Senin, 9 Februari 2026
  • Login
  • Register
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
Dukung kami dengan donasi melalui
Bank Syariah Indonesia 7004-0536-58
a.n. Yayasan Fahmina
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
  • Home
  • Aktual
    Soekarno dan Palestina

    Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan

    Tragedi Anak NTT

    Tragedi Anak NTT, Simbol Kemewahan, dan Imam Al-Ghazali

    Harlah 100 Tahun

    Pesan-pesan Penting dalam Perayaan Harlah 100 Tahun Masehi NU

    Nikah Muda

    Romantisasi Nikah Muda dan Sunyinya Bangku Pendidikan

    Tertawa

    Tertawa, Tapi Tidak Setara: Mens Rea, Komedi, dan Ruang Bicara Publik

    Laras Faizati

    Kritik Laras Faizati Menjadi Suara Etika Kepedulian Perempuan

    Natal

    Makna Natal Perspektif Mubadalah: Feminis Maria Serta Makna Reproduksi dan Ketubuhan

    Kekerasan di Kampus

    IMM Ciputat Dorong Peran Mahasiswa Perkuat Sistem Pelaporan Kekerasan di Kampus

    Kekerasan di Kampus

    Peringati Hari Ibu: PSIPP ITB Ahmad Dahlan dan Gen Z Perkuat Pencegahan Kekerasan Berbasis Gender di Kampus

  • Kolom
    • All
    • Disabilitas
    • Keluarga
    • Lingkungan
    • Personal
    • Publik
    Harlah NU

    Merayakan Harlah NU, Menguatkan Peran Aktivis Keagamaan

    Keluarga Disfungsional

    Keluarga Disfungsional yang Tampak Baik-baik Saja: Membaca Anak yang Berulah di Sekolah

    Kemiskinan

    Kemiskinan dan Akumulasi Beban Mental

    MBG

    MBG dan Panci Somay yang Tak Lagi Ramai

    Istri

    Istri Bekerja? Ini Penjelasan Al-Qur’an

    Inpirasi Perempuan Disabilitas

    Inspirasi Perempuan Disabilitas: Mendobrak Batasan Mengubah Dunia

    Cat Calling

    Mengapa Pesantren Menjadi Sarang Pelaku Cat Calling?

    Aborsi

    Menarasikan Aborsi Melampaui Stigma dan Kriminalisasi

    Jihad Konstitusional

    Melawan Privatisasi SDA dengan Jihad Konstitusional

    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • All
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
    Pengasuhan Anak

    Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak

    Fungsi Reproduksi

    Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi

    Menyusui

    Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

    Relasi dalam Al-Qur'an

    Relasi Keluarga yang Adil dan Setara dalam Perspektif Al-Qur’an

    Nusyuz dalam Al-Qur'an

    Memahami Nusyuz secara Utuh dalam Perspektif Al-Qur’an

    Makna Nusyuz

    Cara Pandang yang Sempit Soal Makna Nusyuz

    Gempa

    Membaca Fenomena Gempa dengan Kacamata Fikih

    Pernikahan

    Cara Menghadapi Keretakan dalam Pernikahan Menurut Al-Qur’an

    Poligami

    Perkawinan Poligami yang Menyakitkan Perempuan

    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • All
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
    Perempuan Fitnah

    Perempuan Fitnah Laki-laki? Menimbang Ulang dalam Perspektif Mubadalah

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Menjadi Insan Bertakwa dan Mewujudkan Masyarakat Berkeadaban di Hari Kemenangan

    Idul Fitri

    Teks Khutbah Idul Fitri 1446 H: Merayakan Kemenangan dengan Syukur, Solidaritas, dan Kepedulian

    Membayar Zakat Fitrah

    Masihkah Kita Membayar Zakat Fitrah dengan Beras 2,5 Kg atau Uang Seharganya?

    Ibu menyusui tidak puasa apa hukumnya?

    Ibu Menyusui Tidak Puasa Apa Hukumnya?

    kerja domestik adalah tanggung jawab suami dan istri

    5 Dalil Kerja Domestik adalah Tanggung Jawab Suami dan Istri

    Menghindari Zina

    Jika Ingin Menghindari Zina, Jangan dengan Pernikahan yang Toxic

    Makna Ghaddul Bashar

    Makna Ghaddul Bashar, Benarkah Menundukkan Mata Secara Fisik?

