Jumat, 9 Januari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Islam Indonesia

    Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

    Bulan Rajab

    Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman

    Gerakan Perempuan

    Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

    Tahun Baru 2026

    Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan

    Pemberdayaan Perempuan

    Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

    Gerakan Perempuan di Indonesia

    Kekhasan Gerakan Perempuan di Indonesia

    Tauhid sebagai

    Tauhid sebagai Jalan Pembebasan

    Kehidupan Sosial

    Memaknai Tauhid dalam Kehidupan Sosial

    Fikih Darah

    Fikih Darah; Menentukan Haid dan Istihadhah bagi Perempuan Tunanetra

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

    KUPI yang

    KUPI Jadi Ruang Konsolidasi Para Ulama Perempuan

    gerakan peradaban

    Peran Ulama Perempuan KUPI dalam Membangun Gerakan Peradaban

    Kemiskinan Perempuan

    KUPI Dorong Peran Ulama Perempuan Merespons Kemiskinan Struktural dan Krisis Lingkungan

    Kekerasan Seksual

    Forum Halaqah Kubra KUPI Bahas Kekerasan Seksual, KDRT, dan KBGO terhadap Perempuan

  • Kolom
    • All
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    Islam Indonesia

    Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?

    Bulan Rajab

    Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman

    Gerakan Perempuan

    Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren

    Tahun Baru 2026

    Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan

    Pemberdayaan Perempuan

    Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

    Gerakan Perempuan di Indonesia

    Kekhasan Gerakan Perempuan di Indonesia

    Tauhid sebagai

    Tauhid sebagai Jalan Pembebasan

    Kehidupan Sosial

    Memaknai Tauhid dalam Kehidupan Sosial

    Fikih Darah

    Fikih Darah; Menentukan Haid dan Istihadhah bagi Perempuan Tunanetra

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    Penciptaan Manusia

    Logika Penciptaan Manusia dari Tanah: Bumi adalah Saudara “Kita” yang Seharusnya Dijaga dan Dirawat

    Mimi Monalisa

    Aku, Mama, dan Mimi Monalisa

    Romantika Asmara

    Romantika Asmara dalam Al-Qur’an: Jalan Hidup dan Menjaga Fitrah

    Binatang

    Animal Stories From The Qur’an: Menyelami Bagaimana Al-Qur’an Merayakan Biodiversitas Binatang

    Ujung Sajadah

    Tangis di Ujung Sajadah

    Surga

    Menyingkap Lemahnya Hadis-hadis Seksualitas tentang Kenikmatan Surga

    Surga

    Surga dalam Logika Mubadalah

    Kenikmatan Surga

    Kenikmatan Surga adalah Azwāj Muṭahharah

    • Hikmah
    • Hukum Syariat
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Kebudayaan

    Pidato Kebudayaan dalam Ulang Tahun Fahmina Institute Ke 25

    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Khazanah Hikmah

Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

Di tengah gempuran zaman, dunia pesantren memiliki benteng pertahanan moral bernama Kitab Ta’limul Muta’allim.

Shella Carissa Shella Carissa
8 Januari 2026
in Hikmah
0
Kitab Ta'limul Muta'allim

Kitab Ta'limul Muta'allim

1.6k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Jika melihat bagaimana perilaku pelajar zaman sekarang dan zaman dahulu, apa yang terlintas dalam benak saudara? Tentu banyak perbedaan. Ini bukan lagi sekadar perbandingan yang kentara, melainkan fakta yang jarang terlihat.

Sejak sistem pendidikan Islam pertama kali bersemi di Baitul Maal pada zaman Nabi Muhammad saw hingga era kejayaan para Ulama Salaf, perilaku murid tergambar begitu khidmah, sopan, dan beretika. Mereka tidak hanya menghormati guru, tetapi mencintai dan menaatinya.

Kitab Klasik Yang Eksis di Lembaga Pesantren

Di tengah gempuran zaman, dunia pesantren memiliki benteng pertahanan moral bernama Kitab Ta’limul Muta’allim. Kitab karangan Syaikh Az-Zarnuji ini masih menjadi primadona yang memegang kandidat nomor satu bagi rujukan utama santri untuk memahami hakikat pelajar dalam bersikap.

Meski dengan usia yang usang, kitab ini masih eksis dengan cetakan jutaan eksemplar tidak hanya di Indonesia, melainkan di beberapa wilayah islam. Para Kiai di berbagai pelosok negeri pun selalu menempatkan kitab ini sebagai pelajaran utama dalam kurikulum pendidikan pesantren mereka.

