Rabu, 4 Maret 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Keluarga Berencana

    Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun

    Ali Khamenei

    Ali Khamenei; Menjaga Agama, Melawan Kezaliman, Menutup Hidup dengan Kehormatan

    Femisida

    Stop Narasi “Bukannya Membela Pelaku”, tapi Menyalahkan Korban dan Mendukung Femisida

    Sayyidah Nafisah

    Sayyidah Nafisah: Ulama Perempuan yang Berani Menegur Penguasa Zalim

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan

    Sayyidah Nafisah binti al-Hasan, Ulama Perempuan yang Diakui Para Imam Mazhab

    Sayyidah Nafisah

    Menelusuri Jejak Keilmuan Perempuan dalam Tradisi Islam: Pembacaan atas Sosok Sayyidah Nafisah

    Pesantren

    Dua Mahasiswa Ajukan Uji Materi UU Pesantren, Soroti Kepastian Jaminan Hak Pendidikan

    Sejarah Perempuan

    Membaca Ulang Jejak Perempuan dalam Sejarah Islam

    Sejarah Perempuan atas

    Menggugat Sejarah Perempuan: Pembacaan Kritis atas Jejak Sayyidah Sukainah

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Ngaji Manba’us-Sa’adah

    Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan

    Pengalaman Perempuan

    Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?

    Merayakan Lebaran

    Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

    Pernikahan Disabilitas

    Lebih dari yang Tampak: Pernikahan Disabilitas, dan Martabat Kemanusiaan

    Life After Campus

    Life After Campus: Ternyata Pintar Saja Tak Cukup!

    Difabel di Sektor Formal

    Difabel di Sektor Formal: Kabar yang Harus Dirayakan

    Ideologi Kenormalan

    Kebijakan Publik dan Ideologi Kenormalan

    Industri Perfilman

    Mengapa Industri Perfilman Rentan Menjadi Sarang Predator Seksual?

    Membaca MBG

    Membaca MBG dari Kacamata Mubadalah

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Rahmat

    Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan

    Tanggung Jawab

    QS. Al-Baqarah 233 Tegaskan Pentingnya Tanggung Jawab Bersama dalam Pengasuhan Anak

    Timbal Balik dalam

    QS. Al-Baqarah 187 dan 232 Tegaskan Prinsip Timbal Balik dan Kerelaan dalam Pernikahan

    Kemitraan

    Al-Qur’an Tegaskan Fondasi Kemitraan Suami Istri dalam QS ar-Rum 21 dan an-Nisa 19

    Hijrah

    Makna Luas Hijrah dan Jihad Menuju Kehidupan Lebih Adil

    Hijrah dan Jihad

    “Min Dzakarin aw Untsā”: Prinsip Kesetaraan dalam Hijrah dan Jihad

    Hijrah

    Al-Qur’an Tegaskan Hijrah dan Jihad untuk Laki-laki dan Perempuan

    Ayat Aurat

    QS. At-Taubah 71 Jadi Landasan Mubadalah Memaknai Aurat sebagai Tanggung Jawab Bersama

    Suara Perempuan sebagai

    Menimbang Ulang Anggapan Suara Perempuan sebagai Aurat

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Review Drama The Queen Who Crown: Potret Perempuan Maskulin dalam Politik dan Romansa

Ratu menjadi orang yang paling berjasa di balik kesuksesan Raja Taejong menduduki tahta

Kholifah Rahmawati by Kholifah Rahmawati
30 Januari 2025
in Film
A A
0
Drama The Queen Who Crown

Drama The Queen Who Crown

55
SHARES
2.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sebagai penikmat drama korea bergenre history atau biasa disebut dengan drama sageuk saya merasa cukup exited dengan banyaknya drakor sageuk yang akan rilis sepanjang tahun 2025. Salah satu drama yang cukup menarik dan sedang on going saat ini adalah drama berjudul “The Queen Who Crown”.

Drama tersebut diadaptasi dari tokoh sejarah Korea yang mengambil latar pada awal berdirinya dinasti Joseon. Tepatnya pada masa pemerintahan Raja Taejong.

