Mubadalah.id – Jika melihat bagaimana perilaku pelajar zaman sekarang dan zaman dahulu, apa yang terlintas dalam benak saudara? Tentu banyak perbedaan. Ini bukan lagi sekadar perbandingan yang kentara, melainkan fakta yang jarang terlihat.
Sejak sistem pendidikan Islam pertama kali bersemi di Baitul Maal pada zaman Nabi Muhammad saw hingga era kejayaan para Ulama Salaf, perilaku murid tergambar begitu khidmah, sopan, dan beretika. Mereka tidak hanya menghormati guru, tetapi mencintai dan menaatinya.
Kitab Klasik Yang Eksis di Lembaga Pesantren
Di tengah gempuran zaman, dunia pesantren memiliki benteng pertahanan moral bernama Kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab karangan Syaikh Az-Zarnuji ini masih menjadi primadona yang memegang kandidat nomor satu bagi rujukan utama santri untuk memahami hakikat pelajar dalam bersikap.
Meski dengan usia yang usang, kitab ini masih eksis dengan cetakan jutaan eksemplar tidak hanya di Indonesia, melainkan di beberapa wilayah islam. Para Kiai di berbagai pelosok negeri pun selalu menempatkan kitab ini sebagai pelajaran utama dalam kurikulum pendidikan pesantren mereka.
Kitab klasik ini membedah adab secara mendalam mulai dari niat, cara menghormati guru dan teman, ketekunan dan kesabaran, hingga beberapa perilaku yang tak elok bagi murid. Salah satu poin paling krusial adalah cara menghormati guru.
Bagi santri, jasa guru tidak ternilai dengan materi, melainkan terukur dalam keikhlasan dan kesabaran yang mahal harganya. Soal bagaimana mereka menghormati guru pun amat berkesan. Mereka percaya bahwa salah satu cara berterima kasih atas ilmu yang mereka ajarkan, adalah dengan menghormati dan mentaati gurunya. Hal ini selaras dengan perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:
وَمِنْ تَعْظِيمِ الْعِلْمِ تَعْظِيمُ الْأَسْتَاذِ ، قَالَ عَلِيٌّ كَرَمَ اللَّهُ وَجْهَهُ :أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا وَاحِدًا ، إِنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ أَعْتَقَ وَ إِنْ شَاءَ اسْتَرَقَ
“Salah satu cara memuliakan ilmu adalah memuliakan sang guru, sebagaimana yang dikatakan Sayyidina Ali kw: “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf ilmu. Terserah padanya mau menjualku, memerdekakanku, atau tetap menjadikanku hamba.”
Perilaku itu bahkan tercermin sampai sekarang, pada diri santri dan santriwati dalam lembaga salaf nan kuno bernama Pesantren. Pelestarian ilmu dan amal dari Kitab Ta’limul Muta’allim tersebut menghadirkan kekaguman tersendiri. Sesuatu yang kini semakin sulit kita temui di lembaga pendidikan formal maupun perguruan tinggi.
Ironi Pelajar Zaman Sekarang
Berbanding terbalik dengan nilai dan tradisi pesantren, realitas di sekolah formal seringkali menyisakan ironi. Tidak sedikit murid yang berani melawan guru, mengancam, hingga melakukan kekerasan fisik terhadap guru mereka. Mirisnya, perselisihan ini adakalanya tergiring ke dalam ranah hukum. Padahal dalam kitabnya, Syaikh Az-Zarnuji sudah mengingatkan:
فمن تأذى منه أستاذه يحرم بركة العلم ولا ينتفع به إلا قليلا
“Barang siapa melukai hati gurunya, maka tertutuplah keberkahan ilmunya dan hanya sedikit manfaat ilmu yang dapat dipetiknya.”
Dalam kitab tersebut pun, Syaikh Zarnuji mencontohkan tentang perilaku sederhana apa yang terkadang tidak sopan di hadapan guru. Bahkan di dalamnya terinci beberapa adab kecil yang sering diabaikan pelajar modern.
وَمِنْ تَوْقِيرِ الْمُعَلِّمِ أَنْ لَا يَمْشِيَ أَمَامَهُ ، وَلَا يَجْلِسَ مَكَانَهُ ، وَلَا يَبْتَدِئَ الكَلَامَ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا يُكْثِرُ الْكَلَامَ عِنْدَهُ وَلَا يَسْأَلَ شَيْاً عِنْدَ مَلَالَتِهِ ، وَيُرَاعِيَ الْوَقْتَ ، وَلَا يَدُقَ الْبَابَ بَلْ يَصْبِرَ حَتَّى يَخْرُجَ الْأَسْتَاذُ
“Di antara perbuatan menghormati guru adalah tidak melintas di hadapannya, tidak menduduki tempat duduknya, tidak memulai berbicara kecuali atas izinnya, tidak banyak bicara di sebelahnya dan tidak menanyakan sesuatu yang membosankannya. Hendaklah pula mengambil waktu yang tepat dan jangan pernah mengetuk pintu tetapi bersabarlah sampai beliau keluar.”
فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَطْلُبُ رِضَاهُ وَيَجْتَنِبُ سَخَطَهُ وَيَمْتَيْلُ أَمْرَهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ لَا طَاعَةَ لِلْمَخْلُوقِ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ
“Fokus utamanya adalah mencari ridlonya guru, menghindarkan murkanya dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak melanggar ajaran agama, karena tidak diperbolehkan mentaati seseorang untuk mendurhakai Allah.”
