali dijumpai dari berbagai kalangan yang menanyakan mengapa generasi yang berkembang saat ini terlihat rentan secara moral, tidak tegas dalam prinsip, dan gampang terpengaruh oleh perubahan zaman? Sebenarnya pertanyaan ini sudah dikenal lama. Dalam perjalanan sejarah, kini hanya bentuknya yang berbeda.
Sedangkan dalam tradisi pemikiran Islam klasik, ulama senantiasa melihat kerusakan generasi ini sebagai kejadian yang tidak terpisah. Dalam artian, fenomena ini adalah sebagai konsekuensi dari kerusakan ekosistem pendidikan, norma, dan contoh. Dalam konteks ini, peran perempuan—khususnya sebagai ibu dan pendidik awal—mendapatkan perhatian yang signifikan.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani, seorang imam besar dalam hadis dan sejarah Islam, tidak menulis risalah khusus tentang “perempuan dan peradaban” sebagaimana pemikir modern. Akan tetapi melalui penjelasannya atas hadis-hadis Nabi ﷺ, sikapnya terhadap tarbiyah, serta pembacaannya terhadap sejarah generasi salaf, beliau menemukan sebuah kerangka berpikir bahwa kekuatan umat selalu mulai dari rumah, dan rumah selalu berdenyut dari peran perempuan di dalamnya.
Perempuan sebagai Poros Kehidupan
Islam memandang perempuan bukan sekadar bagian dari masyarakat, lebih jauh ia adalah porosnya. Ibu, menanamkan nilai sebelum anak mengenal dunia luar. Ia bersama ayah adalah madrasah pertama bagi anak-anaknya, pendidik yang membentuk watak jauh sebelum lembaga pendidikan mengambil alih. Begitu juga dengan posisi sebagai istri yang menjaga stabilitas batin suami.
Ibnu Hajar, ketika menafsirkan hadis-hadis tentang amanah dan tanggung jawab, menekankan bahwa setiap posisi sosial memiliki pengaruh berantai. Dari sini dapat dipahami bahwa jika perempuan—sebagai madrasah pertama—tidak memiliki nilai, maka bisa dipastikan akan berkonsekuensi terhadap penyimpangan generasi.
Salah satu fenomena yang mengemuka hari-hari ini adalah peniruan buta terhadap budaya Barat, terutama dalam gaya hidup, cara berpikir, dan standar kemajuan. Meski begitu, kita tidak bisa menyalahkan pada “Barat” sebagai entitas geografis. Dari kita sendiri bagaimana tidak sampai kehilangan daya seleksi nilai.
Ibnu Hajar al-‘Asqalani sangat meyangkan fenomena ini, sampai beliau menuliskan sebuah redaksi:
وكم يعتصرنا الحزن عندما نرى فتيات في عمر الزهور يقعن فريسة التقليد الأعمى للممثلات والمغنيات الغربيات، وشبابا في ريعان الصبا، ولكنه مائع مستهتر بمبادئ الدين والأخلاق.
“Betapa hati kami teriris oleh kesedihan ketika melihat gadis-gadis di usia belia justru jatuh menjadi korban peniruan buta terhadap para aktris dan penyanyi Barat; dan para pemuda di masa muda yang seharusnya penuh semangat, namun justru lembek dan abai terhadap prinsip-prinsip agama serta akhlak.” Al-Thaqāfah, Ṭā. Al-Islām wa al-Mar’ah. Mu‘jam al-Shaykhah Maryam. Kairo: al-Maktabah al-Shāmilah, 8.
Perspektif Ibnu Hajar al-‘Asqalani
Dalam catatan sejarah para ulama, termasuk Ibnu Hajar al-‘Asqalani sebagai sejarawan terkemuka, kejatuhan suatu bangsa hampir selalu dimulai dengan fase inbihār. Kekaguman yang berlebihan terhadap pihak lain, sampai mengorbankan jati diri sendiri. Saat perempuan dijauhkan dari peran sebagai pendidik nilai dan beralih hanya menjadi simbol, komunitas sebenarnya kehilangan benteng terkuatnya.