Kitab klasik ini membedah adab secara mendalam mulai dari niat, cara menghormati guru dan teman, ketekunan dan kesabaran, hingga beberapa perilaku yang tak elok bagi murid. Salah satu poin paling krusial adalah cara menghormati guru.

Bagi santri, jasa guru tidak ternilai dengan materi, melainkan terukur dalam keikhlasan dan kesabaran yang mahal harganya. Soal bagaimana mereka menghormati guru pun amat berkesan. Mereka percaya bahwa salah satu cara berterima kasih atas ilmu yang mereka ajarkan, adalah dengan menghormati dan mentaati gurunya. Hal ini selaras dengan perkataan Sayyidina Ali bin Abi Thalib:

وَمِنْ تَعْظِيمِ الْعِلْمِ تَعْظِيمُ الْأَسْتَاذِ ، قَالَ عَلِيٌّ كَرَمَ اللَّهُ وَجْهَهُ :أَنَا عَبْدُ مَنْ عَلَّمَنِي حَرْفًا وَاحِدًا ، إِنْ شَاءَ بَاعَ وَإِنْ شَاءَ أَعْتَقَ وَ إِنْ شَاءَ اسْتَرَقَ

“Salah satu cara memuliakan ilmu adalah memuliakan sang guru, sebagaimana yang dikatakan Sayyidina Ali kw: “Aku adalah hamba bagi orang yang mengajariku satu huruf ilmu. Terserah padanya mau menjualku, memerdekakanku, atau tetap menjadikanku hamba.”

Perilaku itu bahkan tercermin sampai sekarang, pada diri santri dan santriwati dalam lembaga salaf nan kuno bernama Pesantren. Pelestarian ilmu dan amal dari Kitab Ta’limul Muta’allim tersebut menghadirkan kekaguman tersendiri. Sesuatu yang kini semakin sulit kita temui di lembaga pendidikan formal maupun perguruan tinggi.

Ironi Pelajar Zaman Sekarang

Berbanding terbalik dengan nilai dan tradisi pesantren, realitas di sekolah formal seringkali menyisakan ironi. Tidak sedikit murid yang berani melawan guru, mengancam, hingga melakukan kekerasan fisik terhadap guru mereka. Mirisnya, perselisihan ini adakalanya tergiring ke dalam ranah hukum. Padahal dalam kitabnya, Syaikh Az-Zarnuji sudah mengingatkan:

فمن تأذى منه أستاذه يحرم بركة العلم ولا ينتفع به إلا قليلا

“Barang siapa melukai hati gurunya, maka tertutuplah keberkahan ilmunya dan hanya sedikit manfaat ilmu yang dapat dipetiknya.”

Dalam kitab tersebut pun, Syaikh Zarnuji mencontohkan tentang perilaku sederhana apa yang terkadang tidak sopan di hadapan guru. Bahkan di dalamnya terinci beberapa adab kecil yang sering diabaikan pelajar modern.

وَمِنْ تَوْقِيرِ الْمُعَلِّمِ أَنْ لَا يَمْشِيَ أَمَامَهُ ، وَلَا يَجْلِسَ مَكَانَهُ ، وَلَا يَبْتَدِئَ الكَلَامَ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ، وَلَا يُكْثِرُ الْكَلَامَ عِنْدَهُ وَلَا يَسْأَلَ شَيْاً عِنْدَ مَلَالَتِهِ ، وَيُرَاعِيَ الْوَقْتَ ، وَلَا يَدُقَ الْبَابَ بَلْ يَصْبِرَ حَتَّى يَخْرُجَ الْأَسْتَاذُ

“Di antara perbuatan menghormati guru adalah tidak melintas di hadapannya, tidak menduduki tempat duduknya, tidak memulai berbicara kecuali atas izinnya, tidak banyak bicara di sebelahnya dan tidak menanyakan sesuatu yang membosankannya. Hendaklah pula mengambil waktu yang tepat dan jangan pernah mengetuk pintu tetapi bersabarlah sampai beliau keluar.”

فَالْحَاصِلُ أَنَّهُ يَطْلُبُ رِضَاهُ وَيَجْتَنِبُ سَخَطَهُ وَيَمْتَيْلُ أَمْرَهُ فِي غَيْرِ مَعْصِيَةِ اللَّهِ تَعَالَى، فَإِنَّهُ لَا طَاعَةَ لِلْمَخْلُوقِ فِي مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ

“Fokus utamanya adalah mencari ridlonya guru, menghindarkan murkanya dan menjunjung tinggi perintahnya selama tidak melanggar ajaran agama, karena tidak diperbolehkan mentaati seseorang untuk mendurhakai Allah.”