    Makna Isti'faf

    Makna Isti’faf, Benarkah hanya Menjauhi Zina?

    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
    • All
    • Profil
    Fazlur Rahman

    Fazlur Rahman: Memahami Spirit Kesetaraan dan Keadilan Gender dalam Al-Qur’an

    Idulfitri

    Khutbah Idulfitri: Mulai Kehidupan Baru di Bulan Syawal

    Sa'adah

    Sa’adah: Sosok Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak  

    Tahun Baru 2025

    Do’a Tahun Baru 2025

    Umi Nyai Sintho' Nabilah Asrori

    Umi Nyai Sintho’ Nabilah Asrori : Ulama Perempuan yang Mengajar Santri Sepuh

    Rabi'ah Al-'Adawiyah

    Sufi Perempuan: Rabi’ah Al-‘Adawiyah

    Ning Imaz

    Ning Imaz Fatimatuz Zahra: Ulama Perempuan Muda Berdakwah Melalui Medsos

    Siti Hanifah Soehaimi

    Siti Hanifah Soehaimi: Penyelamat Foto Perobekan Bendera Belanda di Hotel Yamato yang Sempat Hilang

    Teungku Fakinah

    Teungku Fakinah Ulama Perempuan dan Panglima Perang

  • Monumen
  • Zawiyah
No Result
View All Result
Keadilan dan Kesetaraan Gender - Mubadalah
No Result
View All Result
Home Film

Review Drama The Queen Who Crown: Potret Perempuan Maskulin dalam Politik dan Romansa

Ratu menjadi orang yang paling berjasa di balik kesuksesan Raja Taejong menduduki tahta

Kholifah Rahmawati by Kholifah Rahmawati
30 Januari 2025
in Film
A A
0
Drama The Queen Who Crown

Drama The Queen Who Crown

55
SHARES
2.7k
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Mubadalah.id – Sebagai penikmat drama korea bergenre history atau biasa disebut dengan drama sageuk saya merasa cukup exited dengan banyaknya drakor sageuk yang akan rilis sepanjang tahun 2025. Salah satu drama yang cukup menarik dan sedang on going saat ini adalah drama berjudul “The Queen Who Crown”.

Drama tersebut diadaptasi dari tokoh sejarah Korea yang mengambil latar pada awal berdirinya dinasti Joseon. Tepatnya pada masa pemerintahan Raja Taejong.

Dari pemilihan diksi judulnya saja sudah menggambarkan adanya women centris dalam alur cerita. Diksi judul tersebut menggambarkan peran seorang Ratu sebagai subyek yang super power. Hal ini menjadi cukup menarik, karena selama ini drama sageuk lebih banyak menampilkan karakter perempuan yang tidak berdaya dan cenderung menjadi korban sistem feodalisme serta patriarkis di zaman tersebut.

Sosok Ratu Wongyeong

Ratu Wongyeong adalah istri dari Raja Taejong yang mengambil peran sebagai Ibu negara pada masa pemerintahanya. Sang Ratu digambarkan sebagai sosok perempuan yang cerdas, tangguh, bijak dan sangat berprinsip. Ratu sudah menikah dengan Raja jauh sebelum Raja naik takhta. Ia juga merupakan sosok perempuan yang memiliki andil besar dalam proses kenaikan tahta Sang Raja.

Perlu kita ketahui bahwa Raja Taejong berkuasa setelah ia berhasil melakukan kudeta dan merebut takhta dari saudara-saudaranya. Hal ini memicu hubungan yang tidak baik antara Raja Taejong dan ayah kandungnya sendiri (Raja Taejo; yang turun takhta setelah kudeta). Akibatnya di awal pemerintahan raja Taejong terjadi banyak pergolakan yang menyebabkan ketidakstabilan politik kerajaan.

Dari pernikahanya dengan Raja Taejong, Ratu memiliki empat anak laki-laki (jumlah dalam drama) yang bergelar Pangeran. Salah satu putranya yang paling terkenal adalah Yi Do, yang kelak akan meneruskan tahta dan bergelar “Raja Sejong Yang Agung.” Ia adalah salah satu raja terbesar dalam sejarah Korea yang dikenal sebagai pencetus aksara hangeul yang masih digunakan di Korea hingga saat ini.