Realitas Yang Menjadi Akar Masalah
Meski perselisihan antara guru dan murid terjadi oleh pada beberapa sekolah dan beberapa siswa saja, namun hal ini menunjukkan suatu hal penting bahwa, pelajaran adab dan etika tidak lagi begitu berpengaruh sebab tidak diajarkan kepada mereka baik lewat buku ataupun perilaku.
Nyatanya, meski guru mengajarkan perilaku sopan santun dan etika kepada murid, adakalanya murid justru tidak mencontohnya. Mereka bahkan merasa bangga dengan jiwa berani mereka yang terinspirasi dari beberapa perilaku nonetika masyarakat atau dampak negatif bermedia sosial.
Dan ini menjadi perhatian besar, bagaimana bisa ada seorang murid berani melawan kepada guru, memukul, hingga membawanya ke ranah Hukum?
Penyebabnya bukan tunggal, tentu saja. Selain minimnya pengajaran etika berbasis perilaku, pelajar masa kini kerap terpapar dampak negatif media sosial yang sering kali mendegradasi wibawa orang tua dan guru. Lingkungan masyarakat dan kurangnya pengawasan orang tua turut andil menciptakan dua kutub utara yang berseberangan antara perilaku santri di pesantren dan murid di lembaga formal.
Pentingnya Menghargai Peran dan Dedikasi Seorang Guru
فَإِنَّ مَنْ عَلَمَكَ حَوْفًا وَاحِدًا مِمَّا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي الدِّينِ فَهُوَ أَبُوكَ فِي الدِّينِ
“Sesungguhnya orang yang mengajari kamu sepatah ilmu yang dibutuhkan dalam urusan agama adalah menjadi Bapakmu dalam beragama.”
Dalam kutipan itu kita dapat terlihat bahwa begitu besarnya jasa guru membuat derajat mereka mensejajari peran orang tua. Mereka menjadi orang tua dalam hal yang mereka kuasai, pada contoh ini adalah agama atau spiritual.
Maka guru bahasa, matematika, dan yang lainnya adalah orang tua bagi murid sesuai dalam bidang mereka masing-masing. Mereka adalah orang berdedikasi yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa. Karenanya, sungguh tidak mencerminkan diri sebagai seorang murid manakala mereka mengacuhkan atau menentang guru.
Relevansi Kitab Ta’limul Muta’allim di Zaman Sekarang
Melihat beberapa fenomena menegangkan antara guru dan murid, restorasi nilai dan moral menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Rasanya Kitab Ta’limul Muta’allim bukan hanya relevan untuk santri, tetapi sudah saatnya diadaptasi kembali dalam pendidikan formal.
Di sini kita menyadari bahwa pendidikan karakter sebetulnya sudah diajarkan sejak lama dalam buku-buku yang khsusus mempelajari etika pelajar atau bahkan tercermin dalam perilaku guru secara langsung. Dalam keseharian pun adakalanya teguran atau peringatan bergaung dalam tindakan yang kurang sopan. Namun sepertinya perlu penguatan ulang dengan memperbaharui kembali nilai-nilai etika yang terkandung dalam Kitab ini.
Lembaga pendidikan formal perlu memasukkan poin-poin penting dari Kitab Ta’limul Muta’allim ke dalam pengajaran karakter dan praktik yang terus menerus agar menjadi kebiasaan dan lambat laun menjadi kebutuhan bersama. Perlu menyesuaikan beberapa materi terkait adab kepada guru sehingga menjadi selaras dengan kondisi di zaman modern ini, dengan tetap menjunjung nilai-nilanya.
Di samping itu, perlu juga upaya megingatkan pelajar bahwa posisi utama guru adalah sebagai orang tua dalam bidang intelektual. Perannya sama penting dengan orang tua secara biologis. Di mana, perannya tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga turut membangun dan membina akhlak mulia.
Orang tua juga menjadi rumah pertama yang mengajarkan kepada anak terkait pentingnya menghormati serta mencintai guru. Agar kelak perselisihan yang suatu waktu terjadi, justru tidak memojokkan guru dan memandang sebelah sosoknya.
Eksistensi yang Tidak Terbatas
Maraknya kasus kriminalisasi guru dan degradasi moral pelajar adalah alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Kitab Ta’limul Muta’allim menawarkan jalan keluar yang telah teruji selama berabad-abad. Ia menawarkan etika dan kesalingan yang seharusnya ada pada diri seorang pencari dan pengamal ilmu. Ia memberikan contoh-contoh yang menghadirkan kesan haru antara sikap kesalingan guru dan murid.
Pendidikan non formal pesantren sudah mengkaji dan menerapkannya. Karenanya pendidikan non formal atau formal yang sudah menyisipkan nilai-nilai yang ada dalam Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan titik awal yang baik untuk menghidupkan kembali etika klasik ini ke dalam konteks modern. Dalam hal ini kita tidak hanya mencetak pelajar yang pintar secara intelektual, tetapi juga beradab dan berakhlak mulia demi menjaga keutuhan masa depan bangsa.
Oleh karena itu, Kitab Ta’limul Muta’allim dan pemikiran Syaikh Az-Zarnuji ini masih sangat relevan dan penting dipelajari. Ia menjadi landasan untuk menjaga integritas moral, tata krama, dan etika para pelajar baik di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. []




















