Dari pemilihan diksi judulnya saja sudah menggambarkan adanya women centris dalam alur cerita. Diksi judul tersebut menggambarkan peran seorang Ratu sebagai subyek yang super power. Hal ini menjadi cukup menarik, karena selama ini drama sageuk lebih banyak menampilkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan cenderung menjadi korban sistem feodalisme serta patriarkis di zaman tersebut.

Sosok Ratu Wongyeong

Ratu Wongyeong adalah istri dari Raja Taejong yang mengambil peran sebagai Ibu negara pada masa pemerintahanya. Sang Ratu digambarkan sebagai sosok perempuan yang cerdas, tangguh, bijak dan sangat berprinsip. Ratu sudah menikah dengan Raja jauh sebelum Raja naik takhta. Ia juga merupakan sosok perempuan yang memiliki andil besar dalam proses kenaikan tahta Sang Raja.

Perlu kita ketahui bahwa Raja Taejong berkuasa setelah ia berhasil melakukan kudeta dan merebut takhta dari saudara-saudaranya. Hal ini memicu hubungan yang tidak baik antara Raja Taejong dan ayah kandungnya sendiri (Raja Taejo; yang turun takhta setelah kudeta). Akibatnya di awal pemerintahan raja Taejong terjadi banyak pergolakan yang menyebabkan ketidakstabilan politik kerajaan.

Dari pernikahanya dengan Raja Taejong, Ratu memiliki empat anak laki-laki (jumlah dalam drama) yang bergelar Pangeran. Salah satu putranya yang paling terkenal adalah Yi Do, yang kelak akan meneruskan tahta dan bergelar “Raja Sejong Yang Agung.” Ia adalah salah satu raja terbesar dalam sejarah Korea yang dikenal sebagai pencetus aksara hangeul yang masih digunakan di Korea hingga saat ini.

Setting Cerita

Sistem monarki yang dianut pada saat itu, melegalkan Raja untuk memiliki banyak selir demi mendapatkan banyak keturunan. Hal ini menjadi salah satu pemicu ketegangan hubungan di antara Raja Taejong dan Ratu Wongyeong. 

Sebagai perempuan, Ratu harus menghadapi kenyataan bahwa suami yang ia bantu hingga naik takhta kini memiliki banyak wanita di sekelilingnya. Adapun sebagai Ratu, dengan posisi tertinggi di antara wanita istana, Ratu Wongyeong harus menghadapi berbagai intrik persaingan dengan para wanita Raja. Sedangkan sebagai Ibu, ia juga harus memastikan keamanan putra-putranya dari konflik perebutan kekuasaan.

Berbagai polemik di atas memang cukup klise untuk sebuah drama berlatar sejarah, yang kisahnya tidak jauh-jauh dari Istana dan perebutan kekuasaan. Namun drama ini memberikan angin segar dengan menghadirkan sosok Ratu sebagai tokoh protagonis yang kuat, dominan serta mampu mengalahkan lawanya dengan cara-cara yang elegan. 

Biasanya karakteristik kuat dan dominan pada perempuan selalu diberikan pada tokoh antagonis dalam peran. Karakter Ratu Wongyeong ini mengingatkan saya pada sosok Ratu pada drama “Under the Queen’s Umbrella” yang sama-sama menghadirkan sosok Perempuan yang kuat dan dominan sebagai protagonisnya.

Dominasi Ratu dalam Pemerintahan

Ratu Wongyeong dikisahkan sebagai wanita bangsawan dari keluarga yang cukup kuat dan berpengaruh. Tidak heran banyak dari keluarga Ratu yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan. Hal ini menjadi faktor utama yang membuat Ratu mampu mendominasi pemerintahan, di samping karena faktor kecerdasan dan kelihaiannya mengatur strategi politik.

Ratu menjadi orang yang paling berjasa di balik kesuksesan Raja Taejong menduduki tahta. Selain sebagai istri yang selalu memberikan dukungan moril pada suami, Ratu juga bertindak sebagai pengatur strategi dan informan yang selalu memberikan nasehat atas tindakan dan keputusan Raja. Ratu bahkan menjadi negosiator yang berhasil meredakan ketegangan hubungan antara Raja Taejong dan Ayahnya.