Setting Cerita

Sistem monarki yang dianut pada saat itu, melegalkan Raja untuk memiliki banyak selir demi mendapatkan banyak keturunan. Hal ini menjadi salah satu pemicu ketegangan hubungan di antara Raja Taejong dan Ratu Wongyeong. 

Sebagai perempuan, Ratu harus menghadapi kenyataan bahwa suami yang ia bantu hingga naik takhta kini memiliki banyak wanita di sekelilingnya. Adapun sebagai Ratu, dengan posisi tertinggi di antara wanita istana, Ratu Wongyeong harus menghadapi berbagai intrik persaingan dengan para wanita Raja. Sedangkan sebagai Ibu, ia juga harus memastikan keamanan putra-putranya dari konflik perebutan kekuasaan.

Berbagai polemik di atas memang cukup klise untuk sebuah drama berlatar sejarah, yang kisahnya tidak jauh-jauh dari Istana dan perebutan kekuasaan. Namun drama ini memberikan angin segar dengan menghadirkan sosok Ratu sebagai tokoh protagonis yang kuat, dominan serta mampu mengalahkan lawanya dengan cara-cara yang elegan. 

Biasanya karakteristik kuat dan dominan pada perempuan selalu diberikan pada tokoh antagonis dalam peran. Karakter Ratu Wongyeong ini mengingatkan saya pada sosok Ratu pada drama “Under the Queen’s Umbrella” yang sama-sama menghadirkan sosok Perempuan yang kuat dan dominan sebagai protagonisnya.

Dominasi Ratu dalam Pemerintahan

Ratu Wongyeong dikisahkan sebagai wanita bangsawan dari keluarga yang cukup kuat dan berpengaruh. Tidak heran banyak dari keluarga Ratu yang menduduki posisi strategis dalam pemerintahan. Hal ini menjadi faktor utama yang membuat Ratu mampu mendominasi pemerintahan, di samping karena faktor kecerdasan dan kelihaiannya mengatur strategi politik.

Ratu menjadi orang yang paling berjasa di balik kesuksesan Raja Taejong menduduki tahta. Selain sebagai istri yang selalu memberikan dukungan moril pada suami, Ratu juga bertindak sebagai pengatur strategi dan informan yang selalu memberikan nasehat atas tindakan dan keputusan Raja. Ratu bahkan menjadi negosiator yang berhasil meredakan ketegangan hubungan antara Raja Taejong dan Ayahnya.

Banyaknya andil Sang Ratu dalam pemerintahan membuat orang-orang menganggap Ratu lebih unggul daripada Raja. Pada episode awal terdapat sebuah scene yang menunjukan beberapa pejabat memuji Ratu dengan mengatakan “Seandainya Ratu terlahir sebagai laki-laki, maka pasti dia lah yang akan menjadi Raja”. Kata-kata itu terdengar oleh Raja dan berhasil mengusik pikirannya. 

Di satu sisi, Ratu sangatlah berjasa dan mengambil banyak peran hingga ia mampu duduk di atas takhta, di samping sebagai suami Raja juga sangat mencintai Ratu. Namun di sisi lain, dominasi Sang Ratu dalam pemerintahan memunculkan rasa inferioritas yang mencederai martabat dan egonya sebagai seorang suami sekaligus pemimpin Kerajaan.

Pengaruhnya pada hubungan kedua tokoh

Perasaan inferioritas tersebut mendorong Raja melakukan tindakan-tindakan untuk dapat melemahkan Ratu. Hal ini menjadi pemicu utama kerenggangan hubungan antara keduanya. Pertama-tama Raja berusaha menyerang psikologis ratu sebagai seorang perempuan dengan cara menyakiti hatinya. Raja sengaja mengambil selir dari orang-orang terdekat Ratu, bahkan pelayan pribadi Ratu. 

Raja juga berusaha mendirikan Departemen Pernikahan Kerajaan yang bertugas mengurus pengangkatan para selir, dan meminta Ratu sendiri untuk membantunya. Namun upaya tersebut ditolak dengan tegas oleh Ratu. Ia bahkan memilih meninggalkan Istana dan pulang ke rumah keluarganya. Hal tersebut membuat Raja membatalkan niatnya.