Realitas Yang Menjadi Akar Masalah

Meski perselisihan antara guru dan murid terjadi oleh pada beberapa sekolah dan beberapa siswa saja, namun hal ini menunjukkan suatu hal penting bahwa, pelajaran adab dan etika tidak lagi begitu berpengaruh sebab tidak diajarkan kepada mereka baik lewat buku ataupun perilaku.

Nyatanya, meski guru mengajarkan perilaku sopan santun dan etika kepada murid, adakalanya murid justru tidak mencontohnya. Mereka bahkan merasa bangga dengan jiwa berani mereka yang terinspirasi dari beberapa perilaku nonetika masyarakat atau dampak negatif bermedia sosial.

Dan ini menjadi perhatian besar, bagaimana bisa ada seorang murid berani melawan kepada guru, memukul, hingga membawanya ke ranah Hukum?

Penyebabnya bukan tunggal, tentu saja. Selain minimnya pengajaran etika berbasis perilaku, pelajar masa kini kerap terpapar dampak negatif media sosial yang sering kali mendegradasi wibawa orang tua dan guru. Lingkungan masyarakat dan kurangnya pengawasan orang tua turut andil menciptakan dua kutub utara yang berseberangan antara perilaku santri di pesantren dan murid di lembaga formal.

Pentingnya Menghargai Peran dan Dedikasi Seorang Guru

فَإِنَّ مَنْ عَلَمَكَ حَوْفًا وَاحِدًا مِمَّا تَحْتَاجُ إِلَيْهِ فِي الدِّينِ فَهُوَ أَبُوكَ فِي الدِّينِ

“Sesungguhnya orang yang mengajari kamu sepatah ilmu yang dibutuhkan dalam urusan agama adalah menjadi Bapakmu dalam beragama.”

Dalam kutipan itu kita dapat terlihat bahwa begitu besarnya jasa guru membuat derajat mereka mensejajari peran orang tua. Mereka menjadi orang tua dalam hal yang mereka kuasai, pada contoh ini adalah agama atau spiritual.

Maka guru bahasa, matematika, dan yang lainnya adalah orang tua bagi murid sesuai dalam bidang mereka masing-masing. Mereka adalah orang berdedikasi yang mengabdikan dirinya untuk mencerdaskan anak bangsa. Karenanya, sungguh tidak mencerminkan diri sebagai seorang murid manakala mereka mengacuhkan atau menentang guru.

Relevansi Kitab Ta’limul Muta’allim di Zaman Sekarang

Melihat beberapa fenomena menegangkan antara guru dan murid, restorasi nilai dan moral menjadi kebutuhan yang sangat mendesak. Rasanya Kitab Ta’limul Muta’allim bukan hanya relevan untuk santri, tetapi sudah saatnya diadaptasi kembali dalam pendidikan formal.

Di sini kita menyadari bahwa pendidikan karakter sebetulnya sudah diajarkan sejak lama dalam buku-buku yang khsusus mempelajari etika pelajar atau bahkan tercermin dalam perilaku guru secara langsung. Dalam keseharian pun adakalanya teguran atau peringatan bergaung dalam tindakan yang kurang sopan. Namun sepertinya perlu penguatan ulang dengan memperbaharui kembali nilai-nilai etika yang terkandung dalam Kitab ini.

Lembaga pendidikan formal perlu memasukkan poin-poin penting dari Kitab Ta’limul Muta’allim ke dalam pengajaran karakter dan praktik yang terus menerus agar menjadi kebiasaan dan lambat laun menjadi kebutuhan bersama. Perlu menyesuaikan beberapa materi terkait adab kepada guru sehingga menjadi selaras dengan kondisi di zaman modern ini, dengan tetap menjunjung nilai-nilanya.

Di samping itu, perlu juga upaya megingatkan pelajar bahwa posisi utama guru adalah sebagai orang tua dalam bidang intelektual. Perannya sama penting dengan orang tua secara biologis. Di mana, perannya tidak hanya bertugas mentransfer pengetahuan, tetapi juga turut membangun dan membina akhlak mulia.

Orang tua juga menjadi rumah pertama yang mengajarkan kepada anak terkait pentingnya menghormati serta mencintai guru. Agar kelak perselisihan yang suatu waktu terjadi, justru tidak memojokkan guru dan memandang sebelah sosoknya.