Banyaknya andil Sang Ratu dalam pemerintahan membuat orang-orang menganggap Ratu lebih unggul daripada Raja. Pada episode awal terdapat sebuah scene yang menunjukan beberapa pejabat memuji Ratu dengan mengatakan “Seandainya Ratu terlahir sebagai laki-laki, maka pasti dia lah yang akan menjadi Raja”. Kata-kata itu terdengar oleh Raja dan berhasil mengusik pikirannya. 

Di satu sisi, Ratu sangatlah berjasa dan mengambil banyak peran hingga ia mampu duduk di atas takhta, di samping sebagai suami Raja juga sangat mencintai Ratu. Namun di sisi lain, dominasi Sang Ratu dalam pemerintahan memunculkan rasa inferioritas yang mencederai martabat dan egonya sebagai seorang suami sekaligus pemimpin Kerajaan.

Pengaruhnya pada hubungan kedua tokoh

Perasaan inferioritas tersebut mendorong Raja melakukan tindakan-tindakan untuk dapat melemahkan Ratu. Hal ini menjadi pemicu utama kerenggangan hubungan antara keduanya. Pertama-tama Raja berusaha menyerang psikologis ratu sebagai seorang perempuan dengan cara menyakiti hatinya. Raja sengaja mengambil selir dari orang-orang terdekat Ratu, bahkan pelayan pribadi Ratu. 

Raja juga berusaha mendirikan Departemen Pernikahan Kerajaan yang bertugas mengurus pengangkatan para selir, dan meminta Ratu sendiri untuk membantunya. Namun upaya tersebut ditolak dengan tegas oleh Ratu. Ia bahkan memilih meninggalkan Istana dan pulang ke rumah keluarganya. Hal tersebut membuat Raja membatalkan niatnya.

Raja tak kehabisan akal, meskipun gagal mendirikan Departemen Pernikahan Kerajaan, Raja tetap mengambil selir dari keluarga lain yang juga kuat, guna mengurangi dominasi keluarga Ratu dalam pemerintahan.

Melihat sikap Raja yang berubah, juga berbagai usahanya untuk menjatuhkan diri nya dan keluarganya, Ratu tentu merasa sakit hati dan kecewa. Namun sebagai Ibu negara dan juga demi anak-anaknya, Ratu mengerahkan seluruh kemampuanya untuk bertahan di Istana. 

Ia sempat beberapa kali terlibat perseteruan sengit dengan Raja dan para selir Istana. Namun ia selalu memenangkan pertarungan tersebut dengan cara yang elegan tanpa mengotori tanganya. Di sinilah karakteristik ratu sebagai sosok perempuan yang cerdas, tangguh, bijak dan berprinsip diperlihatkan.

Rasa Insecure pada Pasangan

Dari hubungan Raja dan Ratu di atas kita dapat menarik sebuah benang merah dari konflik mereka. Yaitu adanya rasa insecuritas terhadap pasangan. Dalam kasus ini insecuritas terjadi pada laki-laki karena pihak perempuan cenderung lebih dominan. 

Rasa insecuritas ini menjadi masalah besar dalam sebuah hubungan. Insecuritas membuat seseorang memandang pasangannya sebagai lawan yang perlu ia kalahkan. Dalam hubungan yang sehat rasa insecure ini akan menjadi cambuk yang mendorong seseorang untuk terus berprogres dan mengimbagi pasanganya.

Namun dalam hubungan toxic, yang terjadi justru sebaliknya. Pihak yang merasa insecure akan berusaha mengontrol dan mengekang pasanganya. Jika tidak berhasil, maka ia akan mencoba menyakiti pasanganya. Setidaknya hal itu membuat ia merasa menang dan sedikit mengobati insecuritasnya.

Pada kasus Raja dan Ratu misalnya, kita diperlihatkan bahwa keduanya masih saling mencintai, bahkan dapat dikatakan cinta mereka sama besarnya. Sesakit apapun Ratu, tetap saja berusaha melindungi Raja, dan sebanyak apapun selir yang Raja ambil, tak ada yang bisa menggantikan posisi ratu di hatinya. Rasa insecuritas menjadi satu-satunya tembok penghalang dalam hubungan mereka.