Raja tak kehabisan akal, meskipun gagal mendirikan Departemen Pernikahan Kerajaan, Raja tetap mengambil selir dari keluarga lain yang juga kuat, guna mengurangi dominasi keluarga Ratu dalam pemerintahan.

Melihat sikap Raja yang berubah, juga berbagai usahanya untuk menjatuhkan diri nya dan keluarganya, Ratu tentu merasa sakit hati dan kecewa. Namun sebagai Ibu negara dan juga demi anak-anaknya, Ratu mengerahkan seluruh kemampuanya untuk bertahan di Istana. 

Ia sempat beberapa kali terlibat perseteruan sengit dengan Raja dan para selir Istana. Namun ia selalu memenangkan pertarungan tersebut dengan cara yang elegan tanpa mengotori tanganya. Di sinilah karakteristik ratu sebagai sosok perempuan yang cerdas, tangguh, bijak dan berprinsip diperlihatkan.

Rasa Insecure pada Pasangan

Dari hubungan Raja dan Ratu di atas kita dapat menarik sebuah benang merah dari konflik mereka. Yaitu adanya rasa insecuritas terhadap pasangan. Dalam kasus ini insecuritas terjadi pada laki-laki karena pihak perempuan cenderung lebih dominan. 

Rasa insecuritas ini menjadi masalah besar dalam sebuah hubungan. Insecuritas membuat seseorang memandang pasangannya sebagai lawan yang perlu ia kalahkan. Dalam hubungan yang sehat rasa insecure ini akan menjadi cambuk yang mendorong seseorang untuk terus berprogres dan mengimbagi pasanganya.

Namun dalam hubungan toxic, yang terjadi justru sebaliknya. Pihak yang merasa insecure akan berusaha mengontrol dan mengekang pasanganya. Jika tidak berhasil, maka ia akan mencoba menyakiti pasanganya. Setidaknya hal itu membuat ia merasa menang dan sedikit mengobati insecuritasnya.

Pada kasus Raja dan Ratu misalnya, kita diperlihatkan bahwa keduanya masih saling mencintai, bahkan dapat dikatakan cinta mereka sama besarnya. Sesakit apapun Ratu, tetap saja berusaha melindungi Raja, dan sebanyak apapun selir yang Raja ambil, tak ada yang bisa menggantikan posisi ratu di hatinya. Rasa insecuritas menjadi satu-satunya tembok penghalang dalam hubungan mereka.

Perempuan yang Maskulin

Laki-laki pada umumnya memiliki energi maskulin. Energi maskulin mendorong adanya rasa ingin memimpin, melindungi dan bersikap tegas. Energi maskulin laki-laki idealnya bersanding dengan energi feminin pada perempuan, sehingga keduanya bisa saling melengkapi.

Namun permasalahan akan muncul ketika perempuan juga memiliki energi maskulin. Energi maskulin seringkali membuat perempuan menjadi lebih dominan (seperti karakter Ratu Wongeyong). Saat bertemu dengan laki-laki dengan energi yang sama, hal ini rawan menimbulkan insecuritas pada laki-laki karena maskulinitasnya menjadi tersaingi.

Dalam hubungan Raja dan Ratu hal ini menjadi lebih kompleks. Karena energi maskulinitas raja sebagai laki-laki juga didukung egonya sebagai penguasa. Akibatnya insecuritas yang muncul menjadi dua kali lipat. Sebagai seorang laki-laki (suami) dan penguasa, Raja merasa diri nya tidak sepantasnya berada di bawah Ratu.

Belajar dari hubungan Raja dan Ratu dalam drama “The Queen Who Crown”, rasa insecuritas ini muncul jika kita selalu mengkotak-kotakan sifat maskulin dan feminin pada gender tertentu. Padahal kedua sifat tersebut berpotensi dimiliki oleh laki-laki maupun perempuan.

Seharusnya tidak menjadi masalah jika salah satu pihak tampak lebih dominan. Selagi ia tidak menghegemoni pasangannya (terlepas dari apapun gendernya). Dalam kasus Ratu, ia justru menggunakan energi maskulinya untuk mendukung dan melindungi Raja.

