Mubadalah.id – Dakwah bukan sekadar menyampaikan kebenaran menurut kita, tetapi membangun jembatan makna antara yang mengajak dan yang diajak. Banyak gagasan yang sebenarnya baik—termasuk nilai-nilai mubadalah seperti kesalingan, kemitraan, dan keadilan relasional—gagal diterima bukan karena isinya lemah, melainkan karena tidak dibangun di atas fondasi bersama. Orang merasa sedang digurui, disalahkan, atau bahkan diancam identitasnya. Di sinilah strategi Dakwah Mubadalah menjadi penting: bukan hanya apa yang disampaikan, tetapi bagaimana menemukan titik pijak bersama sebelum melangkah lebih jauh.
Strategi ini berangkat dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki struktur moral tertentu yang menjadi dasar ia menilai baik dan buruk. Jika kita berbicara tentang keadilan gender hanya dalam bahasa “kesetaraan hak,” tetapi audiens kita lebih tergerak oleh bahasa “tanggung jawab keluarga” atau “kehormatan,” maka pesan kita akan terasa asing. Karena itu, Dakwah Mubadalah tidak memulai dari konfrontasi, tetapi dari pencarian fondasi moral yang sama.
Dalam konteks ini, kerangka moral foundations yang diperkenalkan oleh Jonathan Haidt bisa menjadi medium strategis. Haidt menjelaskan bahwa manusia umumnya membangun penilaian moral di atas beberapa fondasi utama, seperti kepedulian terhadap yang lemah (care), keadilan (fairness), kesetiaan (loyalty), penghormatan terhadap otoritas (authority), dan kesucian atau kehormatan (sanctity). Meski teori ini lahir dari psikologi moral modern, ia dapat menjadi alat baca untuk memahami keragaman sensitivitas moral dalam masyarakat Muslim.
Fondasi Moral
Strategi Dakwah Mubadalah dapat bekerja dengan memetakan fondasi moral mana yang paling dominan dalam suatu komunitas. Jika audiens sangat menekankan nilai kepedulian, maka gagasan mubadalah disampaikan sebagai upaya melindungi yang lemah dari kekerasan dan ketidakadilan. Jika mereka menjunjung tinggi keadilan, maka mubadalah hadir sebagai cara menegakkan keadilan relasional dalam keluarga. Bahkan, jika mereka kuat pada nilai kehormatan dan kesucian, maka mubadalah menjadi jalan menjaga kehormatan keluarga dengan membangun relasi yang bermartabat, bukan relasi yang menindas.
Dengan demikian, dakwah tidak memaksakan satu bahasa moral, tetapi menghubungkan pesan Islam dengan fondasi moral yang sudah hidup dalam diri audiens. Ini bukan manipulasi, melainkan strategi komunikasi yang menghargai kenyataan bahwa manusia tidak bergerak hanya oleh logika. Tetapi oleh intuisi moral yang sudah tertanam. Dalam pendekatan ini, mubadalah tidak lagi sebagai agenda ideologis baru. Tetapi sebagai pendalaman nilai-nilai Islam yang sudah mereka yakini: rahmah, keadilan, amanah, dan tanggung jawab.
Lebih dari itu, strategi ini juga harus kita lakukan secara mubadalah. Artinya, cara kita berdakwah harus mencerminkan kesalingan yang kita ajarkan. Kita tidak boleh berbicara tentang kemitraan dengan gaya dominatif. Kita tidak bisa mengajak pada dialog dengan nada merendahkan. Dakwah Mubadalah menuntut sikap mendengar, memahami kekhawatiran, dan mengakui pengalaman orang lain sebagai bagian dari proses bersama. Ia membangun ruang di mana kedua pihak merasa kita hargai sebagai subjek.
Di sinilah pentingnya menemukan “fondasi logis bersama.” Ketika membicarakan isu sensitif seperti peran gender, kepemimpinan perempuan, atau pembagian kerja domestik, kita tidak langsung menyerang praktik yang ada. Kita mulai dari nilai yang kita sepakati bersama: bahwa keluarga harus harmonis, bahwa kekerasan itu buruk, bahwa anak-anak perlu tumbuh dalam kasih sayang, bahwa Islam mengajarkan keadilan. Dari titik temu ini, dakwah bergerak perlahan menunjukkan bahwa relasi yang timpang justru merusak nilai yang mereka yakini. Dengan cara ini, perubahan tidak terasa sebagai ancaman, tetapi sebagai penyempurnaan komitmen moral mereka sendiri.
Berbuat Baik
Strategi Dakwah Mubadalah juga menghindari polarisasi. Ia tidak membagi dunia menjadi “pro keadilan” dan “anti keadilan.” Tetapi memahami bahwa banyak orang sebenarnya ingin berbuat baik, hanya saja kerangka moral dan sosialnya berbeda. Maka tugas dakwah adalah memperluas cakrawala, bukan mempermalukan. Menguatkan nilai yang sudah ada, lalu menunjukkan bagaimana mubadalah menjadi cara paling konsisten untuk mewujudkannya.
Akhirnya, Dakwah Mubadalah adalah seni membangun jembatan. Ia menggabungkan fondasi tauhid dan rahmah dengan pemahaman psikologi moral manusia. Ia menyampaikan gagasan kesalingan bukan dengan benturan, tetapi dengan perjumpaan. Ketika yang mengajak dan yang kita ajak berdiri di atas dasar moral yang sama, percakapan menjadi mungkin, resistensi berkurang, dan nilai-nilai mubadalah dapat tumbuh sebagai kesadaran bersama, bukan sekadar slogan. []
















