Perempuan yang Maskulin

Laki-laki pada umumnya memiliki energi maskulin. Energi maskulin mendorong adanya rasa ingin memimpin, melindungi dan bersikap tegas. Energi maskulin laki-laki idealnya bersanding dengan energi feminin pada perempuan, sehingga keduanya bisa saling melengkapi.

Namun permasalahan akan muncul ketika perempuan juga memiliki energi maskulin. Energi maskulin seringkali membuat perempuan menjadi lebih dominan (seperti karakter Ratu Wongeyong). Saat bertemu dengan laki-laki dengan energi yang sama, hal ini rawan menimbulkan insecuritas pada laki-laki karena maskulinitasnya menjadi tersaingi.

Dalam hubungan Raja dan Ratu hal ini menjadi lebih kompleks. Karena energi maskulinitas raja sebagai laki-laki juga didukung egonya sebagai penguasa. Akibatnya insecuritas yang muncul menjadi dua kali lipat. Sebagai seorang laki-laki (suami) dan penguasa, Raja merasa diri nya tidak sepantasnya berada di bawah Ratu.

Belajar dari hubungan Raja dan Ratu dalam drama “The Queen Who Crown”, rasa insecuritas ini muncul jika kita selalu mengkotak-kotakan sifat maskulin dan feminin pada gender tertentu. Padahal kedua sifat tersebut berpotensi dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan.

Seharusnya tidak menjadi masalah jika salah satu pihak tampak lebih dominan. Selagi ia tidak menghegemoni pasangannya (terlepas dari apapun gendernya). Dalam kasus Ratu, ia justru menggunakan energi maskulinya untuk mendukung dan melindungi Raja.

Selain itu, perlu kiranya membangun hubungan yang sehat. Sehingga seandainya insecuritas ini terjadi, hal itu justru akan mendorong seseorang untuk mengupgrade diri demi mengimbangi pasanganya, bukan malah mengekang dan menyakitinya. []

 

Tags: Drama KoreaDrama The Queen Who CrownFeminitasmaskulinitasReview Film
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Benarkah Kursi Roda dan Tongkat Penyandang Disabilitas itu Kotor/Najis?

Next Post

Bagaimana Hukum Membawa Kursi Roda atau Tongkat yang Kotor ke dalam Masjid?

Kholifah Rahmawati

Kholifah Rahmawati

Alumni UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Peserta Akademi Mubadalah Muda 2023. Bisa disapa melalui instagram @kholifahrahma3

Related Posts

The Art of Sarah
Film

Tas Mewah Demi FOMO di Serial “The Art of Sarah”

2 Maret 2026
Avatar: Fire and Ash
Film

Menilik Avatar: Fire and Ash dari Kacamata Perempuan Pejuang Lingkungan dan HAM

2 Februari 2026
Anak Pertama
Film

Film In Your Dream: Apakah Benar Anak Pertama Dilahirkan untuk Selalu Kuat?

20 Desember 2025
Haenyeo
Film

Haenyeo Melawan Kiamat Iklim: Nafas Terakhir Penjaga Laut Jeju

11 Desember 2025
Lingkungan Inklusif
Disabilitas

Refleksi Twinkling Watermelon: Mengapa Seharusnya Kita Ciptakan Lingkungan Inklusif?

2 Februari 2026
Bon Appetit Your Majesty
Film

Gastrodiplomasi dalam Balutan Drama Bon Appetit Your Majesty

15 Oktober 2025
Next Post
Kursi Roda

Bagaimana Hukum Membawa Kursi Roda atau Tongkat yang Kotor ke dalam Masjid?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Ngaji Manba’us-Sa’adah (2): Asas-asas Maslahat dalam Pernikahan
  • Ramadan Adalah Bulan Penuh Rahmat dan Ampunan
  • Mengawal Keluarga Berencana Saat Angka Kelahiran Turun
  • Mengapa Pengalaman Perempuan Harus Dituliskan?
  • Merayakan Lebaran: Saat Standar Berbusana Diam-diam Membebani, Bukan Membahagiakan

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0