Selain itu, perlu kiranya membangun hubungan yang sehat. Sehingga seandainya insecuritas ini terjadi, hal itu justru akan mendorong seseorang untuk mengupgrade diri demi mengimbangi pasanganya, bukan malah mengekang dan menyakitinya. []

 

Tags: Drama KoreaDrama The Queen Who CrownFeminitasmaskulinitasReview Film
Konten ini dilisensikan di bawah CC BY-ND 4.0
Previous Post

Benarkah Kursi Roda dan Tongkat Penyandang Disabilitas itu Kotor/Najis?

Next Post

Bagaimana Hukum Membawa Kursi Roda atau Tongkat yang Kotor ke dalam Masjid?

Kholifah Rahmawati

Kholifah Rahmawati

Alumni UIN KH Abdurrahman Wahid Pekalongan dan Mahasiswa di UIN Sunan Kalijga Yogyakarta. Peserta Akademi Mubadalah Muda 2023. Bisa disapa melalui instagram @kholifahrahma3

Related Posts

Avatar: Fire and Ash
Film

Menilik Avatar: Fire and Ash dari Kacamata Perempuan Pejuang Lingkungan dan HAM

2 Februari 2026
Anak Pertama
Film

Film In Your Dream: Apakah Benar Anak Pertama Dilahirkan untuk Selalu Kuat?

20 Desember 2025
Haenyeo
Film

Haenyeo Melawan Kiamat Iklim: Nafas Terakhir Penjaga Laut Jeju

11 Desember 2025
Lingkungan Inklusif
Disabilitas

Refleksi Twinkling Watermelon: Mengapa Seharusnya Kita Ciptakan Lingkungan Inklusif?

2 Februari 2026
Bon Appetit Your Majesty
Film

Gastrodiplomasi dalam Balutan Drama Bon Appetit Your Majesty

15 Oktober 2025
Bon Appétit
Film

Bon Appétit, Your Majesty: Ketika Dapur Jadi Cermin Kuasa dan Kesetaraan

12 Oktober 2025
Next Post
Kursi Roda

Bagaimana Hukum Membawa Kursi Roda atau Tongkat yang Kotor ke dalam Masjid?

Please login to join discussion
No Result
View All Result

TERBARU

  • Al-Qur’an Melarang Pembebanan Sepihak dalam Pengasuhan Anak
  • Rekontekstualisasi Teologi Sunni: Bagaimana Cara Kita Memandang Penderitaan?
  • Tanggung Jawab Ayah saat Ibu Menjalani Fungsi Reproduksi
  • Soekarno dan Palestina: Hubungan Romansa dalam Diplomasi Tanah Jajahan
  • Perintah Menyusui dan Perlindungan Anak dalam Al-Qur’an

Komentar Terbaru

  • M. Khoirul Imamil M pada Amalan Muharram: Melampaui “Revenue” Individual
  • Asma binti Hamad dan Hilangnya Harapan Hidup pada Mengapa Tuhan Tak Bergeming dalam Pembantaian di Palestina?
  • Usaha, Privilege, dan Kehendak Tuhan pada Mengenalkan Palestina pada Anak
  • Salsabila Septi pada Memaknai Perjalanan Hidup di Usia 25 tahun; Antara Kegagalan, Kesalahan dan Optimisme
  • Zahra Amin pada Perbincangan Soal Jilbab
  • Tentang
  • Redaksi
  • Kontributor
  • Kirim Tulisan
Kontak kami:
[email protected]

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password? Sign Up

Create New Account!

Fill the forms below to register

All fields are required. Log In

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Home
  • Aktual
  • Kolom
    • Keluarga
    • Personal
    • Publik
    • Disabilitas
    • Lingkungan
  • Khazanah
    • Hikmah
    • Pernak-pernik
    • Sastra
  • Rujukan
    • Ayat Quran
    • Hadits
    • Metodologi
    • Mubapedia
  • Tokoh
  • Monumen
  • Zawiyah
  • Login
  • Sign Up

Mubadalah.id © 2026 by Mubadalah is licensed under CC BY-ND 4.0