Islam tidak melarang keterlibatan perempuan di ruang publik, namun Islam menolak pengurangan peran perempuan hanya sebagai objek modernitas. Dalam perspektif Ibnu Hajar, peran ia anggap bukan dari perhatian, melainkan dari efeknya terhadap agama dan generasi
Ibnu Hajar hidup di masa kemunduran politik umat Islam, tetap optimis terhadap masa depan ilmu dan iman. Optimisme itu bertumpu pada satu hal: kelangsungan transmisi nilai dari satu generasi ke generasi berikutnya. Hingga beliau menawarkan sebuah solusi untuk melahirkan generasi Qur’ani.
Generasi yang tidak hanya menghafal Al-Qur’an, tetapi mentadabburinya. Yaitu generasi yang memahami Sunnah Nabi ﷺ sebagai panduan hidup. Generasi yang mengenal sejarah para sahabat dan salaf untuk membangun kapasitas kepemimpinan.
Beliau menulis begini dalam kitabnya, mu’jam asy-syaikhoh maryam:
فالمرأة ركن أساسي في بناء المجتمع وهي سر سعادته أو شقائه، بصلاحها يصلح الجيل الناشئ وبفسادها يفسد، فهي الأم والزوجة والأخت والمعلمة والمربية، فهي تمثل نصف المجتمع، وهي تلد النصف الثاني، فهي الأمة بأسرها، وعليها أن تجد السبيل لتغيير هذا الواقع الأليم؛ وذلك بالعمل على تربية جيل إيماني، فريد بصفاته وملامحه، جيل يتربي في أحضان العقيدة الربانية، يحفظ القرآن الكريم ويتدبره، ويتفهم معاني السنة النبوية الشريفة، ويتدبر سيرة السلف الصالح من الصحابة المجاهدين الفاتحين ليكون أهلا للقيادة، ويغير مجرى الأمور كلها، ويسهم في قلب موازين القوى في العالم، لتصب في صالح الإسلام والمسلمين، فإذا حققت هذا الهدف وأوجدت هذا الجيل القرآني، فإنها ستكون الصخرة التي ستتحطم عليها مؤامرات من أطلقوا شعار (دمروا الإسلام أبيدوا أهله)
Jadi beliau mengatakan bahwa perempuan menjadi penopang utama dalam kemajuan masyarakat. Di tangan merekalah terletak jalan menuju kebahagiaan atau kehancuran generasi, karena dengan kebaikan mereka, generasi akan berkembang dengan baik, sementara dengan kerusakan mereka, generasi akan hancur.
Sebagai seorang ibu, istri, saudari, guru, dan pendidik, ia bukan cuma melambangkan separuh dari masyarakat, tetapi juga melahirkan dan membentuk separuh lainnya, bahkan dapat kita katakan mencerminkan masyarakat secara keseluruhan.
Oleh karena itu, perempuan kita harapkan untuk berusaha mengubah realitas menyakitkan ini dengan melahirkan generasi yang beriman. Generasi Qur’ani yang berkembang dalam dekapan akidah ilahi, menghafal dan merenungkan Al-Qur’an, memahami sunnah Nabi, serta mencontoh jejak para salaf saleh agar pantas memimpin dan mampu mengubah kondisi.
Jika tujuan ini tercapai, maka perempuan akan menjadi fondasi yang menghancurkan semua usaha dan konspirasi yang berusaha merusak Islam dan umat Muslim. Jadi untuk seorang ibu atau calon ibu, betapa besarnya tanggung jawab Anda. Dan tentu saja sebuah tanggung jawab besar merupakan sebuah kemuliaan. Oleh karena itu mari kita terus berbenah diri untuk menjawab persoalan yang kian terus datang di setiap zaman. []



















