Eksistensi yang Tidak Terbatas

Maraknya kasus kriminalisasi guru dan degradasi moral pelajar adalah alarm keras bagi dunia pendidikan kita. Kitab Ta’limul Muta’allim menawarkan jalan keluar yang telah teruji selama berabad-abad. Ia menawarkan etika dan kesalingan yang seharusnya ada pada diri seorang pencari dan pengamal ilmu. Ia memberikan contoh-contoh yang menghadirkan kesan haru antara sikap kesalingan guru dan murid.

Pendidikan non formal pesantren sudah mengkaji dan menerapkannya. Karenanya pendidikan non formal atau formal yang sudah menyisipkan nilai-nilai yang ada dalam Kitab Ta’limul Muta’allim merupakan titik awal yang baik untuk menghidupkan kembali etika klasik ini ke dalam konteks modern. Dalam hal ini kita tidak hanya mencetak pelajar yang pintar secara intelektual, tetapi juga beradab dan berakhlak mulia demi menjaga keutuhan masa depan bangsa.

Oleh karena itu, Kitab Ta’limul Muta’allim dan pemikiran Syaikh Az-Zarnuji ini masih sangat relevan dan penting dipelajari. Ia menjadi landasan untuk menjaga integritas moral, tata krama, dan etika para pelajar baik di masa lalu, sekarang, maupun masa depan. []

Tags: adabEtikaguruKitab Ta'limul Muta'allimmoralpelajarSyaikh Az Zarnuji
Shella Carissa

Shella Carissa

Masih menempuh pendidikan Agama di Pondok Kebon Jambu Al-Islamy dan Sarjana Ma'had Aly Kebon Jambu. Penikmat musik inggris. Menyukai kajian feminis, politik, filsafat dan yang paling utama ngaji nahwu-shorof, terkhusus ngaji al-Qur'an. Heu.

Terkait Posts

Haul Gus Dur
Publik

Membaca Nilai Asasi Agama dari Peringatan Haul Gus Dur dan Natal

29 Desember 2025
Perspektif Mubādalah
Publik

Etika Kesalingan dalam Islam: Relasi, Interrelasi, dan Transrelasi Perspektif Mubādalah

17 Desember 2025
Ruang Digital
Publik

Menjaga Jari di Ruang Digital: Etika Qur’ani di Tengah Krisis Privasi

16 Desember 2025
Media Sosial Anak
Keluarga

Perlukah Indonesia Batasi Usia Media Sosial Anak?

10 Desember 2025
KUHP
Publik

Kohabitasi dalam KUHP Baru: Antara Privasi, Norma Sosial dan Etika Keagamaan

22 November 2025
Penyusuan Anak dalam al-Qur'an
Keluarga

Penyusuan Anak dalam Al-Qur’an: Antara Hukum, Etika, dan Kasih Sayang

12 November 2025
No Result
View All Result

TERPOPULER

  • Kitab Ta'limul Muta'allim

    Relevansi Pemikiran Syaikh Az-Zarnuji dalam Kitab Ta’limul Muta’allim

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Berdamai Dengan Kefanaan: Dari Masa Lalu, Hari Ini, Dan Masa Depan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Kekhasan Gerakan Perempuan di Indonesia

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Fathimah binti Ubaidillah: Perempuan ‘Ulama, Ibu Sang Mujaddid

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0

TERBARU

  • Mengapa Aktivis Perempuan Indonesia Perlu Memahami Islam?
  • Bulan Rajab antara Tradisi Keagamaan, dan Kesalahpahaman
  • Jejak Sejarah Gerakan Perempuan: Dari Kairo 1994 ke Pesantren-Pesantren
  • Tahun Baru 2026, Beban Lama Bernama Perempuan
  • Dari Pesantren hingga Kampus: Basis Gerakan Pemberdayaan Perempuan

Komentar Terbaru

  • dul pada Mitokondria: Kerja Sunyi Perempuan yang Menghidupkan
  • Refleksi Hari Pahlawan: Tiga Rahim Penyangga Dunia pada Menolak Gelar Pahlawan: Catatan Hijroatul Maghfiroh atas Dosa Ekologis Soeharto
  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
redaksi@mubadalah.id

© 2025 MUBADALAH.ID

Selamat Datang!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms bellow to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Account
  • Home
  • Khazanah
  • Kirim Tulisan
  • Kolom Buya Husein
  • Kontributor
  • Monumen
  • Privacy Policy
  • Redaksi
  • Rujukan
  • Tentang Mubadalah
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

© 2025 MUBADALAH.ID